PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Gadis Beracunku


__ADS_3

Galang dan Jovan saling menatap sengit dalam diam. Saat ini keduanya sedang berada di pinggir jalan sembari duduk di atas kap mobil masing-masing. Jovan yang tidak terima dengan kemenangan telak Galang mengajaknya untuk bertemu sepulang dari bermain basket. Dan di sinilah mereka sekarang.


"Aku akan tetap mengejar Luri meskipun sudah kalah dalam persaingan ini," ucap Jovan membuka pembicaraan.


"Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas mulai detik ini aku tidak akan membiarkanmu curi-curi pandang lagi pada gadisku," sahut Galang acuh.


"Ciihh, berani sekali kau menyebut Luri sebagai gadismu hanya karena memenangkan persaingan di antara kita. Ingat Lang, antara kau dan Luri masih belum ada hubungan apa-apa selain pertemanan saja. Dan setelah aku perhatikan, Luri itu sebenarnya selalu menatap kita berdua dengan cara yang sama. Dia juga memperlakukan kita layaknya teman biasa. Aku yakin dia pasti akan langsung menolakmu kalau kau mengungkapkan perasaan padanya nanti."


Galang langsung menoleh ke arah lain saat Jovan menyinggung tentang pengungkapan rasa. Dia tentu saja belum lupa kalau cintanya sendiri telah di tolak Luri sejak beberapa hari yang lalu. Untung saja Luri bukanlah gadis yang bermulut bocor. Galang bisa malu setengah mati jika kejadian waktu itu sampai di dengar oleh Jovan. Dan ketika Galang sedang merasa beruntung karena Luri tidak pernah mengatakan pada orang lain tentang pernyataan cintanya yang di tolak, tiba-tiba saja wajah Nania melintas di mata Galang. Dia langsung menelan ludah begitu teringat kalau gadis beracun itu juga mengetahui tentang hal ini.


Matilah aku. Bagaimana nanti jika Nania sampai kelepasan bicara pada Jovan kalau aku sebenarnya sudah pernah mengungkapkan perasaan pada Luri? Jovan pasti akan mentertawakan aku tujuh turunan jika dia tahu kalau cintaku di tolak oleh Luri. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk membungkam mulut gadis nakal itu?


"Kau kenapa, Lang? Kenapa kau terlihat gelisah?" cecar Jovan keheranan melihat gelagat Galang yang tidak bisa tenang dalam duduknya.


"Bukan urusanmu," jawab Galang cetus.


"Aaaa... aku tahu. Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan? Mengaku sajalah."


"Kalaupun iya memang apa urusannya denganmu, Jo. Kau itu bukan Ibuku, juga bukan kekasihku dimana aku harus melaporkan segala yang aku pikirkan. Paham kau!" amuk Galang yang tiba-tiba merasa kesal sendiri di ledek seperti itu oleh mantan rivalnya.


Jovan diam terpaku mendengar amukan Galang. Aneh, tidak biasanya dia bersikap segalak ini padanya. Merasa ada yang tak beres, Jovan pun mencoba untuk mencaritahu. Dia khawatir kalau-kalau temannya ini sedang menghadapi masalah yang sangat besar dalam hidupnya.

__ADS_1


"Lang, ini memang bukan urusanku. Tapi sebagai mantan rival, aku masih mempunyai rasa simpatik padamu. Cerita saja kalau ada masalah, jangan sungkan!" ucap Jovan sembari menepuk bahu Galang yang terlihat begitu kesal.


"Siapa yang bilang aku sedang ada masalah. Jangan sok tahu kau!" sahut Galang. Dia mana mungkin berani membuka kartu asnya sendiri di depan Jovan meskipun kemenangan sudah ada di tangannya.


"Hmmm, dasar kepala batu. Harusnya kau bersyukur aku masih mau peduli padamu. Menyebalkan!" gerutu Jovan yang ikut merasa kesal. Sedetik kemudian Jovan langsung melirik penuh ejek ke arah Galang. Otaknya baru saja menemukan sesuatu yang sangat menyenangkan. "Lang, jangan bilang kau seperti ini karena sedang galau memikirkan kemana hatimu akan di labuhkan. Benar tidak?"


Kening Galang mengerut mendengar pertanyaan Jovan yang sedikit nyeleneh. Bulu kuduknya tiba-tiba saja berdiri ketika melihat senyum aneh di bibir temannya ini. Tak ingin terjebak dengan permainan kata yang di mainkan oleh Jovan, Galang pura-pura sibuk bermain ponsel setelah menepis tangan Jovan dari bahunya. Dia benar-benar sedang mengkhawatirkan kejadian waktu itu.


"Kau suka pada Nania ya, Lang? Makanya kau terlihat tidak senang saat aku membahas tentang Luri," tanya Jovan penuh selidik.


Hampir saja Galang jatuh terjungkal ke depan gara-gara mendengar tuduhan Jovan yang sangat tidak manusiawi. Yang benar saja dia suka pada Nania. Bahkan jika di dunia ini sudah tidak ada satupun wanita, Galang tidak akan pernah mau berpacaran dengan gadis beracun itu. Baru berstatus teman saja Galang sudah rugi lahir batin, lalu apa kabar dengan nyawanya jika dia dan Nania sampai berpacaran? Jovan sepertinya sudah gila.


Dan begitu Jovan selesai bicara, dia langsung mengaduh kencang saat kepalanya di geplak oleh Galang. Jovan lalu memicingkan mata sambil mengusap bagian kepalanya yang sedang berdenyut nyeri.


"Lain kali kalau mau bicara tolong di pikirkan dulu apa dampaknya, Jo. Kau pikir aku sudah gila apa jatuh cinta pada Nania? Ya Tuhan Jo, seleraku itu bukan anak-anak seperti dia, tapi kakaknya. Kau ini amnesia atau bagaimana sih. Jelas-jelas kita bersaing memperebutkan hak untuk mendekati Luri, kenapa pikiranmu malah tersesat pada gadis berakhlak dajjal itu? Sakit kau, Jo!" omel Galang tanpa merasa kasihan setelah menggeplak kepala Jovan dengan cukup kuat.


"Sembarangan kau mengataiku sakit. Itu kan hanya tebakan saja, Lang. Kenapa kau jadi seserius ini sih!" sahut Jovan membela diri. "Lagipula ya Nania itu tidak memiliki pasangan. Memang apa salahnya kalau kau jatuh cinta padanya? Tuhan tidak akan mungkin mengutukmu hanya gara-gara jatuh cinta pada gadis yang usianya masih sangat muda."


"Kalau kau bisa berpikiran seperti itu lalu kenapa tidak kau saja yang berpacaran dengan Nania, hah! Aku lihat kau dan Nania memiliki hubungan yang lumayan akrab akhir-akhir ini. Coba ajak dia untuk berpacaran, lalu setelah itu kau beritahu aku seperti apa rasanya menjalin hubungan dengan gadis yang usianya berbeda jauh dengan kita. Bagaimana, kau berani tidak?"


Jovan gelagapan sendiri ketika Galang membalik ucapannya. Berpacaran dengan Nania? Oh my god, hanya ketika Jovan hilang ingatan mungkin dia baru akan bersedia menjalin hubungan dengan gadis itu. Yang benar saja, walaupun Nania memiliki wajah yang sangat cantik seperti kakaknya, tetap saja akhlak gadis beracun itu sangat mengerikan. Jovan bisa menjamin kalau dia akan mati muda jika benar-benar menjadi kekasihnya. Kalau bukan demi mendapatkan hatinya Luri, Jovan juga tidak akan mau berjuang seperti ini dengan mengakrabkan diri pada Nania. Gadis beracun itu sangat merepotkan. Tapi ....

__ADS_1


"Kenapa diam? Bingung mau menjawab apa? Makanya Jo, jangan memberi pertanyaan yang kau sendiri tidak tahu jawabannya. Kau dan aku kan sama-sama tahu siapa Nania, tidak mungkin juga kan kita mau berteman dengannya jika bukan demi Luri?" ucap Galang yang merasa puas melihat kebungkaman di diri temannya ini.


"Hmm oke, aku mengaku salah. Tapi Lang, aku tidak sejahat hatimu yang hanya ingin memanfaatkan Nania saja. Benar kalau aku mendekatinya demi perhatian Luri, tapi untuk pertemanan kami aku benar-benar tulus melakukannya. Nania gadis yang baik meskipun sering membuatku sesak nafas, dia juga cukup perhatian saat aku menumpang makan di rumahnya. Jadi tolong kau jangan sembarangan bicara tentangnya mentang-mentang sudah memenangkan persaingan kita ya!" sahut Jovan yang mendadak merasa tidak terima Nania di pojokkan.


Galang menatap Jovan dengan seksama setelah mendengar pembelaan yang dia lakukan untuk Nania. Dia secara tidak langsung menangkap adanya benih-benih perasaan yang mulai tumbuh di diri temannya ini. Sadar kalau hal tersebut bisa mendatangkan keuntungan, Galang memutuskan untuk tidak menggoda Jovan lagi. Biar saja. Jika seandainya memang benar Jovan menaruh hati pada Nania, maka Galang dengan penuh semangat akan memberi dukungan. Karena apa? Karena artinya Galang tidak akan mempunyai saingan lagi untuk memperjuangkan Luri.


"Sudahlah, tidak asik bicara dengan laki-laki jahat sepertimu. Sekali lagi selamat atas kemenanganmu hari ini, kau bebas mendekati Luri!" ucap Jovan kemudian melompat turun ke bawah. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih untuk ucapan selamat dan keberanianmu dalam mengakui kekalahan, Jo. Senang mempunyai rival sepertimu," sahut Galang mengikuti langkah Jovan untuk masuk ke dalam mobil.


Jovan mengangguk. Dia kemudian menyalakan mesin mobil, menatap Galang sekilas sambil mengacungkan jari tengahnya sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.


"Kali ini kau kumaafkan, Jo. Dan semua ini aku lakukan demi perasaanmu pada Nania. Hehehe, tidak kusangka lagi-lagi Nania secara tidak sengaja membantuku menjauhkan kumbang busuk dari kakaknya. Terima kasih banyak, gadis beracunku!" gumam Galang dengan raut wajah yang begitu gembira.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan dukung pasangan felur kita ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...


...πŸ’œFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2