
Setelah selesai bersiap, Kanita bergegas keluar dari dalam kamar hotel. Siang ini dia ingin kembali mendatangi sekolahnya Luri. Kanita masih belum merasa yakin kalau gadis yang kemarin dia temui adalah benar gadis itu. Karena setelah Kanita melihat fotonya kembali, Luri terlihat berbeda dari kriteria wanita yang di sukai Fedo. Gadis yang kemarin dia temui sangat culas dan bengis, yang mana hal itu membuat Kanita jadi bertanya-tanya. Kanita ragu kalau gadis culas itu adalah Luri yang sedang dia cari.
"Oh, kau sudah bangun ternyata," ucap Kanita saat orang yang menemaninya tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. "Kupikir aku perlu mengeluarkan tenaga untuk membangunkanmu, tapi kau cukup tahu diri juga rupanya. Aku suka."
"Aku bangun jauh lebih awal darimu, Nona. Karena aku mempunyai tugas penting untuk melindungimu dari seseorang yang diam-diam mengawasi keberadaan kita di sini."
Kanita langsung berbalik badan menghadap orang bayarannya ini. Dia begitu kaget mendengar perkataannya barusan.
"Jadi selama di Shanghai ada orang yang mengawasi kita?" tanya Kanita panik. Dia takut kalau orang tersebut adalah orang suruhan Fedo.
"Benar, Nona. Orang itu sangat lihai, dia bahkan mampu menyusup ke kamarmu tanpa di ketahui oleh siapapun. Sepertinya orang ini bukan orang sembarangan."
"Apa? D-dia menyusup ke dalam kamarku?" pekik Kanita syok. "Hotel ini adalah hotel terbaik yang di jaga dengan keamanan sangat ketat. Jadi bagaimana mungkin ada orang asing yang bisa masuk ke kamar tamu tanpa terdeteksi oleh CCTV? K-kau tidak sedang berbohong padaku kan?"
Saking paniknya Kanita mendengar kabar tersebut kedua tangannya sampai gemetaran. Pikirannya melanglang buana, menebak siapakah orang yang telah mengirim penyusup tersebut untuk mengawasinya, bahkan sampai masuk ke dalam kamar tempatnya beristirahat.
"Nona, kita ini sedang berada di negara orang. Ada kemungkinan besar kalau penyusup itu memiliki hubungan dekat dengan pemilik hotel ini. Makanya dia bisa berbuat seenaknya tanpa takut dengan resiko ketahuan oleh pihak keamanan hotel. Dan satu lagi, gadis yang sedang kita tuju memiliki dukungan dari orang-orang besar di belakangnya. Jika tidak, dia tidak akan mungkin mampu bersekolah di sekolah paling mahal yang ada di Shanghai. Juga semua jejak tentangnya yang tidak bisa terlacak sama sekali. Dengan ini aku bisa menyimpulkan kalau kedatangan kita kemari sebenarnya sudah di tunggu oleh mereka. Kau lupa ya kalau keluarga Eiji adalah kerabat dekat dari keluarga paling berpengaruh di negara ini?"
Kepanikan Kanita kian bertambah usai dia mendengar perkataan tersebut. Benar juga, ibunya Fedo adalah saudara dari Nyonya Liona Serra, istri kesayangan dari Tuan Greg Ma. Kanita lupa kalau saat ini dia sedang berhadapan dengan orang-orang yang paling tidak boleh di sentuh saat berada di Shanghai. Tapi sayang, rasa cintanya pada Fedo kembali membutakan mata dan pikiran Kanita untuk mengabaikan bahaya besar yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.
"Aku tidak ada urusannya dengan keluarga Ma itu karena yang aku tahu Luri bukan bagian dari mereka. Sekalipun nanti kita akan berhadapan dengan mereka, selangkah pun aku tidak akan pernah mundur. Fedo adalah milikku, dan Luri harus mau melepaskannya!" ucap Kanita penuh tekad.
__ADS_1
"Jika gadis itu menolak?"
"Maka aku akan menghabisinya. Karena tidak ada satupun wanita yang boleh memiliki Fedo selain aku. Dia di ciptakan hanya untuk mencintaiku seorang."
Orang yang menemani Kanita nampak tersenyum sinis. Ini adalah pertama kalinya dia menemukan klien yang begitu berani menantang maut hanya demi seorang laki-laki. Keberanian wanita ini patut untuk di acungi jempol. Akan tetapi untuk kepintarannya, sama sekali tidak membanggakan. Jelas-jelas adalah hal yang sangat konyol jika berani mengangkat dagu di depan keluarga Ma, raga mereka berdua bisa hilang tak berbekas jika keluarga itu sampai terprovokasi. Tapi ya sudahlah, terkadang orang yang sedang buta cinta memang tidak bisa menggunakan akal sehatnya dengan baik. Dan karena dia sudah terlanjur menerima perintah dari atasan, mau tidak mau dia harus tetap bersama wanita ini dengan resiko pulang tanpa nyawa.
"Pergi ke sekolah gadis sialan itu. Dia harusnya sudah istirahat sekarang!" ucap Kanita begitu duduk di dalam mobil.
"Kau yakin ingin kembali pergi ke sana? Lihat mobil hitam itu. Mereka adalah penyusup yang aku maksud!"
Kanita langsung melihat ke arah mobil yang di tunjuk oleh orang suruhannya. Dia lalu menelan ludah. Wajah pria yang duduk di dalam mobil itu terlihat seperti tidak asing. Dan bulu kuduk Kanita langsung berdiri semua saat pria tersebut melambaikan tangan ke arahnya.
"Bukankah dia yang waktu itu bersama Kayo ya? Kenapa dia tiba-tiba mengawasiku?" ucap Kanita kaget begitu teringat dengan wajah pria yang berada di dalam mobil hitam tersebut.
"Tidak. Tapi waktu itu aku sempat melihatnya sedang bermesraan di pinggir jalan dengan adiknya Fedo. Mungkinkah penyusup itu adalah orang suruhan Kayo?" jawab Kanita bertanya-tanya. Dia lalu memerintahkan orang suruhannya untuk segera pergi dari sana.
Selama dalam perjalanan menuju sekolahnya Luri, Kanita tak henti-hentinya melihat ke arah belakang. Meskipun takut, dia tetap merasa penasaran apakah pria itu masih mengikuti mobilnya atau tidak.
"Dia sepertinya sudah tidak mengikuti mobil ini lagi, Nona. Akan tetapi kita harus tetap waspada karena aku merasa ada orang lain yang juga sedang mengawasi kita dari mobil yang berbeda."
"Jalankan mobilnya dengan cepat. Aku tidak nyaman dengan keadaan seperti ini," sahut Kanita gugup. Matanya terus memperhatikan kendaraan yang berada di belakang dan sebelah mobilnya.
__ADS_1
"Hmmm, kalau takut sebaiknya mundur saja, Nona. Baru juga di ikuti oleh seseorang, tapi wajahmu sudah begitu pucat seperti akan mati. Aku jamin kau pasti kencing di celana jika keluarga Ma sampai datang menemuimu."
Kanita memukul kepala orang suruhannya menggunakan tas yang dia bawa. Sangat menjengkelkan. Bagaimana bisa orang ini malah mengejeknya seperti itu? Rasanya seperti sia-sia saja karena sudah membayarnya dengan begitu mahal.
"Aku mengajakmu kemari bukan untuk mendengar ejekanmu ya. Kau kubayar mahal untuk melindungiku dari marabahaya. Tahu tidak!" teriak Kanita dengan sangat emosi.
"Cihhh, melindungimu dari marabahaya? Hei Nona, kau ini bodoh atau bagaimana hah. Jelas-jelas dengan kau mengganggu gadis itu kita sudah menyodorkan nyawa dengan suka rela. Kuberitahu kau ya. Penyusup itu hanya satu dari sekian mata yang sudah di sebar untuk mengawasi kita berdua. Tanpa kau mengingatkan aku untuk melindungimu dari marabahaya, sebenarnya kita memang sudah terjebak dalam bahaya sejak menginjakkan kaki ke negara ini. Harusnya kau mencari tahu dulu siapa orang yang ingin kau sentuh, bukan malah bergantung pada orang lain sampai seperti ini. Kau pikir dengan membayar mahal kau bisa mendapat jaminan untuk tetap hidup? Tidak, Nona. Karena yang aku tahu keluarga Ma tidak pernah memberikan maaf pada orang-orang yang berani mengusik keluarga mereka. Sampai di sini paham kan bahaya apa yang sedang kau tuju, hah!!"
Kanita diam seribu bahasa setelah mendapat amukan dari orang suruhannya ini. Benarkah dia bodoh? Tapi kenapa? Yang sedang bermasalah dengannya itu Luri, bukan keluarga Ma. Jadi kenapa juga dia harus berurusan dengan mereka? Lagipula Kanita juga belum sempat menyentuh Luri. Aneh.
Tak ada lagi percakapan sampai dimana akhirnya Kanita sampai di depan sekolah Luri. Sebelum keluar, dia menatap lama ke nama sekolah tersebut.
"Kau itu sebenarnya siapa, Luri? Kenapa orang dari keluarga Ma sampai harus ikut turun tangan untuk menjagamu? Mustahil kalau kau adalah bagian dari mereka. Dan aku juga ragu mereka melakukan hal ini atas keinginan Fedo. Siapa kau sebenarnya?" gumam Kanita penasaran.
"Kenapa masih belum keluar mendatangi gadis itu, Nona? Apa kau sedang ketakutan terhadap orang-orang yang mengawasi kita?"
"Diam kau! Tidak ada gunanya kau bicara, sialan. Membuat moodku rusak saja!" sahut Kanita kemudian melangkah keluar dari dalam mobil.
Sebelum berjalan mendekati gerbang sekolah, Kanita mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Dia perlu memastikan kalau di sana tidak ada mata-mata yang sedang mengawasinya. Senekad apapun niat Kanita, dia tetap saja merasa takut dengan resiko buruk yang bisa terjadi kapan waktu. Karena itulah dia perlu berhati-hati agar tidak sampai salah melangkah.
"Hufftt, kenapa keadaannya jadi mencekam begini sih. Padahal kan aku hanya ingin menemui Luri, bukan ingin bertemu dengan penjahat. Benar-benar merepotkan!" gerutu Kanita begitu berhasil selamat sampai di dekat gerbang. Tak lupa dia menutupi wajah menggunakan syal sebelum akhirnya memanggil salah seorang siswa yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
*****