
Setelah pulang dari sekolah, Nania langsung mencecar sang kakak dengan beberapa pertanyaan. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Galang, si kucing kampus yang siang tadi ketahuan menggoda kakaknya di sekolah.
"Ekhmm, ngomong-ngomong Galang mau datang kemari ya Kak? Ada urusan apa?"
Luri yang sedang membaca ulang pelajaran dari sekolah langsung menoleh ke arah Nania. Keningnya mengerut, dia heran darimana adiknya bisa tahu kalau sore ini dia ada janji belajar bersama dengan Galang, teman satu kelasnya yang juga ikut dalam kompetisi beasiswa. Seketika perasaan Luri menjadi was-was. Dia takut kalau adiknya telah melakukan sesuatu pada teman sekelasnya itu.
"Nania, darimana kau tahu kalau Galang akan datang ke rumah kita? Kau...tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya kan?"
"Ishh, Kakak ini bicara apalah. Untuk apa aku mengganggu kucing kampus itu? Seperti kurang kerjaan saja," jawab Nania menggerutu.
"Kucing kampus?" beo Luri bingung.
"Iyalah. Itu adalah julukan yang paling cocok untuk teman Kakak yang genit itu. Berani-beraninya dia menggoda Kakakku di siang bolong. Tidak tahu malu!"
Mata Luri mengerjap-ngerjap. Perasaannya jadi semakin tidak enak setelah mendengar ucapan Nania.
"Nia, tolong jawab dengan jujur. Kau sudah melakukan apa pada Galang?"
"Eh, Kakak menuduhku?" tanya Nania sambil menunjuk hidungnya.
"Bukan menuduh. Kakak hanya heran saja darimana kau bisa tahu kalau Galang akan datang ke rumah. Kakak hafal betul dengan perangaimu, Nania. Kau tidak akan mungkin bertanya seperti ini kalau tidak melakukan sesuatu di belakang Kakak. Iya kan?"
Nania mendengus pelan sambil terus menatap lekat ke arah sang kakak. Sebagai adik, Nania merasa kalau dia mempunyai kewajiban untuk melindungi kakaknya dari incaran para buaya darat yang berkedok kucing kampus. Dia tidak mau kalau kakaknya sampai menjadi korban cinta dari pria-pria genit yang suka menebar janji busuk. Contohnya seperti Kak Fedo, pria genit itu bahkan berani membawa kabur kakaknya di saat hari sudah cukup malam. Nania mengetahui hal ini saat tidak sengaja mendengar percakapan antara ayah dengan kakak iparnya. Dia sebenarnya ingin marah, tapi tidak berani karena ayahnya memaklumi kelakuan Kak Fedo. Jadilah sekarang Nania menjadi sedikit lebih posesif, dia tak mau sampai kecolongan lagi seperti malam kemarin.
Tok, tok, tok
"Nah, sepertinya Galang sudah datang,"
Luri bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Dia menghela nafas panjang ketika Nania ikut membuntutinya dari belakang.
"Jangan bersikap tidak sopan ya, Nia. Seperti apapun Galang, dia adalah tamu kita. Kalau kau bandel, Kakak akan mengadukanmu pada Kak Lusi. Mau?"
__ADS_1
"Sedikit-sedikit mengancam. Menyebalkan!" sahut Nania sambil mengerucutkan bibir.
Setelah menasehati Nania, Luri pun membuka pintu. Dia tersenyum melihat Galang yang sedang berdiri di hadapannya.
"Hai Luri, selamat sore," sapa Galang ramah dengan senyum sejuta watt.
"Sore juga, Galang. Ayo masuk!" sahut Luri kemudian mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.
Manik mata Nania dan Galang saling bertatapan. Jika Nania mengeluarkan tatapan kucing liar yang sangat galak, lain halnya dengan arti tatapan mata Galang. Dia kaget dan juga canggung. Galang tentu belum lupa dengan kata-kata yang di ucapkan gadis ini saat di sekolah tadi.
"Apa lihat-lihat?" tanya Nania cetus.
"Haa?? O-oh t-tidak kok," jawab Galang tergagap. Dia kemudian melihat ke arah Luri. "Em Luri, apa dia adikmu?"
"Iya, dia adikku. Namanya Nania. Nania, perkenalan ini teman Kakak. Namanya Galang, kami teman satu kelas."
"Oh,"
Mendengar jawaban singkat adiknya Luri pun bergegas menariknya masuk ke dalam. Dia khawatir Nania akan berulah yang mana bisa membuat Galang merasa tidak nyaman.
"Sudahlah, Nania. Galang datang kemari itu bukan untuk sesuatu yang jahat. Dia dan Kakak ingin belajar bersama agar saat kompetisi nanti kami tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Tolong mengerti ya, Kakak jamin Galang tidak akan berani macam-macam. Oke?" bujuk Luri sambil mengelus puncak kepala adiknya dengan sabar.
Bibir Nania mencebik. Dia masih tidak tenang membiarkan sang kakak berdua-duaan dengan Galang. Namun teringat dengan kompetisi yang akan dilakukan oleh kakaknya, Nania akhirnya mau mengalah. Dia memutuskan mengawasi kakaknya dari jarak jauh untuk memantau apakah kucing kampus itu mempunyai niat terselubung atau tidak.
"Ya sudah kalau begitu Kakak aku izinkan belajar bersama dengan Galang. Tapi nanti jika dia mulai mesum, segera berteriak dengan kencang ya Kak? Aku pasti akan langsung datang sambil membawa paku dan palu!" ucap Nania berlapang dada.
"Pa-paku dan palu? Untuk apa benda-benda itu, Nia?" tanya Luri kaget.
"Untuk memaku kepalanya lah. Memangnya untuk apalagi?"
Setelah berkata seperti itu Nania bergegas pergi meninggalkan kakaknya. Dia berjalan menuju gudang untuk mengambil kedua benda yang akan dia siapkan untuk memaku kepala Galang. Untuk jaga-jaga saja, begitu pikir Nania.
__ADS_1
Ya Tuhan, tolong bantu aku menjijikkan Nania, Tuhan. Batin Luri pasrah.
Galang yang saat itu duduk sendirian di ruang tamu tampak sibuk mengamati sekeliling ruangan. Rumah ini sangat besar dan mewah, membuat Galang merasa ragu kalau Luri dan adiknya berasal dari desa.
"Em Galang, tolong maafkan sikap adikku barusan ya. Kata-katanya pasti membuatmu merasa tidak nyaman!" ucap Luri sambil mendudukkan bokongnya ke sofa. Dia merasa tidak enak hati pada teman sekelasnya ini.
"Oh, tidak apa-apa kok. Santai saja," sahut Galang sambil menatap penuh pesona ke arah Luri yang kini tengah mengikat rambut panjangnya ke atas.
Ya ampun, cantiknya. Aku sungguh tidak keberatan jika harus belajar bersama dengan Luri setiap hari. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa berlama-lama berada di dekatnya, batin Galang kegirangan.
"Kita mulai?"
"Mulai apa?" tanya Galang tak fokus.
Luri menatap bingung ke arah Galang yang sedang memandangnya tak berkedip. Sadar kalau pria ini sedang mengaguminya, Luri segera menyadarkan Galang dengan cara mengangkat buku ke depan wajahnya.
"Bukankah kau datang kemari untuk belajar bersama ya?"
Galang mengerjapkan mata. Dia kemudian mengelus tengkuknya. Kikuk, karena ketahuan sedang mengagumi kecantikan si tuan rumah.
"Maaf Luri, aku sedang melamun tadi."
"Tidak apa-apa. Sudah bisa kita mulai kan belajarnya?"
"Sudah. Ayo!" jawab Galang sambil mengeluarkan buku-buku dari dalam tas.
πππππππππππππππππ
β Gengss, PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di youtube emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, dan part 42 baru saja up. Jangan lupa mampir ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani