
Fedo menelan ludah begitu sampai di dalam ruangan pesta. Bagaimana tidak! Kini semua orang tengah menatapnya tak berkedip. Apalagi Gleen. Bola mata pria itu sudah seperti akan terbang keluar begitu melihatnya datang dengan menggandeng tangan Luri.
"Kau kenapa, Gleen? Seperti tidak pernah melihat orang tampan saja," tanya Fedo pura-pura bersikap biasa. Padahal jantungnya sudah hampir meledak karena takut mendapat amukan dari ibunya.
"Kenapa kau bilang?" sahut Gleen sambil berkacak pinggang. "Kau diam-diam membawa adikku pergi tanpa meminta izin padaku lalu dengan entengnya kau bertanya kenapa? Yakk, Fedo. Kau tahu apa yang di sebut rasa malu tidak, hah? Seenaknya saja membawa kabur anak gadis orang. Kalau Luri sampai kenapa-napa bagaimana? Mau kau bertanggung jawab?"
Kali ini sepertinya Gleen sudah salah dalam menunjukkan kemarahannya. Harusnya tadi itu dia tidak menyinggung kata yang berhubungan dengan tanggung jawab. Alih-alih membuat Fedo merasa jera, yang ada kemarahan Gleen malah di tanggapi Fedo dengan sangat antusias. Ya, Casanova ini dengan semangatnya langsung menyetujui pertanggungjawaban yang tadi sempat di singgung oleh Gleen.
"Kau jangan khawatir, Gleen. Kalau Luri sampai kenapa-napa kau tinggal cari aku saja. Detik itu juga aku pasti akan langsung menikahinya!" ucap Fedo tanpa ragu.
"Wahhh, sialan. Aku salah bicara ternyata!" umpat Gleen merutuki kebodohannya sendiri.
Lusi yang melihat kelakuan Fedo dan suaminya hanya tertawa saja sambil menggelengkan kepala. Setelah itu dia berjalan menghampiri Luri yang terlihat malu karena ketahuan oleh semua orang pergi berduaan dengan Fedo.
"Kau dari mana, hm? Kakakmu sangat mengkhawatirkanmu tadi," tanya Lusi dengan lembut.
"Maafkan aku karena pergi tanpa izin pada Kakak dulu. Tadinya itu aku dan Kak Fedo sedang menikmati jamuan di meja sebelah sana, lalu ada seorang pria yang mengajakku berkenalan. Kak Fedo marah, kemudian mengajakku pergi ke lantai atas hotel ini. Dia membawaku ke sebuah taman, Kak," jawab Luri dengan jujur menjelaskan apa yang terjadi.
"Oh, begitu. Ya sudah tidak apa-apa, tapi lain kali usahakan untuk pamit dulu ya. Kasihan Kak Gleen, dia sampai tidak enak makan karena cemas memikirkanmu," sahut Lusi maklum.
Sudah tidak mengherankan lagi jika ada pria lain yang tertarik pada Luri mengingat betapa memukaunya penampilan Luri malam ini. Dan Lusi pun sangat memaklumi kecemburuan di diri Fedo. Adiknya ini sangat cantik. Kalau pria sekelas Fedo saja bisa sampai tergila-gila pada adiknya, lalu apa kabar dengan para pria yang lain? Meski sedikit tidak benar, tapi Lusi cukup setuju dengan tindakan Fedo yang memilih untuk membawa Luri pergi daripada harus membiarkan emosinya kembali tersulut jika sampai ada pria-pria lain yang datang untuk mengajak adiknya berkenalan. Membayangkan betapa marahnya Fedo saat itu tanpa sadar membuat Lusi jadi tergelitik sendiri. Pasti reaksinya sangat lucu.
"Sayang, Fedo tidak melakukan sesuatu yang salah kepadamu 'kan?" tanya Abigail sambil melirik ke arah putranya. Dia cukup kesal saat Kayo memberitahunya kalau Fedo telah membawa kabur Luri tanpa meminta izin pada kakaknya terlebih dahulu. Ini tidak sopan.
__ADS_1
"Tidak, Bibi. Di taman tadi aku dan Kak Fedo hanya duduk sambil menikmati pemandangan saja," jawab Luri jujur.
"Apa benar begitu? Kau jangan takut mengatakan kebenarannya pada Bibi karena Bibi tidak akan membela Fedo jika memang benar dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepadamu!"
Merasa kalau atmosfer mulai memanas, secepat kilat Fedo langsung memberi penjelasan pada ibunya. Bisa panjang urusannya jika sang ibu sampai salah paham dengan berpikir kalau dia sudah melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada Luri.
"Bu, meskipun aku adalah mantan buaya darat, aku tidak sejahat itu untuk merusak masa depan wanita yang begitu aku cintai. Lagipula aku kan hanya membawa Luri pergi ke lantai atas, kenapa kalian menjadi begitu heboh seolah aku mengajak Luri untuk cek-in di salah satu kamar yang ada di hotel ini? Aneh," ucap Fedo.
Kalau saja sekarang mereka tidak sedang berada di ruangan pesta, Abigail pasti sudah menggeplak kepala Fedo. Benar-benar ya anak satu ini.
"Ayolah, Fed. Jaga sedikit gaya bicaramu. Kita masih di tempat pesta, kau jangan sampai memancing kemarahan ibumu di sini. Memangnya kau tidak malu jika dimarahi di hadapan Luri dan yang lainnya apa?" tegur Mattheo sambil mengusap pelan punggung istrinya. Dalam hatinya, Mattheo sedikit merutuki perkataan yang keluar dari mulut Fedo barusan.
Fedo-Fedo. Apa kau lupa kalau Ibumu ini sangat tidak suka kau bicara kurang ajar. Tapi kenapa kau malah bicara seperti itu tadi? Haih, Tuhan. Tolong jangan kau turunkan semua kegilaanku pada anak ini. Karena nanti aku juga yang akan terkena imbasnya, keluh Mattheo dalam hati.
"Gantung saja Kak Fedo di depan pelaminan itu Bu supaya semua orang tahu kalau dia itu adalah seorang pria yang sangat mesum," ucap Kayo dengan senang hati memanaskan keadaan.
"Aku tidak," sahut Kayo sambil mengendikkan bahunya.
"Lalu yang barusan itu apa?"
"Itu hanya salah bicara saja."
Fedo mendengus. Dia kemudian melihat ke arah Lusi dan Luri yang ternyata tengah menatapnya sambil tersenyum. Fedo kikuk, dia lalu mengusap tengkuk belakangnya setelah tersadar kalau percakapannya di dengar langsung oleh kedua wanita cantik ini.
__ADS_1
"Lihatlah, Luri. Pria yang akan kau kencani sangat mesum. Apa kau tidak memiliki niat untuk berganti haluan saja?" tanya Gleen sambil menggerakkan dagu ke arah Fedo.
"Gleen, bisa tidak kau jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain?" sahut Fedo sambil menatap jengkel ke arah Gleen. "Luri tidak ku izinkan menatap pria selain aku. Jadi kau jangan coba-coba menjadi orang ketiga dalam hubungan kami ya?"
"Orang ketiga kepalamu!" hardik Gleen dongkol. "Aku kakaknya, bodoh!"
"Gleen, sudahlah. Jangan berdebat lagi, malu dilihat oleh Paman Mattheo dan Bibi Abigail," sela Lusi merasa tak enak hati melihat suaminya bicara kasar di hadapan keluarganya Fedo. Dia takut keluarga ini akan merasa tersinggung.
"Oh, kau tenang saja, Lusi. Kami sama sekali tidak keberatan kalau Gleen ingin mencaci maki Fedo. Silahkan saja, waktu dan tempat di persilahkan," sahut Mattheo dengan lapang dada.
Lusi ternganga, sedangkan Luri malah menundukkan kepala sambil menahan tawa. Dia tentu tahu kalau perkataan ayahnya Fedo hanyalah candaan saja. Ini dia ketahui setelah pertemuan mereka siang tadi yang mana membuat Luri paham kalau keluarga ini adalah satu keluarga yang sangat amat humoris.
"Ck, Bu. Lihatlah kelakuan Ayah. Masa iya dia membiarkan orang lain mencaci maki anaknya sendiri. Ini tidak benar, Bu!" protes Fedo sambil menatap sengit ke arah sang ayah yang malah tersenyum-senyum seperti tidak mempunyai dosa.
"Biar saja. Kau memang pantas untuk mendapatkannya," sahut Abigail tanpa ragu. "Luri, tolong kau jangan heran melihat kegilaan kedua pria ini ya. Kalau kalian sudah menikah nanti, kau akan melihat sesuatu yang jauh lebih gila daripada ini. Fedo dan Pamanmu suka sekali bersikap kekanakan tak peduli di mana mereka sedang berada. Jadi Bibi harap kau mempersiapkan kesehatan batinmu mulai dari sekarang agar nantinya tidak terlalu stress melihat pertengkaran mereka. Ya?"
Fedo sedikit resah saat ibunya membahas tentang pernikahan. Segera dia melirik ke arah Luri, takut kalau-kalau gadis ini akan mengatakan hal yang sama seperti yang di ucapkan saat mereka masih berada di taman tadi.
"Tidak apa-apa, Bibi Abigail. Itu malah terlihat manis di mataku," sahut Luri sedikit canggung saat ibunya Fedo menyinggung tentang pernikahan.
"Hmmm, kau memang benar-benar calon menantu idaman. Bibi jadi tidak sabar menunggu hari di mana kau dan Fedo akan menggelar pesta seperti ini."
Tak mau ibunya terlalu jauh membahas tentang pernikahannya dengan Luri, Fedo segera menyudahi dengan cara mengajak semua orang menikmati jamuan pesta. Jujur, dia sangat parno sekarang. Entah apa yang akan terjadi jika seandainya Luri sampai menjawab kalau dia tidak keberatan Fedo menikah dengan wanita lain. Sudah bisa di pastikan kalau Fedo akan langsung mati di tempat.
__ADS_1
Ibu, aku harap kau tidak lagi mengatakan sesuatu yang bisa membuat Luri merasa tak nyaman. Tahu tidak kalau di taman tadi dia hampir membuatku kehilangan nafas? Aku mohon, Bu. Tolong jangan menyinggung kata-kata itu lagi, batin Fedo dalam hati.
*****