
Luri melangkah cepat ke arah ruangan kepala sekolah saat temannya mengatakan kalau Nania di bawa kesana. Entah apa yang sudah di perbuat oleh gadis berlidah tajam itu, Luri sungguh was-was. Ini bukan pertama kalinya Nania berurusan dengan kepala sekolah, melainkan sudah yang kedua kali. Kejadian pertama terjadi tepat ketika mereka masuk sekolah di hari pertama. Si gadis berlidah tajam itu tiba-tiba saja menyerang seorang siswa laki-laki hingga membuat kepalanya benjol. Dan alasan yang membuat Nania nekad melakukan hal tersebut adalah karena di katai sebagai gadis berdada rata.
Dengan kondisi yang bahkan belum mengalami periode bulanan, sangat wajar kalau bagian-bagian tertentu di tubuh Nania belum mengalami perubahan seperti para remaja lain. Namun, Nania tetaplah Nania yang tidak suka di ejek. Dia dengan marah melempar kotak pensil miliknya ke kepala si siswa hingga meninggalkan sedikit lebam dan juga benjol di keningnya. Dan kali ini entah apalagi yang dia lakukan. Luri benar-benar tidak tahu kenapa adiknya bisa bersikap seperti kepala gangster di saat mereka sendiri berasal dari pedesaan. Sebenarnya Luri juga pernah di ejek dan dikatai macam-macam oleh beberapa siswa lain, tapi dia memilih untuk diam karena tak mau menambah masalah. Luri cukup tahu untuk tidak mencoreng nama baik kakak iparnya yang sudah susah payah menyekolahkan dia dan Nania di tempat yang mahal ini. Tapi sayangnya, Nania tidak berpikir seperti itu. Nania tetaplah gadis yang suka menunjukkan suasana hatinya secara terang-terangan, tak peduli meski orang lain akan tersudut sekalipun.
Tok, tok, tok
"Masuk!"
Luri menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan. Dia lalu melihat ke arah adiknya yang sedang berdiri dengan wajah masam.
"Selamat siang. Apa Ibu memanggil saya?" tanya Luri sopan.
"Iya. Kau duduklah!" jawab si kepala sekolah. "Begini Luri, Ibu ingin memberitahukan kalau adikmu kembali membuat ulah. Salah seorang siswi melapor telah menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Nania. Tapi....
Nafas Luri seperti terhenti saat kata kekerasan terucap keluar dari mulut kepala sekolah. Di pikirannya, muncul gambaran siswi lain yang tubuhnya di penuhi lebam dan juga darah.
"Tapi Nania tidak mau menjelaskan apa yang terjadi sebelum kau datang kemari. Sekarang coba kau minta adikmu untuk bicara dengan benar!"
Sebelum sempat kakaknya bertanya, Nania sudah lebih dulu menjelaskan. Dia sangat tidak terima mendengar tuduhan yang di layangkan oleh kepala sekolah.
"Kak Luri, aku sama sekali tidak melakukan kekerasan apapun. Yang aku lakukan saat di kelas tadi hanya untuk membela diri saja. Siapa suruh gadis itu mengejekku, ya sudah aku jejalkan saja telur rebus yang aku bawa dari rumah ke dalam mulutnya."
Luri ternganga. Dia bukan lagi merasa syok, tapi separuh dari nyawanya seperti terbang keluar. Setelah beberapa detik berada dalam kondisi seperti itu, barulah Luri bisa bicara dengan tenang.
__ADS_1
"Nania, apapun alasanmu, semua itu tetap tidak bisa di benarkan. Kau tidak seharusnya bersikap kasar pada temanmu."
"Mana ada aku bersikap kasar, Kak," sahut Nania tetap tak mengakui. "Memangnya salah kalau aku tidak pernah makan di kantin? Telur yang aku makan rasanya juga akan tetap sama dengan telur yang mereka makan di sana. Hanya gara-gara telurku tidak ada mata sapinya lantas mereka boleh menyebut kalau telur yang kubawa dari rumah tidak layak konsumsi? Tidak kan, Kak? Sekarang aku tanya pada Kak Luri dan kepala sekolah, salah tidak kalau aku marah kemudian menjejalkan telur itu untuk menyumpal mulutnya yang kurangajar?"
Kepala sekolah diam terbengang setelah mendengar perkataan Nania. Sedangkan Luri, sudahlah. Jangan tanya lagi bagaimana raut wajahnya sekarang.
"Aku heran sekali kenapa orang-orang kota sangat mudah merendahkan orang lain hanya gara-gara bentuk telur yang berbeda. Padahal fungsi mereka itu sama, sama-sama enak dan mengenyangkan!" ujar Nania kesal. "Baru memakan telur mata sapi saja dia sudah berlagak sok higienis. Jika itu aku, jangankan hanya telur mata sapi, telur mata dinosaurus pun aku makan jika ada. Dasar menyebalkan!"
"Em Nania, tidak semua orang kota memiliki sikap seperti itu kok. Contohnya Kak Gleen, dia sangat baik dan juga pandai menghargai orang lain," ucap Luri mencoba membenarkan pemahaman sang adik tentang orang kota.
"Kak Gleen itu pengecualian, Kak. Dia begitu karena takut di tinggal Kak Lusi."
Andai saja kakak ipar mereka ada di sini, bisa di pastikan kalau dia akan langsung kejang-kejang setelah mendengar perkataan Nania. Luri yang tahu kalau mulut adiknya sudah tidak bisa di kondisikan lagi, segera meminta maaf pada kepala sekolah. Dia sangat tidak enak hati karena kepala sekolah harus mendengar kata-kata tidak lumrah yang keluar dari mulut adiknya.
"Untuk masalah ini saya bisa memakluminya, Luri. Karena bagaimanapun yang dilakukan oleh siswi itu juga tidak benar. Sekolah sangat melarang adanya tindak bullying dan perundungan. Entah itu bagi siswa pendatang maupun siswa yang berasal dari daerah sekitar. Dan kasus yang terjadi pada adikmu sedikit banyak menjurus ke arah sana. Nanti biar guru pembimbing yang akan memberikan pemahaman pada siswi itu. Tapi bukan berarti saya membenarkan perbuatan Nania yang sudah melakukan penyerangan meski hanya dengan menggunakan telur. Jika hal ini tidak segera di tangani dengan baik, takutnya akan ada siswi lain yang mencontoh perbuatan Nania. Jadi, saya sarankan agar kau membantu pihak sekolah untuk memberi pengertian pada Nania agar dia bisa lebih tenang ketika ada murid lain yang mencoba melakukan bullying. Segera laporkan pada wali kelas atau kepada guru lain jika hal-hal seperti itu terjadi di kemudian hari!" ucap kepala sekolah sembari menatap ke arah murid didiknya yang sedang diam dengan bibir mengerucut.
"Baik, Ibu kepala sekolah. Nanti di rumah saya dan kedua orangtua saya akan menasehati Nania supaya tidak berbuat seperti itu lagi. Kalau begitu kami permisi!" pamit Luri dengan sopan.
Ibu kepala sekolah mengangguk. Dia memperhatikan dua orang siswanya yang baru saja keluar dari ruangan.
"Biasanya siswa dari desa yang sering mendapat perlakuan tidak baik. Tapi kenapa sekarang yang menjadi korban adalah anak-anak yang tinggal di kota? Sepertinya Nania tidak sama dengan gadis-gadis desa yang lain," ujar kepala sekolah keheranan.
Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, Luri segera mengantarkan sang adik ke dalam kelasnya. Dia berniat meminta maaf pada siswi yang mulutnya di jejali telur oleh Nania. Sebagai seorang kakak, Luri merasa perlu untuk melakukan hal ini. Dia khawatir kalau antara Nania dan siswi tersebut saling menyimpan dendam yang mana akan merugikan salah satu dari mereka ke depannya nanti.
__ADS_1
"Nania, yang mana siswinya?"
Dengan malas Nania menunjuk seorang gadis yang kini tengah melihat ke arahnya. Sebuah seringai licik muncul di bibir Nania ketika sang kakak mengajaknya untuk menghampiri siswi tersebut.
"Permisi, apa kau murid yang tadi bertengkar dengan Nania?" tanya Luri lembut.
"I-iya, Kak. Ada apa ya?"
"Ini, aku ingin meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan Nania padamu. Tolong jangan menyimpan dendam padanya ya?"
Luri mengernyitkan kening ketika melihat siswi tersebut mengangguk dengan sangat cepat. Dia heran, semudah inikah berdamai dengan orang kota? Namun, yang tidak di ketahui oleh Luri adalah...
Siswi tersebut langsung menyetujui ucapan Luri bukan karena ingin berdamai, melainkan takut pada sosok yang berdiri di belakangnya. Ya, saat ini Nania tengah menatap tajam ke arah siswi tersebut sambil mulutnya berkomat-kamit. Seolah ingin memberitahu kalau dia berani tidak patuh, maka bersiaplah menerima jejalan telur-telur yang lain. Sungguh, Nania adalah gadis desa yang sangat mengerikan.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, part 29-30 baru saja up. Jangan lupa mampir dan berikan dukungan ya gengss
...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...
...💜 Ig: rifani_nini...
__ADS_1
...💜 Fb: Rifani...