PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pasangan Bergulat


__ADS_3

Jovan, Luri, dan Galang terlihat begitu tegang ketika Nania jatuh tersungkur setelah menerima satu tendangan dari laki-laki yang menjadi lawannya dalam bertanding. Ya, saat ini mereka bertiga sedang menonton acara yang di adakan oleh kelompok bela diri yang di ikuti oleh gadis beracun itu. Ketiganya sangat antusias, sesekali mereka juga memekik tertahan saat Nania hampir mendapat bogem mentah dari lawan.


"Astaga. Aku tidak menyangka kalau menonton adegan seperti ini jauh lebih menegangkan daripada menaiki rollcoster," ucap Jovan sembari mengusap wajahnya. Nania yang bergulat, tapi Jovan yang mandi keringat. Benar-benar olahraga yang sangat memacu andrenalin.


"Itulah kenapa aku menyarankanmu untuk mengikuti kelas bela diri supaya nanti kau tidak terlalu tegang ketika Nania tiba-tiba menyerangmu, Jo," celetuk Galang sambil mengelap keringat di keningnya. Dia juga merasakan hal yang sama seperti Jovan, tapi pura-pura biasa saja meski raut syok dan juga ngeri tercetak jelas di wajahnya.


Bagaimana tidak ngeri. Nania, si gadis desa berusia dua belas tahun itu bertarung dengan seorang anak laki-laki berpostur tinggi besar yang kemungkinan seusia dengan Galang dan Jovan. Dan yang lebih mengerikan lagi Nania seperti tidak ada takut-takutnya melakukan serangan balik meski beberapa kali tubuhnya harus menerima pukulan yang cukup kuat. Sungguh, mental petarung di diri Nania tidak main-main. Mengerikan, tapi juga menakjubkan.


"Ck, saranmu sama sekali tak membantu, Lang. Kau pikir aku dan Nania itu apa, hah? Pasangan pegulat?" tanya Jovan memprotes celetukan Galang dengan kesal.


"Haih, terserah kau mau bilang apa, Jo. Yang penting aku sudah memberimu saran dan masukan," jawab Galang enggan untuk berdebat. Dia memilih untuk fokus menonton adegan di mana Nania kini tengah menguasai permainan.


Ya ampun, untung saja Luri tidak sekuat dan sebar-bar Nania. Jika iya, aku pasti bisa menjadi kambing guling di tangannya. Hiii, batin Galang sambil bergidik ngeri.


Luri terlihat mengepalkan kedua tangannya ke atas saat Nania berhasil menumbangkan lawan yang tubuhnya jauh lebih besar darinya. Walaupun hanya menonton, tapi Luri seperti terbawa dalam suasana mencekam yang di ciptakan oleh kedua orang tersebut. Dia serasa ikut bertanding, juga seperti ikut merasa sakit ketika Nania terkena pukulan.


"Ayo, Nania. Kakak yakin kau pasti bisa memenangkan pertandingan ini!" teriak Luri dengan begitu hebohnya. Dia sampai berdiri saking semangatnya ketika memberi dukungan untuk sang adik.


Alhasil, suara teriakan Luri menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Pandangan mata mereka tertuju padanya, yang mana membuat Galang menjadi was-was. Bukan was-was sih, tapi lebih tepatnya cemburu. Ya, Galang cemburu melihat tatapan semua laki-laki yang ada di sana sarat akan rasa kagum pada kecantikan Luri. Wajarlah, pesona gadis desa ini memang tidak ada duanya. Jangankan orang-orang ini, Galang saja di buat tidak berdaya di bawah pesonanya seorang Luri.


"Ekhmm, Luri. Kau jangan berteriak sekencang itu. Lihat, sekarang semua orang jadi memperhatikanmu," ucap Galang sambil berdehem pelan.


Ingin rasanya aku mencungkil bola mata kalian semua. Beraninya ya kalian menatap gadis yang aku sukai. Huh, batin Galang cemburu.


"Ya ampun, apa yang sudah aku lakukan?" sahut Luri kikuk begitu menatap ke sekeliling ruangan. Rupanya yang di katakan oleh Galang benar kalau semua orang kini tengah menatapnya. Sambil menahan malu, Luri kembali duduk kemudian menundukkan kepala. Tangannya sampai berkeringat dingin saking malunya dia.

__ADS_1


Jovan yang paham maksud dari perkataan Galang nampak menyeringai tipis. Dia dengan usil menyenggol pinggang Galang kemudian mengacungkan jari jempol ke arahnya.


"Kerja bagus, kawan," bisik Jovan memuji.


"Ck, diam kau. Jangan merusak suasana hatiku!" sahut Galang seraya berdecak kesal.


"Astaga, aku itu sedang memuji keberanianmu, bodoh. Kenapa kau malah menuduhku merusak suasana hatimu. Yang benar saja kau, Lang!"


Galang mendengus. Setelah itu dia menatap tajam ke arah beberapa anak laki-laki yang masih menatap penuh kagum ke arah Luri. Sungguh, kesabaran Galang benar-benar sangat di uji sekarang. Dia serba salah ingin melakukan apa. Melabrak anak-anak itu rasanya sangat tidak mungkin karena Galang bukan siapa-siapanya Luri. Dia bisa mati karena malu jika anak-anak itu sampai menanyakan status apa yang dia miliki hingga berani melabrak mereka. Akan tetapi jika tetap di biarkan rasanya sungguh tidak nyaman. Galang tidak rela ada orang lain yang memandang penuh pesona ke arah Luri. Perasaannya terlukai.


Saat Galang tengah di lema dan Luri tengah berjuang menahan rasa malu, terlihat Nania berjalan menghampiri mereka. Pertandingan sudah selesai, dan Nania lah yang menjadi pemenangnya. Raut kelelahan tercetak jelas di wajah Nania, tapi bibirnya menyunggingkan senyum penuh kepuasan.


"Nania, ini minumnya!" ucap Jovan dengan penuh perhatian membukakan botol minuman lalu memberikannya pada Nania.


"Wee, ada apa ini. Kenapa kau baik sekali padaku, Kak!" sahut Nania dengan nafas yang masih terengah. "Tapi terima kasih ya. Kau bawa cemilan juga tidak, Kak?"


"Nah, semua cemilan-cemilan ini untukmu, Nania. Makanlah," ucap Jovan. Tangannya tanpa sadar bergerak mengusap keringat yang membanjir di wajah Nania. Jovan terpesona.


Mendapat perlakuan seperti itu tak membuat Nania merasa risih. Dia malah asik sendiri dengan cemilan dan juga minuman yang di berikan oleh Jovan. Sementara Galang dan Luri, kedua orang ini hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan Jovan yang membucin tanpa mengenal tempat. Ingin menegur, tapi mereka tidak tega. Jadi ya sudah, mereka akhirnya memilih untuk diam menonton saja.


"Bagaimana semua? Gaya baku hantamku tadi keren tidak?" tanya Nania sambil menatap bergantian ke arah Jovan, Galang, dan juga kakaknya.


"Sangat keren, Nania. Kakak kagum padamu, kau benar-benar sangat hebat!" jawab Luri tanpa ragu memuji kepiawaian adiknya dalam seni bela diri.


"Setuju. Kau keren dan juga sangat hebat!" timpal Galang ikut melayangkan pujian.

__ADS_1


"Lalu kau, Kak? Menurutmu tadi gaya permainanku bagaimana?" tanya Nania pada Jovan yang hanya diam sambil mengusap keringat di keningnya.


"Kau sangat hebat, Nania. Karena itulah aku menjadi falling in love padamu," jawab Jovan tanpa sadar.


Kedua alis Nania saling bertaut saat mendengar jawaban Jovan yang sedikit aneh. Segera dia menepis tangan Jovan lalu menatapnya galak.


"Falling in love? Maksudnya kau jatuh cinta padaku, Kak?" tanya Nania penuh selidik.


"Hah?"


Jovan tergagap. Dia langsung tersadar kalau baru saja kelepasan bicara. Tak mau membuat Nania marah, Jovan segera memikirkan alasan untuk menjelaskan maksud dari perkataannya tadi.


"Em itu, Nania. Maksudku aku jatuh cinta pada gayamu bertarung. Tadi kau terlihat sangat keren sampai-sampai membuatku tidak bisa mengedipkan mata karena terpesona. Begitu!" ucap Jovan sambil menggaruk rambutnya. Dia sangat gugup sekarang.


"Ouh, aku pikir kau jatuh cinta padaku, Kak," sahut Nania kemudian kembali menikmati cemilan di tangannya.


"Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta padamu? Tidak boleh ya?"


Jantung Jovan berdebar dengan sangat kuat ketika menunggu jawaban Nania. Sungguh, dia seperti hilang akal karena berani bertanya seperti ini di hadapan banyak orang.


Ya Tuhan, semoga saja Nania tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuatku malu seumur hidup, ujar Jovan dalam hati.


"Tentu saja sangat boleh, Kak Jovan. Bukankah waktu itu aku pernah bilang kalau kau adalah calon kandidat utama yang akan aku pilih sebagai calon suami? Di masa depan nanti kan kau akan menjadi seorang bos yang kaya raya. Jadi aku sama sekali tidak merasa keberatan jika di sukai oleh orang sepertimu. Secara, aku kan memang hanya akan menikah dan berpacaran dengan orang yang memiliki banyak uang. Karena hidup itu tidak melulu soal cinta, tapi butuh makan supaya kenyang. Benar tidak?"


Perkataan Nania sukses membuat mulut semua orang yang ada di sana terbuka lebar. Sungguh, pemikiran gadis desa ini begitu polos dan terang-terangan. Nania tanpa ragu mengklaim dirinya sebagai seorang gadis mata duitan. Akan tetapi jika di pikir-pikir kembali, tidak salah sih kalau Nania memiliki anggapan seperti itu. Toh kenyataan memang benar kalau cinta tidak bisa membuat perut menjadi kenyang.

__ADS_1


Nania, kau luar biasa. Aku berjanji di masa depan nanti akan menjadi laki-laki yang mempunyai banyak uang. Karena dengan begitu kau tidak akan lari dariku. Hehehe, batin Jovan kegirangan.


***


__ADS_2