
"Permisi, Tuan Muda!"
Fedo yang saat itu tengah membicarakan pekerjaan bersama dengan para bawahannya langsung menoleh ke arah pintu ketika ada seseorang yang menyapa. Keningnya mengerut, sedikit heran melihat kemunculan anak buahnya yang datang tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Khawatir ada sesuatu hal yang mendesak, Fedo segera meminta semua bawahannya untuk keluar dari sana. Setelah itu dia meminta anak buahnya untuk mengatakan kabar apa yang mereka bawa.
"Ada apa?" tanya Fedo dengan nada suara yang cukup dingin.
"Tuan Muda, ada seseorang yang sedang menyelidiki gerak-gerik anda di mulai dari dua bulan yang lalu."
"Siapa? Apa ini ada hubungannya dengan Kanita?"
"Benar, Tuan Muda. Orang yang sedang menyelidiki anda adalah suruhan Tuan Dominic. Sepertinya dia mulai menaruh curiga atas apa yang terjadi pada putrinya."
Fedo tertawa setelah mendengar perkataan anak buahnya. Sudah dia duga, ayahnya Kanita pasti akan langsung menyasar padanya begitu menyadari kehamilan wanita itu. Namun, untuk kali ini Fedo akan sedikit berbaik hati dengan membiarkan orang suruhan Tuan Dominic tetap menyelidikinya. Tidak ada alasan untuk Fedo merasa takut karena semua bukti yang mengarah padanya sudah dia ambil. Termasuk juga rekaman dimana Kanita yang pulang bersama seorang pria bernama Ando.
Ya, anak buah Fedo berhasil menemukan identitas pria itu. Dan seperti yang dia duga, Ando bukanlah nama yang sebenarnya dari pria tersebut. Melainkan hanya nama samaran saja karena nama asli Ando adalah Andero. Latar belakang keluarga Andero lumayan berpengaruh, yang membuatnya harus pandai-pandai menutupi identitas asli dari media.
"Hmm, biarkan saja mereka mau melakukan apa. Kalian cukup memantaunya dari jauh," ucap Fedo seraya menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala.
"Apa tidak apa-apa tetap membiarkan mereka, Tuan Muda?"
"Tidak akan terjadi apa-apa karena semua bukti sudah ada di tanganku. Kalian tenang saja, cukup lakukan apa yang ku perintahkan tadi. Paham?"
Anak buah Fedo mengangguk patuh sebelum akhirnya pamit untuk pergi dari sana. Sedangkan Fedo, pria ini dengan santainya bersiul sambil memejamkan mata. Ingin menjebaknya? Haha, mimpi. Tuan Dominic salah mengira kalau Fedo tidak akan tahu apa yang akan dia lakukan. Bahkan sebelum orangtua itu bergerak, Fedo sudah selangkah lebih maju dalam menemukan semua bukti yang kemungkinan besar akan mereka gunakan untuk menjeratnya.
"Kanita-Kanita, ternyata bukan hanya kau saja yang tidak bisa berpikir menggunakan otak. Ayah dan Ibumu juga sama, sama-sama bodoh dan lamban dalam menyadari segala sesuatunya. Haih, aku jadi iba memikirkan nasib kalian," ucap Fedo sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Mungkin karena terlalu asik menertawai kebodohan ayah Kanita, Fedo sampai tidak menyadari ada seseorang yang tengah menatapnya sambil berkacak pinggang di depan pintu. Dia baru tersadar setelah mendengar sindiran halus yang di lontarkan oleh orang tersebut.
"Ckckck, aku kira akan bertemu dengan putraku yang pintar dan tampan di ruangan ini. Siapa yang mengira kalau aku malah bertemu orang gila di sini. Hmm!"
"Ayah, kapan Ayah datang? Membuat kaget saja?" tanya Fedo pura-pura kaget. Dia santai saja meski di katai orang gila oleh ayahnya.
Bukannya menjawab, Mattheo malah melenggang masuk ke dalam ruangan. Dia kemudian duduk di sofa, menatap dalam ke arah putranya yang terlihat gembira.
"Kenapa anak buahmu datang ke kantor, Fed? Ada apa?" tanya Mattheo ingin tahu.
"Mereka memberitahu kalau Tuan Dominic meminta seseorang untuk menyelidiki aku, Ayah. Biasalah, mungkin dia sudah tahu kalau anaknya hamil. Makanya bertindak cepat dengan menargetkan aku sebagai ayah dari bayi yang ada di perut Kanita," jawab Fedo.
"Apa? Menargetkanmu? Cih, tidak tahu malu sekali dia," ucap Mattheo seraya berdecih kesal. "Kalau Kayo dan Ibumu sampai tahu, bisa habis Dominic di tangan mereka. Sembarangan menuduh orang, memangnya pria yang pernah tidur dengan Kanita hanya kau saja apa?"
Fedo tersenyum mendengar ayahnya mengomel. Ini baru ayahnya ya, belum ibu dan juga adiknya. Fedo berani jamin kalau dalam hal ini Kayo lah yang akan bereaksi paling keras jika tahu kalau Tuan Dominic tengah menyelidikinya. Adiknya itu entah kenapa sangat membenci Kanita, dan secara terang-terangan menolak tegas jika seandainya Fedo sampai menikah dengan wanita itu.
"Sudah, Ayah. Nama aslinya Andero, dia adalah pewaris tunggal dari pemilik JK Group. Latar belakang keluarganya cukup besar, wajar kalau dia begitu waspada dalam merahasiakan identitas aslinya," jawab Fedo memberitahu sang ayah
tentang identitas pria yang malam itu meniduri Kanita.
"Ummn, lumayan juga ya calon menantunya Dominic. Meski Kanita suka mengobral tubuh kepada para pria, dia beruntung karena bisa mengandung anak dari seorang pria berpengaruh seperti Andero. Kalau begini sih harusnya mereka tidak perlu lagi repot-repot mengejarmu, Fed. JK Group adalah perusahaan yang lumayan besar, akan sangat rugi kalau Dominic menolak untuk berbesan dengan mereka. Benar tidak?" ucap Mattheo sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia lumayan kagum akan kehebatan perusahaan tersebut. Dan ternyata, orang yang berada di balik gebrakan-gebrakan hebat dari perusahaan kosmetik itu adalah Andero.
Tunggu-tunggu. JK Group itu kan bukan berada di Jepang. Sementara malam itu Andero dan Kanita bermalam di salah satu hotel yang ada di negara ini. Jangan-jangan Andero datang kemari karena ada tujuan tersendiri?? Waahhh, ini menarik.
"Ada apa, Ayah? Kenapa Ayah tersenyum-senyum tidak jelas begitu? Sedang memikirkan wanita lain ya?" tanya Fedo penuh nada meledek.
__ADS_1
"Hati-hati kalau ingin bicara, Fed. Ayah bisa mati di tangan Ibumu jika sampai mendengar tuduhan yang kau ucapkan barusan!" jawab Mattheo kesal.
"Siapa suruh Ayah bersikap seperti orang mesum. Bukan salahku kan kalau berpikiran seperti itu? Kan Ayah memang sering melamunkan wanita lain saat sedang berada di kantor. Iya kan?"
Fedo tertawa melihat ayahnya yang sudah tidak bisa mengelak lagi. Setelah itu Fedo berpindah duduk ke sofa, tahu kalau bukan hal itu yang sedang di pikirkan oleh ayahnya.
"Masalah apa yang sebenarnya sedang Ayah pikirkan?" tanya Fedo dengan raut wajah yang sangat serius.
"Begini, Fed. JK Group itu kan bukan perusahaan yang ada di negara kita. Ayah curiga kalau kedatangan Andero kemari adalah untuk melebarkan sayap bisnisnya dengan salah satu perusahaan yang ada di sini. Namun sialnya, dia malah bertemu dengan Kanita, bahkan berhasil menanam benih kecebong di rahimnya. Menurutmu apakah ini adalah trik khusus yang sengaja dia lakukan agar bisa mendapatkan akses mudah dengan cara menjadi menantunya Mili dan Dominic? Ini masuk akal tidak?" tanya Mattheo meminta pendapat.
"Menurutku itu cukup masuk akal, Ayah. Kita ini sama-sama pembisnis, selagi ada jalan tikus untuk memajukan perusahaan, kenapa tidak? Lagipula apapun tujuan Andero ke negara ini aku tidak terlalu peduli. Selagi dia datang bukan untuk merusak hubunganku dengan Luri, maka itu tidak ada urusannya denganku. Entah dia sengaja menghamili Kanita atau tidak, yang jelas aku bukan ayah dari bayi itu. Jadi persetan dengan tujuannya," jawab Fedo acuh.
"Ckk, dasar tidak tahu diri kau. Selalu saja semuanya di hubung-hubungkan dengan Luri."
"Oho, tentu saja itu harus, Ayah. Luri adalah calon istriku, dia adalah masa depan dari penerus keluarga Eiji."
"Yakin sekali kau. Memangnya Luri sudah menyatakan kesediaannya untuk menikah denganmu? Belum kan?" tanya Mattheo jengah.
"Luri tidak akan mungkin menolak pria sepertiku, Ayah. Percaya saja, suatu saat dia pasti akan menikah denganku," jawab Fedo dengan sangat percaya diri.
"Kalau dia menolak?"
"Akan ku paksa sampai dia mau."
Setelah berkata seperti itu Fedo dan ayahnya tertawa terbahak-bahak. Gila memang, tapi itulah mereka berdua. Fedo terlahir sebagai anak dari seorang pria yang dulunya juga begitu pemaksa. Jadi wajar saja bukan kalau sikap arogan itu mengalir di dalam tubuhnya? Mau heran, tapi itu adalah Fedo dan Mattheo. Jadi ya sudah, lebih baik kita maklumi saja.
__ADS_1
*****
MINAL AIDZIN WALFAIDZIN YA GENGSSS 🙏🙏🙏 Emak minta maaf kalau ada salah-salah kata selama menulis di sini. Selamat liburan untuk kalian semua 😇