
Setelah memberi waktu untuk Kanita menenangkan diri, Dominic dengan penuh semangat mengajak Mili pergi menemuinya. Di wajahnya sama sekali tak terlihat keputus-asaan maupun kemarahan. Hanya satu, ikhlas. Ya, setelah kemarin bertemu dengan seorang bijak mata hati Dominic seakan di buka lebar oleh Tuhan. Dia mendapat pencerahan yang begitu besar hingga mampu membuatnya memaafkan kesalahan Kanita tanpa ada embel-embel terpaksa. Dominic sadar kalau apa yang terjadi pada putrinya itu tak lepas dari kesalahannya yang hanya sibuk mengumpulkan harta duniawi saja. Dan sekarang tiba waktunya bagi Dominic untuk membawa putrinya kembali ke jalan yang benar. Yaitu dengan memaafkan dan menerima kehamilannya, kemudian membimbingnya untuk memulai hidup baru yang jauh lebih baik.
Kanita yang saat itu sedang duduk melamun di atas ranjang langsung menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara ketukan dari sana. Dia lalu berpaling, merasa malu untuk sekedar bertatap muka dengan wajah sang ayah. Ada beban tersendiri di benak Kanita, yang mana membuatnya memilih untuk bersikap seperti ini.
"Hei, sayang. Apa kabar? Calon cucu Ayah baik-baik saja 'bukan?" tanya Dominic memaklumi sikap putrinya yang terkesan acuh.
Sambil tersenyum senang Dominic dan Mili berjalan menghampiri Kanita. Setelah itu mereka duduk di sisi ranjang, menatap dalam ke arah putri mereka yang hanya diam tak berkata.
"Kanita, kau sudah minum susunya belum?" tanya Mili memecah kesunyian yang ada.
"Aku lebih memilih untuk meminum racun daripada harus membiarkan bayi sialan ini tumbuh dengan sehat, Bu," jawab Kanita dingin. "Dan tolong jangan pernah lagi meminta pelayan membawakan susu untukku. Asal Ibu tahu, aku muak melihatnya."
"Hmmm, kenapa harus begitu? Padahal Ayah sangat berharap kalau calon cucu Ayah akan terlahir dengan tubuh gendut dan pipi berisi," ucap Dominic menimpali kekesalan putrinya.
Kening Kanita mengerut. Dia merasa ada yang salah dengan perkataan ayahnya barusan. Penasaran apakah dia salah dengar atau tidak, Kanita memberanikan diri untuk menatap wajah sang ayah. Dia tertegun ketika mendapati ada satu senyuman hangat di sana.
Apa ini? Ayah tersenyum? Aku tidak salah lihat 'kan? Apa yang terjadi? Apa jangan-jangan Ayah bersikap seperti ini karena sudah menemukan pria yang akan dinikahkan denganku?
__ADS_1
"Kanita, Ayah tahu kau pasti sedang kebingungan melihat sikap Ayah yang seperti ini. Iya 'kan?" tanya Dominic.
"I-iya, Ayah," jawab Kanita gugup. "Bukankah waktu itu Ayah begitu benci padaku ya? Kenapa sekarang sikap Ayah sangat berbeda sekali. Ada apa? Apa Ayah dan Ibu sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan masa depanku bersama Fedo?"
Dominic langsung menyentuh tangan Mili yang ingin membantah pertanyaan Kanita yang lagi-lagi menyebut nama Fedo. Dia lalu menggelengkan kepala ketika Mili hendak memprotes tindakannya.
"Untuk sekali ini saja, Kanita. Tolong jangan sebut nama anak kurang ajar itu di dalam pembicaraan kita. Ibu tahu kau sangat menyukainya, tapi kau juga harus tahu kalau Ibu merasa sangat sakit hati setiap kali kau menyebut namanya. Bisa kan kau sedikit mengalah demi Ibu?" ucap Mili berusaha menekan emosinya.
Tak ada kata sahutan yang keluar dari mulut Kanita ketika dia diminta untuk tidak menyebut nama Fedo di hadapan sang ibu. Dia hanya diam saja, lebih tertarik untuk menunggu ayahnya memberi penjelasan tentang perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba ini.
Kanita terpaku mendengar penjelasan tersebut. Sungguh, dia benar-benar tidak menyangka kalau kemarahan ayahnya bisa reda dengan begitu cepat hanya karena tidak sengaja bertemu dengan orang asing. Atau mungkinkah orang yang memberi nasehat pada sang ayah adalah seorang malaikat yang di kirim Tuhan untuk meredakan amarahnya? Entahlah, Kanita tidak tahu. Yang jelas dia sangat amat syok dengan hal ini. Terlalu mengagetkan untuk Kanita memahami alasan sang ayah yang berubah menjadi begitu hangat dalam waktu yang begitu singkat.
"Kanita, Ayah minta maaf ya. Gara-gara keegoisan Ayah masa depanmu jadi hancur begini," ucap Dominic sembari mengelus rambut putrinya yang begitu berantakan. "Kau jangan sedih. Mulai sekarang Ayah dan Ibu akan selalu ada di sampingmu. Kita bertiga akan melawati masalah ini bersama-sama. Ya?"
"Lalu bayi ini? Apa Ayah tidak membencinya?" tanya Kanita memberanikan diri untuk bertanya. Jantungnya seperti akan meledak melihat reaksi ayahnya yang hanya diam tak langsung menjawab.
"Bayi itu adalah anakmu, yang artinya adalah cucu Ayah dan Ibu," sahut Mili menggantikan suaminya menjawab. "Kanita, Ibu memang kecewa dengan kejadian ini, tapi bukan berarti Ibu membenci anakmu. Ibu ingin kau tetap melahirkannya."
__ADS_1
"Tapi, Bu. Bagaimana nanti jika orang-orang mencela keluarga kita jika mereka tahu anak ini ada sebelum aku menikah? Ini memalukan, Bu. Aku tidak mau anak ini!"
"Jangan pedulikan apa kata orang karena ini adalah hidup kita, Kanita. Dia bayimu, dan dia adalah bagian dari keluarga ini. Ayah akan sangat mengutukmu kalau kau sampai tega mengambil hak-hak kehidupannya. Biarlah dia hadir di tengah-tengah kita, jangan renggut kebahagiaannya. Oke?" sahut Dominic dengan tegas menolak keinginan putrinya yang menolak untuk melahirkan cucunya. "Sayang, kalau kau merasa takut dan terbebani akan cemoohan orang-orang yang tinggal di negara ini, Ayah tidak keberatan untuk pindah ke negara lain. Asalkan masih bisa tinggal bersama denganmu dan juga dengan ibumu, maka itu bukan masalah untuk Ayah. Dan bayi ini, Ayah akan sangat mencintainya terlepas apakah kau bersedia untuk mengatakan siapa ayahnya atau tidak. Ayah sudah tidak peduli lagi dengan hal itu karena sekarang kebahagiaan kalian adalah yang paling penting. Masa bodo dengan orang-orang itu."
Setelah berkata seperti itu Dominic langsung memeluk Kanita yang sedang terbengang kaget. Tak lupa juga dia meminta Mili untuk mendekat agar bisa memeluknya juga. Tuhan begitu baik. Di balik cobaan yang Dia berikan, Dia juga menyatukan kembali hubungan yang tadinya sudah merenggang. Dominic tidak membenarkan kesalahan besar yang telah dilakukan oleh putrinya, tapi dia sadar bahwa inilah yang seharusnya dia lakukan. Merangkul, menjadi tameng paling depan untuk melindungi keluarga kecilnya.
"Ayah, maafkan aku, Ayah. Aku benar-benar tidak sengaja melakukan ini semua. Aku tidak sadar," ucap Kanita di sela-sela isak tangisnya. Dia merasa sangat terharu akan kebesaran hati sang ayah yang dengan begitu tulus memaafkan kesalahannya, bahkan mau menerima bayi yang dia kandung. Ini benar-benar keajaiban yang tak pernah Kanita pikirkan. Terlalu mengejutkan.
"Ayah maafkan, tapi dengan syarat kau harus mau merawat dan melahirkan cucu Ayah. Kau mungkin gagal menjadi anak yang baik, tapi Ayah tegaskan kalau kau tidak boleh gagal menjadi ibu yang baik untuk anakmu. Mengerti?" jawab Dominic lega.
"Mengerti, Ayah."
Mili hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat penyatuan antara anak dan suaminya. Sungguh, beban berat yang selama tiga hari ini bergelayut di pundaknya seperti terangkat semua. Mili benar-benar sangat lega sekarang.
Terima kasih atas kebaikan hatimu, Tuhan. Tanpa kuasa-Mu, anak dan suamiku tidak akan mungkin bisa seperti ini. Sekali lagi terima kasih, ucap Mili memanjatkan doa dalam hati.
***
__ADS_1