PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pesan Mesum


__ADS_3

Luri tidak henti-hentinya tersenyum setelah dia mendapat pesan romantis yang di kirim oleh Fedo tepat ketika dia membuka mata. Saking bahagianya, Luri sampai tidak menyadari kalau gelagatnya sejak tadi terus di awasi oleh Nania. Ya, gadis nakal itu diam-diam memperhatikan kakaknya yang terlihat seperti sedang berbunga-bunga. Nania tentu saja tahu kalau ini pasti ada hubungannya dengan si pria genit, dia hanya merasa penasaran apa yang sudah dilakukan oleh Fedo hingga mampu membuat sang kakak menebar senyum tanpa memandang tempat.


"Ekhhmmm, kenapa rumah ini di penuhi aroma pepohonan yang baru tersiram air hujan ya!" sindir Nania sambil berdehem kuat.


Luyan dan Nita yang sedang menikmati sarapan langsung menoleh ke arah Nania saat mendengar ucapannya. Sementara Luri, gadis itu terlihat gugup saat menyadari kalau sindiran itu di tujukan untuknya. Takut ayah dan ibunya tahu, Luri dengan cepat menyembunyikan rasa bahagianya dengan berpura-pura menyendok makanan.


"Nania, tidak baik bicara sambil makan. Kau bisa tersedak nanti," tegur Nita pelan.


"Hehe, maaf Bu," sahut Nania seraya melihat ke arah samping. Dia yakin sekali jantung kakaknya pasti sedang berdebar kencang sekarang.


"Ngomong-ngomong tadi maksud ucapanmu itu apa, Nania? Ayah jadi penasaran?" tanya Luyan sambil menatap seksama ke arah putri bungsunya.


"Luyan, kau ini bagaimana sih. Kita semua sedang sarapan, jangan mengajak Nania mengobrol!" omel Nita pada sang suami.


"Sesekali tidak apa-apalah, mumpung anak-anak sedang libur sekolah. Setelah ini mereka berdua pasti akan sibuk di dalam kamar untuk mengerjakan tugas. Biarlah kita mengisi waktu yang ada untuk berbincang-bincang!" sahut Luyan sembari mengelus tangan istrinya.


Nita hanya bisa mengangguk pasrah mendengar keinginan suaminya. Memang benar semenjak pindah ke kota mereka sudah jarang sekali memiliki waktu untuk sekedar mengobrol seperti yang biasa mereka lakukan saat masih tinggal di desa. Hal ini di sebabkan oleh kesibukan kedua putrinya yang memiliki banyak tugas dari sekolah. Nita sungguh baru tahu kalau sekolah di desa dan di kota memiliki perbedaan waktu yang cukup jauh. Jika biasanya Luri pulang sekolah jam satu siang, sekarang putrinya itu baru akan ada di rumah setelah jam lima sore. Begitu juga dengan Nania. Di tambah lagi si bungsu mengikuti kelas bela diri dan juga les bahasa asing. Semakin membuat waktu mereka berkurang banyak.


"Nania, kau belum menjawab pertanyaan Ayah," ucap Luyan.


"Oh, itu. Sebenarnya tidak ada maksud apa-apa, Ayah. Aku hanya terkenang dengan cerita temanku yang mendapat pesan mesum dari seorang pria. Dan kebetulan aku tadi melihat Kak Luri yang terus tersenyum sejak keluar dari kamarnya. Ya sudah aku goda saja, siapa tahu Kakak mendapat pesan yang sama seperti temanku" jawab Nania kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Coba sekarang Ayah tanya pada Kak Luri kenapa dia bersikap seperti itu. Aku penasaran ingin mendengar alasannya."


Sayur yang sedang di telan oleh Luri seperti terhenti di tenggorokan saat Nania mengarahkan perhatian Ayah dan Ibu padanya.


Nania, kau ini benar-benar. Batin Luri tak habis pikir dengan kejahilan sang adik.

__ADS_1


"Luri, ada apa ini? Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Nita.


"Emm tidak ada apa-apa, Bu. Aku hanya sedang merasa senang karena hari ini sekolah libur dan aku bisa memiliki banyak waktu untuk merawat Ayah dan Ibu di rumah. Itu saja," jawab Luri seraya tersenyum menampilkan kedua lesung di pipinya.


"Sampai sebegitu senangnya?" timpal Luyan ikut tersenyum.


"Iya Ayah. Aku selalu senang jika bisa merawat kalian sesering mungkin. Karena aku ingin Ayah dan Ibu tetap sehat sampai aku meraih kesuksesan."


Luyan dan Nita sangat terharu mendengar perkataan Luri. Meski usianya masih muda, Luri memiliki perasaan yang begitu lembut. Gadis ini hampir menghabiskan waktunya hanya untuk merawat orangtua dan sekolah. Sama sekali tidak pernah mementingkan kebebasannya untuk menikmati masa remaja seperti gadis-gadis lain.


"Yakin hanya karena libur sekolah, Kak?" celetuk Nania dengan sengaja. "Bukan karena mendapat pesan mesum dari seseorang, hm?"


Nania menatap penuh goda ke arah sang kakak yang terlihat gugup. Rasanya sungguh lucu bisa mengerjai kakaknya di depan orangtua mereka. Sebenarnya Nania ingin sekali menyebut nama pria Jepang itu, tapi dia takut kakaknya akan kembali mendapat omelan. Alhasil Nania memutuskan untuk menggodanya saja. Ya hitung-hitung sebagai hiburan di hari libur mereka. Hehe.


"Pesan mesum dari siapa sih, Nania? Jangan mengada-ada," kilah Luri dengan wajah sedikit memerah. Adiknya ini benar-benar.


Luri menarik nafas lega karena Nania tidak menyebut nama Fedo. Dia masih aman untuk sekarang.


"Jovan itu siapa, Nania? Ibu baru dengar," tanya Nita ingin tahu.


"Kak Jovan itu teman satu angkatan dengan Kak Luri, Bu. Tapi mereka beda kelas karena Kak Jovan ada di jurusan IPS," jawab Nania. "Tahu tidak Bu. Kemarin saat di perpustakaan Kak Galang dan Kak Jovan hampir melakukan baku hantam. Mereka bertengkar gara-gara memperebutkan Kak Luri. Keren kan?"


Luyan dan Nita tercengang kaget mendengarnya. Bukan karena putri mereka yang menjadi rebutan, melainkan kata-kata Nania yang menganggap pertengkaran sebagai sesuatu yang keren. Anak satu ini memang kelewatan.


"Ayah, Ibu, jangan dengarkan apa kata Nania. Itu tidak benar. Galang dan Jovan bukan bertengkar, mereka hanya salah paham saja," ucap Luri membenarkan ucapan sang adik. Dia tidak mau orangtuanya merasa khawatir.

__ADS_1


"Salah paham karena saling berebut ingin mendekatimu ya?" ledek Luyan sambil mengerlingkan mata ke arah putrinya. Sudah hal biasa jika putri keduanya selalu menjadi penyebab pertengkaran beberapa pria. Karena hal seperti ini sudah sering terjadi bahkan ketika mereka masih tinggal di desa.


"Tidak seperti itu, Ayah. Awalnya itu Galang ingin mengikutiku membaca buku di perpustakaan. Tapi saat dia pergi ke kamar mandi, Jovan datang kemudian mengajakku berkenalan. Sebenarnya yang membuat keributan di sana itu bukan mereka, tapi Nania. Dia berteriak dengan sangat kuat sambil mengatakan kalau Jovan ingin berbuat mesum padaku. Padahal waktu itu kami berdua sedang fokus membaca buku. Dan gara-gara kenakalan Nania, Jovan sampai di usir keluar dari sana!" jelas Luri kemudian menoleh ke arah sang adik.


Nania meringis sambil menggaruk keningnya. Dia mati kutu setelah kakaknya mengadukan kenakalan yang dia buat. Tak ingin di marahi, Nania pun membuat pembelaan untuk melindungi diri.


"Tapi kan aku melakukan semua itu demi melindungi Kakak. Juga karena aku mendapat tugas dari Kak ....


Belum sempat Nania menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah langsung di bungkam oleh sang kakak. Hal itu membuat kedua orangtuanya mengerutkan kening. Sepertinya mereka curiga.


"Ayah, Ibu, kita lanjutkan saja sarapan paginya. Yang terpenting sekarang antara aku, Galang, dan Jovan tidak ada apa-apa. Kami bertiga hanya berteman baik. Sungguh!" jelas Luri mengakhiri kegilaan adiknya. Orangtuanya bisa kecewa jika Nania sampai mengatakan kalau Fedo memerintahkannya untuk menjadi mata-mata.


"Hmmm, kalian berdua ini ada-ada saja. Ya sudah ayo selesaikan sarapannya!" ucap Nita seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua putrinya.


Akhirnya Luri bisa bernafas lega karena orangtuanya tak lagi penasaran dengan apa yang ingin di ucapkan oleh adiknya. Karena situasinya sudah aman, barulah Luri melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Nania. Setelah itu dia kembali menikmati sarapan tanpa menghiraukan Nania yang kini tengah menatapnya sambil mengerucutkan bibir.


Huh, tidak di sangka Kak Luri ternyata bisa bersikap bar-bar juga. Tapi ini sangat lucu. Lain kali aku akan membuatnya panik seperti tadi ah. Ujar Nania membatin.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani, dan di sana baru saja up part. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya


πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss


πŸ’œIg: rifani_nini

__ADS_1


πŸ’œFb: Rifani


__ADS_2