
Pagi ini di kediaman keluarga Eiji terlihat Fedo yang tengah berdiri di depan cermin kamarnya. Fedo baru saja selesai bersiap karena sebentar lagi dia akan segera bertolak ke Shanghai. Ya, dia akan menemui gadis desanya.
"Hmm, kenapa Luri hanya membaca pesan yang ku kirimkan padanya ya. Apa jangan-jangan dia sengaja mengabaikan aku karena ingin memberikan kejutan? Aihhh, manis sekali calon masa depanku. Ck, kau benar-benar beruntung memiliki gadis seperhatian Luri, Fed. Haha!" ujar Fedo bicara dengan dirinya sendiri.
Sebenarnya Fedo berniat pergi dari jam lima dini hari tadi. Akan tetapi sekertarisnya menelpon dan mengatakan kalau ada satu berkas penting yang harus dia tanda tangani hari ini juga. Alhasil, Fedo terpaksa mengundur waktu keberangkatannya guna menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Dan sekarang dia sudah selesai bersiap.
Sembari bersenandung pelan, Fedo berlari kecil menuruni anak tangga rumahnya. Dan sesampainya Fedo di lantai bawah dia di buat keheranan oleh sikap adik dan kedua orangtuanya yang sedang khusyuk menonton televisi. Penasaran berita apa yang sudah membuat keluarganya begitu fokus menonton, Fedo pun memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Akan tetapi belum juga bokong Fedo menempel di sofa, dia sudah di buat syok mendengar berita yang sedang di tayangkan di televisi.
"Apa-apaan mereka!" teriak Fedo dengan suara yang begitu kuat.
"Hmmm, santai saja, Kak. Tidak ada gunanya kau bereaksi kaget begitu karena memang inilah yang akan Kanita lakukan untuk menghancurkan nama baik dan juga hubunganmu dengan Luri!" sahut Kayo seraya menatap santai ke arah sang kakak. Dia lalu menyunggingkan senyum pada ayah dan juga ibunya yang juga sama-sama santai menanggapi berita di televisi.
Ya, saat ini pembawa acara di televisi tengah menyampaikan bahwa pagi tadi Kanita dan kedua orangtuanya telah membuat satu pernyataan besar yang mana pernyataan tersebut membuat banyak pihak menjadi sangat kaget. Akan tetapi kekagetan tersebut tidak berlaku untuk keluarga Eiji, kecuali Fedo tentunya. Baik Kayo maupun ayah dan ibunya, mereka sama sekali tidak terkejut. Malah mereka terkesan acuh ketika pembawa berita membacakan komentar pedas dari salah satu penduduk yang murka saat mengetahui kalau Fedo menolak untuk mengakui bayi Kanita sebagai anaknya.
"Kurang ajar! Ini tidak boleh di biarkan. Berani-beraninya Kanita memfitnahku seperti itu. Ini tidak benar!" geram Fedo seraya mengumpat kasar. Dia lalu mengusap wajahnya hingga memerah.
"Tidak perlu seheboh ini menanggapi berita itu, Fedo. Santai," ucap Abigail.
"Bagaimana mungkin aku bisa santai ketika nama baik dan reputasiku berada di ambang kehancuran, Bu. Hah, aku benar-benar tidak menyangka kalau Kanita akan nekad membuka aibnya sendiri di hadapan publik. Sudah tidak waras dia!" sahut Fedo dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Ya begitulah jika manusia tidak bisa menggunakan akal sehatnya dengan baik dan benar, Kak. Sesuatu yang harusnya di tutupi malah dengan sengaja di umbar dengan harapan mendapat simpatik dari banyak orang. Memang sih target Kanita tidak sepenuhnya gagal karena sekarang semua orang yang melihat berita itu pasti akan langsung menghujatmu seolah memang benar kau adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi Kanita lupa menyadari kalau orang yang sedang dia targetkan menyimpan bukti yang bisa membongkar kebohongannya!" ucap Kayo. "Andero, dia sedang dalam perjalanan kemari!"
__ADS_1
Dan tepat ketika Kayo selesai bicara, seorang penjaga datang melapor kalau orang yang sedang di tunggu sudah tiba di rumah ini. Sontak saja kabar tersebut membuat Mattheo langsung bertepuk tangan dengan begitu semangat. Bagaimana tidak! Dominic mencoba untuk merusak reputasi keluarganya dan juga nama baik putranya dengan cara melakukan konferensi pers secara terbuka di rumahnya. Namun, kehancuran yang coba Dominic lakukan pada keluarga Eiji akan segera berbalik menyerangnya. Andero, dia adalah kunci tentang siapa ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh Kanita.
"Dominic-Dominic. Kalau saja kau lebih memilih datang dan meminta penjelasan dariku, aku mungkin tidak akan setega ini menghancurkan nama baik keluargamu. Sayangnya kau begitu bodoh dengan mempercayai fitnah yang di buat oleh Kanita tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Dan lihat sekarang, tindakanmu malah mendatangkan mala petaka yang sangat besar. Selamat, sebentar lagi kau dan keluargamu akan segera kehilangan muka di negara ini!" ucap Matthep penuh kepuasan.
Tak berapa lama kemudian masuklah seorang pria bertubuh tinggi dengan di kawal oleh beberapa penjaga bertubuh besar. Fedo yang melihat hal tersebut pun langsung menghela nafas panjang. Sialan, pria ini ternyata sedikit lebih tampan darinya. Tolong di catat, hanya sedikit. Oke?
"Selamat pagi Tuan-Tuan dan para Nyonya Eiji. Perkenalkan, namaku Andero. Ayah biologis dari bayi yang sedang di kandung oleh Kanita!" ucap Andero memperkenalkan diri pada keluarga Nyonya Abigail, satu-satunya wanita yang mampu membuat Andero berpikir ribuan kali untuk menolak datang kemari. Terlalu dingin.
"Selamat pagi kembali, Tuan Andero. Silahkan duduk!" sahut Abigail dengan begitu tenang.
"Terima kasih!"
Semua orang kini saling diam ketika televisi terus saja menayangkan berita di mana Fedo di tuduh telah melakukan kejahatan dengan menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan putri semata wayang dari pasangan Tuan Dominic dan juga Nyonya Mili. Andero yang sudah mengerti kenapa dia diminta untuk datang ke rumah ini nampak tersenyum saja dalam menanggapi berita tersebut. Kanita-nya, ternyata ingin menggunakan bayi mereka untuk mengancam pewaris dari keluarga Eiji. Benar-benar bodoh wanita itu. Apa Kanita tidak tahu seperti apa mengerikannya Nyonya Abigail?
"Tuan Mattheo, kau sepertinya terlalu terburu-buru. Santai sajalah," jawab Andero tanpa merasa terintimidasi. Dia lalu melihat ke arah Fedo, pria tampan yang menjadi target utama dari kehebohan yang sedang terjadi. "Fedo Eiji, kau ingin aku melakukan apa pada Kanita? Jika kau ingin aku menghabisinya, maka dengan tegas aku menolak. Bayi itu bisa ada karena aku memang ingin dia yang mengandungnya. Aku suka dia di hari pertama kami bertemu. Itu fakta!"
"Aku sama sekali tidak peduli dengan fakta itu, Andero. Satu yang aku mau, bungkam mulut semua orang di negara ini dengan pengakuan bahwa kau adalah ayah dari bayinya Kanita. Setelah itu ... selesai," jawab Fedo.
"Oke. Di mana aku harus melakukannya?" tanya Andero sembari beranjak dari duduknya.
"Biar aku yang mengantarmu. Mari!" jawab Abigail. Dia lalu membawa Andero menuju tempat di mana sudah ada wartawan yang berkumpul dari berbagai media surat kabar dan juga stasiun televisi yang akan menyiarkan secara langsung kebenaran dari fitnah yang dilayangkan oleh Kanita.
__ADS_1
Sementara itu di dalam rumah, Kayo yang melihat kakaknya hendak pergi menyusul Andero dengan cepat langsung menarik tangannya. Dia lalu mengatakan sesuatu yang membuat sang kakak langsung membeku di tempat.
"Ck, kenapa kau menahanku si, Kay. Lepas, aku ingin menyusul Ibu!"
"Kak, berita tentang kau yang menolak untuk bertanggung jawab pada bayinya Kanita sudah menjadi berita panas yang muncul di mana-mana. Coba kau pikir. Di antara semua orang yang membaca berita tersebut, ada seseorang yang saat ini hatinya sedang sangat hancur. Jadi daripada kau pergi menyusul Ibu dan Andero, aku sarankan kau sebaiknya pergi menemui orang itu sebelum terlambat!" ucap Kayo penuh maksud.
Fedo terdiam bingung mendengar perkataan Kayo. Dia lalu mulai memikirkan tentang siapa orang yang akan merasa hancur gara-gara berita bohong yang di buat oleh Kanita. Cukup lama Fedo berpikir, hingga akhirnya Fedo tersentak kaget begitu dia sadar kalau orang yang di maksud oleh Kayo adalah Luri, gadis desanya.
"Sial. Kenapa aku bisa lupa tentang Luri. Ya Tuhan, apa jangan-jangan ini adalah penyebab kenapa Luri tidak mau membalas pesanku?" ucap Fedo panik.
"Itu benar. Dan sekarang kau harus bertaruh pada waktu karena yang aku dengar Luri telah memenangkan beasiswa untuk kuliah ke luar negeri. Sekarang cepatlah pergi temui Luri lalu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan Luri pergi dengan membawa kesalah-pahaman dalam hubungan kalian, Kak. Cepatlah!"
Rasanya Fedo seperti kehilangan nafas begitu mendengar kalau Luri ternyata akan pergi ke luar negeri. Dan tanpa berpikir apapun lagi Fedo langsung berlari keluar sambil menghubungi anak buahnya agar mempersiapkan keberangkatannya ke Shanghai detik itu juga. Fedo panik dan juga takut. Dia tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Luri setelah membaca berita tersebut. Hatinya yang lembut itu pasti sangat hancur.
"Kay, apa menurutmu mereka masih bisa bertemu?" tanya Mattheo penasaran.
"Tidak, Ayah. Karena sebenarnya Luri sudah meninggalkan Shanghai sejak pukul lima pagi tadi," jawab Kayo sambil tersenyum senang. "Sejak kita bertemu dengan Luri, Jackson diam-diam meretas ponselnya dan menyelidiki alasan kenapa Luri selalu menghindar ketika di tanya akan melanjutkan pendidikan di mana. Dan ternyata, kompetisi yang selama ini di ikuti oleh Luri adalah kompetisi untuk memenangkan beasiswa kuliah ke London. Besar kemungkinan Luri sengaja merahasiakan hal ini karena khawatir Kak Fedo akan melarangnya pergi. Ayah tahu sendiri kan betapa bucinnya anak Ayah satu itu? Tapi sayangnya sebelum sempat Luri memberitahu Kak Fedo, Kanita sudah lebih dulu merusak semuanya. Jackson bilang semalam Kanita menghubungi Luri dan memberitahunya kalau dia sedang hamil anak Kak Fedo. Dan aku rasa ini yang membuat Luri pergi lebih awal karena dia sebenarnya di jadwalkan berangkat ke London besok pagi. Bukan hari ini!"
"Hmmm, kasihan sekali Casanova itu. Sangat memprihatinkan!" ucap Mattheo setelah mendengar cerita Kayo.
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku malah senang melihat Kak Fedo kalang kabut begini. Anggap saja kalau sekarang dia sedang memanen karma atas kelakuannya selama ini. Di saat dia benar-benar serius pada satu wanita, badai besar malah datang menghantam hubungannya. Aku sungguh sangat puas melihatnya seperti ini, Ayah. Benar-benar hiburan yang sangat menarik!"
__ADS_1
Setelah itu Kayo dan ayahnya tertawa terbahak-bahak. Tidak ada alasan untuk mereka merasa sedih karena mereka tahu Fedo tidak bersalah, dan Luri akan tetap menjadi bagian dari keluarga Eiji. Ini adalah fakta yang tidak bisa di ubah kecuali oleh Tuhan.
****