
Jovan menatap Galang dengan sangat tajam setelah dia di paksa keluar oleh pengurus perpustakaan. Sementara Nania, dewi perang itu masih ada di dalam untuk menemani sang kakak belajar.
"Apa ini ulahmu?" tanya Jovan langsung melayangkan tuduhan.
"Bisa iya, bisa juga tidak. Kenapa memangnya?" jawab Galang acuh.
Jovan mendengus kasar. Dia lalu melirik ke dalam perpustakaan dimana sang pengurus masih memperhatikannya. Andai saja ini di luar sekolah, Jovan pasti akan langsung mengajak Galang untuk berduel. Dia sangat kesal karena rencananya untuk mendekati Luri gagal gara-gara kemunculan Nania. Padahal tadi itu Jovan begitu menikmati kebersamaannya dengan Luri meski mereka tidak mengobrol banyak. Karena bagi Jovan untuk sekarang ini sudah cukup dengan memandangnya dari jarak dekat. Tapi sayangnya kesenangan itu harus berakhir saat Nania dengan gilanya berteriak sambil mengatakan jika dirinya ingin berbuat mesum pada Luri. Sontak saja hal itu membuat pengurus perpustakaan menjadi sangat marah. Dia di ancam akan di laporkan ke kepala sekolah jika tidak segera keluar dari sana.
"Lang, selama ini kita berdua tidak pernah terlibat persaingan. Aku harap kau tidak memprovokasiku kali ini!"
"Oh, iyakah? Sayangnya kali ini kita harus bersaing, Jo. Kau mendekati gadis yang sedang kukejar, apa iya aku akan diam saja, hm?" sahut Galang seraya melipat tangan di dada. "Jangan bersikap bodoh di depanku, Jo. Aku tahu kalau kau sebenarnya paham jika aku sedang mendekati Luri."
"Omong kosong. Sejak kapan kau melakukan pendekatan padanya?" tanya Jovan pura-pura tidak tahu.
Memang benar kalau Jovan mengetahui gerak-gerik Galang yang gencar mencari perhatian dari gadis cantik nan lemah lembut bernama Luri. Dia awalnya tidak tertarik untuk mendekati gadis tersebut. Tapi ketidaktertarikannya itu berubah saat Jovan tidak sengaja melihat kecantikan Luri. Detik itu juga Jovan langsung memutuskan untuk mengejarnya, mengabaikan Galang yang juga ingin mendapatkan hatinya Luri.
"Halah, tidak usah pura-pura kau, Jo. Kau lupa ya kalau kita itu berada di sekolah yang sama?" jawab Galang kesal.
"Oke, aku mengaku. Tapi itu bukan berarti aku akan mundur untuk mengejar Luri. Aku menyukainya, dan aku akan mendapatkannya apapun yang terjadi!"
Tangan Galang terkepal kuat saat mendengar kejujuran Jovan. Saat ini dia benar-benar sangat ingin memukul wajahnya.
"Kenapa? Marah? Atau ingin memukulku? Silahkan saja, aku tidak takut!" tantang Jovan sengaja memanas-manasi rivalnya.
"Heh, jangan pikir aku akan termakan jebakanmu, Jo. Trik yang kau mainkan terlalu murahan. Carilah yang berkelas sedikit!" ejek Galang.
Saat Jovan hendak membalas ejekan Galang, Luri dan Nania keluar dari perpustakaan. Melihat gadis yang mereka sukai muncul, Galang dan Jovan langsung memasang senyum semanis mungkin. Sayangnya kelakuan mereka membuat Nania menjadi tidak senang. Si gadis putih biru ini langsung memasang wajah yang penuh aura permusuhan .
__ADS_1
"Jangan kalian kira Kakakku akan terpesona dengan senyum jelek kalian ya. Jika pun terpesona, maka aku akan langsung membuatnya tersadar kalau kalian ini adalah pria-pria badboy yang bisa membawa pengaruh buruk untuk masa depan!" omel Nania sarkas.
"Nania, kau ini bicara apa sih. Jangan tidak sopan begitulah. Galang dan Jovan adalah kakak kelasmu di sini!" ucap Luri berusaha menenangkan sang adik.
"Memangnya kenapa Kak kalau mereka kakak kelasku. Jika mereka salah apa aku tidak boleh menegurnya hanya gara-gara mereka sedikit lebih tua dariku? Tidak kan?"
Luri menelan ludah sambil mengerjapkan mata. Ini gawat jika Nania sudah mengomel. Apalagi sekarang posisi mereka masih di depan pintu ruang perpustakaan. Bisa-bisa mereka semua di adukan ke kepala sekolah jika sampai membuat kegaduhan di sini. Yang tadi saja masih membuat Luri syok dan kaget, apa jadinya jika keributan ini kembali terulang. Nania benar-benar kelewatan.
"Nania, tadi itu aku sama sekali tidak melakukan apapun pada kakakmu. Kami hanya duduk bersama untuk membaca buku. Benarkan, Luri. Aku tidak bohong kan?" tanya Jovan sambil menatap penuh harap ke arah Luri.
"Iya Nania. Tadi Kakak hanya berbagi meja dengan Jovan. Dia sama sekali tidak melakukan apa-apa pada Kakak. Yang kau tuduhkan itu tidak benar, Nania!" jawab Luri jujur.
Nania menyipitkan mata ke arah sang kakak kemudian beralih ke arah Jovan. Jawaban kedua orang ini cukup valid, menandakan kalau memang tidak ada kebohongan di sini. Nania kemudian menatap ke arah Galang, orang yang sudah membuatnya berpikiran buruk tentang Jovan.
"Jadi Kak Galang, bisa tolong jelaskan tidak kenapa kau memberitahuku jika Kak Luri sedang di ganggu oleh kumbang busuk? Tadi kau dengar sendiri kan kalau Kak Jovan bukan sedang mengganggu Kakakku, melainkan sedang membaca bersama. Ayo cepat jelaskan!"
"Lang, apa benar kau bicara seperti itu pada Nania?" tanya Luri pelan.
"Maaf, Luri. Aku hanya tidak suka melihat Jovan berada di sekitarmu. Tadi itu aku ingin mengajakmu untuk belajar bersama. Siapa yang tahu kalau anak ini akan muncul di perpustakaan dan merusak semua rencanaku. Aku kesal, kemudian terpikir untuk memberitahu Nania," jawab Galang jujur.
Biarlah jika Luri marah padanya. Dia pasrah. Toh memang benar kalau dia yang memanggil Nania agar datang ke perpustakaan.
"Ya ampun, Lang. Harusnya kau tidak melakukan semua itu jika hanya ingin belajar bersamaku. Kita bertiga kan bisa membaca dalam satu meja yang sama tadi. Kau ini,"
Jovan terhenyak kaget melihat Luri yang malah menertawai kelakuan Galang. Tadinya dia berpikir kalau gadis ini akan mengamuk dan memaki Galang lalu memintanya agar tidak mendekatinya lagi. Sungguh ini adalah pertama kalinya Jovan bertemu dengan gadis sebaik Luri. Sikapnya terlalu di luar dugaan.
"Kau kenapa, Kak Jovan? Berharap kakakku akan memarahi Kak Galang ya?" sindir Nania.
__ADS_1
Galang dan Luri kompak menatap Jovan yang terlihat salah tingkah begitu di sindir oleh Nania. Jika Galang merasa menang dengan sindiran tersebut, maka Luri merasa tidak enak karena ulah adiknya. Dia segera memecah kecanggungan dengan mengajak mereka semua untuk pergi ke kantin sebelum jam istirahat habis.
"Sambil menunggu jam masuk bagaimana kalau kita pergi ke kantin saja. Aku lumayan haus setelah membaca buku di dalam tadi!"
"Baiklah!" sahut Galang dan Jovan berbarengan.
Nania terkikik lucu melihat Galang dan Jovan yang saling membuang muka karena tak sengaja menjawab bersamaan. Sedangkan Luri, dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan ketiga orang ini.
Setelah itu mereka berempat segera pergi menuju kantin. Kedatangan si siswa populer dan bintangnya anak IPS membuat beberapa siswi menjerit histeris. Nania yang melihat hal itupun segera meniru gaya mereka dengan berpura-pura menggila sambil melihat ke arah Jovan dan Galang.
"Luri, saat Nania di rumah apa kelakuannya juga seperti ini?" tanya Jovan sambil menatap horor ke arah Nania yang sedang berlagak seperti fans.
"Dia lebih gila lagi jika sedang berada di wilayahnya sendiri. Kepalaku bahkan hampir di paku gara-gara aku belajar bersama di rumah mereka," bisik Galang yang tiba-tiba saja menjadi akrab dengan rivalnya.
Luri tersenyum kikuk saat mendengar pertanyaan Jovan. Dia tidak tahu harus membela atau malah menghina kelakuan adiknya yang terkadang memang berada di luar nalar manusia. Hingga pada akhirnya Luri terselamatkan saat mereka semua sampai di kantin kemudian memesan makanan.
Hah, untung saja Jovan tidak bertanya lagi. Kau benar-benar sangat pandai membuat Kakak merasa malu, Nania. Dasar ulat bulu.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub ya. Nama Chanelnya βΆMak Rifani. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya gengss
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani
__ADS_1