
"Kay, apa kau sudah mendapat kabar tentang yang dilakukan Kanita di Shanghai?" tanya Abigail sambil berjalan masuk ke dalam kamar putrinya.
"Tentu saja sudah, Bu. Jackson menjaga Kanita dengan sangat baik di sana," jawab Kayo seraya tersenyum manis. "Calon suamiku sangat siaga bukan? Dia bahkan rela mengurangi waktu istirahatnya hanya untuk memantau gerak-gerik wanita tidak tahu malu itu."
Abigail tersenyum kecil. Mengingat masa lalu calon menantunya sudah bisa di pastikan kalau Jackson pasti memendam amarah tersendiri pada putrinya Mili dan juga Dominic. Terlebih lagi waktu itu Kanita sempat mempunyai niat untuk menyerang Kayo. Jadilah sekarang dia berada dalam pengawasan seorang Jack-Gal, si pembunuh berdarah dingin yang sudah bertaubat.
"Bu, apa kita tidak perlu turun tangan langsung untuk menyingkirkan Kanita dari hubungan Luri dan Kak Fedo? Aku kasihan pada mereka berdua, Bu. Luri masih sangat polos. Aku khawatir dia akan syok berat jika mengetahui tingkah laku Kak Fedo sebelum mengenal dirinya," ucap Kayo sambil menatap dalam ke arah sang ibu.
"Jangan khawatir, Ibu yakin Luri dan kakakmu pasti bisa melewati masalah itu dengan baik," sahut Abigail tenang. "Luri adalah gadis yang cerdas. Harusnya dia tidak mengukur kualitas kakakmu hanya dari masa lalunya saja. Mungkin memang benar kalau kakakmu adalah seorang pria brengsek, tapi dia sebenarnya adalah pria yang sangat baik dan juga hangat. Penampilan buruk tidak bisa menjadi jaminan kalau hatinya juga buruk. Dan satu-satunya keburukan yang kakakmu miliki hanyalah sering bergonta-ganti wanita setiap malam. Selain itu menurut Ibu tidak ada."
Kayo nampak mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar perkataan ibunya. Dia juga tahu kalau kakaknya adalah pria yang sangat baik. Hanya gelarnya saja yang sedikit merusak nama baiknya. Sang Casanova penakluk ranjang, Kayo sampai merinding setiap kakaknya membanggakan kata tersebut ketika mereka sedang berdebat.
"Menurutmu apa Kanita bisa menemukan Luri? Ibu dengar dia meminta bantuan dari kelompok gelap saat ingin mengorek informasi tentang calon kakak iparmu itu."
"Dari informasi yang aku dengar sih dia bukan bertemu dengan Luri, Bu. Melainkan bertemu dengan Nania. Bahkan gadis itu berhasil membuat Kanita diam seribu bahasa dengan mengatakan kalau dia dan Kak Fedo telah melakukan hubungan di berbagai tempat. Di pantai dan di dalam mobil menjadi penutup bom atom yang Nania lemparkan ke wajahnya Kanita. Nyali gadis itu luar biasa juga ya, Bu. Hahhaha... Aku jadi merasa menyesal karena tidak bisa melihat secara langsung seperti apa rupa Kanita saat di permalukan oleh seorang gadis kecil bernama Nania. Sungguh satu ledakan yang sangat dashyat."
Kayo tertawa terbahak-bahak saat membayangkan betapa malunya Kanita ketika menghadapi adiknya Luri. Sekarang dia jadi bisa memahami mengapa kakaknya selalu terlihat frustasi setiap kali bermasalah dengan gadis itu.
"Jangan suka mentertawakan sesuatu yang tidak baik, Kay. Ingat, ada karma yang mengikuti!" ucap Abigail mengingatkan putrinya agar tidak terlalu menyoraki kesulitan Kanita.
__ADS_1
"Maaf Bu, tapi untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku. Aku sangat puas dengan cara Nania melindungi Luri. Sudah sangat jarang Bu ada saudara yang mau menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi saudaranya yang lain. Keberanian Nania sangat patut untuk di acungi jempol!" sahut Kayo menolak untuk menuruti perkataan ibunya.
Kedua sudut bibir Abigail terangkat ke atas. Ya, harus dia akui kalau sikap Nania memang sangat luar biasa. Bahkan wanita bermuka dua sekelas Kanita bisa di buat bungkam hanya dalam sekali ucap. Abigail jadi sedikit menyayangkan kenapa Fedo tidak jatuh cinta pada Nania saja. Kan keluarga Eiji ini akan semakin lengkap jika mendapat menantu mematikan seperti Nania. Tapi ya sudahlah, takdir tidak bisa di rubah. Toh Luri juga bukan gadis desa biasa yang bisa di pandang remeh. Abigail yakin kalau gadis yang di sukai putranya itu pasti akan membawa kebanggaan tersendiri di keluarga ini.
"Ayah kemana, Bu? Tumben sekali tidak menjadi ekor," tanya Kayo yang baru teringat dengan ayahnya.
"Ayahmu sedang pergi menemani Tuan Dominic memancing, Kay," jawab Abigail. "Ayahmu memberitahu Tuan Dominic tentang apa yang dilakukan Kanita. Dia sangat syok, makanya Ayahmu pergi menemaninya karena takut kalau Tuan Dominic akan bunuh diri di sana. Hmmm, Ibu jadi kasihan padanya. Hati orang tua mana yang tidak akan terluka jika di bohongi sampai seperti ini oleh anaknya sendiri. Kanita benar-benar sudah sangat keterlaluan pada ayahnya."
"Untung saja Kak Fedo tidak buta mata dengan menerima wanita itu sebagai calon istrinya. Nama baik keluarga kita pasti akan tercoreng jika Kak Fedo sampai menikah dengan Kanita," sahut Kayo tak habis pikir. "Inilah akibatnya jika orangtua terlalu memanjakan anaknya secara berlebihan. Kanita jadi tidak memiliki rasa simpatik sedikitpun pada orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Matanya sudah buta akan n*fsu dan juga keegoisan."
"Mungkin niat Nyonya Mili dengan memanjakan Kanita adalah untuk membahagiakannya. Akan tetapi dia tidak sadar kalau didikan yang dia terapkan telah membawa Kanita ke jalan yang salah. Dari kejadian ini Ibu jadi berpikir apakah Ibu sudah benar dalam mendidik kau dan kakakmu atau belum. Ibu takut kalian salah jalan suatu hari nanti."
"Bu, Ibu adalah orangtua paling berhasil di dunia ini. Aku dan Kak Fedo tak pernah merasa kalau didikan yang Ayah dan Ibu berikan adalah didikan yang salah. Justru kami merasa sangat bangga karena berkat kegigihan kalian kami bisa menjadi manusia yang berguna seperti sekarang ini. Karena kerja keras kalianlah aku dan Kak Fedo mampu menjaga diri dengan baik meskipun Casanova itu sempat terjerat kenikmatan para wanita pemuas ranjang. Dan aku rasa itu bukanlah salah Ayah maupun Ibu. Melainkan adalah keputusan Kak Fedo sendiri karena sudah berani mencicipi hingar bingar dunia malam!"
Hati Abigail menghangat saat mendengar perkataan putrinya yang begitu dewasa. Sebagai seseorang yang mempunyai masa lalu kelam, Abigail tentu saja sangat berharap kalau Kayo dan Fedo akan memiliki jalan hidup yang jauh lebih baik darinya. Dan Abigail bersyukur karena Tuhan mengabulkan semua yang dia harapkan. Mattheo dan kedua anaknya adalah berkah tak terhingga yang akan selalu Abigail cintai dan lindungi.
"Aihhh, kenapa pembicaraan kita jadi mellow begini ya, Bu. Padahal tadi kita sedang bahagia saat membicarakan Nania," ucap Kayo sambil mengurai pelukan.
"Bukan mellow, sayang. Tapi ini adalah ungkapan hati antara ibu dan anak, makanya suasananya jadi berubah haru begini," sahut Abigail seraya menyeka cairan bening yang menggenang di pelupuk mata.
__ADS_1
"Ibu tahu tidak kalau aku selalu berharap bisa menjadi wanita yang sekuat dan setulus Ibu dalam mencintai rumah tanggaku nanti. Aku ingin menjadi Abigail kedua yang rela bertaruh nyawa demi kebahagiaan keluarganya. Menurut Ibu apakah aku bisa melakukan semua itu setelah menikah dengan Jackson?" tanya Kayo dengan tatapan berbinar.
"Kay, jalan setiap orang itu selalu berbeda-beda. Adalah hal yang mulia kalau kau memiliki keinginan seperti itu. Akan tetapi Ibu sedikit tidak setuju kalau kau ingin mengikuti jejak Ibu dalam menjaga keutuhan keluarga kita. Posisi kita tidak sama, sayang. Ibu harus menjadi kuat dan juga tegas karena aturan keluarga Eiji yang begitu kokoh. Jika Ibu sampai lemah, harga diri Ayahmu lah yang akan di pertaruhkan. Mungkin di tubuh Ibu memang mengalir darah bangsawan, tapi Ibu tak pernah mau mengakuinya lagi sejak bencana itu terjadi. Dan semua ini sangat berbeda dengan jalan hidupmu, Kayo. Jadi ....
Abigail menjeda ucapannya sebelum mengelus pelan pipi putrinya yang begitu cantik. Kayo Eiji, buah hatinya dengan Mattheo. Gadis ini sekarang sudah besar, bahkan sudah berani berkata terus terang mengenai masa depan rumah tangganya. Andai waktu bisa di putar, ingin rasanya Abigail meminta pada Tuhan agar putrinya bisa kembali menjadi gadis kecil yang menggemaskan. Dia seperti tidak rela saat menyadari kalau gadis ini akan segera memiliki rumah tangga sendiri.
"Jadi Kay, Ibu harap kau bisa menjaga rumah tanggamu dan Jackson dengan cara kalian sendiri. Patuhlah pada semua perintah suamimu agar tidak ada celah bagi orang lain untuk merusak rumah tangga kalian. Tidak apa-apa miskin harta, asalkan jangan miskin hati dan kasih sayang. Ibu do'akan agar rumah tanggamu dan Jackson bisa jauh lebih bahagia dari rumah tangga Ayah dan Ibu."
"Ibu," ....
Kayo langsung menghambur ke pelukan ibunya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya merasa sangat tersentuh dan juga sedih saat mendengar doa tulus yang di ucapkan oleh sang ibu. Kayo benar-benar sangat beruntung memiliki orangtua sehebat ibunya ini. Dia sangat bersyukur karena terlahir dari rahim wanita yang begitu hebat.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan komentar...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...