
Setelah selesai bersiap dan juga sarapan bersama, Luri dan Nania pamit untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa juga mereka membawa bekal untuk makan siang mereka di sekolah nanti.
"Jangan terlalu memikirkan mimpi buruk itu, Luri. Kata orang mimpi itu hanya bunga tidur. Jadi Ibu minta kau jangan panik. Ya?" ucap Nita sembari membelai kepala putrinya yang sudah akan masuk ke dalam mobil. Dia merasa tidak tenang setelah melihat wajah putrinya yang sedikit murung saat sedang sarapan tadi.
"Iya, Ibu. Aku tidak akan memikirkan mimpi itu lagi. Mungkin itu terjadi karena aku yang terlalu bersemangat ingin berangkat ke luar negeri. Jadi muncullah pemikiran yang tidak-tidak di dalam kepalaku. Dan akhirnya ... ya begitu," sahut Luri sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah. Apapun itu Ibu harap kau tidak lagi memikirkannya. Nah, masuklah. Jika pelajaran di sekolah sudah habis, segera ajak adikmu untuk pulang ya? Atau jika kalian ingin pergi, beritahu Ibu dulu agar kami tidak cemas menunggu di rumah."
"Baik, Ibu."
Setelah mencium pipi ibunya, Luri pun masuk ke dalam mobil. Dia kemudian menoleh ke arah samping, mengerutkan kening ketika mendapati Nania yang tengah menatapnya tak berkedip.
"Ada apa, Nania? Kenapa kau menatap Kakak sampai tidak berkedip begitu?" tanya Luri heran.
"Kak Luri, sebenarnya Kakak itu mimpi apa sih? Kenapa Ibu sampai terlihat begitu khawatir tadi? Kakak mimpi basah ya?" sahut Nania yang malah balik bertanya. Dia sangat amat penasaran akan mimpi yang di alami oleh kakaknya ini.
Saat Nania menyebutkan kata mimpi basah, bersamaan dengan itu sopir tiba-tiba mengerem mobil secara mendadak. Sontak saja hal tersebut membuat kepala Luri terantuk kursi depan karena dia yang belum sempat memakai seatbelt untuk melindungi tubuhnya.
"Awwwhhhhh!" pekik Luri seraya memegangi keningnya yang berdenyut. "Pak sopir, hati-hati. Kenapa Bapak mengerem tiba-tiba begitu?"
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona Luri. Saya terkejut mendengar pertanyaan Nona Nania barusan," jawab si sopir dengan raut penuh kekhawatiran. "Nona, apa Nona baik-baik saja? Perlu saya antarkan ke rumah sakit dulu tidak? Saya benar-benar tidak sengaja, Nona. Saya reflek melakukannya."
"Tidak usah, Pak. Aku tidak apa-apa, hanya kepala saja yang sedikit berdenyut karena terantuk kursi. Sudah ya, jangan panik. Tapi lain kali tolong hati-hati ya, Pak. Kejadian seperti tadi bisa saja membahayakan keselamatan kita semua jika sampai terulang!" sahut Luri dengan sopan menegur sopirnya.
"Baik, Nona Luri. Sekali lagi saya minta maaf."
"Iya, Pak. Ya sudah, ayo kita berangkat."
Saat mobil mulai bergerak, Luri segera menengok ke belakang untuk memastikan sesuatu. Dia menghela nafas lega karena sudah tidak ada siapapun di sana, yang menandakan kalau kejadian tadi tidak di ketahui oleh ibunya. Luri kemudian teringat dengan pertanyaan Nania yang membuat sopir mereka sampai syok mendengarnya.
"Nania, lain kali jika ingin bertanya, bertanyalah dengan kata-kata yang sopan. Pertanyaanmu tadi sudah membuat pak sopir terkejut mendengarnya. Coba kau bayangkan apa yang akan terjadi pada kita bertiga jika seandainya kau bertanya saat mobil sedang melaju di tengah jalanan yang ramai. Apa kau mau kita bertiga masuk rumah sakit gara-gara mengalami kecelakaan?" tanya Luri menegur adiknya secara halus.
"Ekhmmm, maaf menyela, Nona Nania. Kata-kata Nona yang menyebut apakah Nona Luri mengalami mimpi basah atau bukan, itu yang membuat saya sangat kaget tadi. Maaf, Nona Nania. Kata-kata tersebut memiliki arti yang lumayan vulgar. Jadi saya rasa Nona tidak seharusnya bertanya dengan menggunakan kosakata dewasa seperti itu!" sela pak sopir saat menyadari kalau si nona besar sedikit malu saat ingin menyebutkan kata mimpi basah.
"Wahhh, benarkah itu, Pak? Aku baru tahu," sahut Nania sembari mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi, Pak. Temanku bilang mimpi basah itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Kenapa Bapak bilang kalau kata-kata itu adalah vulgar? Dimana letak kevulgarannya? Aku jadi bingung."
Baik Luri maupun Pak sopir, mereka sama-sama terdiam saat Nania bertanya seperti itu. Sangatlah sulit untuk mereka menjawab, apalagi dengan usia Nania yang masih belum seharusnya mendengar kata yang berhubungan dengan orang dewasa. Akan tetapi jika tidak di jelaskan, takutnya kegilaan anak ingusan ini malah akan semakin merajalela. Masih untung Nania bertanya di depan Luri dan juga sopir yang sudah seperti keluarga mereka sendiri. Apa jadinya tadi jika seandainya Nania bertanya seperti itu pada orang lain? Mereka pasti akan menganggap kalau Nania adalah gadis yang tidak benar. Tak mau ada kejadian seperti itu, Luri pun segera memikirkan cara halus yang bisa dia gunakan untuk menjelaskan pada adiknya. Dia tidak mau adiknya sampai salah mengartikan kata-kata yang belum sepantasnya dia ucapkan.
"Nania, saat kau besar nanti, suatu saat kau pasti akan mengalami tanda-tanda kedewasaan. Salah satunya adalah dengan mengalami mimpi basah. Mimpi ini menjurus pada hormon seksual yang di alami oleh setiap manusia. Baik itu yang secara normal maupun yang abnormal. Jadi Nania, jangan pernah kau mengeluarkan kata-kata seperti itu lagi di hadapan orang lain ya. Karena mereka pasti akan menganggapmu sebagai gadis yang tidak baik. Paham?"
__ADS_1
Mulut Nania menganga lebar setelah mendengar penjelasan dari kakaknya. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu kalau arti dari kata mimpi basah adalah sesuatu yang sangat sensitif. Sesaat setelah tersadar dari kekagetannya, Nania langsung mengambil ponsel dari dalam tas. Dia mengirim pesan ancaman untuk temannya yang sudah mengajarkan dia mengucapkan kata kurang ajar begini. Nania tidak terima, dan orang yang sudah membuatnya merasa malu harus merasakan bogeman mentah darinya sebagai bentuk hukuman.
Hei, kau anak kecil. Berani sekali ya kau mengajari aku untuk bicara kurang ajar. Tunggu ya, setelah aku sampai di sekolah nanti aku akan langsung menghajarmu sampai kau pingsan. Tidak ada ampun.
Sent.
"Kak Luri, Pak sopir, aku minta maaf karena sudah bicara kurang ajar tadi. Aku benar-benar tidak tahu kalau mim ... em maksudnya kata-kata itu memiliki arti yang sangat buruk. Aku menyesal karena sudah mendengarkan kata temanku," ucap Nania dengan legowo mengakui kesalahannya.
"Tidak apa-apa, Nona Nania. Terkadang seseorang memang perlu untuk merasa salah terlebih dahulu agar ke depannya tidak melakukan kesalahan lagi. Dan untungnya Nona mengeluarkan kata-kata seperti itu di depan kami, bukan di depan orang lain. Jadi kami bisa langsung memberikan edukasi yang benar tentang kata-kata tersebut," sahut pak sopir dengan bijak.
Luri mengangguk setuju dengan perkataan pak sopir. Setelah itu dia menggenggam tangan adiknya dengan erat. Luri berniat menanyakan kepada siapa Nania mengirim pesan barusan.
"Nania, Kakak lihat tadi kau mengetik pesan untuk seseorang. Siapa hm?" tanya Luri pelan.
"Untuk temanku yang sudah memberitahu tentang kata itu, Kak. Aku bilang padanya kalau aku akan menghajarnya sampai pingsan setelah kita sampai di sekolah. Biar saja, siapa suruh dia mengajarkan hal-hal sesat pada gadis baik sepertiku. Aku tidak terima, Kak Luri," jawab Nania sambil mengerucutkan bibir.
Luri mengerjapkan mata. Benarkan yang dia khawatirkan? Lagi-lagi adiknya ini akan melakukan kekerasan pada temannya sendiri. Namun kali ini Luri tidak berniat untuk mencegahnya. Dia rasa Nania perlu untuk melakukan hal tersebut agar nantinya teman-teman Nania tak lagi mengajarinya hal-hal yang tidak baik. Ibarat kata supaya jera. Karena bagaimanapun Nania masih begitu polos. Adiknya ini memang galak dan raja pembuat onar. Akan tetapi untuk hal lain, Nania masih belum mengerti apa-apa. Jadi ya sudah, kali ini Luri izinkan. Hitung-hitung sebagai kasus terakhir sebelum dia berangkat ke luar negeri. Luri adalah kakak yang sangat baik bukan?
*****
__ADS_1