
Di salah satu restoran ternama di Jepang terlihat satu keluarga yang tengah asik menikmati berbagai macam jenis susshime. Mereka adalah keluarga Eiji, salah satu keluarga konglomerat yang cukup di segani. Mattheo yang memiliki peran sebagai kepala keluarga terlihat begitu semangat saat menyuapkan sepotong susshime ke dalam mulut istrinya. Sementara kedua anaknya, Kayo dan Fedo, nampak mencebikkan bibir melihat kelakuan ayah mereka. Pria tua yang selalu membucin tanpa mengenal tempat.
"Tolong berhenti bersikap seperti itu, Ayah. Sadar tidak kalau mata semua pengunjung restoran terarah ke meja kita. Ini memalukan, Ayah!" protes Fedo sembari menjejalkan makanan ke dalam mulutnya.
"Biar saja, Ayah tidak peduli. Lagipula tidak ada yang meminta mereka untuk melihat ke arah kita kok. Iya kan, darling?" sahut Mattheo tak berperasaan.
"Bu, tolong beritahu Ayah supaya berhenti bermesraan di depan umum. Minta Ayah untuk melanjutkan kemesraan kalian di rumah nanti."
Abigail tertawa pelan mendengar rengekan putranya. Dia kemudian memperhatikan ke sekeliling restoran. Benar saja, rupanya orang-orang memang sedang melihat ke arah mejanya. Pantas saja Fedo sampai merengek seperti ini.
"Hentikan, Matt. Aku sudah kenyang!" ucap Abigail seraya menahan tangan suaminya yang ingin kembali menyuapkan susshime.
"Mana ada kenyang, darling. Lihat tubuhmu, ini terlalu kurus. Kau tahu bukan kalau aku tidak suka pada wanita yang hanya berisi tulang dan kulit? Sama sekali tidak ada enak-enaknya saat sedang bercinta. Seperti sedang meniduri batang pisang yang bernyawa!" sahut Mattheo dengan entengnya.
Abigail, Fedo dan Kayo sama-sama tercengang kaget mendengar ucapan pria tua yang kini tengah asik menikmati telur ikan salmon. Sungguh, Abigail sangat ingin merontokkan semua gigi yang ada di dalam mulut suaminya. Bisa-bisanya Mattheo bicara dengan begitu vulgar di hadapan kedua anak mereka. Sungguh definisi seorang ayah yang buruk.
"Hei, kenapa kalian diam saja? Ayo makan!"
"Matt, aku rasa garpu ini perlu kugunakan untuk mengorek kerongkonganmu. Kau ini sudah gila atau bagaimana hah. Bisa-bisanya kau berkata vulgar di depan Kayo dan Fedo. Kau sadar tidak kalau ucapanmu bisa menggiring mereka ke jalan yang tidak benar!" amuk Abigail seraya mengacungkan garpu ke depan wajah suaminya.
Bukannya takut, Mattheo malah dengan santai mengambil garpu di tangan istrinya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Darling, kita ini hidup di zaman modern. Tidak ada gunanya juga menutupi sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas ranjang pada anak-anak kita. Karena tanpa kita ajari pun mereka sudah bisa mencari tahu sendiri seperti apa rasanya. Buktinya Fedo. Anak sulung kita ini bahkan hampir menghabiskan setiap malamnya dengan mengajak para gadis untuk bersenang-senang. Lalu apa pengaruhnya jika aku berkata seperti tadi? Itu sudah menjadi hal yang biasa dia lakukan, darling!" jelas Mattheo.
"Mungkin iya bagi Fedo, tapi tidak bagi Kayo. Dia itu tidak pernah berhubungan dengan apa yang di sebut aktifitas ranjang. Bagaimana kalau nanti dia sampai merasa penasaran kemudian mencari tahu di luaran sana? Mau kau mati di tanganku jika Kayo sampai tidur dengan pria yang bukan suaminya? Iya?" sentak Abigail menepis ucapan sang suami.
"Haiihhh, sayangku. Aku yakin Kayo tidak akan mungkin menjelajahi dunia ******* itu dengan pria yang bukan suaminya. Karena apa? Karena dia adalah wanita terhormat. Kau mendidiknya dengan sangat baik sampai-sampai tidak ada satupun pria yang bersedia untuk menjadi kekasihnya. Dan juga jalur yang di pilih oleh Kayo dan Fedo itu tidak sama, darling. Jika Kayo menggunakan jalur pemecah kantong semar, maka Fedo memakai jalur penggemuk tanaman. Lihat saja nanti kalau dia sudah menikah. Aku jamin perut Luri akan langsung membuncit begitu terkena pupuknya!"
Abigail yang tadinya sedang emosi tak kuasa untuk tidak tertawa saat Mattheo menyebutkan kata-kata yang cukup nyeleneh. Dan begitu juga dengan Kayo dan Fedo. Mereka terkikik pelan sambil terus menggelengkan kepala. Ayah mereka sungguh ajaib karena mampu menemukan kosakata yang ambigu untuk menyebut sikap mereka dalam menanggapi aktifitas ranjang.
"Astaga Matt, aku tidak mengerti kenapa dulu bisa menerimamu sebagai suami. Aku rasa waktu itu pikiranku sedang tidak waras," ucap Abigail setelah puas tertawa.
"Inilah salah satu kelebihan suamimu, darling. Selain tampan dan kaya raya, aku adalah seorang Ayah yang cocok untuk di jadikan panutan. Meski sedikit tabu untuk sebagian orang, kita tidak boleh berpikiran sempit tentang hal-hal seperti ini. Lebih baik Kayo dan Fedo belajar dari kita daripada mereka mencari tahu sendiri karena itu akan lebih berbahaya. Aku yakin mereka berdua pasti bisa memilah mana yang harus mereka jadikan pelajaran dan mana yang harus mereka praktekkan. Ayah benar tidak?" tanya Mattheo sembari menatap wajah kedua anaknya.
__ADS_1
"Aku sangat setuju dengan pemikiran Ayah, Bu. Meskipun sedikit tidak waras, tapi informasi ini sangat berguna untuk kita yang masih muda!" jawab Fedo merasa puas akan pemikiran sang ayah.
"Kalau kau, Kay. Apa tanggapanmu tentang dunia aktifitas ranjang yang baru saja di bahas oleh Ayahmu?" tanya Abigail penasaran.
Untuk seperkian detik Kayo hanya diam sambil mengaduk-aduk minuman di dalam gelas. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kay, kau baik-baik saja?"
"Aku tidak menyalahkan jika Ayah memiliki pemikiran seperti itu, Bu. Tapi jika itu di sampaikan pada anak-anak yang berpikiran terbuka seperti aku dan Kak Fedo tentunya. Kesimpulan yang jauh lebih buruk bisa saja muncul jika perkataan Ayah di sampaikan pada orang dan waktu yang kurang tepat. Misalnya bagi mereka yang tidak pernah mendapat pendidikan seksualitas dari orangtua maupun dari sekolah. Anak-anak ini pasti akan beranggapan kalau aktifitas ranjang adalah sesuatu yang bisa mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Ini berbahaya, Bu. Karena itulah aku harap Ayah lebih hati-hati lagi jika ingin membahas masalah seperti ini. Pastikan hanya ada kita yang mendengar!" ucap Kayo tegas.
Mattheo dan Fedo terdiam sambil menelan ludah. Yang dikatakan oleh Kayo ada benarnya juga kalau tidak semua anak-anak mendapat pendidikan tentang hal semacam ini dari keluarga ataupun dari tempat mereka menuntut ilmu. Efeknya mungkin tidak sampai menghilangkan nyawa, tapi bisa di jamin kalau masa depan mereka akan suram jika kebablasan. Mattheo sebagai pencetus kemesuman ini pun merasa tidak enak. Dia terlihat seperti sedang menahan malu.
"Bagaimana Matt, apa kau masih ingin lanjut mengatakan hal-hal vulgar seperti tadi? Kau dengar sendiri kan apa tanggapan putrimu?" tanya Abigail sambil menatap datar ke arah suaminya.
"Tentu saja aku akan tetap mengatakannya, darling. Tapi itu hanya di depanmu dan di depan kedua anak kita. Aku janji tidak akan sembarangan menguap!" sahut Mattheo sembari mengacungkan kedua jarinya ke atas kepala.
Kayo tertawa melihat cara unik ayahnya dalam mengucap janji. Setelah itu pandangannya tertuju ke arah pintu masuk restoran dimana ada dua orang wanita tengah berjalan masuk ke dalam.
"Kak, sebenarnya kau itu meniduri wanita jenis apa sih? Bisa-bisanya kau mengajak seorang nenek gayung yang tidak tahu diri untuk menemanimu mendesah sepanjang malam. Aku muak melihatnya terus muncul di sekitar kita, Kak. Benar-benar sangat menggelikan!" jawab Kayo jengkel.
"Hehh, kau ini bicara apa, Kay? Nenek gayung apa yang kau maksud?"
"Lihat ke arah pintu masuk. Nenek gayungnya ada di sana!"
Fedo dan kedua orangtuanya pun langsung menoleh ke arah pintu masuk. Setelah itu mereka sama-sama menarik nafas berat begitu tahu siapa yang di maksud nenek gayung oleh Kayo.
"Adikmu benar, Fed. Ibu juga mulai risih dengan sikap Kanita dan juga ibunya. Mereka begitu angkuh dan tidak tahu malu!" ucap Abigail ikut berkomentar.
"Ada apa ini, darling. Kau seperti pernah bertengkar dengan mereka saja," tanya Mattheo curiga.
Sebelum Abigail sempat menjawab, Kanita dan ibunya sudah lebih dulu menghampiri meja mereka. Kayo yang masih kesal dengan kejadian saat di salon pun langsung membuang muka ke arah lain.
"Halo Fed, Kay. Halo Paman Mattheo, Bibi Abigail!" sapa Kanita seraya tersenyum manis semanis tebu busuk.
__ADS_1
"Halo, Kanita," sapa Mattheo mewakilkan keluarganya. "Halo Nyonya Mili, apa kabar?"
"Seperti yang anda lihat, Tuan Mattheo. Kabarku selalu baik!" sahut Mili angkuh.
Kanita kemudian melihat ke arah Fedo yang hanya diam sambil menikmati makanan. Sejak kejadian mengerikan waktu itu, Kanita memang sedikit menjauhinya. Bukan karena takut, tapi dia hanya ingin mencari celah untuk bisa menarik simpatik pria kaya raya ini.
"Oh, ada Nyonya Abigail dan Nona Kayo juga ternyata. Apa kabar? Kalian pasti bahagia sekali kan setelah apa yang terjadi di salon waktu itu?" tanya Mili penuh nada menyindir.
"Tentu saja kami sangat bahagia setelah melihat anda di acuhkan oleh semua orang. Bagaimana? Apa sekarang Nyonya tertarik untuk mengulang kejadian seperti waktu itu? Aku tidak keberatan untuk melakukannya, Nyonya Mili yang terhormat!" sahut Kayo seraya tersenyum miring.
"Kau ... jaga bicaramu, Nona Kayo. Aku diam bukan berarti aku kalah dan takut, tapi aku diam karena aku tidak selefel dengan orang rendahan seperti kalian!" amuk Mili sambil menunjukkan jari.
Melihat adik dan ibunya hendak di permalukan, Fedo segera mengambil tindakan. Dia dengan sangat kasar menepis jari ibunya Kanita dari depan wajah adiknya. Mattheo yang melihat keributan tersebut hanya diam saja. Belum waktunya untuk dia mengambil tindakan, begitu pikirnya.
"Nyonya Mili, sekarang tolong jawab pertanyaanku dengan baik. Lebih rendah mana antara Kayo yang membela ibuku, dengan putrimu yang terus merengek meminta untuk di tiduri, hah? Sebelum kau menuduh orang lain jauh lebih rendah darimu, sebaiknya kau perhatikan dulu seperti apa kelakuan putrimu di luaran sana. Wanita ini .... " geram Fedo sambil menunjuk wajah Kanita. "Wanita ini hampir di setiap malamnya selalu merangkak naik ke atas ranjang para pria. Dengan sikapnya yang liar dan tidak memiliki harga diri ini kau berani menyebut adik dan ibuku sebagai orang rendahan? Kau ingin mati atau bagaimana hah!"
Kanita dan Mili langsung mundur menjauh saat Fedo berteriak marah. Sadar kalau suasana sudah tidak mengenakan, Kanita pun buru-buru mengajak ibunya pergi dari sana. Dia tidak menduga kalau sang ibu akan berani bicara seperti itu pada adik dan juga ibunya Fedo. Benar-benar sangat bodoh.
"Ayah, ayo kita pulang. Aku tidak sudi berada dalam satu bangunan yang sama dengan kedua iblis itu!" ucap Fedo kemudian bergegas keluar dari dalam restoran.
Mattheo menggenggam tangan Abigail dan Kayo kemudian mengajak mereka untuk menyusul Fedo yang sudah keluar lebih dulu. Dia sekarang tengah menahan diri untuk tidak menghajar anak dan istrinya Dominic yang sudah berani menghina martabat anak dan istrinya di depan umum.
Dominic, aku tidak akan berbaik hati padamu jika anak dan istrimu sampai ketahuan menghina wanita-wanita kesayanganku. Aku bersumpah untuk itu, Dominic. Geram Mattheo dalam hati.
πππππππππππππππππ
β Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani, dan di sana baru saja up part. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani
__ADS_1