
Fedo dengan penuh perhatian membersihkan masker yang menempel di wajah Luri. Sesekali dia tersenyum saat mata gadis ini bertabrakan dengan tatapannya.
"Kak Fedo benar baik-baik saja?" tanya Luri yang masih merasa khawatir.
"Iya Luri, aku sungguh baik-baik saja. Kau lihat sendiri bukan kalau aku tidak terluka sama sekali? Apa perlu aku membuka pakaianku supaya kau tidak merasa khawatir lagi, hm?" jawab Fedo gemas.
Pipi Luri merona mendengar jawaban Fedo yang sedikit fulgar. Dia lega sekaligus malu. Lega karena ternyata Fedo tidak kenapa-napa, dan malu karena pria ini dengan telaten membersihkan wajahnya yang kotor karena masker.
"Luri, besok pagi aku akan pulang ke Jepang. Salah satu tetua keluarga kami masuk ke rumah sakit, jadi mau tidak mau aku dan keluargaku harus segera kembali kesana secepatnya."
Terdengar helaan nafas berat setelah Fedo selesai bicara. Sedangkan Luri, gadis itu hanya diam menyimak perkataan Fedo. Luri masih menunggu kelanjutan dari kata-kata tersebut.
"Sebenarnya aku masih sangat ingin berada di negara ini dan bermain denganmu, Luri. Tapi Ayah dan Ibuku tidak mengizinkan karena bagaimana pun aku adalah calon penerus di keluarga Eiji. Akan sangat mencoreng nama baik keluarga jika aku tidak muncul di sana. Kau tidak apa-apa kan jika aku tinggal?" tanya Fedo sedih.
Jawab kalau kau keberatan, Luri. Karena begitu kau menjawab, aku akan langsung meminta izin pada Paman Luyan dan Bibi Nita untuk membawamu serta ke Jepang. Aku sungguh tidak rela membiarkanmu menjadi incaran para buaya di sekolah, aku bisa menjadi perjaka tua nanti, batin Fedo.
"Aku tidak mungkin keberatanlah, Kak. Lagipula apa urusannya aku dengan kepulangan Kakak ke Jepang? Di antara kita kan tidak ada hubungan apa-apa selain hanya pertemanan biasa. Lain kalau kita menjalin suatu hubungan yang serius, aku pasti akan merasa sangat sedih jika ditinggal," jawab Luri seraya tersenyum menampilkan lesung pipinya yang manis.
Jawaban Luri sukses membuat Fedo patah hati. Hancur sudah bayangan-bayangan indah yang dia pikirkan jika seandainya Luri memberikan jawaban sesuai dengan apa yang dia mau. Dengan wajah lesu Fedo terdiam sambil menundukkan kepala. Baru kali ini dia merasakan apa yang namanya kecewa. Ternyata rasanya sungguh tidak enak. Sesak seperti dada kita di tusuki oleh ribuan tusuk konde.
"Luri?"
"Iya Kak, ada apa?" sahut Luri.
"Saat aku berada di Jepang nanti, mau tidak kau berjanji untuk tidak berdekatan dengan pria lain? Aku takut sekali kau dibawa kabur oleh mereka!" ucap Fedo dengan tampang memelas.
Dada Luri berdebar kencang setelah mendengar pertanyaan Fedo. Namun dia mencoba menutupi perasaan tersebut dengan berpura-pura melihat ke arah lain. Luri tidak mau Fedo tahu kalau saat ini hatinya sedang tidak karu-karuan.
__ADS_1
"Luri, mungkin ini terlalu cepat untukku berbicara tentang hati. Tapi aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita. Memang baru berapa hari sih, tapi sekarang di pikiranku hanya ada namamu seorang. Kau mau tidak menerimaku sebagai kekasihmu?"
Sudah kepalang tanggung. Fedo akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Luri. Terlalu terburu-buru memang, tapi dia tidak peduli. Lebih baik mengirim peledak terlebih dahulu daripada harus mati dalam ledakan saat tahu kalau Luri sudah menjadi milik pria lain. Astaga, membayangkan hal tersebut membuat semua sendi-sendi di tubuh Fedo berdenyut.
"Em bagaimana ya Kak. Aku ini masih belum dewasa, rasanya sangat tidak pantas untuk memiliki hubungan seperti itu. Aku ingin fokus sekolah dulu kemudian membahagiakan Ayah, Ibu, Kak Lusi dan juga Nania. Mungkin setelah semuanya tercapai aku baru akan memikirkan untuk menjalin hubungan. Jadi maaf ya, aku tidak bisa menerima Kakak sebagai kekasihku," jawab Luri dengan berat hati.
"Jadi aku di tolak ya? Ya ampun, menyedihkan sekali hidupku. Padahal, ini adalah pertama kalinya aku mengajak seorang gadis untuk berpacaran. Sungguh malang!" ucap Fedo prihatin akan nasibnya sendiri. "Tapi Luri, aku rasa tidak masalah kalau kita menjalin hubungan. Di luaran sana, ada banyak gadis yang usianya jauh lebih muda darimu sudah memiliki pasangan. Bahkan ada beberapa yang beranggapan kalau berpacaran itu hukumnya fardu 'ain bagi mereka yang sudah mengalami periode bulanan. Apa kau tidak ingin seperti mereka? Aku ini tampan lho, aku juga kaya. Aku jamin kau tidak akan malu jika membawaku datang ke pesta."
Kayo yang saat itu menguping percakapan antara kakaknya dengan Luri sangat ingin muntah paku mendengar kata-kata menggelikan tersebut. Fardu'ain, entah darimana kakaknya mendapat kosakata seperti itu. Benar-benar seorang Casanova sejati dengan ribuan akal bulus yang mematikan.
"Hubungan seperti itu tidak bisa di ukur hanya dari segi fisik dan materi saja, Kak Fedo. Tapi ada sepasang hati dan perasaan yang harus kita jaga. Kalaupun memang benar Kak Fedo menyukaiku, bukankah seharusnya Kakak itu mendukungku untuk memiliki masa depan yang baik ya? Ayah bilang, pria yang baik adalah pria yang akan selalu mendorong pasangannya supaya sukses. Bukan pria yang datang karena suatu alasan tertentu yang man alasan tersebut malah membuat si wanita terperosok ke dalam alur yang salah. Bukannya aku sok menggurui Kak, tapi menurutku ucapan Ayah sangat masuk akal. Benar tidak?"
Ucapan Luri benar-benar sangat menohok hati Fedo. Sungguh, dia benar-benar merasa sangat malu sekarang. Dia yang sudah dewasa dibuat bungkam oleh perkataan seorang gadis yang bahkan usianya belum mencapai dua puluh tahun. Mental Fedo sungguh sangat terguncang sekarang.
Tapi meskipun begitu, Fedo tetap tidak kehilangan akal untuk menjerat si gadis desa ini. Dia segera mengeluarkan hadiah yang tadi dibelinya sebelum datang ke taman.
"Buka saja. Itu hadiah perpisahan dariku, Luri. Semoga saja kau suka," jawab Fedo.
Dengan hati-hati Luri pun menerima hadiah tersebut. Dia lalu membukanya, ternganga kaget karena ternyata isi dari kotak tersebut adalah sebuah kalung dengan liontin berwarna ungu yang sangat indah. Luri begitu tersihir oleh kecantikan kalung tersebut hingga tidak menyadari kalau sekarang Fedo sudah berjongkok di sampingnya.
"Biar aku bantu memakainya ya?" ucap Fedo kemudian mengambil kalung dari dalam kotak.
Wajah Luri bersemu merah saat Fedo mengangkat rambutnya ke atas hingga memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih. Kulit tubuhnya sedikit meremang saat dia merasakan rasa dingin begitu kalung tersebut bersentuhan dengan kulit lehernya.
Astaga, ini cobaan besar. Kuatkan imanmu, Fedo. Kau jangan sampai goyah hanya gara-gara melihat tengkuknya yang putih itu. Ingat Fed, kau sudah memutuskan untuk pensiun dari dunia perbuayaan, batin Fedo sambil menelan ludah.
"Terima kasih banyak untuk hadiahnya, Kak. Kalung ini pasti harganya sangat mahal!" ucap Luri sembari memainkan liontin yang menggantung indah di lehernya.
__ADS_1
"Semahal apapun harganya, tetap tidak sebanding dengan kecantikanmu saat memakai kalung itu," jawab Fedo membual. "Luri, bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
Luri menatap lekat ke arah Fedo. Sebenarnya dia sangat ingin mempertanyakan maksud dari pemberian kalung ini, tapi melihat keseriusan di mata Fedo membuat Luri mengurungkan niatnya itu. Biarlah, mungkin memang benar kalau kalung ini hanya sebatas hadiah perpisahan saja. Karena jika Fedo bermaksud mengikatnya melalui kalung tersebut, maka Luri akan langsung mengembalikannya. Dia tidak siap jika harus menjalin hubungan untuk sekarang ini. Selain karena usianya yang masih muda, juga karena Luri tidak ingin membuat keluarganya kecewa.
"Janji untuk tidak menjalin hubungan dengan pria manapun selama aku berada di Jepang. Bukannya aku ingin egois, tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaanku. Bisa?" ucap Fedo penuh harap.
"Tapi Kak, aku....
"Iya aku tahu kalau kau tidak mau pacaran dulu. Itu sama sekali bukan masalah asalkan kau mau berjanji untuk tidak bersama pria lain selain aku. Bukan untuk sekarang, tapi nanti setelah kau siap lahir dan batin."
Luri tersenyum lucu saat Fedo menyebut kata siap lahir dan batin. Diam-diam Luri mengagumi kegigihan Fedo yang masih tetap menginginkannya meski sudah dia tolak secara terang-terangan.
"Kita lihat bagaimana nanti ya, Kak. Kalau memang jodoh pasti tidak akan kemana," ucap Luri memberi keputusan.
Seulas senyum kelegaan terbit di bibir Fedo setelah dia mendengar jawaban Luri meski sedikit menggantung. Setelah itu mereka kembali bercengkrama hingga pada akhirnya Gleen datang untuk membawa Luri pulang ke rumah.
"Hari sudah sangat malam. Aku khawatir adik iparku terluka karena di makan kalong!" ucap Gleen sesaat sebelum membawa adik iparnya pergi dari hadapan kalong berkepala manusia.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, dan bab 37 baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka yang gengss...
...💜 Ig: rifani_nini...
...💜 Fb: Rifani...
__ADS_1