
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA
- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)
- My Destiny ( Clara & Eland)
- Ma Queen Rose ( TAYANG JAM 12 SIANG)
- Marriage Contract With My Secretary ( TAYANG JAM 12 SIANG)
BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK MAKIN SEMANGAT BUAT UP. OKE BESTIE 💜
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Setelah memarkirkan mobilnya, Fedo bergegas masuk ke dalam rumah. Dia sudah tak sabar ingin segera memberitahu kedua orangtuanya mengenai Luri yang ingin bertemu dengan mereka seusai pulang dari sekolah nanti.
"Ayah, Ibu. Ada kabar penting yang ingin aku sampaikan pada kalian!" teriak Fedo setelah menemukan keberadaan orangtuanya. Dia lalu tersenyum lebar tanpa ada niat untuk menghampiri mereka.
Mattheo yang saat itu tengah menonton berita bersama Abigail langsung menoleh saat mendengar teriakan Fedo. Setelah itu mereka menarik nafas, sudah tahu penyebab yang membuat putra mereka terlihat begitu gembira.
"Apa kau baru saja meniduri Luri, Fed?" tanya Mattheo asal.
"Jaga bicaramu, Matt. Kau ini ya, masih saja bebal!" omel Abigail tak suka mendengar jenis pertanyaan yang di ucapkan suaminya barusan.
"Aku hanya bercanda saja, darling. Jangan marah. Oke?" sahut Mattheo dengan cepat. Dia tak mau istrinya sampai merajuk gara-gara dia yang asal bicara.
__ADS_1
Abigail membuang nafas. Setelah itu dia melambaikan tangan meminta Fedo agar datang mendekat.
"Apa apa, hm? Kabar penting apa yang ingin kau sampaikan pada Ayah dan Ibu?" tanya Abigail dengan lembut.
"Begini, Bu. Luri bilang setelah pulang sekolah nanti dia bersedia untuk bertemu dengan kalian. Ini kabar yang sangat penting bukan?" jawab Fedo dengan menggebu-gebu.
"Oh, jadi dia bersedia untuk bertemu dengan kami?"
Abigail tersenyum. Entah kenapa dia merasa kalau gadis desa itu sedang berusaha untuk menghormati permintaannya. Sungguh unik, Luri adalah gadis remaja langka yang sudah sulit untuk di temukan di zaman modern seperti sekarang. Abigail merasa sangat beruntung jika benar Fedo bisa mendapatkan calon istri seperti Luri. Dia merasa tenang karena yakin kalau Luri pasti bisa mengurus putranya dengan baik.
"Iya, Bu. Tadinya sih Luri sempat meminta waktu untuk mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan kalian. Akan tetapi setelah aku memberitahunya kalau besok kita semua sudah harus kembali ke Jepang, dia langsung mengatakan ingin menemui Ayah dan Ibu sepulang dari sekolah nanti. Dan kebetulan juga Luri pulang cepat hari ini. Jadi aku rasa Ayah dan Ibu bisa memiliki banyak waktu untuk mengobrol dengannya sebelum kita berangkat ke pesta," jelas Fedo dengan sangat detail. "Tadi Luri juga bilang kalau akan sangat kurang ajar jika dia sampai tidak menemui kalian. Padahal aku tahu kalau dia sebenarnya belum siap. Akan tetapi demi menjaga perasaan Ayah dan Ibu, Luri rela menahan rasa malu itu. Dia gadis yang sangat ber-attitude baik bukan?"
"Wow, luar biasa. Kali ini Ayah benar-benar memuji hasil penemuanmu, Fed. Walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung, tapi Ayah bisa menilai kalau kedua orangtua Luri tidak gagal dalam mendidiknya. Umur boleh saja muda, tapi caranya menghargai orang yang lebih tua benar-benar mengagumkan. Ayah salut pada gadismu itu!" ucap Mattheo tak ragu melayangkan pujian untuk gadis desa yang di sukai oleh putranya.
Fedo langsung tersenyum lebar saat mendengar ayahnya yang memuji Luri. Ini baru lewat perkataannya saja, belum mereka bicara dengan Luri secara langsung. Fedo yakin kalau Ayah dan Ibunya pasti akan jauh lebih kagum dari yang mereka rasakan sekarang.
"Kalau menurutku jangan dulu, Matt. Luri kan sudah pernah mengatakan pada Fedo kalau dia ingin fokus mengejar cita-citanya untuk menjadi dokter. Jika kita terlalu memaksakan kehendak, aku khawatir Luri malah akan merasa terbebani. Lebih baik kita biarkan saja dia mau melakukan apa. Selagi di jalan yang benar dan tidak mengecewakan perasaan Fedo, kita wajib untuk mendukungnya. Kau tidak lupa kan kalau gadis itu juga berkeinginan untuk memantaskan diri sebelum di pinang oleh putra kita?" jawab Abigail dengan bijak.
"Hmmm, kau benar juga, darling. Aku hanya takut saja berlian seperti Luri akan di curi oleh pria lain jika kita lambat dalam bergerak. Selain pandai dan ber-attitude baik, Luri memiliki wajah yang begitu cantik. Lihat saja si Lusi, Gleen sampai tergila-gila padanya meski saat itu status Lusi hanyalah seorang pelayan. Sementara di luaran sana, pria yang statusnya jauh lebih tinggi dari Fedo itu sangat banyak. Tidak menutup kemungkinan bukan kalau Luri akan berpindah hati pada salah satu dari mereka?" sahut Mattheo mengungkapkan kekhawatiran di hatinya.
"Ayah, Luri itu memiliki kepribadian yang sangat bagus. Aku tidak percaya kalau dia akan berpaling semudah itu dariku. Kalau memang dia tergoda dengan pria lain, Luri pasti sudah merespon keberadaan Galang dengan cara membalas perasaannya. Akan tetapi tidak dia lakukan karena Luri bilang hanya akan memperjuangkan aku saja. Dan semua itu tidak akan pernah berubah kecuali jika Tuhan sendiri yang mengubah takdir hubungan kami. Begitu!" ucap Fedo menjelaskan betapa Luri tidak akan mungkin mengkhianati perasaannya.
"Fedo benar, Matt. Malah harusnya kau itu mencurigai Fedo, bukan Luri. Bukankah kau tahu sendiri kalau anakmu ini sangat mudah tergoda oleh pesona gadis seksi yang mempunyai bodi aduhai? Dia yang seharusnya kau khawatirkan, bukan Luri!" timpal Liona sambil melirik ke arah Fedo. "Ibu benar kan, Fed?"
Fedo meringis sambil menggaruk belakang kepalanya. Mau tak mau dia harus menganggukkan kepala membenarkan perkataan sang ibu. Tak lama kemudian muncul Kayo yang datang bersama dengan Jackson, calon suaminya.
"Wahhh, ada apa ini ramai-ramai," tanya Kayo sembari menatap ke arah kakak dan kedua orangtuanya dengan raut penasaran.
__ADS_1
"Luri bilang ingin bertemu dengan kita siang ini, Kay," jawab Abigail. Dia kemudian tersenyum saat Jackson menyapanya. "Kalian mau ikut tidak?"
"Tentu saja kami harus ikut, Bu. Biar bagaimana pun Luri adalah calon kakak iparku, jadi aku mana boleh melewatkan kesempatan ini," jawab Kayo kegirangan.
Hehe, kapan lagi aku bisa bertemu langsung dengan calon kakak ipar yang usianya jauh di bawahku? ujar Kayo membatin.
"Ya sudah kalau begitu kau segeralah bersiap supaya nanti kita tidak terlambat datang menemui Luri. Fedo bilang hari ini dia pulang cepat dari sekolah, dan akan jauh lebih baik kalau kita datang lebih awal agar bisa mengobrol lama dengannya."
"Aku tadi sudah berdandan sebelum pergi keluar dengan Jackson, Bu. Jadi aku rasa aku tidak perlu bersiap lagi. Begini saja aku sudah cantik kan, Jack?" tanya Kayo sambil menatap ke arah calon suaminya.
"Kau selalu cantik dengan penampilan apapun," jawab Jackson.
"Cihhh, dasar pembual. Dulu saja kau mengejar Elea seperti orang gila. Sekarang beraninya kau memuji adikku di hadapan semua orang. Dasar buaya!" sindir Fedo.
"Itu dulu, sebelum Tuhan mengirimkan karmanya padaku. Sekarang hanya Kayo satu-satunya wanita yang akan aku cintai setelah adikku. Dia ratuku asal kau mau tahu," sahut Jackson tanpa ragu.
Kayo menjulurkan lidah ke arah sang kakak yang berhasil di kalahkan telak oleh calon suaminya. Jujur, perasaan Kayo sangat amat bahagia karena Jackson tidak malu untuk menegaskan posisi yang dia miliki di hadapan kakak, Ayah, dan juga Ibunya.
"Bu, lihatlah gadis nakal ini. Berani sekali dia mengolok-olok kakaknya sendiri di hadapan calon suaminya. Tolong hukum dia, Bu!" ucap Fedo mengadukan kelakuan Kayo pada ibunya.
"Sudah, kalian jangan bertengkar lagi. Dan kau Fedo, sebaiknya kau lekas bersiap sebelum Luri menelfonmu. Tidak benar mengulur sesuatu yang baik. Paham tidak!" tegur Abigail dengan cepat melerai pertengkaran agar tidak terjadi.
"Haih, baiklah, Bu," sahut Fedo patuh.
Setelah itu Fedo pun bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap diri. Dia sudah tidak sabar menantikan pertemuan antara Luri dengan keluarganya.
*****
__ADS_1