
Dengan penampilan yang begitu berantakan, Kanita akhirnya pulang ke kediaman orangtuanya seusai menemui Fedo. Hati dan perasaannya hancur lebur setelah menerima kata-kata yang begitu menusuk hati dari Fedo dan juga ayahnya. Sepanjang perjalanan kemari, Kanita terus berfikir tentang apakah benar dirinya begitu hina di hadapan ayah dan anak itu. Yang mana pemikiran tersebut membuat Kanita menyerah. Dia butuh pelukan dari kedua orangtuanya untuk menenangkan hati yang tengah terluka.
"Astaga, Nona Kanita. Anda kenapa?" tanya pelayan kaget ketika melihat tampilan anak majikannya yang begitu kacau.
"Bibi, apa Ayah dan Ibu sudah tidur?" tanya Kanita lirih. Dia yang biasanya bersikap culas kepada para pelayan kini seolah begitu rapuh bahkan untuk sekedar bicara cetus pun dia sudah tak mampu. Sangat menyedihkan sekali bukan?
"Belum, Nona. Tuan dan Nyonya masih berada di ruang tengah."
Setelah itu si pelayan dengan penuh perhatian membantu Kanita berjalan masuk ke dalam rumah. Dan perbuatan pelayan ini malah membuat Kanita kembali menangis.
Fedo, bahkan pelayan yang selalu aku perlakukan dengan buruk masih bersedia untuk membantuku. Tapi kenapa kau tidak bisa melakukannya? Apa yang salah denganku, aku tidak pernah melakukan hal jahat kepadamu. Kenapa, Fed,... batin Kanita miris.
Di ruang tengah, Mili yang saat itu hendak pergi ke kamarnya seperti akan pingsan begitu melihat kedatangan Kanita yang muncul dengan di papah oleh pelayan. Segera dia menjatuhkan ponselnya ke lantai kemudian bergegas berlari menghampiri putrinya. Sedangkan Dominic, dia yang terkejut dengan tindakan Mili pun langsung melihat ke arah dimana istrinya berlari pergi. Dan begitu dia menoleh, bola matanya langsung membulat lebar.
"Astaga, Kanita. Kau kenapa?!" teriak Dominic sembari berjalan cepat ke arah putrinya yang kini berada di pelukan istrinya.
"Kanita, sayang. Kau kenapa, hm? Siapa yang sudah menjahatimu?" tanya Mili sambil menangis. Dia sakit sekali melihat putri kesayangannya pulang dalam kondisi seperti ini.
Kanita diam tak menyahut. Tatapan matanya kosong, tapi ada air mata yang menetes dari sana. Ingin rasanya Kanita memberitahu ayah dan ibunya tentang bayi yang sedang dia kandung. Akan tetapi Kanita tidak sanggup, dia benci untuk mengatakan hal tersebut. Jadilah dia berada dalam tekanan emosi yang begitu besar. Belum lagi dengan kejadian pahit yang baru saja terjadi. Membuat Kanita kian stres memikirkannya.
"Pelayan, putriku kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dominic pada pelayan yang tadi membawa putrinya masuk ke rumah.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Tuan. Keadaan Nona Kanita sudah seperti ini saat datang kemari. Saat saya tanya kenapa, Nona malahan bertanya apakah Tuan dan Nyonya sudah tidur atau belum. Jadi saya cepat-cepat membantu Nona masuk ke dalam rumah karena takut beliau jatuh pingsan," jawab pelayan seraya menatap cemas ke arah anak majikannya yang terlihat sangat tidak berdaya.
"Ya sudah kalau begitu. Sekarang tolong ambilkan air hangat dan bawa kemari. Juga siapkan makan malam yang enak. Putriku pasti belum makan."
Si pelayan mengangguk kemudian berlari pergi menuju dapur. Setelah itu Dominic mengajak Mili agar membawa Kanita untuk duduk di sofa. Putrinya terlihat begitu lemah, dan Dominic yakin pasti putrinya tidak makan dengan baik selama tinggal di apartemen.
"Sayang, kau kenapa? Beritahu Ibu ya supaya Ayah dan Ibu bisa membantumu," bujuk Mili sambil menyeka air mata di wajah putrinya.
"Aku lelah, Bu. Benar-benar sangat lelah," sahut Kanita dengan suara yang sangat kecil. Dia ingin sekali istirahat, bahkan jika bisa istirahat untuk selama-lamanya.
"Lelah? Oh, apa kau ingin istirahat di dalam kamar? Ibu antarkan ya?"
"Bu, apa aku sehina itu di mata kalian? Apa aku semenjijikkan itu sampai-sampai ada orang yang menganggapku tak memiliki harga diri lagi? Apa aku seperti itu, Bu? Ayah?"
Dominic langsung tanggap kemana arah yang sedang di bicarakan oleh putrinya. Sambil mengepalkan tangan, Dominic berjongkok di lantai kemudian menggenggam tangan putrinya dengan sangat erat. Dingin, dan juga gemetaran. Dominic yakin sekali entah itu Fedo atau Mattheo, salah satu dari mereka pasti telah melakukan atau mengatakan sesuatu yang sangat buruk pada putrinya ini. Karena setahu Dominic, hanya merekalah yang mampu membuat putrinya menjadi rapuh seperti sekarang.
"Kanita, apa ini ada hubungannya dengan Fedo? Jangan takut, katakan sejujurnya karena Ayah tidak akan membiarkan mereka bertindak semena-mena kepada putri Ayah. Beritahu Ayah apa yang sudah mereka lakukan padamu!" desak Dominic.
"Fedo bilang aku adalah wanita yang tidak lagi memiliki harga diri, Ayah. Dan Paman Mattheo juga mengatakan kalau Fedo tidak akan sudi bersama wanita sepertiku," jawab Kanita sambil menahan rasa sesak di dadanya. "Aku hanya mencintai Fedo, bukan ingin melakukan hal jahat kepadanya. Haruskah mereka merendahkan aku sampai seperti ini? Kalau bisa, aku tidak akan mau mengejar Fedo, Ayah. Tapi aku tidak bisa, aku sangat mencintainya. Rasanya aku seperti akan mati karena tidak melihatnya selama dua bulan ini. Aku menemui Fedo karena sudah tidak sanggup menahan rindu. Aku hanya ingin melihat wajahnya saja, Ayah. Hanya itu!"
Hati orangtua mana yang tidak hancur saat mendengar pengakuan seperti ini dari anak mereka. Begitu juga yang sedang di rasakan oleh Mili dan Dominic sekarang. Mereka begitu geram pada pasangan ayah dan anak dari keluarga Eiji itu. Mereka tidak terima Kanita di rendahkan dengan begitu hina.
__ADS_1
"Dom, aku tidak terima Kanita-ku di olok-olok oleh mereka. Lakukan sesuatu secepatnya. Jika bisa, tuntut mereka karena sudah merendahkan martabat seorang wanita. Aku tidak terima putriku di hina sampai seperti ini. Aku tidak terima, Dominic!" jerit Mili dengan sorot mata penuh amarah.
"Kau benar, Mili. Mungkin untuk beberapa waktu lalu aku sempat mengalah karena buta akan perasaan putri kita. Tapi melihat mereka yang begitu arogan dengan menginjak-injak harga diri Kanita, sebagai ayahnya aku sangat amat tidak terima. Sekarang juga aku akan langsung mendatangi rumah Mattheo. Mereka harus bertanggung jawab karena sudah membuat Kanita jadi seperti ini!" sahut Dominic dengan amarah yang begitu memuncak.
Tanpa membuang waktu lagi, Dominic pun langsung beranjak pergi meninggalkan anak dan juga istrinya. Akan tetapi baru selangkah dia berjalan, tiba-tiba Kanita bersimpuh di lantai sambil memeluk kedua kakinya. Melihat hal itupun Dominic menjadi sangat bingung. Dia berdiri diam seraya menunduk menatap wajah putrinya yang basah air mata.
"Jangan pergi, Ayah. Biarkan saja. Jangan temui Fedo dan ayahnya. Jangan," ucap Kanita lirih.
"Kenapa jangan, Kanita. Mereka itu sudah merendahkanmu, Ayah tidak bisa tinggal diam menyaksikan ketidakadilan seperti ini terjadi pada putri Ayah. Mereka harus di beri pelajaran!" sahut Dominic keheranan.
Bagaimana ini. Jika Ayah tetap pergi ke sana, Fedo dan Paman Mattheo pasti akan memberitahu Ayah kalau aku sedang hamil. Tidak-tidak, apapun yang terjadi Ayah dan Ibu tidak boleh sampai mengetahui hal ini. Aku harus secepatnya membuang bayi ini sebelum mereka tahu. Tapi bagaimana caranya? batin Kanita resah.
"Kanita, jangan bilang kau melarang Ayahmu pergi karena masih mengharapkan cintanya Fedo!" tuduh Mili penuh curiga.
"Ayah, Ibu. Aku mohon, jangan pergi ke sana. Lebih baik Ayah dan Ibu di sini saja untuk menemaniku. Aku sedang sangat ingin bersama kalian, aku ingin di sayang seperti dulu," sahut Kanita berusaha membujuk agar sang ayah tidak pergi ke rumahnya Fedo. Dia benar-benar sangat ketakutan sekarang.
Mili dan Dominic saling berpandangan. Setelah itu mereka menatap dalam ke arah Kanita yang lagi-lagi terdiam dengan tatapan kosong. Tak tega melihat keadaannya, Dominic akhirnya memutuskan untuk tidak pergi. Dia lebih memilih untuk menemani putrinya yang memang sedang sangat membutuhkan dukungan. Biarlah, untuk malam ini dia belum akan membuat perhitungan dengan Mattheo dan juga putranya. Tapi begitu ada kesempatan, Dominic pasti akan menanyakan apa maksud mereka merendahkan harga diri putri semata wayangnya.
Kita mungkin adalah teman, Mattheo. Tapi untuk masalah harga diri putriku, aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani merendahkannya. Termasuk kau dan juga Fedo, geram Dominic dalam hati.
*****
__ADS_1