PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Cemburu Buta


__ADS_3

Jika di Jepang Kanita sedang berada dalam titik keterpurukannya, di Shanghai Luri tengah asik mengobrol dengan Fedo di telepon. Dia duduk di bawah batang pohon sembari memegang sebuah formulir yang akan mengantarkannya masuk ke salah satu universitas ternama di luar negeri. Sebenarnya jadwal keberangkatannya ke sana adalah bulan depan. Akan tetapi karena ada sesuatu hal yang perlu di urus, Luri dan Galang akan di berangkatkan lebih awal oleh pihak sekolah.


"Sayang, jam berapa kau akan pulang ke rumah?" tanya Fedo dari seberang telepon.


"Em, mungkin sebentar lagi, Kak. Kenapa memangnya?" jawab Luri sambil tersenyum kecil.


"Tidak kenapa-napa sih. Aku hanya ingin tahu semua hal yang akan kau lakukan hari ini. Kau tahu tidak, hari ini aku begitu bahagia. Satu masalah besar berhasil aku bereskan dengan baik."


Luri diam mencerna perkataan Fedo. Masalah besar? Tentang apa? Luri mencoba mengingat-ingat apakah Fedo pernah menceritakan sesuatu seperti itu atau tidak. Tapi sejauh dia berusaha untuk mengingat, Luri tidak mendapat jawaban apa-apa.


Apa mungkin Kak Fedo lupa bercerita padaku ya? Tumben sekali. Biasanya kan dia selalu mengatakan masalah apa saja yang dia hadapi. Bahkan hal yang paling memalukan sekalipun tetap dia ceritakan. Aneh, batin Luri sedikit curiga.


"Halo, sayang. Apa kau masih ada di sana?"


"Iya aku masih ada di sini, Kak," sahut Luri sedikit kaget ketika mendengar suara dari dalam telepon. Luri baru sadar kalau dia baru saja melamun dan sedikit mengabaikan pria Jepang ini. Sambil mengeratkan pegangan di ponselnya, Luri memberanikan diri untuk bertanya tentang masalah besar yang di maksud oleh Fedo. "Kak Fedo, maaf ya kalau ini sedikit lancang. Aku merasa penasaran dengan masalah yang berhasil kau singkirkan itu. Kalau boleh tahu itu masalah tentang apa ya? Seingatku kau tidak pernah memberitahukan hal ini padaku. Em, tapi kalau Kakak tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Mungkin masalah itu sedikit privasi."


Tak terdengar jawaban apapun setelah Luri bertanya seperti itu. Dan hal ini membuat Luri merasa khawatir. Dia takut kalau-kalau pertanyaannya sudah menyinggung sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui dari Fedo. Tak ingin ada kesalahpahaman, Luri pun berinisiatif untuk meminta maaf. Akan tetapi ketika dia baru akan membuka mulut, Fedo sudah lebih dulu berbicara. Alhasil Luri pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Fedo.


"Sayang, kau masih ingat dengan Kanita tidak? Dia adalah mantan teman tidurku yang pernah datang menemuimu. Ingat tidak?"

__ADS_1


"Kanita?" beo Luri lirih. Seketika jantungnya berdebar kuat. Perasaan Luri kembali terasa tidak enak, sama seperti yang dia rasakan setelah mengalami mimpi buruk yang terjadi semalam.


"Iya Kanita. Masalah besar yang aku maksud adalah dia. Kau tidak lupa kan saat dia datang menemuimu dia meminta agar kau melepaskan aku? Sekarang semua masalah itu sudah lewat, sayang. Dia tidak akan berani lagi mengusik hubungan kita. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan bukan?" ucap Fedo dengan suara yang terdengar begitu semringah.


"Memangnya apa yang terjadi pada Nona Kanita, Kak? Saat dia datang menemuiku aku bisa melihat di matanya kalau dia begitu mencintaimu. Aku mungkin belum memiliki pengalaman tentang pacaran, tapi aku bisa merasakan kalau Nona Kanita menyimpan perasaan yang tulus meski tak bisa di pungkiri kalau sikapnya terlihat begitu angkuh dan arogan. Dia wanita yang baik, hanya langkahnya saja yang tidak benar," sahut Luri masih dengan dada yang berdebar-debar.


"Hmmm, mau setulus apapun perasaannya aku akan tetap memilihmu. Sudah ya, jangan bahas wanita itu lagi. Yang jelas sekarang kita sudah terbebas dari kegilaannya. Benar tidak?"


Luri diam tak menyahut. Dia kemudian membaca formulir yang ada di tangannya. Ragu, itu yang dia rasakan sekarang. Ingin rasanya dia berkata jujur pada Fedo kalau sebentar lagi dia akan segera berangkat ke luar negeri. Akan tetapi jika teringat dengan sikapnya yang lumayan gila, Luri khawatir kalau pria ini akan langsung datang ke Shanghai untuk mencegahnya agar tidak pergi.


"Kak Fedo," panggil Luri. Dia berniat mengulik kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pria ini jika dia memberitahukan tentang kepergiannya. "Jika seandainya nanti aku memilih untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, apa boleh?"


Cecaran pertanyaan dengan nada yang cukup dingin langsung menyapa indra pendengaran Luri begitu dia menyinggung sedikit tentang kepergiannya ke luar negeri. Jujur, ada perasaan tergelitik saat mendengar jenis tuduhan yang di layangkan oleh Fedo yang mana lagi-lagi berhubungan dengan Galang. Akan tetapi Luri berusaha untuk menyikapinya dengan hati yang tenang, dia maklum karena pria ini mengidap penyakit cemburu buta yang tidak ada obat.


"Kak, kan aku bilang jika seandainya. Kenapa Galang sampai di bawa-bawa? Lagipula kan pendidikanku itu tidak ada hubungannya dengan dia. Karena aku sekolah untuk kesuksesan masa depanku sendiri, bukan untuk orang lain. Jadi sudah ya, apapun yang terjadi nanti jangan pernah membawa nama orang lain. Bukankah Kakak tahu sendiri untuk siapa aku melakukan semua ini?" ucap Luri sedikit mendustai perkataannya sendiri karena memang dia akan pergi bersama Galang. Tapi bukan untuk tujuan yang tidak benar.


"Huffttt, kau membuatku kaget saja, sayang. Aku pikir kau akan benar-benar kuliah ke luar negeri. Sudah ya jangan aneh-aneh, di Shanghai saja supaya aku tidak terlalu lama berada dalam pesawat jika ingin datang menemuimu. Ya?"


Andai saja Fedo tahu kenyataan yang sebenarnya, dia pasti tidak akan lega semudah ini. Karena apa yang dia dengar adalah sebuah kebenaran di mana Luri dan Galang akan pergi bersama. Saat memikirkan hal tersebut tanpa terasa wajah Luri sedikit menyendu. Dia tidak bohong kalau di hatinya ada perasaan tak rela karena jarak yang memisahkan mereka akan semakin jauh.

__ADS_1


"Kak Fedo, nanti setelah aku memutuskan untuk kuliah di mana kau mau tidak datang kemari untuk menemuiku? Anggaplah itu sebagai penyemangat sebelum aku memulai status baru sebagai seorang mahasiswa. Kau mau tidak?" tanya Luri sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Dia diam sambil menatap langit yang berwarna biru cerah.


"Tentu saja aku sangat mau, sayang. Jangankan nanti, sekarang pun aku akan langsung pergi Shanghai kalau kau memintanya. Tenang saja, kekasihmu ini sangat kaya. Jarak bukanlah kendala untuk kita melepas rindu, tapi tidak setiap hari juga sih. Karena aku kan masih harus mengurus perusahaan. Aku bisa mati di gantung oleh Ayah dan Ibu kalau mengabaikan kewajibanku di sini. Kau bisa maklum kan, sayang?" jawab Fedo dengan nada suara yang begitu bahagia.


Sudah bisa di tebak kalau pria itu pasti sedang sangat kegirangan mendengar keinginan gadisnya.


Saat Luri hendak kembali bicara, bel sekolahnya berbunyi. Dia menghela nafas panjang, sedikit tak rela ketika akan mengakhiri pembicaraannya dengan Fedo.


"Kak Fedo, aku sudah harus kembali ke kelas. Tidak apa-apa kan kalau panggilannya aku matikan? Nanti setelah sampai di rumah aku akan langsung mengabarimu. Ya?" pamit Luri.


"Oh, begitu. Ya sudah, kau masuklah ke kelas. Hati-hati, jaga jarak dari si Galang-Galang itu. Oya, sayang. Tolong katakan pada Nania kalau aku sudah memecatnya dari menjadi mata-mata. Bilang padanya kalau dia adalah anak buah terburuk yang pernah aku pekerjakan. Oke?"


"Ya ampun, kalian ini bagaimana sih. Ya sudah, nanti aku akan memberitahu Nania tentang pemecatan ini. Sekarang aku tutup dulu ya, Kak?"


"Iya, sayang. I miss you."


Pipi Luri bersemu merah saat Fedo mengatakan kata i miss you padanya. Setelah itu dia mematikan panggilan kemudian bergegas pergi menuju kelasnya.


Semoga saja nanti Kak Fedo bisa menerima saat aku mengatakan yang sebenarnya. Tolong bantu aku memudahkan tujuanku, Tuhan, do'a Luri dalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2