PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Gelenyar Panas


__ADS_3

"Tuan Muda, Nyonya Abigail dan Nona Muda sedang menunggu di ruangan anda."


Fedo yang baru saja sampai di perusahaan segera menghentikan langkah saat mendengar laporan dari sekertarisnya. Dia mengerutkan kening, merasa heran karena tidak biasanya ibu dan adiknya datang ke perusahaan sore-sore begini.


Ada apa ya? Jika tidak ada urusan yang mendesak Ibu dan Kayo tidak akan mungkin datang di waktu-waktu tanggung begini. Hmm, semoga saja mereka datang bukan karena ada sesuatu hal buruk yang terjadi, batin Fedo.


"Apa mereka sudah lama berada di ruanganku?" tanya Fedo seraya melanjutkan langkah.


"Belum, Tuan Muda. Nyonya Abigail dan Nona Muda baru saja datang beberapa menit sebelum anda kembali ke perusahaan," jawab sang sekretaris.


Fedo mengangguk. Dia berjalan cepat menuju ruangan dimana ibu dan adiknya tengah menunggu. Sambil bertanya-tanya dalam hati, Fedo membuka pintu ruangannya kemudian tersenyum ke arah dua orang wanita yang sedang duduk bersebelahan.


"Halo Bu, Kay. Maaf membuat kalian berdua menunggu," ucap Fedo sembari melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Tidak apa-apa, sayang. Ibu tahu kau sedang sibuk dengan pekerjaan di luar kantor. Lagipun Ibu dan Kayo baru saja datang, bahkan sofa ini masih belum terasa panas setelah kami duduki. Iya kan, Kay?" sahut Abigail seraya melayangkan satu pertanyaan pada putrinya.


Kayo hanya menganggukkan kepala saat di tanya oleh sang ibu. Ekor matanya terus menatap tajam ke arah kakaknya, seolah memberitahu kalau kedatangan mereka adalah untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.


Sadar akan tatapan tak biasa di mata adiknya, Fedo langsung memposisikan diri dengan bersikap serius. Dari atmosfer yang dia rasakan, kedua wanita ini datang dengan membawa ketidaknyamanan yang cukup besar. Fedo kemudian mendudukkan bokongnya di atas sofa, tepat berhadapan dengan posisi ibunya duduk.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan dengan Kanita saat berada di kamar hotel?" tanya Abigail tanpa basa basi.


"Ibu tahu?" sahut Fedo kaget.


"Ibunya Kanita yang memberitahu, dia datang ke rumah pagi tadi. Cepat jawab Ibu, apa yang telah kalian lakukan kemarin malam?"


Jakun Fedo bergerak naik turun ketika mendapat tatapan yang sangat mengerikan dari sang ibu. Bulu kuduknya seketika berdiri. Sambil membuka dasi yang terpasang di kerah kemejanya, Fedo segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat dia mendatangi kamar hotel tempat Kanita menginap.


"Malam itu aku datang menemui Kanita bukan tanpa maksud yang tidak jelas, Bu. Aku sengaja datang ke sana dengan tujuan ingin bicara baik-baik dengannya. Aku meminta Kanita untuk berhenti mengejarku, juga meminta dia memberitahu ibunya agar jangan mengganggu ketenangan keluarga kita lagi. Dan selain satu pelukan, tidak ada kontak fisik atau apapun lagi yang terjadi di sana. Aku juga langsung pulang ke rumah setelah menegaskan pada Kanita kalau hanya Lurilah yang aku inginkan. Seperti itu."


"Kau yakin tidak ada hal lain lagi yang terjadi di sana?" tanya Abigail penuh selidik.


"Maksud Ibu apa?" sahut Fedo balik bertanya. "Meski Kanita berdiri di hadapanku tanpa mengenakan pakaian, sedikit pun aku tidak akan terpancing n*fsu. Semua gelenyar panas itu sudah hilang dari hidupku semenjak aku mengenal Luri, Bu. Aku sudah tidak berselera untuk menyentuh wanita lagi mau seseksi dan semontok apapun penampilan mereka."


Kayo dengan sabar mengelus bahu sang ibu yang tengah menahan amarah. Rupanya di balik sikap tenang yang di tunjukkan oleh ibunya sejak dari di rumah tadi, ada kemarahan besar yang tersimpan di dalamnya. Pantas saja suasana di ruangan ini langsung berubah drastis begitu sang kakak datang.


"Jangan terpancing emosi, Bu. Ibu harus percaya padaku kalau aku benar-benar tidak melakukan apapun pada Kanita. Ya, memang benar kalau malam itu Kanita menangis dan terus memintaku agar tetap tinggal. Tapi aku menolak. Aku tidak segila itu untuk meniduri wanita yang tidak aku sukai, aku tidak. Dan mengenai Nyonya Mili ... aku memang sedikit melakukan kekerasan fisik terhadapnya. Namun semua itu terjadi karena dia yang memulai. Wanita tua itu merendahkan Ibu, dan aku sangat tidak terima. Aku mencekik, mendorong, kemudian mengancam akan menghabisinya jika dia masih berani mengganggu keluarga kita lagi. Mungkin atas dasar inilah ibunya Kanita datang dengan begitu marah!" ucap Fedo sedikit panik menghadapi cecaran sang ibu.


"Ucapan Kak Fedo ada benarnya, Bu. Tidak mungkin dia mau menyentuh wanita yang sudah pernah tidur dengannya. Aku rasa Kanita dan ibunya sengaja mendramatisir keadaan dengan memutar balikkan fakta seolah Kak Fedo telah melakukan sesuatu yang hina saat berada di hotel dengan harapan agar dia mau bertanggung jawab lalu menikahi Kanita. Kita semua tahu bukan kalau pasangan ibu dan anak itu sama liciknya?" imbuh Kayo ikut berbicara.

__ADS_1


Abigail terdiam. Dia menatap seksama ke arah putranya yang juga tengah menatapnya. Sebenarnya Abigail bukan tidak percaya pada Fedo, dia hanya merasa resah karena hatinya terus mengeluarkan feeling yang tidak bagus. Abigail takut putranya terjebak perangkap yang bisa membuat hidupnya menjadi hancur.


"Bu, aku tahu Ibu sedang mengkhawatirkan aku. Tapi sungguh, aku benar-benar tidak melakukan apa-apa pada Kanita. Kedatanganku ke sana murni hanya untuk memintanya melepaskan aku. Dan jika Ibu merasa tak suka atas sikapku terhadap ibunya Kanita, aku siap untuk meminta maaf padanya. Aku tidak mau Ibu marah padaku!" ucap Fedo dengan tatapan memelas.


"Kalau yang ini aku tidak setuju, Kak. Wanita tua itu pantas menerima perlakuan begitu darimu karena sudah berani menghina wanita yang telah melahirkan kita. Aku akan sangat kecewa kalau kau benar-benar meminta maaf padanya, Kak. Aku tidak terima!" sahut Kayo dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat.


Enak saja. Di sini merekalah yang di rugikan karena ibunya Kanita begitu lancang menghina ibu mereka, jadi Kayo mana mungkin rela membiarkan sang kakak datang untuk meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahnya.


"Jangan bertengkar. Ini bukan saatnya untuk kita mendebatkan sesuatu yang tidak penting!" lerai Abigail saat kedua anaknya saling berbalas perkataan.


"Aku mengerti, Ibu. Tapi aku tidak bisa tinggal diam kalau Kak Fedo sampai meminta maaf pada ibunya Kanita. Dia tidak bersalah, tapi wanita tua itulah yang seharusnya datang meminta maaf atas perkataan yang sudah dia ucapkan. Pokoknya kalau Kak Fedo sampai pergi menemuinya, aku tidak akan sudi menganggapnya sebagai kakakku lagi. Aku tidak mau pokoknya!" protes Kayo seraya melayangkan tatapan sinis ke arah kakaknya. Dia sangat merutuki perkataan konyol dari mantan Casanova ini.


"Kay, Ibu kan belum memberikan respon apapun atas saran dari kakakmu itu. Jadi jangan marah ya, oke?"


Setelah itu pandangan Abigail kembali terarah pada putranya. Dia kemudian melambaikan tangan, meminta agar putranya yang tampan itu datang mendekat.


"Fed, Ibu sangat percaya kalau kau tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu pada Kanita. Ibu mencecarmu seperti tadi karena merasa was-was akan sesuatu hal. Setelah ibunya Kanita datang ke rumah, Ibu langsung memerintahkan orang untuk mencari informasi tentang apa saja yang dilakukan Kanita setelah pertemuan kalian di hotel. Tapi dari laporan yang Ibu terima, Kanita sama sekali tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun Ibu merasa ada yang janggal, seperti ada sesuatu yang sengaja di hilangkan di sini. Maaf ya jika sikap Ibu tadi membuatmu merasa tidak nyaman. Ibu hanya khawatir, Fed!" ucap Abigail seraya mengusap bahu putranya.


"Tidak apa-apa, Bu. Seharusnya akulah yang meminta maaf pada kalian semua. Gara-gara ulahku, Ibu dan Kayo jadi ikut terkena imbasnya. Hidup kalian tidak seharusnya menjadi tidak tenang begini kalau saja aku bisa mengatasi permasalahanku dengan Kanita secara baik-baik!" sahut Fedo sembari menghela nafas dalam-dalam. "Haaaaahh ... ngomong-ngomong informasi apa saja yang di laporkan oleh anak buah Ibu mengenai Kanita?"

__ADS_1


Abigail kemudian menceritakan pada Fedo apa yang pagi tadi di laporkan oleh anak buahnya. Setelah itu mereka sama-sama mencari tahu jawaban dari kejanggalan yang dia rasakan. Hingga pada akhirnya Fedo memutuskan untuk menyelidiki ulang apa saja yang Kanita lakukan setelah dia pergi dari kamar hotel tempatnya menginap.


*****


__ADS_2