
Fedo mengemudi sambil sesekali melirik ke arah Luri yang hanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Dia penasaran dan juga bingung melihat ekpresi datar di wajah gadis desa ini setelah bertemu dengan keluarganya. Dalam suasana sunyi seperti itu pikiran Fedo pun mulai menerka yang tidak-tidak.
Apa jangan-jangan Luri merasa tidak puas ya setelah bertemu dengan Ayah, Ibu, Kayo dan juga Jackson? Ah, gawat. Bagaimana kalau setelah ini dia memilih untuk menjauhiku gara-gara merasa tak cocok dengan mereka? Tapi masa iya sih Luri tidak puas. Selama pertemuan tadi kan dia terlihat begitu senang, bahkan begitu dekat dengan Ibu. Tapi kenapa sekarang reaksinya begitu berbeda? Pertanda apa ini, Tuhan? batin Fedo bermonolog dengan dirinya sendiri.
Suara tarikan nafas yang keluar dari mulut Luri membuyarkan lamunan Fedo yang tengah sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu Fedo menoleh, dia sedikit terkejut karena ternyata Luri tengah menatapnya.
"Ada apa, Kak? Kenapa kau kaget begitu melihatku?" tanya Luri heran.
"Ah, oh, ini, tidak apa-apa," jawab Fedo salah tingkah. Dia kembali fokus menyetir sambil sesekali menoleh ke arah Luri.
Kak Fedo ini kenapa sikapnya jadi aneh begini sih. Apa aku sudah melakukan kesalahan yang tidak aku sadari ya? batin Luri bingung.
"Sayang, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Fedo memberanikan diri untuk bertanya. Dia benar-benar sangat takut kalau Luri merasa kecewa setelah bertemu dengan keluarganya.
"Boleh, Kak. Silahkan saja," jawab Luri mempersilahkan.
"Sejak kita keluar dari restoran aku perhatikan kau terus saja diam tak bicara. Ada apa? Apa kau merasa tidak puas setelah bertemu dengan Ayah, Ibu, Kayo dan juga Jackson?"
Belum sempat Luri menjawab, mobil Fedo sudah lebih dulu memasuki pekarangan rumahnya. Namun hal tersebut tak serta-merta membuat Fedo mengizinkan gadisnya untuk keluar dari sana. Fedo dengan sengaja mengunci pintu mobil, lalu setelahnya menatap Luri dengan sangat lekat. Fedo ingin mendengar jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Alasan apa yang mendasari sampai-sampai kau bertanya seperti itu padaku, Kak?" sahut Luri balik bertanya.
__ADS_1
"Sayang, sebenarnya tidak ada alasan apapun yang mendasarinya. Aku hanya merasa aneh saja melihat sikapmu tadi, dan aku takut kalau diammu itu di sebabkan oleh rasa ketidakpuasan akan sikap keluargaku. Rambut kita boleh sama hitam, tapi dalamnya hatimu aku tidak mungkin tahu. Kau paham kan?" jawab Fedo. Dia melepas seatbelt dari tubuhnya kemudian duduk menyamping agar bisa menatap langsung wajah gadisnya.
Begitu Fedo selesai menjawab, Luri malah tersenyum. Sebenarnya dia diam itu bukan karena tidak puas setelah bertemu dengan keluarganya Fedo, melainkan karena dia yang sedang memikirkan bagaimana cara berpamitan pada Fedo sebelum berangkat ke luar negeri. Jujur, bukan hal yang mudah bagi Luri meminta Fedo untuk kembali datang ke Shanghai satu hari sebelum dia berangkat ke London. Luri berani bertaruh kalau pria ini pasti akan langsung curiga kemudian mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dan inilah yang sebenarnya sedang mengganggu pikiran Luri hingga membuatnya diam tak bersuara.
"Sayang, kenapa kau malah tersenyum sih. Ayo cepat jawab!" desak Fedo semakin penasaran.
"Kak Fedo, kau dan keluargamu itu sudah sangat baik karena bersedia menerima kehadiranku yang bukan siapa-siapa ini. Apakah dengan alasan itu aku mampu untuk merasa tidak puas terhadap kalian, hm? Tidak, Kak. Bukan itu alasan yang membuatku diam. Bukan!" jawab Luri.
"Kalau bukan itu lalu apa? Seriuslah, dadaku sudah hampir meledak karena ketakutan memikirkan hal ini, sayang!" ucap Fedo kembali mendesak. Setengah memaksa Fedo merengek agar Luri bisa secepatnya mengatakan alasan di balik sikap diamnya tadi.
"Bisakah dua hari setelah ini kau kembali datang ke Shanghai, Kak? Aku perlu semangat darimu untuk memulai hari yang baru sebagai seorang mahasiswi."
Fedo mengerjap-ngerjapkan mata saat Luri tiba-tiba bicara sambil mengelus pipinya. Otaknya bleng, Fedo seperti tidak bisa berpikir jernih saking syoknya dia melihat tindakan Luri yang baru pertama kali ini dia lakukan. Sedetik kemudian ruh di tubuh Fedo seperti terbang melayang-layang. Dia girang setengah mati karena gadis ini sudah memiliki keberanian untuk menyentuhnya lebih dulu.
"Bisa, tentu saja aku sangat bisa, sayang. Apa sih yang tidak bisa kulakukan untukmu?" jawab Fedo penuh semangat.
"Harus benar-benar bisa ya karena hari itu adalah hari yang sangat penting untukku. Aku akan sangat kecewa kalau kau sampai tidak datang dan menemuiku, Kak."
Maafkan aku, Kak Fedo. Hari yang aku maksud mungkin akan menjadi hari paling mengecewakan dalam hidupmu. Aku minta maaf jika itu tidak seperti yang kau pikirkan, batin Luri merasa menyesal.
Entah dorongan darimana tiba-tiba saja Luri mendekatkan wajahnya kemudian mengecup pipinya Fedo. Sekali. Dan setelah itu dia cepat-cepat melepas seatbelt di tubuhnya kemudian langsung menekan tombol untuk membuka pintu mobil. Dengan wajah memerah seperti kepiting rebus, Luri berlari masuk ke dalam rumah sambil menggigit bibir bawahnya. Dia meninggalkan Fedo dalam keadaan terbengang dan mata membelalak lebar.
__ADS_1
"Astaga, apa yang baru saja terjadi?" gumam Fedo tak percaya.
Secepat kilat Fedo mengusap sebelah pipinya. Dia kemudian melihat ke arah pintu rumah Luri di mana di sana terlihat Nania yang tengah berdiri menyender ke pintu. Fedo lalu menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, dan sedetik kemudian dia tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"Sayang, kenapa kau menggemaskan sekali. Tanpa aba-aba kau mencium pipiku kemudian pergi meninggalkan aku sendirian di sini. Kau sengaja ingin membuatku mati berdiri atau bagaimana? Aaahhh, manisnya. Luri mengecup pipiku. Ahahahaha!" pekik Fedo kegirangan.
Bak seperti orang gila, Fedo tertawa kencang sambil terus mengusap wajahnya. Sungguh, perasaannya benar-benar sangat membuncah sekarang. Dia sangat amat tidak menyangka kalau Luri akan seagresif ini dalam melakukan tindakan yang bahkan dia sendiri tak pernah membayangkan.
"Astaga, bagaimana ini. Dadaku tidak bisa berhenti berdebar. Apa yang harus aku lakukan ya?" ucap Fedo seraya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Mendadak dia merasa gerah, seperti ada yang berdesir di dalam tubuhnya.
Fedo kembali tertawa kencang saat tidak sengaja terkenang wajah Luri yang memerah setelah mencium pipinya. Gadis itu, ini benar-benar di luar dugaan. Fedo sampai tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking terkejutnya dia akan sikap Luri.
"Ini tidak boleh di diamkan. Ayah dan Kayo harus tahu kalau Luri itu memiliki sisi yang begitu manis. Mereka pasti akan sangat iri setelah aku mengatakan kalau Luri baru saja menandaiku. Ya, mereka harus tahu itu. Harus!"
Tanpa membuang waktu lagi, Fedo segera mengirim pesan ke nomor ayah dan juga adiknya untuk memberitahukan apa yang baru saja terjadi dengan pipinya. Setelah itu Fedo terpikir untuk sedikit menggoda Luri, sekalian mengingatkannya kalau malam ini dia akan datang untuk menjemputnya.
"Sayang, terima kasih banyak untuk kecupan di pipiku ya. Aku senang sekali. Dan jangan lupa jam enam nanti aku akan datang kemari untuk menjemputmu. Bersiaplah, aku sudah tidak sabar melihatmu memakai gaun itu. Kau pasti akan terlihat sangat cantik nanti."
Kurang lebih seperti itulah isi pesan yang di kirimkan Fedo pada Luri. Setelah itu barulah Fedo beranjak pergi dari sana dengan suasana hati yang berbunga-bunga. Fedo menang jackpot besar hari ini karena setelah mempertemukan Luri dengan keluarganya, dia masih mendapat bonus satu kecupan di pipinya. Meski hanya kecupan singkat, tapi hal itu sudah berhasil membuat Fedo kehilangan kewarasannya karena dia terus saja tertawa selama di perjalanan. Benar-benar definisi orang gila sejati.
😂😂😂
__ADS_1
*****