
Luri begitu serius saat sedang membaca buku di perpustakaan. Dia sedang mengumpulkan bahan untuknya belajar malam ini.
"Boleh bergabung tidak?"
Seorang siswa tampan kini tengah berdiri di sisi meja yang menjadi tempat Luri belajar. Meski tak tahu siapa nama siswa tersebut, dengan ramah Luri mempersilahkannya untuk duduk. Dia kemudian membereskan buku-buku miliknya yang masih bercecer di atas meja.
"Aku Jovan, anak IPS. Kalau boleh tahu namamu siapa?" tanya Jovan memperkenalkan diri.
"Namaku Luri, anak IPA1."
Sambil menjawab, Luri menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Tapi dia tidak menyadari kalau tindakannya itu membuat Jovan terpana.
"Cantiknya," gumam Jovan tak sadar.
"Kau bilang apa barusan, Jo? Aku tidak dengar," tanya Luri seraya melayangkan tatapan teduh.
Di tatap seperti itu oleh Luri membuat Jovan menjadi gugup. Cepat-cepat dia menutupi wajahnya menggunakan buku yang dia bawa. Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Jovan ingin masuk ke dalam perut bumi saat itu juga. Rasa gugupnya kian bertambah begitu Luri memberitahunya kalau buku yang dia baca terbalik.
"Jo, kenapa kau membaca buku dalam keadaan terbalik begitu? Nanti matamu sakit," tanya Luri heran melihat kelakuan aneh dari siswa yang baru saja berkenalan dengannya.
"Ah, oh ini, tidak apa-apa kok. Ak-aku terkadang memang suka membaca buku dengan gaya terbalik," jawab Jovan beralasan.
"Emm, begitu ya. Ya sudah kita jangan mengobrol lagi, nanti kena tegur pengurus perpusatakaan!" bisik Luri kemudian lanjut membaca buku.
Di samping rak buku yang berada di belakang meja Luri, Galang tengah berdiri sambil mengepalkan kedua tangan. Dia begitu marah karena Jovan berani mendahuluinya untuk duduk di sana. Tadinya Galang mengikuti Luri kemari, tapi dia terpaksa meninggalkannya sebentar karena ada panggilan alam. Siapa yang akan menduga kalau begitu dia datang sudah ada pria lain yang sedang mengajak Luri berkenalan. Jika Galang adalah siswa populer di bagian kelas IPA, maka Jovan adalah bintang di kelas IPS. Mereka berdua biasanya tidak pernah bersaing meski berada dalam tim basket yang berbeda. Tapi sekarang, sepertinya mereka akan menjadi rival karena menyukai gadis yang sama.
"Kau boleh saja menang untuk kali ini, Jo. Tapi kita lihat apakah kau mampu menghadapi pawangnya Luri atau tidak. Tunggulah, nikmati waktumu bersama Luri sebelum lehermu di tebas oleh dewi perang itu," gumam Galang kemudian keluar dari perpustakaan.
Jovan yang sedang asik mengintip Luri dari balik buku langsung mengelus tengkuknya yang tiba-tiba meremang. Dia kemudian melihat ke sekeliling perpustakaan untuk memastikan apakah ada seseorang yang sedang mengawasinya atau tidak.
__ADS_1
"Ada apa, Jo?" tanya Luri sambil memperhatikan Jovan.
"Oh, tidak ada apa-apa. Ayo kita lanjut membaca lagi, " sahut Jovan sambil tersenyum. Kali ini dia membaca bukunya dengan posisi yang benar.
Di luar perpustakaan, Galang sedang sibuk mencari keberadaan Nania. Dia menanyai hampir semua adik kelas yang dia temui. Hingga pada akhirnya Galang berhasil menemukan Nania yang sedang asik bermain truth or dare bersama dengan teman-temannya.
"Ketemu juga akhirnya," ucap Galang lega kemudian bergegas menghampiri Nania.
Mata semua orang langsung tertuju ke arah Galang yang kini sudah berada di samping Nania. Sedangkan Nania, gadis ini sama sekali tidak menyadari kalau siswa yang menyukai kakaknya sedang berdiri di sampingnya.
"Suutt, lihat siapa yang berdiri di sebelahmu," bisik salah seorang teman Nania sambil memajukan bibir ke arah Galang.
Melihat kode dari temannya, Nania pun akhirnya menoleh. Dia mengerutkan kening begitu tahu ada Galang di sana.
"Setelah pagi tadi menjelma menjadi security apa sekarang kau berubah menjadi seorang penguntit, Kak? Aneh-aneh saja kelakuanmu," tanya Nania sinis.
"Aku tidak peduli kau mau menyebutku apa, Nania. Tapi yang jelas sekarang kau harus ikut pergi denganku. Ini gawat, Nania!" jawab Galang kemudian menarik pergelangan tangan Nania.
"Heh, bisa-bisanya ya kalian semua menyebut Kak Galang sebagai siswa paling populer di sekolah ini. Mata kalian lihat tidak betapa kasarnya dia pada adik kelasnya sendiri!" teriak Nania jengkel.
"Sudahlah Nania, jangan mengoceh di sini. Ayo cepat kita pergi!" sahut Galang ingin kembali menarik tangan Nania. Dia sudah tidak sabar melihat Jovan di terkam oleh singa betina ini.
"Perga-pergi perga-pergi. Kau pikir aku ini apa Kak. Seenaknya menyentuh tangan orang. Aku bukan kekasihmu ya!" amuk Nania sambil menepis tangan Galang.
"Yang bilang kalau kau adalah kekasihku itu siapa, Nania. Tidak ada. Dan juga kau jangan berpikir yang tidak-tidak hanya karena aku menarik tanganmu. Jika tidak sedang darurat aku juga tidak akan mau melakukannya. Paham tidak!"
Galang sedikit kesal karena Nania malah salah paham dengan apa yang dia lakukan. Namun karena sekarang dia sedang sangat membutuhkan bantuannya, Galang mencoba untuk bersabar. Dia harus bersikap lembut agar Nania bersedia ikut dengannya untuk melabrak Jovan.
"Darurat apalah. Memangnya aku ini dokter yang bisa mengobati orang sakit apa. Seenaknya saja bicara," ucap Nania bersungut-sungut.
__ADS_1
"Sekarang kakakmu sedang di dekati oleh seekor kumbang busuk, Nania. Itulah kenapa aku ingin mengajakmu kesana!" sahut Galang memberitahu.
"Kumbang busuk? Maksudnya bagaimana Kak?" tanya Nania bingung.
"Astaga, kenapa otakmu lemot sekali sih. Luri kakakmu sedang di ganggu oleh seorang siswa yang berasal dari kelas IPS. Mereka sekarang berada di perpustakaan!"
Mata Nania langsung melotot lebar begitu tahu kalau ada siswa lain yang sedang mengganggu kakaknya. Nania kemudian ingat kalau sekarang dia masih mengemban tugas sebagai mata-mata yang di bayar oleh Kak Fedo. Seketika jiwa detective Conan di tubuhnya langsung mencuat. Tanpa membuang waktu lagi Nania segera berlari ke arah perpustakaan untuk menyelamatkan kakaknya. Dia pergi meninggalkan Galang yang kini tengah tersenyum penuh kemenangan.
"Jovan, nikmatilah kiriman malaikat maut dariku. Aku berani bertaruh kalau setelah ini kau tidak akan berani lagi mendekati Luri. Kau pasti tidak akan sanggup mengahadapi kecerewetan Nania, Jo. Karena aku sudah lebih dulu merasakannya," ucap Galang sebelum akhirnya pergi menyusul Nania.
Di perpustakaan, perasaan Jovan semakin terasa tidak enak. Dia seolah merasa kalau sebentar lagi ada kejadian buruk yang akan segera menimpanya. Kegelisahan yang Jovan rasakan rupanya menarik perhatian Luri yang sejak tadi begitu fokus membaca buku. Luri bingung melihat Jovan yang tidak bisa diam dalam duduknya.
"Jovan, kau itu sebenarnya kenapa? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman di sini?" tanya Luri hati-hati.
"Tidak, Luri. Entahlah, tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak," jawab Jovan jujur.
"Apa kau sudah makan siang?"
"Sebelum datang kemari aku sudah makan di kantin. Sudahlah, jangan di bahas lagi. Mungkin ini karena aku sedikit kelelahan setelah berolahraga."
Dan begitu Jovan selesai bicara, datanglah seorang siswi berseragam putih biru yang langsung duduk di sebelah Luri. Untuk beberapa saat Jovan sempat merasa terintimidasi oleh tatapan siswi tersebut. Namun sedetik kemudian dia sadar kalau gadis berseragam putih biru ini adalah adik sekaligus dewi perang yang menjaga Luri.
Matilah aku. Kenapa juga aku harus bertemu dengan gadis ini sekarang. Harusnya dia kan masih bermain dengan teman-temannya di luar. Kenapa dia bisa menyusul kemari sih? batin Jovan seraya menelan ludah.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama ChanelnyaβΆ Mak Rifani. Jangan lupa mampir dan beri dukungan ya.
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani