PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Hukuman Yang Manis


__ADS_3

Fedo membenarkan letak dasinya saat dia dan keluarganya tiba di kediaman Luri. Tadi setelah Luri menelpon, dengan tergesa-gesa Fedo langsung memberitahu ayah dan ibunya kalau Paman Luyan marah setelah mengetahui berita di media. Dan jujur saja, Fedo sangat khawatir kalau berita tersebut akan membawa dampak buruk pada hubungan mereka.


"Ck, santai sedikit lah, Fed. Ayah berani jamin kalau ayahnya Luri tidak akan mungkin meminta kalian untuk saling menjauh!" omel Mattheo saat putranya terlihat begitu tidak sabaran menunggunya keluar dari dalam mobil.


"Ayah, saat Luri menelpon dia bilang kalau Paman Luyan benar-benar sangat marah setelah mengetahui berita itu. Baru semalam Paman Luyan bilang padaku kalau dia sangat mengkhawatirkan perasaan Luri jika orang-orang sampai mencari tahu latar belakang keluarganya, dan sekarang berita itu sudah menyebar kemana-mana. Jadi wajar saja kan kalau sekarang aku merasa sangat resah? Aku takut Paman Luyan akan kembali membatasi kedekatanku dengan Luri seperti waktu itu. Ayah paham tidak sih!" protes Fedo kesal melihat sikap ayahnya yang terkesan acuh.


Abigail segera melirik tajam ke arah Mattheo yang ingin membalas perkataan Fedo. Dia kemudian mengusap bahu putranya yang memang sedang dilanda gelisah sejak tadi. Abigail maklum, dia sangat bisa mengerti alasan putranya menjadi gelisah seperti ini.


"Yakin dan percayalah kalau semuanya pasti akan baik-baik saja. Mungkin ayahnya Luri hanya merasa kaget saat tahu kalau foto kalian bermunculan di berbagai media. Sebagai seseorang yang sadar akan perbedaan status antara kau dan Luri, sangat wajar kalau beliau marah lalu memintamu untuk datang. Jangan khawatir, ada Ibu bersamamu. Oke?" ucap Abigail memberikan dukungan untuk putranya.


"Apa Ibu akan membelaku jika Paman Luyan sampai memintaku untuk menjauhi Luri?" tanya Fedo antara lega dan juga resah.


"Jangankan membelamu, Ibu bahkan berani bersumpah akan membawakan Luri sebagai calon pengantin wanitamu di pelaminan nanti," jawab Abigail tanpa ragu. "Sudah, sekarang lebih baik kita semua masuk ke dalam saja. Luri dan keluarganya pasti sudah menunggu kedatangan kita. Ayo!"


Dengan wajah lesu Fedo mengangguk mengiyakan ajakan sang ibu. Dia sama sekali tak menggubris bisik-bisik antara ayah dan adiknya yang tengah sibuk menggunjing tentang dirinya. Fedo terlalu khawatir, dia sedang tidak mau mengurusi kenakalan dari dua orang yang berjalan di belakangnya.


Nania yang saat itu mengintai dari balik jendela langsung memberi tanda pada kakaknya kalau Fedo dan keluarganya sudah datang. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Nania tetap saja berlagak seolah dia tahu segalanya. Padahal tadi kakaknya sempat melarang, tapi Nania tak peduli. Kapan lagi dia bisa bertemu muka dengan saudaranya Fedo yang sangat cantik itu. Siapa tahu dengan begini dia bisa ketularan cantiknya Kayo. Benar tidak? Hehe.


"Kau pergi sambutlah mereka, Luri. Setelah itu ajak mereka untuk masuk ke dalam. Tidak sopan kalau hanya membiarkan para pelayan yang menyambut," ucap Luyan sedikit gugup saat rumahnya di datangi oleh keluarga kaya itu.

__ADS_1


"Baik, Ayah," sahut Luri patuh.


Segera Luri melarang pelayan yang hendak membukakan pintu ketika bel rumah berbunyi. Sebelum itu Luri menarik nafasnya dalam-dalam, tersenyum semanis mungkin lalu membuka pintu untuk tamu agung yang sudah di nanti-nantikan kedatangannya sejak tadi.


"Halo Bibi Abigail, Paman Mattheo, Kayo," sapa Luri ramah. Dia kemudian beralih menyapa Fedo yang tengah tersenyum sambil menatapnya. "Halo, Kak Fedo."


Mattheo, Abigail dan juga Kayo balik menyapa Luri tak kalah ramah. Akan tetapi tidak dengan satu orang lainnya. Ya, Fedo terjebak dalam dunia halusinasinya di mana dia tengah bermesraan dengan Luri. Hal ini terjadi karena Luri yang terlihat sangat cantik dengan setelah jumpsuit tanpa lengan berwarna merah menyala yang mana sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


Ya ampun, sayang. Kalau kau terus-terusan cantik seperti ini kan aku jadi tidak rela kembali ke Jepang. Rasanya aku hanya ingin terus berada di dekatmu saja. Sungguh, batin Fedo dengan pemikirannya yang mulai melanglang buana.


"Luri, abaikan saja laki-laki satu itu. Lebih baik sekarang kau bawa kami pergi menemui ayahmu. Itu jauh lebih berfaedah ketimbang kau menyapa orang yang sedang asik dengan dunia fantasinya," sahut Mattheo menyindir secara terang-terangan saat putranya hanya diam tak membalas sapaan tuan rumah.


"Oh, em kalau begitu mari silahkan masuk, Paman, Bibi, Kayo. Kebetulan Ayah dan Ibu sudah menunggu kalian sejak tadi," sahut Luri sambil tersenyum malu. Dia tentu paham kalau kata-kata yang di ucapkan oleh ayahnya Fedo memiliki maksud tersendiri.


"Fokuslah dulu bagaimana cara kau memenangkan hati Paman Luyan, Kak. Baru setelahnya kau boleh melamunkan apapun tentang Luri di dalam pikiranmu."


Begitu mendengar bisikan Kayo, Fedo langsung menatap Luri yang tengah berdiri di sisi pintu. Dia mencoba mencari tahu dari matanya apakah benar Paman Luyan sedang dalam kondisi hati yang tidak baik atau tidak. Luri yang sadar akan arti tatapan Fedo hanya diam membiarkan. Hal ini di karenakan Luri yang sudah mendapat pesan dari ayahnya agar tidak memberitahu apapun kepada Fedo. Anggaplah kalau ini adalah semacam hukuman manis untuk hubungan mereka berdua, begitu kata sang ayah.


"Sayang, tunggu dulu!" ucap Fedo sambil menahan lengan Luri yang ingin menyusul keluarganya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" tanya Luri pura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya di inginkan oleh Fedo.


Kedua alis Fedo saling bertaut melihat ketenangan di wajah gadisnya. Dia heran sekaligus bingung. Bukankah kemarahan Paman Luyan sangat amat mengancam hubungan mereka, tapi kenapa Luri terlihat seolah semuanya baik-baik saja? Aneh.


"Kak Fedo, ada apa? Kenapa kau menahanku untuk menyusul yang lainnya ke dalama?" tanya Luri lagi ketika pertanyaan pertamanya di abaikan begitu saja.


"Em sayang. Apa kau tidak merasa khawatir kalau Paman Luyan akan meminta kita untuk menjauh gara-gara foto itu?" sahut Fedo yang malah balik bertanya.


Luri tersenyum kecil. Dia dengan lembut melepaskan pegangan tangan Fedo di lengannya lalu menggandengnya masuk ke dalam rumah. Sebelum sampai di dalam ruangan tempat semua orang berkumpul, Luri mengajak Fedo mengobrol sebentar. Ada sesuatu yang sangat ingin Luri tanyakan pada pria yang kini tengah sibuk mengelus jari-jari tangannya.


"Kak Fedo, apa kau sengaja membiarkan foto-foto itu tersebar luas di media?" tanya Luri penasaran.


Matilah. Darimana Luri tahu ya kalau foto-foto itu memang sengaja aku biarkan tersebar? Kalau aku menjawab jujur kira-kira dia marah tidak ya? Tapi kalau tidak jujur, yang ada Luri malah akan semakin marah. Bagaimana ini? Batin Fedo panik saat ingin memilih jawaban.


"Jujur saja, tidak perlu berbohong. Kalau memang benar kau yang sengaja membiarkan foto-foto itu tersebar, itu artinya kau harus siap dengan segala konsekuensi yang ada, Kak. Ingat, ada banyak mantan teman tidur Kakak yang pastinya akan mulai tertarik mencari tahu tentang siapa aku. Mereka semua pasti merasa penasaran tentang siapa wanita yang sedang bersamamu di dalam foto itu," ucap Luri tenang.


"Sayang, maafkan aku. Kau benar kalau foto itu memang aku yang sengaja membiarkan wartawan untuk mengunggahnya ke media. Aku melakukannya karena tidak sabar ingin memberitahu dunia bahwa gadis yang aku cintai itu sangat cantik seperti bidadari. Dan itupun aku menyeleksi fotonya terlebih dahulu agar orang-orang tidak tahu bahwa itu kau. Begitu ceritanya," sahut Fedo yang akhirnya memilih untuk jujur.


Luri tersenyum. Dia sudah menduga kalau Fedo pasti tidak akan membiarkannya menjadi bahan olok-olokan semua orang. Tak mau membuat yang lainnya lama menunggu, Luri mengajak Fedo untuk segera bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Dia mengangguk samar ketika menyadari kalau sang ayah tengah melirik ke arahnya.

__ADS_1


Ayah, Kak Fedo benar-benar menjagaku. Semoga saja masalah foto ini tidak akan mengundang badai yang bisa menciptakan celah di antara kami berdua, batin Luri penuh harap.


*****


__ADS_2