PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kecantikan Surgawi


__ADS_3

Luyan berusaha tenang saat membalas tatapan kedua orangtua Fedo yang sejak tadi terus melihat ke arahnya. Jujur, tatapan mereka cukup mengintimidasi, terlebih lagi tatapan ibunya Fedo. Hal ini membuat Luyan mau tidak mau semakin bertambah gugup meski dia terus berusaha bersikap santai.


"Tuan Luyan, waktu kami sudah tidak banyak lagi untuk terus berada di Shanghai. Jadi bagaimana kalau sekarang kita bicara langsung ke intinya saja," ucap Mattheo. "Begini. Tadi Fedo bilang kau meminta kami semua agar secepatnya datang kemari untuk membahas tentang foto Luri yang sudah tersebar luas di media. Apa benar?"


"Benar, Tuan Mattheo. Akan tetapi sepertinya ada sedikit kesalahpahaman di sini," jawab Luyan. Dia kemudian beralih menatap Fedo yang saat itu duduk dengan raut wajah yang cukup tegang. "Sebenarnya tadi itu aku meminta Luri memanggil Fedo saja. Tapi karena sekarang kalian semua sudah ada di sini, mari kita sekalian bahas bersama saja penyelesaian dari masalah yang sedang heboh di media."


Fedo menelan ludah. Benaknya sudah ketar-ketir sendiri membayangkan kalau Paman Luyan akan langsung mengatakan di depan keluarganya kalau dia dan Luri tidak di izinkan untuk bersama. Memikirkan kemungkinan seperti itu mendadak membuat kaki Fedo terasa sangat lemah. Dia kemudian menoleh saat ada tangan lembut yang mengusap punggung tangannya. Ya, Luri seolah ingin menyampaikan kalau kepercayaan gadis desa ini ada bersamanya.


"Tuan Mattheo, apa menurutmu foto Luri yang tersebar bisa mempengaruhi kesehariannya nanti?" tanya Luyan memulai eksekusi.


"Aku rasa tidak, Tuan Luyan. Karena wajah gadis yang ada di foto itu sangat jauh berbeda dengan wajah Luri. Jika tidak di cermati dengan teliti, orang tidak akan mungkin sadar kalau itu adalah dia," jawab Mattheo.


"Berarti ada kemungkinan kan kalau ada orang yang bisa mengenali bahwa itu adalah putriku?"


Abigail segera angkat bicara begitu melihat ketidakyakinan di diri ayahnya Luri. Dia harus menengahi masalah ini agar tidak melebar kemana-mana.


"Tuan Luyan, aku rasa mata semua orang akan sedikit sulit tertuju pada Luri karena selama ini putrimu sama sekali tak pernah muncul di berita publik. Jadi mungkin hanya orang-orang terdekat saja yang bisa mengenali. Akan tetapi jika sampai ada orang yang berani melakukan teror apalagi menyentuh kehidupan putrimu, aku sendiri yang akan turun tangan. Fedo adalah putra kebanggaanku, dan dia menginginkan putrimu. Sebagai orangtua yang telah merawat dan membesarkannya, aku dan suamiku wajib menjaga keselamatan dari calon wanita yang akan menjadi menantu kami. Jadi kau tidak perlu merasa cemas, Tuan Luyan. Luri aman di bawah perlindungan kami semua," ucap Abigail tegas tak terbantahkan.


Luyan terdiam sejenak. Dia cukup kaget dengan pengakuan ibunya Fedo yang langsung menyebut Luri sebagai calon menantunya. Setelah itu Luyan melihat ke arah Nita yang terlihat seperti sedang menahan rasa haru. Wajarlah, putri mereka kini berada di bawah perlindungan satu keluarga yang latar belakangnya tidak perlu di ragukan lagi. Orangtua mana yang tidak akan merasa lega jika mengetahui fakta bahwa sudah ada satu kebahagiaan yang akan menanti kehidupan putri mereka kelak.


Di saat Luri dan kedua orangtuanya sedang menahan haru karena perkataan ibunya Fedo, lain halnya dengan yang sedang di rasakan oleh Nania. Ya, sejak tadi gadis beracun ini tak henti-hentinya menatap Kayo. Dia sangat amat terpesona melihat kecantikan di diri wanita ini yang entah kenapa bisa begitu membius penglihatannya.


"Hei gadis manis. Apa yang sedang kau lihat, hm?" tanya Kayo yang merasa seperti sedang bersama kakak ipar Elea ketika melihat penampakan Nania. Lucu, tapi terlihat jauh lebih culas ketimbang istri dari sepupunya itu.

__ADS_1


"Kak Kayo, darimana kau mendapatkan kecantikan surgawi seperti ini? Sungguh, aku sangat iri melihatnya," tanya Nania tanpa malu-malu.


"Kecantikan surgawi?" beo Kayo sembari mengerutkan kening.


"Iya, kecantikan surgawi. Kau tahu tidak, Kak. Selain Elea, Ibu dan kedua kakakku, kau adalah orang tercantik yang pernah aku lihat. Sayang sekali aku adalah seorang wanita. Coba saja kalau aku terlahir sebagai seorang laki-laki, aku pasti akan mengencanimu, Kak. Sungguh!" ucap Nania dengan sangat menggebu-gebu.


Mattheo yang saat itu sedang menikmati teh hampir saja menyemburkan air dari dalam mulutnya begitu mendengar perkataan Nania. Dia mengalami dejavu, merasa seperti pernah mendengar seseorang bicara dengan gaya frontal seperti gadis ini. Sangat mengerikan.


"Nania, tidak boleh bicara tidak sopan begitu pada tamu!" tegur Nita merasa tak enak hati melihat ayahnya Fedo yang hampir tersedak setelah mendengar perkataan Nania.


"Kenapa tidak boleh, Bu? Aku kan hanya sedang memuji kecantikan Kak Kayo saja. Di mana salahnya?" tanya Nania bingung.


"Bibi Nita, sudah tidak apa-apa. Aku malah senang karena nantinya aku akan memiliki adik ipar yang manis dan juga lucu seperti Nania," sela Kayo begitu Bibi Nita ingin kembali menegur Nania. "Nah, karena sekarang para orang dewasa ingin membicarakan hal penting, bagaimana kalau kau mengajakku berkeliling di rumah ini saja, Nania? Nanti aku akan memberitahumu rahasia tentang kecantikan surgawikuku. Bagaimana, kau mau tidak?"


"Em Tuan Mattheo, Nyonya Abigail. Kami minta maaf ya jika sikap Nania membuat kalian merasa tidak nyaman. Dia masih anak-anak dan sikapnya sedikit bar-bar. Jadi kami masih membutuhkan beberapa waktu untuk mendidiknya agar bisa menjadi gadis yang sopan santun dalam bicara," ucap Nita sambil tersenyum kikuk.


"Tidak apa-apa, Nyonya Nita. Malah kami senang melihat cara Nania yang terang-terangan dalam menunjukkan perasaannya. Kami sangat maklum karena gadis seusianya memang rata-rata masih belum bisa bersikap dengan baik. Jangan khawatir," sahut Abigail maklum meski nyatanya dia sendiri cukup kaget melihat sikap adiknya Luri. Benar-benar sangat mirip dengan istri keponakannya.


Setelah berkata seperti itu Abigail kembali lanjut membahas tentang kegelisahan di diri ayahnya Luri mengenai foto yang beredar di media. Mereka berenam saling bicara dan mendengarkan, mencari titik terang agar masalah ini tidak menimbulkan kegundahan di salah satu pihak.


"Fedo, Paman ingin minta maaf karena sebenarnya tujuan Paman memanggilmu kemari hanyalah untuk memberi hukuman saja agar nantinya kau tidak ceroboh lagi. Paman ingin memastikan kalau kau benar-benar akan menjaga Luri dengan baik sampai ke depannya nanti. Begitu," ucap Luyan yang akhirnya mengakui alasan dia memanggil Fedo ke rumahnya.


"Jadi Paman tidak marah?" tanya Fedo kaget. Dia tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

__ADS_1


"Tidak. Paman sama sekali tidak marah padamu," jawab Luyan seraya terkekeh lucu melihat Fedo yang terbengang kaget setelah tahu kalau ini hanyalah bentuk keusilannya saja.


Luri tersenyum sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga saat Fedo menatapnya lekat. Setelah itu dia mengangguk, membenarkan bahwa perkataan ayahnya adalah jujur.


"Maaf ya, Kak. Aku hanya menuruti keinginan Ayah saja," ucap Luri meminta maaf.


"Astaga, sayang. Kau tahu tidak kalau sejak tadi jantungku itu tidak berhenti berdebar? Ternyata aku ini sedang di kerjai oleh calon istri dan calon ayah mertuaku. Astaga!" sahut Fedo sembari mengusap wajahnya. Dia sangat lega sekarang.


Abigail dan Mattheo ikut merasa lega setelah mengetahui kebenarannya. Dari sini mereka bisa menarik kesimpulan kalau orangtuanya Luri memiliki sikap yang hangat dan sedikit usil. Sebenarnya saat di perjalanan tadi Abigail sempat merasa tidak percaya kalau ayahnya Luri menjadi sangat marah hanya karena melihat foto yang beredar di internet. Apalagi ayahnya Luri sudah memberikan restu untuk Fedo menjalin hubungan dengan putrinya, jadi sedikit mustahil masalah sekecil ini bisa menyebabkan masalah besar untuk kehidupan cinta putranya. Dan ternyata dugaannya benar. Tuan Luyan hanya sedang mengerjai putranya saja.


"Darling, Fedo. Sudah waktunya untuk kita berangkat ke Jepang," ucap Mattheo seraya melihat jam di tangannya.


"Benarkah? Cepat sekali sih," sahut Fedo merasa tak rela karena akan kembali berpisah dengan gadisnya.


"Sudah, jangan banyak mengeluh. Bukankah dua hari lagi kau akan kembali kemari untuk memberikan dukungan pada Luri?" sungut Mattheo sedikit kesal melihat raut memelas di wajah putranya.


Fedo berdecak. Setelah itu dia berdiri sambil menggenggam tangan Luri. Dia kemudian berpamitan pada Paman Luyan dan juga Bibi Nita sebelum akhirnya pergi keluar lebih dulu untuk melakukan perpisahan kecil dengan gadis desanya. Seperti biasa, Fedo ingin meminta pesangon sebelum kembali ke negaranya. Hehehe.


"Hmmm, aku harap kalian bisa maklum akan sikap kurang ajar putraku, Tuan Luyan, Nyonya Nita. Fedo sangat mencintai Luri, dia pasti merasa sangat marah saat aku mengingatkan kalau kami harus segera kembali ke Jepang," ucap Mattheo sambil menghela nafas.


"Ya begitulah sikap anak muda yang sedang jatuh cinta, Tuan Mattheo. Asalkan masih wajar, aku dan istriku bisa memakluminya," sahut Luyan sambil tersenyum kecil.


Setelah itu Mattheo dan Abigail pun berpamitan pada kedua orangtuanya Luri sembari menunggu Kayo dan Nania kembali. Mereka kemudian sama-sama berjalan keluar dengan Nania yang mendorong kursi roda ayahnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2