
Fedo tersenyum miring saat mendengar cerita keluarganya tentang apa yang terjadi pada Kanita setelah dia pergi ke Shanghai. Dini hari tadi Fedo memutuskan untuk kembali ke Jepang guna mengurus permasalahannya dengan Kanita. Akan tetapi siapa yang akan menyangka kalau mantan teman tidurnya itu sekarang telah menerima karma atas perbuatannya sendiri. Andero, pria itu benar-benar menikahi Kanita kemudian membawanya pulang ke ke negaranya. Sedangkan Tuan Dominic dan Nyonya Mili, orangtua malang itu memutuskan pindah ke luar negeri karena merasa tak kuat menanggung malu atas perbuatan anaknya. Mereka juga telah sepenuhnya menyerahkan perusahaan pada Andero atas nama cucu mereka. Kasihan memang, tapi inilah takdir di mana akan selalu ada karma dari setiap perbuatan yang kita lakukan.
"Jadi, Fedo. Bagaimana tanggapan kedua orangtua Luri saat kau tiba di rumah mereka?" tanya Abigail ingin tahu.
"Paman Luyan dan Bibi Nita percaya kalau aku tidak mungkin melakukan semua itu, Bu. Mereka memang sedikit kecewa, tapi mereka tidak membenci ataupun memintaku untuk meninggalkan Luri," jawab Fedo jujur.
"Lalu luka-luka di wajahmu?"
Sebelum menjawab, Fedo memegang wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu dia tersenyum, memandang adik dan kedua orangtuanya dengan tatapan lucu. "Nania dan Gleen yang melakukannya. Luka-luka ini aku dapatkan begitu menginjakkan kaki di halaman rumah Luri. Mereka yang paling tidak terima tentang kabar itu!"
Kayo langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan kakaknya. Ternyata tebakannya benar kalau orang yang membuat kakaknya jadi babak belur begini adalah Nania. Sungguh, di tangan gadis belia itu sang kakak di perlakukan seperti badut. Sangat menghibur.
"Apa iya Nania sekuat itu sampai bisa membuat wajahmu bengkak di sana sini, Fed? Dan juga kenapa kau tidak melawan balik? Kan tidak lucu seorang Casanova papan atas kalah pada seorang gadis di bawah umur. Benar tidak, Kay?" tanya Mattheo heran.
"Benar sekali, Ayah. Harusnya itu Kak Fedo melawan untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah, bukan malah diam membiarkan Nania menguasai keadaan. Bagaimana sih," sahut Kayo setengah meledek.
"Ayah, Kayo. Tolong dengarkan aku baik-baik!" ucap Fedo dengan sangat sabar. "Nania adalah adiknya Luri, itu artinya dia akan menjadi adikku juga saat aku dan Luri menikah nanti. Sedangkan Gleen, dia adalah kakak iparnya Luri. Jadi tidak mungkinkan aku melawan balik mereka? Tidak di benci oleh mereka saja aku sudah sangat bersyukur. Bisa-bisa aku tidak akan di izinkan mendekati Luri lagi jika aku sampai melakukan perlawanan. Tahu tidak?"
"O o ohhh ... Jadi kau sengaja mengalah karena takut tak di terima lagi oleh keluarganya Luri. Begitu?" ledek Mattheo sambil menahan tawa.
"Mengalah untuk menang lebih tepatnya, Ayah. Tolong jangan membolak-balik keadaan," sungut Fedo.
"Baiklah-baiklah, kita sudahi kelucuan ini. Sekarang Ayah ingin bicara serius denganmu, Fed. Tolong persiapkan mental dengan baik!"
__ADS_1
Suasana tiba-tiba berubah tegang saat Mattheo memasang ekpresi wajah yang begitu serius. Abigail yang tahu kalau suaminya tidak sungguh-sungguh pada ucapannya, dengan gemas langsung mencubit pinggangnya kuat-kuat. Dia lalu menghela nafas ketika Mattheo memekik kesakitan kemudian merengek padanya.
"Diam, atau aku akan melubangi perutmu!" ancam Abigail.
"Ck, kenapa kau brutal sekali, darling. Aku kan belum melakukan apa-apa padamu tadi. Kenapa kau malah mencubitku," protes Mattheo.
"Tutup mulutmu, Mattheo. Aku ingin menanyakan hal yang penting pada Fedo. Bisa?"
Mattheo mengangguk. Dia merebahkan kepalanya di bahu Abigail, sedikit tersenyum mesum ke arah Fedo yang terlihat mencebikkan bibir karena iri melihat kelakuannya. Biasalah, memanas-manasi mantan Casanova ini adalah sesuatu hal yang sangat menarik. Hehe.
"Fed, apa kau berhasil menemui Luri? Apa tanggapannya tentang berita kemarin?" tanya Abigail pura-pura tidak mengetahui apapun.
"Saat aku datang Luri sudah tidak ada di Shanghai, Bu. Dia pergi ke London ... bersama Galang," jawab Fedo lesu ketika menyebut nama anak ingusan itu.
"Ke London? Bagaimana bisa? Bukankah Luri sendiri yang memintamu agar datang menemuinya kemarin? Apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Abigail seraya meng*lum senyum. Entah kenapa putranya jadi terlihat menggemaskan dalam keadaan patah hati begini. Abigail suka sekali melihatnya.
Dan begitu Fedo selesai bicara, dia di buat terheran-heran oleh sikap keluarganya. Kayo beserta ayah dan ibunya malah tertawa dengan raut wajah yang begitu bahagia. Hal ini tentu saja membuat Fedo merasa sangat penasaran akan sikap mereka yang tega menertawakannya di saat hatinya sedang terluka.
"Ayah, Ibu, Kayo. Apa-apaan ini? Kenapa kalian malah terlihat sangat bahagia setelah mengetahui kalau Luri pergi meninggalkan aku? Ada apa sebenarnya?" cecar Fedo antara marah dan juga bingung.
Tidak ada yang menjawab. Bahkan Kayo sampai meneteskan air mata saking tak tahannya dia melihat penderitaan sang kakak.
"Kay, jangan bilang sejak awal kau sudah tahu kalau Luri akan pergi ke London bersama dengan Galang. Benar tidak?" tuduh Fedo langsung curiga.
__ADS_1
"Hahahaha, astaga perutku," sahut Kayo sambil memegangi perutnya yang terasa pegal. Dia sampai kesulitan menjawab pertanyaan kakaknya.
Merasa ada yang tidak beres, Fedo segera berpindah duduk ke sebelah Kayo kemudian menjewer telinganya. Dia bahkan tak peduli saat Kayo menjerit kesakitan sambil merengek meminta agar dilepaskan.
"Aduh Kak, sakit. Tolong lepaskan telingaku!" teriak Kayo sambil berusaha melepaskan tarikan tangan kakaknya.
"Sakit kau bilang?" sahut Fedo. "Berjanji dulu kau akan menceritakan semuanya padaku, baru aku akan melepaskanmu. Jika tidak, sampai telingamu putus pun aku tidak akan memberi ampun. Dasar nakal. Berani sekali ya kau main-main denganku. Rasakan ini!"
"Ayah, Ibu. Tolong aku!" teriak Kayo.
"Haihhh, sudah Fed, kasihan adikmu. Nanti dia tidak cantik lagi kalau sebelah telinganya sampai hilang!" ucap Abigail setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Biar saja. Siapa suruh dia berani mempermainkan aku!" sahut Fedo enggan mengalah.
"Bukan Kayo yang mempermainkanmu, tapi kau saja yang terlalu bodoh!" sambung Mattheo.
"Jangan ikut-ikut membela Kayo, Ayah. Atau aku akan menjewer telinga Ayah juga. Mau?" ancam Fedo kesal karena ternyata dia di permainkan oleh semua orang. Benar-benar menjengkelkan.
Abigail dan Mattheo kembali tertawa saat Kayo akhirnya bisa melarikan diri dari cengkeraman mantan Casanova yang sedang patah hati itu. Setelahnya barulah mereka memberitahu Fedo tentang kejadian yang sebenarnya.
"Sebenarnya baru kemarin malam aku mengetahui rencana Luri yang akan kuliah di London, Kak. Dan itupun Jackson yang memberitahuku. Dia merasa curiga pada gelagat Luri sejak pertemuan kita beberapa waktu lalu, jadi memutuskan untuk menyelidikinya. Dan benar saja. Semua kompetisi yang selama ini di ikuti oleh Luri ternyata adalah untuk mengejar beasiswa kuliah kedokteran di luar negeri. Luri berhasil memenangkannya, dan harusnya besok dia dan Galang baru akan berangkat ke London. Tapi karena mantan teman tidurmu membuat ulah, terpaksa dia pergi lebih awal. Begitu!" ucap Kayo sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Dan kau tidak segera memberitahuku tentang kebenaran itu? Woaaahhh, kau benar-benar gadis yang sangat kejam, Kay. Tega-teganya kau mengerjai kakakmu sendiri. Kemari kau. Aku akan memberimu pelajaran karena kau sudah berani membohongi kakakmu sendiri!" omel Fedo kemudian berlari menghampiri adiknya yang kala itu bersembunyi di belakang orangtua mereka.
__ADS_1
Setelah badai menghilang, maka terbitlah pelangi yang sangat indah. Mungkin pepatah inilah yang paling cocok untuk menggambarkan suasana di kediaman keluarga Eiji saat ini. Semua orang terlihat begitu bahagia setelah sebelumnya sempat berhembus kabar tak sedap di mana ada rumor buruk yang menyasar pada nama baik pewaris dari keluarga ini. Untungnya kabar tersebut berhasil di atasi dengan baik berkat kerjasama dari beberapa pihak. Dan sekarang, keluarga ini hanya tinggal menunggu kabar baik dari seseorang yang kini tengah mengejar kesuksesan di negeri orang.
*****