
"Luri!"
"Nania!"
Merasa ada yang memanggil, Luri dan Nania pun menoleh ke arah belakang. Mereka sedikit kaget melihat kemunculan Fedo yang sedang berjalan mendekat.
"Hehm, lihatlah Kak pria mesum mana yang datang!" sindir Nania sambil menatap tak suka ke arah pria pemilik belut listrik.
"Nania, jangan tidak sopan begitu. Kak Fedo itu laki-laki normal, wajar jika hal seperti itu terjadi," sahut Luri mulai resah dengan celotehan sang adik.
"Iya normal, sampai-sampai berdiri tak memandang tempat. Dasar omes!"
"Nania....
"Apa sih Kak, itu memang benar kok. Kakak saja yang tidak menyadari saat belut listrik itu berdiri. Hihh, jika mengingatnya perutku jadi mual!" sela Nania sambil terus menatap tajam ke arah Fedo yang kini sudah berdiri di depan mereka.
Kening Fedo mengernyit saat menyadari aura permusuhan yang dilayangkan oleh Nania, gadis belia yang mempunyai lidah beracun seperti king kobra. Dia lalu menatap heran ke arah Luri yang sedang menundukkan kepala dengan rona merah yang menghiasi wajah cantiknya.
"Luri, kau demam?" tanya Fedo cemas.
"Hah???"
Luri membeo. Dia kemudian menepuk pelan kedua sisi wajahnya yang terasa sedikit panas. Luri bukannya demam, tapi dia sedang merasa malu setelah mendengar perkataan adiknya yang begitu frontal. Entahlah, meski sudah bertahun-tahun menjadi kakaknya Nania, Luri tetap saja syok setiap kali adiknya bicara asal. Padahal sudah dari semalam kata-kata belut listrik itu masuk ke indra pendengarannya. Harusnya sih dia tidak kaget lagi. Tapi begitu Nania membuka mulut, lagi-lagi Luri merasa seperti tidak bisa bernafas. Lidah adiknya sungguh sangat keterlaluan.
"Kakakku tidak demam," jawab Nania menggantikan kakaknya bicara.
"Kalau tidak demam kenapa wajahnya memerah?" tanya Fedo bingung.
Aneh, itu yang ada di dalam pikiran Fedo sekarang.
"Dia takut di sengat belut listrik!"
__ADS_1
Luri dengan cepat membungkam mulut adiknya yang baru saja mengeluarkan kata memalukan.. Dia lalu tersenyum canggung ke arah Fedo yang terlihat keheranan melihat kelakuannya.
"Em itu Kak Fedo... jangan dengarkan kata-kata Nania ya. Dia, dia hanya asal bicara saja tadi," ucap Luri mencoba untuk menjelaskan.
"Belut listrik siapa yang di maksud oleh Nania barusan? Memangnya sekolah ini memelihara hewan berbahaya seperti itu ya?"
Andai saja mulut Nania tidak sedang dibungkam oleh sang kakak, dia pasti akan langsung menjawab kalau belut listrik itu adalah senjata mematikan yang ada di bawah perut Fedo. Sayang, saat ini dia sedang dalam kondisi tidak bisa bicara. Nania hanya bisa mendengus kesal saat bungkaman tangan sang kakak kian menguat.
"Oh ya, Kak Fedo kenapa datang kemari?" tanya Luri mengalihkan pembicaraan.
Fedo meringis pelan. Dia lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kedatangannya kemari tentu saja untuk menemui gadis desa pujaannya. Fedo sengaja menampakkan diri di sekolah ini agar tidak ada kurcaci-kurcaci yang berani mendekati gadis incarannya. Meski dari desa, Luri memiliki pesona yang sangat memukau. Kecantikannya begitu alami. Belum lagi dengan sikap dan tutur katanya yang begitu lemah lembut, membuat Fedo semakin terLuri-Luri sepanjang waktu.
"Aku tidak sengaja lewat sini tadi. Dan kebetulan melihat kalian sedang berjalan masuk ke dalam sekolah. Jadi aku memutuskan untuk menyapa kalian dulu," jawab Fedo berkilah.
"Ibu bilang orang yang suka berkata bohong setelah mati akan di potong lidahnya oleh Tuhan. Kak Fedo tidak takut Tuhan marah?"
Dengan susah payah Nania akhirnya berhasil menyelamatkan mulutnya dari tangan sang kakak. Dan begitu terbebas, dia langsung membalas kata-kata Fedo yang langsung membuatnya diam tak berkutik.
"Nania, bicara yang sopan!" tegur Luri tak enak hati.
"Tapi tidak begitu juga cara mengingatkannya."
"Lho, aku bicara sesuai dengan apa yang Ibu ajarkan, Kak. Orang yang suka berbohong lidahnya akan dipotong. Orang yang suka mencuri barang milik orang lain nanti tangannya yang akan di potong. Dan juga orang yang suka melakukan maksiat dengan yang bukan pasangan sahnya nanti *********** juga akan dipotong. Semuah akan serba di potong kalau kita tidak hidup sesuai di jalur yang benar, Kak. Karma itu nyata, dan azab Tuhan adalah hukuman yang paling mengerikan. Itu yang Ibu ajarkan padaku selama ini."
Fedo langsung menelan ludah begitu Nania selesai bicara. Wajahnya sedikit memucat dengan keringat dingin yang mulai bermunculan di keningnya. Dia tidak tahu apakah kata-kata ini di tujukan untuknya atau bukan. Yang jelas, semua potongan-potongan ini sangat cocok dengan perbuatannya. Fedo suka berbohong, itu sudah pasti karena dia baru saja melakukannya. Fedo suka mencuri, tapi dia hanya mencuri wanita lain dari kekasihnya. Dan yang terakhir itu adalah jenis maksiat yang paling dia gemari. Ya, setiap akhir pekan, Fedo akan menghabiskan malam dengan para wanita yang bukan istrinya. Dia akan bersenang-senang mengumbar ***** dengan para kaum Hawa yang selalu siap menghangatkan ranjang. Tapi setelah mendengar jenis potongan yang akan di terimanya dari Tuhan, Fedo memutuskan untuk tidak lagi melakukan hal tersebut. Dia cukup mengkhawatirkan nasib si junior jika azab Tuhan benar-benar mendatanginya.
"Kak Fedo kenapa diam? Merasa tersindir ya?" ejek Nania puas.
"Nania, jangan begitu," sahut Luri panik.
"Nania, jangan begitu," ucap Nania menirukan ucapan sang kakak.
__ADS_1
Luri mendesah pelan. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menjinakkan lidah adiknya. Luri merasa sangat tidak enak pada Fedo yang kini sedang terdiam dengan raut wajah yang sulit di artikan. Luri yakin sekali kalau Fedo pasti sangat tersinggung setelah mendengar ucapan adiknya. Dia jadi serba salah sekarang.
"Ekhm, Luri, mana jaketmu?" tanya Fedo setelah berhasil menguasai kewarasannya.
"O-oh, itu Kak, aku lupa membawa jaket dari rumah," jawab Luri tergagap.
"Ya ampun, aku kan sudah bilang saat keluar rumah jangan lupa memakai pakaian yang hangat. Ini masih musim dingin, nanti kalau kau sakit bagaimana?"
Sambil melepas jaketnya, Fedo terus melirik ke arah Nania yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Jujur saja, Fedo merasa sedikit terintimidasi oleh gadis belia ini setelah apa yang dia dengar tadi. Rupanya yang di bilang oleh Gleen benar kalau lidah adik iparnya sebelaa dua belas dengan lidah kakak ipar Elea. Kedua gadis ini sama-sama pandai membuat orang lain tak bisa berkutik begitu mulut mereka terbuka.
"Tidak usah, Kak. Di dalam sekolah suhunya sangat hangat. Kakak saja yang memakai jaket ini!" tolak Luri saat Fedo hendak memakaikan jaket ke tubuhnya.
"Tidak apa-apa, ada jaket lain di dalam mobilku. Jangan khawatir," ucap Fedo setengah memaksa.
"Jangan malu-malu, Kak Luri. Aku tahu kau sebenarnya sangat suka di perhatikan begini oleh Kak Fedo kan?" celetuk Nania yang sukses membuat sang kakak gelagapan.
Kali ini Fedo setuju dengan ucapan Nania. Dia dengan penuh semangat merapihkan jaket di tubuh Luri yang kini sedang menundukkan kepala.
"Kak Fedo, tolong jaga jarak. Belut listrikmu bisa membuat kakakku terkena busung lapar!" omel Nania ketika menyadari pergerakan tak biasa dari si belut listrik.
Khawatir kakaknya benar-benar di sengat oleh belut listrik yang mulai aktif itu, dengan cepat Nania menarik tangan sang kakak untuk masuk ke dalam sekolah. Fedo yang tidak paham dengan maksud perkataan Nania hanya terbengang seperti orang bodoh saat di tinggal pergi begitu saja. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu kenapa kedua gadis desa itu terus saja menyebut kata belut listrik di hadapannya. Seolah-olah kalau Fedo memiliki hubungan dengan binatang berbahaya tersebut.
"Aku harus segera mencari tahu belut listrik itu sebenarnya apa. Untuk jaga-jaga saja kalau itu adalah semacam kode rahasia yang coba mereka sembunyikan dariku!" gumam Fedo sambil berjalan menuju mobilnya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, part 28 baru saja up. Jangan lupa mampir ya gengss
...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...
__ADS_1
...💜 Ig: rifani_nini...
...💜 Fb: Rifani...