
Saat berangkat menuju sekolah, Nania sama sekali tidak berani membuka mulut. Dia merasa sangat bersalah karena sudah memberitahu orangtuanya kalau sang kakak tengah di sukai oleh si sugar daddy. Semalaman Nania terus merutuki mulutnya yang blong seperti tidak mempunyai rem. Gara-gara dia, kakaknya jadi mendapat omelan dari ayah dan juga ibunya. Nania jadi merasa menjadi adik yang sangat buruk sekarang.
"Nania, kau kenapa?" tanya Luri heran melihat adiknya yang lebih banyak diam sejak keluar dari rumah.
"Haaa?"
Terkejut karena mendengar kakaknya yang tiba-tiba bertanya membuat otak Nania mengalami loading yang cukup lama. Dia menjadi salah tingkah sendiri ketika sang kakak terus menatapnya lekat.
"Ada apa, hm? Tidak biasanya kau mengunci mulut seperti ini. Kau sakit?"
Kening Luri mengerut ketika melihat Nania yang malah menepuki kepalanya sendiri sambil menggumamkan kata yang tidak jelas. Dia bingung melihat tingkah sang adik yang sangat berbeda seperti hari-hari biasanya. Khawatir terjadi sesuatu, Luri kembali mendesak Nania agar mau bicara. Dia takut kalau-kalau adiknya telah membuat ulah yang bisa membahayakan orang lain.
"Nania, ada apa? Tolong beritahu Kakak kenapa kau diam begini?"
"Aku tidak kenapa-napa kok, Kak," jawab Nania tanpa berani melihat mata sang kakak.
"Bohong. Kakak tahu kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Ayo beritahu Kakak, Nania. Jangan menyimpannya sendiri!" desak Luri semakin khawatir.
Ya ampun Kak Luri, sebenarnya kau ini sedang memikirkan apa sih. Memangnya kau tidak marah padaku ya gara-gara mendapat omelan dari Ayah dan Ibu, batin Nania heran dengan sikap sang kakak.
"Em itu ... Apa semalam Ayah dan Ibu mengeluarkan tanduk mereka ketika sedang mengomeli Kakak?" tanya Nania sedikit takut.
"Kapan-kapan Ayah dan Ibu mengomel pada Kakak? Perasaan semalam itu kami hanya mengobrol seperti biasa," jawab Luri.
Sedetik kemudian Luri baru tersadar kalau adiknya ini merasa bersalah karena sudah mengadu pada orangtua mereka tentang perasaan Fedo. Ini lucu, sungguh sangat lucu. Rupanya sang adik bisa juga merasa bersalah. Luri jadi tertarik untuk mempermainkannya.
__ADS_1
"Nania, kenapa kau menceritakan tentang Kak Fedo pada Ayah dan Ibu? Apa kau menyukainya?"
"Astaga, yang benar saja Kak. Apa untungnya aku menyukai sugar daddy seperti Kak Fedo? Dia itu sangat genit, aku tidak suka!" sahut Nania kaget mendengar pertanyaan sang kakak.
"Lalu kalau kau tidak menyukainya kenapa kau mengadu? Tidakkah itu di sebabkan karena kau yang merasa cemburu?" cecar Luri sambil menahan tawa.
Nania tertawa sumbang. Kali ini rasa bersalahnya hilang entah kemana setelah mendapat tuduhan tidak manusiawi dari sang kakak. Yang benar saja kakaknya menuduh kalau dia cemburu pada si sugar daddy. Mau pantatnya di pukul ratusan kali juga Nania tidak akan sudi menyukai pria yang jelas-jelas sangat genit itu.
"Dengarkan aku baik-baik ya, Kak. Semalam itu aku tidak sengaja menceritakan tentang niat Kak Fedo yang memintaku menjadi seorang mata-mata di sekolah. Siapa yang tahu kalau Ayah dan Ibu akan langsung marah begitu mendengar kalau Kak Fedo menyukai Kakak. Aku benar-benar tidak sengaja menceritakan masalah ini, Kak. Sungguh!" ucap Nania menjelaskan.
Luri tersenyum. Dengan penuh sayang dia mengelus puncak kepala adiknya. Luri tahu sikap yang dilakukan oleh Nania tidak sepenuhnya salah. Justru dengan mendapat teguran dari orangtua mereka Luri jadi bisa lebih mawas diri terhadap perasaannya. Dia jadi tahu kalau kedua orangtuanya begitu mengkhawatirkan masa depannya jika sampai menikah dengan pria yang memiliki kasta tinggi seperti Fedo.
"Kakak tidak marah padamu, Nania. Justru Kakak ingin berterima kasih karena berkat aduanmu Kakak jadi semakin bersemangat untuk mengejar cita-cita. Semalam Ayah dan Ibu bukan mengomeli Kakak, tapi mereka memberi nasehat agar Kakak selalu ingat darimana kita berasal. Mereka itu bukan marah, tapi khawatir. Kau bisa membedakan mana kekhawatiran dan mana kemarahan bukan?"
"Tapi Kak, semalam ekpresi Ayah terlihat sangat aneh. Aku takut Ayah akan memasukanmu ke dalam karung kemudian membuangmu ke sungai. Aku bahkan sampai tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini," sahut Nania ketakutan.
"Kak Luri, aku janji tidak akan pernah menceritakan masalah apapun lagi pada Ayah dan Ibu. Aku tidak mau melewati malam horor lagi sampai aku tidak bisa memejamkan mata. Karena kalau aku sampai kurang istirahat, maka kecantikan paripurna ini bisa meredup. Nanti teman-temanku akan menyebutku sebagai zombie dari desa. Kan tidak lucu!" keluh Nania sembari mencubit pelan pipi chubby-nya.
"Tidak boleh begitu, Nania. Sebagai anak yang baik, kita perlu mengatakan semua hal pada Ayah dan Ibu kita. Karena apa? Karena orangtua adalah tempat paling nyaman untuk berbagi cerita. Jika menurut mereka jalan kita ada yang salah, mereka pasti akan langsung mengingatkan dan memberi nasehat. Orangtua itu seperti lampu, mereka akan selalu memancarkan sinar untuk menerangi jalan anak-anak mereka. Seperti semalam. Kau memberitahu Ayah dan Ibu kalau Kak Fedo menyukaiku. Karena menurut mereka itu bukanlah sesuatu yang benar, Ayah dan Ibu langsung mendatangi Kakak kemudian mengajak Kakak untuk berdiskusi. Dan dari diskusi tersebut Kakak mendapatkan banyak nasehat bijak. Jadi kau jangan sampai tidak menceritakan masalah apa saja yang sudah kau lalui saat berada di sekolah ya. Mereka berhak tahu, Nania!"
Nania mengangguk-anggukkan kepala begitu mendengar penjelasan sang kakak. Saking asiknya mengobrol, mereka sampai tidak menyadari kalau mobil telah berhenti di depan pintu gerbang sekolah.
"Nona Luri, Nona Nania, kita sudah sampai di sekolah!" lapor si sopir.
"Oh, iya Pak. Maaf ya, gara-gara mengobrol kami sampai tidak tahu kalau sudah sampai!" sahut Luri sopan.
__ADS_1
Luri dan Nania bergegas keluar dari dalam mobil setelah berpamitan pada sopir yang mengantar mereka kemari. Setelah itu keduanya berjalan masuk ke sekolah sambil bergandengan tangan.
"Selamat pagi Luri. Selamat pagi Nania!" sapa Galang sambil tersenyum manis.
"Hih, kenapa sih Kak Galang ini selalu berada di dekat pintu gerbang? Sudah berganti profesi menjadi security sekolah ya?" sindir Nania kesal.
"Nania, tidak boleh bicara seperti itu. Tidak sopan!" tegur Luri tak enak hati pada teman sekelasnya. "Pagi juga, Galang. Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Apalagi kalau bukan ingin mengganggu kita, Kak. Niatnya itu sudah tertulis dengan jelas di keningnya. Dasar genit!" omel Nania menyahut perkataan sang kakak.
Galang menjadi kikuk saat lagi-lagi menjadi korban kekejaman lidah Nania. Dia memang sengaja menunggu di dekat gerbang supaya bisa masuk ke kelas bersama Luri. Hanya saja gadis berseragam putih biru ini selalu mengacaukan segalanya. Galang bahkan sering dibuat keki setiap kali Nania membuka mulut, dan tak jarang dia sampai merasa malu karenanya.
"Lang, sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi. Sebaiknya kita segera pergi ke kelas saja ya?" ajak Luri tak mau membiarkan Nania terus mengacau.
"Baiklah. Ayo!" sahut Galang penuh semangat.
Nania dengan cepat berpindah posisi agar Galang tidak bisa berjalan di samping kakaknya. Dia terus mengeluarkan ancaman tanpa suara ke arah pria yang kini terus menjulurkan lidah ke arahnya. Ya, Galang mengejeknya tanpa sepengetahuan sang kakak yang mana membuat Nania merasa begitu kesal.
Awas saja kau, Kak Galang. Tunggu bagaimana nanti aku akan membalasmu.
πππππππππππππππππ
β Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama Chanelnya βΆMak Rifani.
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani