PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Fedo Kelepasan


__ADS_3


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose


"Marriage Contract With My Secretary


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAK YA BESTIE πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


Galang dan Jovan terus memperhatikan Luri yang terlihat begitu gembira sejak datang ke sekolah pagi ini. Mereka merasa heran karena tidak biasanya Luri bersikap seperti begini.


"Lang, gadis incaranmu itu kenapa terus tersenyum sejak tadi ya? Mencurigakan sekali," bisik Jovan penasaran.


"Mana aku tahu, Jo. Aku dan Luri kan tidak tinggal serumah, jadi mana mungkin aku tahu apa yang terjadi padanya," sahut Galang tanpa melepaskan pandangan matanya dari memperhatikan Luri yang tengah asik membaca buku.


"Masa iya kau harus tinggal serumah dulu baru akan mengetahui apa yang terjadi, Lang. Lemah sekali kau!"


Galang langsung menoleh ke arah Jovan saat dirinya di katai lemah. Merasa tak terima, Galang meninju lengan Jovan hingga membuatnya berteriak kesakitan.


"Kau gila atau bagaimana sih, Lang. Kau pikir lenganku ini samsak tinju yang bisa seenaknya kau pukul apa!" teriak Jovan sembari mengelus bekas pukulan di lengannya. Dia kesal sekali rasanya.


"Ck, berani mengatai orang lain lemah, tidak tahu sendirinya yang lemah. Makanya, jangan berlagak kuat kalau kau masih menjerit kesakitan hanya dengan satu pukulan saja!" sahut Galang tanpa merasa bersalah sama sekali setelah menyerang temannya secara tiba-tiba. Biar saja, biar anak ini tahu rasa dan tidak sembarangan lagi mengatainya.


"Galang, Jovan, apa yang terjadi?"


Luri yang kaget mendengar suara teriakan Jovan segera menghentikan aktifitasnya yang sedang membaca buku kemudian menatap seksama ke arah dua orang temannya. Segera dia menanyakan apa yang terjadi begitu melihat Jovan yang tengah meringis kesakitan sembari mengusap-usap lengannya.

__ADS_1


"Luri, Galang melakukan kekerasan padaku!" ucap Jovan mengadukan perbuatan Galang. Setelah itu dia berpindah duduk ke samping Luri saat Galang memelototkan matanya dengan tajam.


"Kenapa Galang bisa melakukan kekerasan padamu, Jo? Memangnya apa yang sudah kau lakukan padanya, hm?" tanya Luri yang sudah tidak merasa heran jika kedua temannya ini bertengkar. Sama seperti Nania, Galang dan Jovan seringkali bertengkar hanya gara-gara meributkan masalah konyol.


Galang segera membuat kode untuk mengancam Jovan agar tidak bicara macam-macam pada Luri. Dan untungnya anak itu tanggap, membuat Galang merasa sangat lega.


Bisa gawat jika Luri tahu kalau sejak tadi aku terus memperhatikannya. Huhftt, batin Galang.


"Jo, kau belum menjawab pertanyaanku," desak Luri heran melihat temannya yang malah sibuk sendiri memainkan ponsel di tangannya.


"Aku mengolok-olok Galang, Luri. Dia marah, kemudian meninju lenganku dengan sangat kuat," jawab Jovan beralasan.


"Astaga, kalian berdua ini ya. Seperti anak kecil saja," sahut Luri sembari tersenyum kecil.


Tak lama kemudian, ada seorang siswa yang datang mencari Luri. Siswa tersebut mengatakan jika di luar gerbang sekolah ada seorang pria yang ingin bertemu dengannya.


"Pria? Siapa namanya?" tanya Galang langsung bereaksi cepat setelah mendengar laporan dari siswa tersebut.


"Aku tidak tahu siapa namanya, Lang. Dia hanya memintaku untuk memanggilkan Luri saja."


"Luri, cepatlah pergi temui pria itu agar aku bisa mendapatkan hadiahku!" desak siswa itu dengan sangat tidak sabaran.


"Baiklah. Ayo kita pergi bersama-sama," sahut Luri. "Galang, Jovan, aku tinggal sebentar dulu ya. Nanti aku akan kembali lagi ke sini setelah menemui pria itu."


"Hati-hati, Luri. Bisa jadi pria itu adalah pria jahat yang ingin menculikmu!" sahut Galang khawatir.


"Dia bukan penculik, Lang," ucap Luri seraya tersenyum manis.


Karena pria itu adalah Kak Fedo. Dia datang kemari pasti karena ingin memberikan gaun yang sudah di belikannya untukku, ucap Luri dalam hati.


Luri patuh-patuh saja ketika tangannya di tarik menuju gerbang sekolah oleh siswa yang mengabarkan tentang kedatangan Fedo. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, menandakan kalau Luri teramat senang karena akan segera bertemu dengan pria yang memang sudah sangat dia rindukan.


"Hai, sayang. Upss, maksudku, Luri!" sapa Fedo sambil menepuk mulutnya yang salah menyebut panggilan. Dia tersenyum lebar begitu melihat gadisnya tengah berjalan mendekat bersama siswa yang tadi dia mintai bantuan.

__ADS_1


Tak mau ada yang mengganggu, Fedo segera memberikan beberapa lembar uang pada siswa tersebut agar segera pergi dari sana. Setelah itu Fedo menggoyangkan paperbag yang dia bawa ke arah Luri yang kini tengah mengikat rambut panjangnya.


"Sayang, nanti malam jangan lupa pakai gaun ini ya."


"Hmmm, Kak Fedo. Lain kali bisa tidak jangan memanggilku sembarangan seperti tadi? Untung saja temanku tidak dengar, kan bisa gawat kalau anak-anak lain mendengarnya juga!" tegur Luri sembari menerima paperbag yang di sodorkan oleh Fedo. "Terima kasih banyak ya, Kak. Aku pasti akan memakainya malam ini."


"Maafkan kecerobohanku tadi, sayang. Aku kelepasan saking senangnya bertemu denganmu," sahut Fedo sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.


"Di maafkan, tapi jangan di ulangi lagi ya, Kak."


Fedo mengangguk. Dia lalu menatap lekat ke arah Luri yang tengah sibuk membolak-balikan paperbag di tangannya. Pikiran Fedo mulai berkelana, membayangkan akan seperti apa cantiknya Luri ketika memakai gaun yang dia belikan. Saking asiknya Fedo melamun, dia sampai berjengit kaget saat Luri tiba-tiba menepuk lengannya pelan.


"Kau melamun apa si Kak sampai-sampai tidak dengar saat aku memanggilmu?" tanya Luri.


"Oh, ini. Aku sedang membayangkan betapa cantiknya dirimu saat mengenakan gaun itu di pesta nanti. Dan aku yakin sekali semua mata pasti akan terfokus padamu, sayang. Apalagi kalau kau mau sedikit merias wajahmu, di jamin kau akan jauh lebih memikat ketimbang istrinya Reinhard," jawab Fedo dengan jujur mengatakan apa yang sedang dia lamunkan.


Bohong besar jika Luri tidak merasa tersanjung mendengar perkataan Fedo yang secara tidak langsung sedang memuji kecantikannya. Pipinya Luri sampai terasa memanas karena Fedo bicara sambil terus menatapnya lekat.


"Sayang, kau mau kan bertemu dengan Ayah dan Ibuku? Mereka sangat ingin mengobrol dengan calon menantu mereka," tanya Fedo kembali menanyakan kesediaan Luri. Dia sudah mendapat pesan dari sang ibu agar tidak memaksa jika memang Luri belum bersedia untuk bertemu dengan mereka.


"Kita lihat nanti saja ya, Kak. Jujur aku sebenarnya merasa malu, tapi akan sangat tidak sopan jika aku tidak menuruti permintaan mereka. Tolong beri aku sedikit waktu untuk mempersiapkan diri ya, Kak. Aku janji akan menemui mereka sebelum kalian kembali ke Jepang," jawab Luri dengan lembut.


"Waktunya sudah tidak banyak, sayang. Karena besok pagi kami semua sudah harus kembali ke rumah. Di kantor ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, jadi waktu yang tersisa hanya hari ini dan malam nanti. Aku tidak ingin memaksa, kalau memang kau belum siap untuk bertemu dengan mereka aku yakin Ayah dan Ibu bisa maklum. Jadi jangan jadikan hal ini sebagai beban ya?"


Luri terdiam. Memang benar kalau dia belum siap lahir batin untuk bertemu dengan kedua orangtuanya Fedo. Akan tetapi akan sangat kurang ajar jika dia tidak bisa memenuhi keinginan mereka yang hanya ingin sekedar mengobrol dengannya saja.


"Kak, hari ini sepertinya aku akan pulang cepat. Bagaimana kalau sepulang dari sekolah aku langsung menemui mereka? Nanti malam kita semua harus menghadiri pesta pernikahannya dokter Reinhard, jadi kalau tidak siang ini aku dan kedua orangtua Kakak tidak akan bisa bertemu dan bicara. Apa nanti Kak Fedo bisa menjemputku di rumah?" tanya Luri setelah menimang keputusannya.


"Oh, tentu saja aku sangat bisa, sayang. Aku akan langsung menjemputmu setelah kau pulang dari sekolah. Kau tinggal memberi kabar saja, lalu setelahnya aku sudah akan berada di rumahmu," jawab Fedo dengan semangat empat lima.


Setelah itu Fedo dan Luri lanjut mengobrol selama beberapa menit sebelum akhirnya Luri meminta izin untuk kembali masuk ke sekolah. Fedo yang tidak menyangka kalau Luri akan meminta bertemu dengan Ayah dan Ibunya siang ini juga bergegas pulang ke rumah untuk memberitahukan kabar gembira tersebut. Dia benar-benar sudah tidak sabar melihat raut penuh kepuasan di wajah kedua orangtuanya setelah mengetahui betapa Luri sangat amat mempesona dengan segala kecantikan alami dan juga kedewasaan yang dimilikinya.


"Tunggu sebentar lagi, Ayah. Kita lihat siapa yang paling jago dalam hal menemukan wanita hebat. Ibu memang wanita terhebat yang pernah aku kenal. Akan tetapi Luri seribu kali lebih hebat karena dia akan menjadi istriku. Hehehe!" ucap Fedo sembari mengemudikan mobil.

__ADS_1


*****


__ADS_2