
Jovan terlihat begitu semangat saat pelayan memberitahunya kalau Galang telah datang bersama dengan Luri dan Nania. Dia yang tadinya sedang bermalas-malasan seketika langsung berbenah diri agar tidak terlihat berantakan saat sang pujaan hati masuk ke dalam kamar.
"Em, baiknya aku bersikap seperti apa ya saat Nania masuk kemari? Pura-pura masih sakit atau bersikap seperti hari biasa? Tapi jika Nania melihatku masih selemah kemarin, apa malah tidak membuatnya merasa kesal. Yang kemarin saja dia langsung menghajarku. Ah, jangan-jangan. Yang lain saja," gumam Jovan sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sebelum sempat Jovan memutuskan akan mengambil sikap seperti apa, Galang, Luri dan Nania sudah lebih dulu sampai di kamarnya. Jovan kemudian memutuskan untuk berbaring saja, berusaha untuk tersenyum seperti biasa meskipun jantungnya sudah hampir meledak kesenangan begitu melihat wajah cantik Nania.
"Kenapa kau, Kak? Senyummu jelek sekali. Kalau mau menangis, ya menangis saja. Tidak perlu di tahan-tahan," tanya Nania yang heran melihat senyum terpaksa di bibir Jovan.
"Nania, jangan begitu. Jovan baru saja pulang dari rumah sakit, mungkin tubuhnya masih lemah. Jadi wajar saja kalau dia bersikap seperti itu," bisik Luri yang langsung memperingatkan sang adik agar tidak sembarangan bicara. Dia takut kalau-kalau Nania akan kembali menyerang Jovan seperti saat menjenguknya di rumah sakit waktu itu.
"Lemah apanya. Dia masuk rumah sakit kan karena kebodohannya sendiri, jadi Kakak tidak perlu membelanya. Orang-orang yang mempunyai pemikiran dangkal seperti Kak Jovan memang harus di perlakukan dengan kejam supaya sadar kalau apa yang dia lakukan waktu itu sangat amat menjijikkan. Hanya para pengecut saja yang biasanya melakukan hal serendah itu. Dan Kak Jovan adalah salah satu dari mereka!" sahut Nania cetus. Dia bahkan sengaja berbicara dengan suara yang cukup keras agar Galang dan Jovan bisa mendengar semua yang dia katakan.
Merasa tersindir, Jovan menjadi kikuk sendiri di buat Nania. Memang benar kalau dia adalah seorang pengecut karena tidak berani menghadapi kenyataan yang terjadi di keluarganya. Galang yang melihat raut sedih di wajah temannya pun segera datang mendekat. Dia duduk di tepi ranjang kemudian menepuk bahu Jovan pelan.
"Ini adalah awal perjuanganmu untuk menguatkan mental, Jo. Jangan menyerah, anggap ucapan Nania sebagai cambuk yang bisa membuatmu jadi lebih baik lagi untuk ke depannya!" ucap Galang bijak.
"Aku tidak selemah itu kalah pada racun yang di sebar mulut Nania, Lang. Memang benar kok apa yang dia katakan barusan. Aku pengecut," sahut Jovan tanpa beban. Setelah itu dia melihat ke arah Luri dan Nania yang tengah menatapnya. "Luri, kau beruntung mempunyai adik seperti Nania. Berkatnya sekarang otakku bisa kembali normal seperti dulu. Sepertinya mulai sekarang aku akan mulai berguru ilmu padanya. Kata-kata beracun yang keluar dari mulut adikmu membuatku banyak termotivasi."
Luri dan Nania saling melempar pandangan begitu mendengar ucapan Jovan. Setelah itu mereka berdua sama-sama tersenyum, lega karena Jovan akhirnya bisa melewati beban mental yang selama ini dia derita.
"Nah, kalau begini kan aku jadi bangga sudah berteman denganmu, Kak Jovan. Tapi ingat ya, kalau sampai kejadian kemarin kembali terulang aku sendiri yang akan menjadi tersangka atas kasus kematianmu. Daripada harus merasa sakit dan menanggung malu akibat kematian yang tertunda, lebih baik aku racuni kau saja sekalian agar bisa segera pergi ke hadapan Tuhan. Jadi berpikirlah dua kali jika ingin mencoba melakukan bunuh diri seperti kemarin. Kau dengar tidak?" tanya Nania sambil berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia terkekeh ketika melihat foto kecil Jovan yang terpajang di atas meja. "Apa ini kau, Kak? Jelek sekali."
__ADS_1
"Haisshhh, kau ini, Nania. Bisa tidak jangan asal bicara yang membuat orang lain menjadi emosi? Foto setampan itu kau bilang jelek? Oh, aku rasa matamu sudah rabun!" protes Jovan tak terima foto kecilnya di anggap jelek.
"Ck, mataku mana mungkin rabun, Kak. Kalau aku rabun, aku mana mungkin mau berteman denganmu dan Kak Galang. Bagaimana sih!"
Luri dan Galang hanya diam menyimak percakapan Jovan dan Nania. Mereka sengaja membiarkan kedua anak ini untuk saling mengejek dengan harapan bisa membantu Jovan memulihkan mentalnya. Tapi sayang, dari kedekatan yang sedang terjadi antara Jovan dengan Nania, ada orang lain yang tengah berharap lebih. Dialah Galang. Dia benar-benar sangat berharap kalau kedekatan Jovan dan Nania bisa membantunya untuk mendapatkan hatinya Luri. Galang sangat tidak tahu malu bukan? Tapi biarlah. Selagi janur kuning belum melengkung, itu artinya sah bagi Galang untuk memperjuangkan perasaannya. Benar tidak?
"Oh ya Kak Jovan, kapan kau akan masuk ke sekolah? Aku rindu traktiran es krim darimu?" tanya Nania setelah puas mengolok-olok kakak kelasnya ini.
"Besok pagi sepertinya aku sudah bisa masuk sekolah seperti biasa," jawab Jovan sedikit kecewa karena ternyata Nania malah lebih merindukan es krim yang dia beli ketimbang kehadirannya. Gadis ini benar-benar pandai memancing emosi kan?
"Hei, selain mentalmu yang geser apa otakmu juga sudah berubah menjadi pikun, Kak? Besok adalah hari libur, untuk apa kau pergi ke sekolah? Ingin menemui para dedemit yang tinggal di sana? Iya?"
"Nania, lidahmu sungguh setajam silet. Apa kau tidak bisa bicara baik-baik? Setidaknya hiburlah aku yang sedang menderita batin ini!" rengek Jovan yang sudah tidak tahu harus bicara apalagi pada Nania. Dia hampir menyerah.
"Hilih, begitu saja langsung mengeluh!" ledek Nania usil. "Ngomong-ngomong kau sudah berbaikan dengan orangtuamu belum, Kak?"
Raut wajah Jovan langsung berubah aneh saat Nania menyinggung tentang orangtuanya. Ya, semenjak pulang dari rumah sakit, dia masih enggan untuk sekedar menyapa ayah dan ibunya. Jovan masih memendam kekecewaan, dan dia rasa perlu untuk bersikap seperti ini agar orangtuanya sadar kalau dirinya telah menjadi korban keegoisan yang mereka lakukan. Di saat Jovan sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba saja dia di kejutkan oleh satu pukulan benda mati di kepalanya. Jovan seketika menoleh, menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kuat begitu tahu siapa pelakunya.
"Sepertinya otakmu masih belum pulih sepenuhnya, Kak Jovan!" omel Nania sambil berkacak pinggang. "Dengar ya, Kak. Sejahat-jahatnya orangtua pada anaknya, kita harus tetap menghormati dan menghargai mereka. Karena apa? Karena mereka adalah sumber kebahagiaan kita. Ayah dan Ibumu mungkin telah melakukan kesalahan yang fatal, tapi kan mereka sudah menyesal. Bukankah mereka juga telah mencabut gugatan cerai dari pengadilan? Lalu apalagi masalahnya, hah?"
Luri segera menenangkan Nania yang kembali naik pitam atas respon yang di tunjukkan Jovan terhadap orangtuanya.
__ADS_1
"Nania, biarkan Jovan berdamai dengan hatinya dulu ya. Kita tidak boleh memaksa," ucap Luri lembut.
"Kakakmu benar, Nania. Boleh jika ingin memberi saran, yang tidak boleh itu memaksakan kehendak. Kau harus paham Nania kalau Jovan lah yang merasakan, bukan kita. Jadi kau jangan galak-galak padanya ya?" imbuh Galang merasa kasihan melihat Jovan yang terus menjadi korban kekejaman mulut Nania.
"Mana bisa begitu, Kak!" sahut Nania tak setuju dengan perkataan Galang dan kakaknya. "Di dunia ini tidak ada satupun orang yang tahu kapan maut akan datang menghampiri. Bagaimana jika sewaktu Kak Jovan sedang sibuk menenangkan hati, Tuhan tiba-tiba memanggil Ayah dan Ibunya untuk kembali ke surga. Masa iya dia harus pergi ke surga juga hanya untuk berbaikan dengan mereka? Tidak lucu kan? Aku tahu kalau ini bukan urusanku. Aku hanya mengikuti nasehat Ayah agar kita tidak sembarangan menyia-nyiakan waktu yang ada. Lagipula apa gunanya sih terus mengulur waktu? Toh mereka itu kan orangtuanya Kak Jovan, bukan musuhnya. Benar tidak?"
Tanpa di duga-duga, Jovan langsung melompat turun dari atas ranjang begitu Nania selesai bicara. Ya, mendadak dia di serang rasa ketakutan yang teramat besar saat membayangkan kalau Ayah dan Ibunya telah terbujur kaku di dalam peti. Sadar kalau sikapnya salah, Jovan memutuskan untuk segera pergi menemui orangtuanya. Dia tidak mau berpisah dengan mereka.
Galang, Luri, dan Nania berdiri diam sambil menatap pintu kamar yang terbuka lebar. Mereka bertiga terlihat seperti orang bodoh sepeninggal Jovan dari kamar tersebut.
"Akhirnya Kak Jovan bisa kembali normal juga. Dia pasti sangat ketakutan saat aku mengatakan tentang kematian orangtuanya. Hufttt, leganya melihat mereka mau berbaikan. Yeyyy!" ucap Nania kegirangan kemudian merebahkan diri di atas ranjang. Dia merasa sangat puas dengan usahanya dalam mempermainkan emosi Jovan.
"Nania, kau yakin Jovan bukan pergi untuk meloncat dari atas loteng rumah ini?" tanya Galang khawatir.
"Tidak yakin sih. Tapi kalau dia berani melakukannya, maka aku akan mematahkan kakinya setelah dia mendarat di tanah. Tenang saja, Kak Galang. Aku tidak akan membiarkan Kak Jovan hidup normal lagi jika dia masih berani melakukan tindakan bodoh. Haha!"
Galang dan Luri sama-sama menelan ludah melihat senyum jahat di bibir Nania. Penasaran dengan apa yang dilakukan Jovan di luar kamar, mereka memutuskan untuk menyusulnya keluar.
"Cih, dasar ngeyel. Sekarang Kak Jovan pasti sedang menangis di pelukan orangtuanya. Kenapa tidak percaya kata-kataku sih kalian berdua. Huft!" gerutu Nania.
*****
__ADS_1