
Luri yang sedang duduk di kursi belajar langsung beranjak menuju pintu saat mendengar suara ketukan dari luar. Dia lalu tersenyum saat mendapati sang ibu yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Apa Ibu mengganggu waktu belajarmu, sayang?" tanya Nita sambil memperhatikan raut wajah putrinya.
"Tidak sama sekali, Bu. Ayo masuk, tidak baik bicara di depan pintu begini," jawab Luri sembari menggandeng tangan sang ibu untuk masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya sekarang hari sudah cukup malam, dan bukan waktu yang tepat untuk membicarakan suatu masalah. Namun Nita memaksakan diri untuk tetap mendatangi kamar putrinya karena ada sesuatu hal yang sangat mengganggu di pikirannya. Ini mengenai Luri yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Nita mengkhawatirkan hubungan putrinya dengan Fedo karena laki-laki itu yang masih belum mengetahui keberangkatan putrinya.
"Duduklah dulu, Bu. Aku ingin membereskan buku-buku yang tadi aku baca," ucap Luri seraya membantu ibunya untuk duduk di ranjang.
"Hmmm, bisakah kau duduk bersama Ibu dulu, Luri? Ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan denganmu," sahut Nita sembari menahan tangan putrinya agar tidak pergi. "Ibu janji tidak akan lama. Ya?"
Luri menatap wajah ibunya dengan tatapan penuh rasa penasaran. Sedetik kemudian dia langsung menyadari hal penting apa yang ingin sang ibu bicarakan dengannya. Segera Luri duduk di tepi ranjang, menunggu sang ibu mengeluarkan keresahan yang mengganggu pikirannya.
"Sayang, hanya tersisa dua bulan lagi untukmu menyelesaikan sekolah di sini. Benar?" tanya Nita memulai percakapan.
__ADS_1
"Benar, Ibu. Jika tidak ada halangan apapun, tiga bulan lagi aku sudah akan berangkat ke luar negeri," jawab Luri.
Hening. Nita merasa cukup berat untuk kembali bicara saat menyadari kalau dia akan segera di tinggal pergi oleh putri kesayangannya ini. Dia yang tadinya ingin membahas Fedo mendadak jadi lupa karenanya.
"Bu, apa yang membuat Ibu gelisah, hm? Katakan saja, jangan di pendam. Ibu bilang ingin membahas sesuatu yang penting denganku. Apa?" tanya Luri sembari mengelus lembut tangan sang ibu yang tengah meremas ujung bajunya. Wanita yang begitu dia hormati sedang di dera perasaan gelisah.
"Luri, apa tidak sebaiknya kau memberitahu Fedo tentang kepergianmu ke luar negeri? Ibu takut dia marah karena merasa tidak di hargai. Kalian baru saja mendapat restu dari Ayah dan Ibu. Ibu khawatir kalau hal ini akan mempengaruhi hubungan kalian," jawab Nita mengeluarkan keresahan yang berkecamuk di benaknya.
"Ibu jangan khawatir, aku pasti akan memberitahu Kak Fedo tentang hal ini. Tapi bukan sekarang," ucap Luri. "Kak Fedo sangat posesif. Aku takut dia akan menghalalkan segala macam cara untuk mencegah kepergianku kuliah di luar negeri. Aku paham akan kekhawatiran yang Ibu rasakan. Tapi menurutku ini yang terbaik. Kak Lusi juga memikirkan hal yang sama denganku, Bu. Sehari sebelum aku berangkat, rencananya aku baru akan memberitahu Kak Fedo."
"Tapi Luri, apa nantinya hal ini tidak akan menjadi masalah? Bukannya Ibu tidak menghargai keputusanmu, Ibu hanya tidak mau melihatmu bersedih jika Fedo sampai marah karena merasa tidak di hargai."
"Bu, jika Kak Fedo benar-benar menyayangiku, dia pasti akan memahami alasanku melakukan hal ini padanya. Tujuanku memenangkan beasiswa kuliah ke luar negeri adalah demi memantaskan diri untuk bisa bersamanya. Perasaanku tulus, dan aku sangat sadar kalau status sangat amat di butuhkan agar hubungan kami bisa seimbang. Mungkin Kak Fedo dan keluarganya tidak mempermasalahkan keadaan keluarga kita yang sangat sederhana ini. Tapi aku tidak buta kalau reputasi mereka akan di pertaruhkan jika mengambil menantu yang mempunyai latar belakang tidak setara. Aku dan Kak Fedo masing-masing hanya memiliki dua tangan. Kami tidak akan mampu menutup mulut semua orang yang menggunjing di belakang kami. Ibu pasti paham maksud dari perkataanku bukan?"
Nita menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan putrinya. Sangat masuk akal jika Luri memiliki pemikiran seperti itu. Putrinya ini sangat dewasa dalam menyikapi masalah hidupnya meski usianya bahkan belum dua puluh tahun.
__ADS_1
"Ibu tidak bisa menyalahkan pemikiranmu, Luri. Itu benar, dan alasanmu sangat masuk akal. Maaf ya karena kau harus lahir dari orangtua miskin seperti Ayah dan Ibu. Kalau saja kau terlahir di tengah-tengah keluarga kaya, kau pasti tidak harus berkorban seperti ini hanya demi bisa di pandang pantas oleh keluarga kekasihmu. Maafkan Ibu ya, Nak!"
"Ya ampun Ibu, kenapa Ibu bicara seperti ini, hm? Aku sama sekali tidak keberatan di lahirkan sebagai putri kalian. Aku malah sangat bersyukur karena berkat kalian, aku bisa tumbuh menjadi gadis yang penuh kebahagiaan. Jangan merasa bersalah hanya karena kita di takdirkan sebagai keluarga miskin, Bu. Bersyukurlah, karena di luar sana masih ada banyak keluarga yang jauh lebih miskin daripada keluarga kita. Tolong jangan bicara seperti itu lagi ya?"
Luri bangun dari pangkuan sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Hatinya terasa sedih mendengar perkataan ibunya barusan. Sungguh, tak pernah terfikir sedikit pun rasa penyesalan di hatinya karena telah di lahirkan dan di besarkan oleh orangtua yang tidak memiliki harta melimpah. Bagi Luri, harta bukanlah segalanya. Munafik jika dia berkata tidak menginginkan hidup yang nyaman, Luri tentu saja ingin. Akan tetapi tidak semua orang yang memiliki banyak harta bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dia rasakan dari keluarganya. Dari orangtuanya lah Luri akhirnya bisa tumbuh menjadi gadis pintar yang kaya akan kasih sayang. Juga karena didikan tegas dari Ayah dan Ibunya Luri bisa menjalani kehidupan dengan legowo.
"Hmmm, Tuhan benar-benar sangat baik pada Ayah dan Ibu karena telah menitipkan putri-putri yang cantik dan baik hati sepertimu beserta kakak dan juga adikmu. Ibu sangat beruntung memiliki kalian semua, sayang,"'ucap Nita penuh haru.
"Kami yang seharusnya merasa beruntung karena sudah di besarkan oleh orangtua hebat seperti Ayah dan Ibu. Jangan lelah untuk selalu membimbing kami ya, Bu. Karena kami tidak akan bisa seperti sekarang tanpa doa dari kalian. Aku sangat menyayangi Ayah dan Ibu. Semoga kalian selalu sehat dan panjang umur agar aku bisa memiliki kesempatan untuk membalas jasa yang sudah kalian berikan sejak aku di lahirkan ke dunia ini. Amiiinnnn!"
Ingin rasanya Nita menangis mendengar doa tulus yang keluar dari mulut putrinya. Dia lalu membungkukkan tubuh agar bisa mencium kening gadis yang tengah tersenyum di pangkuannya. Ternyata memang benar kalau kebahagiaan tidak selalu di hadirkan dalam bentuk kekayaan. Buktinya Nita bisa melambung penuh kebahagiaan hanya dengan mendengar luapan cinta dari anak-anaknya. Dalam hati, Nita memanjatkan rasa syukur pada Tuhan akan kebaikan yang dia terima di hidupnya selama ini. Memiliki suami yang bertanggung jawab dan anak-anak yang begitu pengertian, sungguh suatu nikmat yang tiada tanding.
"Kalian semua adalah permata hati Ayah dan Ibu, Luri. Terima kasih sudah menjadi putri-putri kami," ucap Nita dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih juga sudah melahirkan aku, Nania dan Kak Lusi ke dunia ini, Ibu. Kami menyayangi Ibu dan Ayah. Selamanya," sahut Luri sambil menahan tangis.
__ADS_1
Suasana kamar Luri berubah mengharu-biru saat dia dan ibunya sama-sama saling mengucapkan terima kasih. Sungguh suatu pemandangan yang sangat menghangatkan hati bagi siapapun yang memandang.
*****