
Pagi harinya di Shanghai, Luri dan Nania tengah bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda. Mereka berangkat tidak sepagi hari biasanya karena hari ini adalah hari pertama mereka masuk setelah ujian sekolah selesai dilakukan.
Sambil menata bekal makan siang yang akan di bawa ke sekolah, Nania menanyakan pada kakaknya perihal keberangkatan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
"Kak Luri, kapan Kakak dan Kak Galang berangkat ke London?" tanya Nania seraya menatap lekat wajah cantik sang kakak.
"Emmm, perkiraan si bulan depan. Kenapa? Apa kau mau ikut?" sahut Luri balas memberi pertanyaan.
Nania terdiam. Jujur saja, sebenarnya Nania sangat tidak rela sang kakak pergi jauh darinya. Dia khawatir kalau di luar negeri sana kakaknya akan di jahati oleh seseorang. Selama ini kan Nania-lah yang selalu pasang badan setiap kali ada orang yang ingin menyakiti kakaknya. Jadi wajar saja bukan kalau dia khawatir seperti ini? Namun melihat tekad sang kakak yang begitu gigih mengejar cita-citanya yang ingin menjadi dokter, mau tidak mau Nania harus tetap mendukung kepergian sang kakak meski hatinya sendiri di dera perasaan cemas.
"Ada apa, Nania? Apa kau sedih karena kita akan berpisah?" tanya Luri saat menyadari raut berbeda di wajah adiknya.
"Bukan hanya sedih, Kak. Tapi aku juga sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana nanti kalau di sana ada orang yang jahat pada Kakak? Siapa yang akan menolong Kakak?" jawab Nania mengeluarkan kegundahan yang ada di hatinya.
Menyadari kekhawatiran di diri sang adik membuat Luri tersenyum penuh haru. Dia memasukkan kotak makan siang ke dalam tas kemudian memegang kedua bahu Nania. Dengan sabar Luri memberi penjelasan kalau di luar negeri nanti pihak sekolah sudah menyiapkan seseorang untuk menjaga keamanannya dan juga Galang.
"Nia, kau jangan khawatir. Di sana nanti Kakak pasti akan baik-baik saja. Galang bilang pihak sekolah sudah mempekerjakan seseorang untuk menjaga keamanan kami selama menempuh studi di sana. Jadi kau tidak perlu cemas ya?"
"Benarkah?" beo Nania curiga.
"Tentu saja itu benar, sayang. Tidak mungkin kan pihak sekolah menjanjikan sesuatu yang tidak nyata? Kakak dan Galang kan sedang berada di negeri orang, jadi Kakak yakin pihak sekolah pasti akan menjaga keamanan kami dengan baik. Jangan cemas. Oke?" sahut Luri lembut.
Hmmm, pasti ini adalah ulah Kak Galang. Tidak mungkin pihak sekolah sampai mengurusi masalah keamanan segala. Aku yakin pasti Kak Galang lah yang diam-diam membayar orang untuk menjaga Kak Luri. Haih, ternyata menjadi orang yang banyak uang itu enak sekali ya. Tinggal di gesek, maka semua masalah akan terselesaikan. Pokoknya saat besar nanti aku harus menikahi laki-laki yang punya banyak harta supaya hidupku tenang karena tidak memikirkan biaya hidup. Semangat Nania, batin Nania menyemangati dirinya sendiri.
Setelah Nania paham, Luri segera mengajaknya untuk berpamitan pada orangtua mereka. Dengan sopan keduanya mencium tangan ayah dan ibu mereka sebelum akhirnya keluar menuju mobil. Tepat sebelum Luri dan Nania masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke sekolah, sebuah kendaraan mewah masuk ke pekarangan rumah mereka. Sontak saja hal itu membuat Luri dan Nania saling berpandangan heran. Mereka lalu memutuskan untuk menunggu pemilik kendaraan tersebut keluar dari dalam mobilnya.
"Hai Nania, hai Luri!" sapa Jovan sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Nania langsung memutar bola matanya jengah. Musuh bebuyutannya datang.
"Jo, kenapa kau datang kemari? Tidak sekolah?" tanya Luri sambil berjalan menghampiri Jovan. Dia kemudian menoleh ke belakang. "Nania, ayo kemari. Sapa Jovan dulu!"
"Tidak mau. Ck, kurang kerjaan sekali dia. Sudah tahu ini jamnya masuk ke sekolah, kenapa dia malah keluyuran sih. Mengganggu orang saja!" gerutu Nania sembari melipat tangan di dada.
Jovan mengulum senyum mendengar gerutuan Nania. Melihat wajah masam di diri gadis ini membuat mood Jovan melonjak naik. Entahlah, meski Nania selalu mengerjainya, rasa yang Jovan rasakan tetaplah sama. Yang ada malah semakin bertambah setiap harinya.
"Jangan senyum-senyum seperti itu, Jo. Nanti Nania semakin benci padamu," tegur Luri sambil tersenyum kecil.
"Tidak masalah. Kau tahu tidak, Luri. Nania itu jadi terlihat semakin cantik kalau sedang marah-marah. Aku jadi makin-makin suka kepadanya," sahut Jovan tanpa merasa malu.
Luri menggelengkan kepala melihat kebucinan Jovan pada Nania. Setelah itu dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Jo, kau pergi ke sekolah tidak? Kalau tidak, aku dan Nania ingin berangkat dulu. Ini sudah siang, nanti pintu gerbangnya di tutup satpam!"
"Kalau berangkat sekolah lalu untuk apa kau datang kemari? Kau tidak berniat mengajak kami membolos kan?"
"Ya ampun, pikiranmu kenapa negatif sekali sih!" ejek Jovan sambil tertawa. "Sebenarnya aku datang kemari ingin mengajak kalian berangkat ke sekolah bersama-sama. Tadinya aku bersama Galang, tapi dia masih terjebak lampu merah di jalan."
Luri membulatkan bibirnya begitu tahu tujuan Jovan datang ke rumahnya. Setelah itu Luri berbalik, melambaikan tangan ke arah Nania yang tengah menyender di pintu mobil.
"Apa sih, Kak?" tanya Nania sambil berjalan malas-malasan saat menghampiri sang kakak yang sedang mengobrol bersama Jovan.
"Ini, Jovan mengajak kita untuk berangkat ke sekolah bersama. Bagaimana? Kau mau tidak?" jawab Luri menanyakan kesediaan Nania.
Bukannya menjawab, Nania malah melirik jengkel ke arah Jovan. Entah kenapa kakak kelasnya itu terus saja mencari ribuan cara agar bisa mendekatinya. Nania bahkan sampai kehabisan akal untuk membuat Jovan agar berhenti mencari muka kepadanya.
__ADS_1
Jovan yang dilirik seperti itu oleh Nania dengan sengaja menjulurkan lidah. Dia tertawa kencang saat Nania merespon kejahilannya dengan cara melemparkan kerikil kecil ke arahnya.
"Galak sekali sih. Keturunan singa ya?" ledek Jovan.
"Lihatkan, Kak Luri. Kak Jovan selalu saja mencari masalah denganku. Sudahlah, kita berangkat naik mobil kita saja. Aku tidak mau berada dalam satu mobil yang sama dengan orang jahat ini!" amuk Nania penuh emosi.
"Ya ampun kalian ini ya. Selalu saja bertengkar seperti anjing dan kucing. Kenapa sih? Bukannya dulu kalian berdua sangat akur ya?" ledek Luri sambil mengusap pundak Nania supaya tenang.
"Salah siapa Kak Jovan mengataiku gadis cabe-cabean. Itu kan tidak sopan namanya!" sahut Nania cetus.
"Oh, jadi rupanya kau masih menyimpan dendam padaku ya, Nania? Pantas saja dua bulan ini kau selalu mengibarkan bendera perang padaku. Jadi ini alasannya?"
Jovan mengaduh kesakitan saat perutnya di hadiahi bogem mentah oleh Nania. Dia sampai terbungkuk-bungkuk menahan nyeri akibat pukulan tangan Nania yang lumayan kuat. Wajarlah, Jovan bukanlah Nania yang begitu menggilai ilmu bela diri. Sudah pasti dia akan sangat kesakitan menerima pukulan yang kekuatannya selalu terasah setiap hari.
"Rasakan itu. Aku do'akan semoga ususmu saling membelit supaya pencernaanmu tidak lancar, Kak Jovan. Hahaha!" ucap Nania sambil tertawa jahat.
Luri, dia hanya bisa menarik nafas panjang melihat adiknya yang lagi-lagi menggunakan kekuatan untuk menyakiti Jovan. Dan ini bukan yang pertama terjadi. Luri sudah lelah mengingatkan Nania karena bagaimana pun pukulan tangannya sangat berbahaya.
"Ck Nania, kau itu kan seorang gadis. Apa kau tidak bisa bersikap lemah lembut seperti kakakmu? Hah?" tanya Jovan sambil meringis menahan nyeri.
"Oho, tentu saja tidak bisa, Kak Jovan. Kak Luri adalah Kak Luri, dan aku adalah aku. Kau mana bisa memintaku bersikap lembut sepertinya? Kalaupun aku bisa, aku akan tetap menyerangmu dengan cara yang sedikit berbeda!" jawab Nania seraya memperlihatkan satu seringai jahat di bibirnya. "Aku akan memberimu minuman beracun yang bisa membuatmu keluar masuk toilet. Mau?"
Jovan langsung menelan ludah begitu mendengar ancaman gila yang di ucapkan oleh Nania. Setelah itu dia buru-buru membuka pintu mobil, mempersilahkan agar kedua gadis desa ini segera masuk ke dalam kemudian berangkat ke sekolah mereka.
Aku bisa gila jika masih tidak bisa menjinakkan Nania. Ck, kira-kira cara apalagi ya yang harus kupakai agar bisa berdamai dengannya ya? Susah sekali, batin Jovan sambil mengendarai mobilnya.
*****
__ADS_1