
Nita langsung menutup mulutnya begitu Lusi selesai membaca surat yang di tinggalkan oleh Luri. Sungguh, tidak sedikitpun ada yang menyangka kalau keberangkatan Luri yang begitu mendadak ternyata di dasari oleh rasa kecewa yang sangat luar biasa. Pantaslah jika gadis baik itu memilih untuk pergi menjauh setelah mengetahui fakta kalau pria yang di sukainya telah menghamili wanita lain.
"Kurang ajar. Tega sekali Fedo mempermainkan adikku sampai seperti ini. Aku tidak terima, dia harus mendapat pelajaran dariku!" geram Gleen sambil meninju sofa yang sedang dia duduki. Matanya berkilat marah, dia murka akan Fedo yang dengan terang-terangan berani menyakiti perasaan adik ipar dan juga keluarganya. Gleen tidak terima.
"Benar, Kak Gleen. Aku setuju kalau kau ingin memberi pelajaran pada laki-laki itu. Huhh, mengecewakan sekali. Padahal Kak Luri begitu tulus menjaga perasaannya hanya untuk dia seorang. Dasar buaya!" timpal Nania ikut merasa geram.
Melihat anak dan menantunya begitu marah, Luyan hanya diam saja sambil menghela nafas panjang. Di awal mendengar isi suratnya Luri, sebenarnya Luyan sempat merasa kaget dan juga kecewa akan apa yang telah di perbuat oleh Fedo. Akan tetapi Luyan berusaha untuk menyadarkan diri agar tidak menghakimi Fedo secara sepihak. Luyan yakin betul kalau Fedo tidak akan mungkin melakukan perbuatan serendah itu karena dia percaya kalau Nyonya Abigail dan juga Tuan Mattheo tidak akan mendidik putra mereka dengan cara yang salah. Belum lagi dengan status Fedo sebagai pewaris dari keluarga Eiji. Sangat mungkin kalau Fedo menjadi incaran banyak wanita kaya hingga mampu menimbulkan fitnah semacam ini. Di sini Luyan bukan tidak membela putrinya, dia hanya berpikir melalui sudut pandang dari kedua belah pihak. Putrinya kecewa lalu memutuskan untuk pergi lebih awal ke London. Itu sangat wajar dilakukan mengingat Luri masih seorang remaja labil yang masih belum tahu bagaimana cara membuat keputusan dengan benar. Dan jika tebakan Luyan tidak meleset, sebentar lagi Fedo pasti akan datang ke Shanghai untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu, tenanglah. Luri pasti baik-baik saja di sana. Ya?" ucap Lusi cemas melihat sang ibu menjadi begitu syok setelah mengetahui isi surat yang di tulis oleh adiknya.
"Adikmu, Lusi. Bagaimana bisa Luri menyembunyikan masalah sebesar ini dari kita semua? Harusnya dia itu jujur, bukan malah diam lalu pergi dengan hati kecewa seperti ini," sahut Nita pilu memikirkan nasib putrinya. "Lusi, bagaimana nanti jika di sana Luri nekad melakukan sesuatu yang bisa menyakiti dirinya sendiri? Ibu takut sekali!"
"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak, Nita. Luri kita bukan anak yang berpikiran dangkal seperti itu. Dia tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang bisa membuat kita semua merasa kecewa padanya. Hati-hati kalau mau bicara karena ucapan adalah do'a!" tegur Luyan dengan tegas.
"Ayah, Ibu. Lihat ini!" pekik Nania sembari mengarahkan layar ponsel pada ayah dan ibunya. "Keluarga wanita yang di hamili oleh Kak Fedo membuat konfrensi pers di beberapa media. Wooaaahhh, ini sudah tidak tertolong lagi. Kalau dia sudah sampai berbuat seperti ini, itu tandanya yang di tulis oleh Kak Luri memang benar kalau Kak Fedo telah menghamilinya. Jahat, menjijikkan sekali kelakuannya itu. Hih!"
"Ya Tuhan, bagaimana ini, Ayah. Kalau Luri sampai melihat berita itu hatinya pasti akan sangat hancur sekali. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Lusi panik sembari mendengarkan konferensi pers yang sedang berlangsung.
"Semua tenang. Ayah yakin Fedo tidak mungkin melakukan hal serendah itu pada seorang wanita. Kalaupun benar wanita itu mengandung anaknya Fedo, Nyonya Abigail dan Tuan Mattheo pasti tidak akan tinggal diam. Lebih baik sekarang kita tunggu saja seperti apa respon dari keluarganya Fedo. Mereka tidak mungkin tidak membuat pernyataan balik untuk merespon pernyataan wanita itu. Berdoa saja semoga yang di katakan oleh wanita itu tidaklah benar!" jawab Luyan dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Fedo, kau pernah berjanji tidak akan menyakiti Luri. Kau juga telah berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan yang telah Paman berikan. Segeralah datang kemari lalu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara kau dengan wanita itu. Kasihan Luri, Fedo. Dia pergi dengan perasaan yang hancur lebur, ujar Luyan dalam hati.
"Ooh, jadi wanita yang di hamili oleh Kak Fedo adalah wanita tidak sopan itu ya? Huhh, pantas wajahnya seperti tidak asing. Ternyata dia!"
Semua mata langsung menoleh ke arah Nania begitu mereka mendengar perkataannya. Nita yang posisi duduknya paling dekat dengan Nania pun segera memintanya untuk menjelaskan.
"Nania, apa kau mengenal siapa wanita itu? Di mana, dan kapan kalian bertemu?"
"Ibu, beberapa waktu lalu wanita itu pernah datang ke sekolah untuk mencari Kak Luri. Dia mengaku sebagai kekasih Kak Fedo dan mengatakan akan segera melangsungkan pernikahan dengannya. Tapi karena waktu itu aku khawatir dia akan berbuat jahat, aku memutuskan untuk berpura-pura menjadi Kak Luri saja. Wanita itu lalu memintaku untuk meninggalkan Kak Fedo, dia juga bilang kalau mereka sudah sering tidur bersama!" sahut Nania dengan lancar memberitahu keluarganya tentang kelakuan wanita yang saat ini masih melakukan konferensi pers di media. "Aku merasa sangat kesal melihat cara wanita itu membanggakan dirinya yang pernah tidur bersama seorang laki-laki. Jadi ya sudah aku balas saja dengan mengatakan kalau aku dan Kak Fedo juga sering tidur bersama di berbagai tempat. Setelah mengatakan itu semua aku mengusirnya pergi dan meminta dia supaya jangan datang lagi ke sekolah. Tapi ....
"Tapi? Tapi apa, Nania? Ayo cepat beritahu Ibu!" desak Nita tak sabar.
"Oh, maaf. Ibu terlalu mengkhawatirkan kakakmu, sayang. Jangan marah ya?"
Nania mengangguk. Setelah itu Nania menarik nafas sebanyak-banyaknya kemudian kembali melanjutkan ceritanya.
"Tapi ternyata wanita itu datang lagi ke sekolah dan akhirnya berhasil bertemu dengan Kak Luri. Mereka kemudian saling bicara, dan Kak Luri tidak memberitahukan apa yang mereka berdua bicarakan. Dan anehnya, Bu. Walaupun Kak Luri tahu kalau wanita itu adalah kekasihnya Kak Fedo, dia terlihat biasa-biasa saja. Bahkan hubungannya dengan Kak Fedo tetap lancar jaya sampai masalah ini muncul!"
Nita terdiam. Dia lalu melihat ke arah suaminya yang terkesan tenang dalam menyikapi masalah yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Mungkin di sini Luri cukup labil karena dia lebih memilih pergi daripada menanyakan kebenarannya langsung pada Fedo. Akan tetapi dari yang Nania katakan, aku bisa menarik kesimpulan kalau Luri cukup dewasa karena dia bisa berdamai dengan masa lalunya Fedo. Besar kemungkinan di sini Fedo hanya sedang di fitnah mengingat bagaimana wanita itu sangat ingin Luri berpisah dari Fedo," ucap Luyan tanggap kalau sang istri tengah menunggu pendapatnya. "Sama seperti yang aku katakan tadi, Nita. Lebih baik kita tunggu Fedo datang untuk mendengarkan penjelasannya. Bukankah seharusnya hari ini dia dan Luri saling bertemu ya?"
"Iya, Ayah. Hari ini rencananya Luri akan memberitahu Fedo kalau dia akan kuliah di London. Tapi Ayah, apa mungkin Fedo masih terfikir untuk datang kemari di tengah-tengah masalah yang sedang muncul di hidupnya?" tanya Lusi meragu. Dia bingung apakah harus mempercayai isi surat adiknya atau lebih percaya dengan yang ayahnya katakan.
"Kalau Fedo benar-benar memikirkan perasaan Luri, hari ini dia pasti akan tetap datang. Terlepas dari kabar buruk yang sedang menyeret namanya, Ayah tahu betul kalau Fedo sangatlah mencintai Luri. Dia pasti sedang ketakutan sekarang!" jawab Luyan dengan pasti.
"Apapun alasannya nanti aku tetap tidak akan membiarkan masalah ini selesai begitu saja, Ayah. Fedo sudah berani membuat adikku bersedih, dia harus merasakan obat hangat dariku!" sela Gleen tetap kekeh pada keinginan awalnya untuk memberi sedikit pelajaran pada Casanova sialan itu.
"Gleen, tidak semua masalah harus di selesaikan dengan kekerasan. Lebih baik kita menurut apa kata Ayah saja, biarkan Fedo menjelaskan pada kita semua tentang berita yang sedang heboh di media!" sahut Lusi berusaha membujuk suaminya yang sedang marah.
"Sweety, Luri dan Nania adalah adik-adikku. Jadi aku tidak akan diam saja jika ada orang yang menyakiti mereka. Tak terkecuali dengan Fedo juga. Dia memang temanku, tapi jika sudah berani menyenggol keluargaku, tidak akan ada kata teman lagi di antara kita. Jadi tolong nanti jika Fedo datang jangan ada yang menghalangiku. Oke?"
"Aku setuju denganmu, Kak Gleen. Kebetulan aku akan segera mengikuti kompetisi bela diri, aku butuh kelinci percobaan untuk mengetes kemampuanku. Nanti kita bagi dua ya, Kak. Kau atau aku yang akan menyerang Kak Fedo lebih dulu?" tanya Nania dengan begitu bersemangat melakukan negoisasi dengan kakak iparnya.
"Aku yang pertama. Tidak puas jika aku harus mendapat sisa darimu," jawab Gleen.
"Baiklah. Tidak masalah!"
Lusi, Nita, dan juga Luyan hanya ternganga syok melihat bagaimana santainya Gleen dan Nania saling berbagi kesempatan untuk menghajar Fedo. Jika kabar ini benar, mereka mungkin akan menganggapnya sebagai satu hukuman. Akan tetapi jika kabar ini hanyalah fitnah, berarti Fedo akan menjadi korban salah sasaran. Kasihan sekali.
__ADS_1
****