PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kenyal Dan Nikmat


__ADS_3

"Aku baru pertama kali ini melihat laki-laki sebodoh dirimu, Kak Jovan. Mentalmu sangat lemah seperti kerupuk yang di rendam air!" olok Nania sengit seraya menatap Jovan yang hanya duduk diam di atas ranjang. Dia sedikit kelelahan setelah menghajar kakak kelasnya itu. "Kalau kau mau mati pakailah cara yang keren sedikit. Contohnya pergi ke negara yang rawan perang lalu dengan suka rela menghadang peluru menggunakan kepalamu. Bukan malah overdosis karena meminum pil tidur. Bagaimana sih!"


"Kau tidak tahu apa-apa, Nania. Jadi jangan banyak bicara!" sahut Jovan dingin. Kulit kepalanya seperti terkelupas setelah menjadi bulan-bulanan Nania yang langsung mengamuk begitu masuk kemari.


"Tidak tahu apa-apa, gigimu. Memangnya kalau kau mati aku dan semua orang tidak akan repot mengurusi pemakamanmu, hah?" sahut Nania dongkol. Dia lalu berjalan ke arah sofa, mendudukkan bokongnya di sana sambil terus melayangkan tatapan sengit ke arah Jovan.


Luri dan Galang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Mereka sengaja membiarkan Nania meluapkan emosi pada Jovan yang mereka rasa cukup pantas untuk di hajar. Bukannya tidak kasihan, tapi otak sesatnya memang perlu untuk di benarkan supaya ke depannya nanti tidak terjadi musibah seperti ini lagi.


"Jo, bagaimana keadaanmu?" tanya Luri tak tega melihat kondisi temannya yang hanya diam dengan tatapan kosong.


Tak ada jawaban. Nania yang melihat hal itupun kembali tersulut emosi. Dia benci sekali melihat laki-laki lemah seperti Jovan. Namun ketika Nania hendak membuka suara ,mulutnya sudah lebih dulu di bungkam oleh Galang. Dia lalu memelototkan mata sebagai bentuk protes atas tindakannya itu.


"Jangan berulah. Kau sudah memiliki kesempatan untuk menyerangnya tadi," ucap Galang sambil membuka bingkisan di atas meja menggunakan tangan yang satunya.


Nania tidak bisa membalas ucapan Galang karena sekarang mulutnya sudah di jejali makanan. Dia akhirnya menyerah karena rasa dari makanan itu jauh lebih menarik daripada menghajar Jovan yang tidak mau melakukan perlawanan sama sekali. Dengan penuh semangat Nania mengunyah makanan yang bentuknya kenyal dan rasanya begitu nikmat tanpa mempedulikan percakapan kakaknya dengan Jovan.


"Jovan, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Tapi melihat dari caramu menyakiti diri sendiri, aku jadi tahu kalau kau sedang tidak baik-baik saja. Ceritalah, katakan semua beban yang kau pendam pada kami bertiga. Siapa tahu dengan bercerita kau akan merasa lebih lega dan tidak tertekan lagi," bujuk Luri sambil berjalan menghampirimu Jovan di ranjang. Dia lalu mengelus bahunya pelan, mencoba menguatkan mental temannya yang sedang down. "Ceritalah. Kami siap mendengarkan keluh kesahmu."


"Iya Jo, Luri benar. Kita semua adalah teman, sudah sewajarnya bagi kita untuk saling menolong saat ada yang kesusahan," timpal Galang ikut membujuk. Dia sengaja tetap duduk di samping Nania untuk mengawasinya agar tidak melakukan kegilaan lagi.


Jovan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kuat. Setelah itu dia menoleh, menatap wajah Luri yang begitu teduh.


"Aku iri pada kalian semua. Meskipun keluarga kalian tidak sekaya keluargaku, tapi mereka mampu menjadi orangtua yang baik. Kalian hidup dengan penuh kasih sayang, tidak seperti hidupku yang terasa sepi tanpa cinta orangtua. Aku muak ada di posisi ini, Luri. Aku muak melihat wajah orangtuaku yang dengan entengnya ingin bercerai tanpa memikirkan bagaimana perasaanku dan juga adikku. Kalau mereka menikah hanya untuk berpisah, lalu kenapa mereka harus mempunyai anak!" ucap Jovan mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Karena membuat anak itu enak, Kak Jovan!" celetuk Nania asal.

__ADS_1


"Astaga Nania, bisa tidak mulutmu itu jangan asal bicara?" tanya Galang yang kaget mendengar celetukan Nania.


"Kenapa memangnya? Memang benar kok kalau membuat anak itu enak. Temanku yang bilang," jawab Nania jujur.


"Sesat. Ucapan temanmu itu sangat sesat, Nania. Kau jangan mendengarkan ucapan mereka. Tahu tidak?" omel Galang tak habis fikir dengan kelakuan Nania dan teman-temannya. Bisa-bisanya mereka menghibahkan hal-hal panas di saat usia mereka sendiri masih di bawah umur. Galang jadi penasaran dari mana temannya Nania mendengar kata panas tersebut. Perlu untuk di selidiki.


Jovan menatap lama ke arah Nania. Dia tidak marah, tapi merasa terhibur karena gadis ini bicara apa adanya. Kekosongan yang tadi di rasakan oleh Jovan perlahan mulai menghilang saat Nania meliriknya sambil menjulurkan lidah. Itu lucu, dan sangat menggemaskan.


"Ekhmm Jo, apa kau sudah makan?" tanya Luri mengalihkan pandangan Jovan dari adiknya. Dia tahu kalau temannya ini sedang mengagumi Nania yang memang terlihat menggemaskan meski mempunyai mulut yang begitu beracun.


"Aku tidak ingin makan. Perutku masih belum terasa baik, Luri," jawab Jovan.


"Tidak boleh begitu, Jo. Biarpun sedikit perutmu harus tetap di isi makanan. Mau aku suapi tidak?"


Galang langsung waspada begitu Luri menawarkan diri hendak menyuapi Jovan. Dia cemburu. Nania yang merasakan aura aneh di wajah Galang langsung menyeringai jahat. Kemudian muncullah satu ide untuk mengerjai kakak kelasnya ini.


Jovan dan Luri langsung menoleh begitu mendengar celetukan Nania. Kening mereka sama-sama mengerut, tidak paham maksud ucapan Nania barusan. Galang yang sadar kalau Nania sedang menyindirnya pun menjadi salah tingkah sendiri. Dia lalu menyibukkan diri dengan bermain ponsel agar Luri tidak curiga kepadanya.


"Ini ruangan ber-AC, Nania. Bagaimana mungkin kau merasa panas?" tanya Jovan begitu menyadari kalau Nania sedang mengolok-olok Galang. Dia jadi terpancing untuk ikut bergabung dalam permainannya.


"Ey kau ini bagaimana, Kak Jovan. Jangankan AC, badai salju pun akan tetap membuatku merasa panas kalau sedang terbakar api cemburu. Benar tidak, Kak Galang?" jawab Nania jujur sembari melihat ke arah Galang yang sedang sibuk bermain ponsel.


"Bicara apa kau, Nania. Siapa yang cemburu?" sahut Galang dengan wajah biasa saja. Padahal dia sebenarnya sedang menahan malu karena tidak sengaja melihat Luri yang sedang tersenyum kecil di samping Jovan.


"Hilih, tidak usah berkilah, Kak. Aku tahu kalau kau itu ....

__ADS_1


"Nania!" panggil Luri langsung menyela perkataan adiknya. Dia tidak mau Galang merasa malu karena terus di goda oleh adiknya yang usil ini. "Daripada kau hanya diam saja di situ lebih baik kau bantu Jovan untuk memakan makan malamnya. Kasihan, dia belum makan apapun."


"Kenapa aku sih, Kak. Tangan Kak Jovan kan baik-baik saja. Kenapa harus di bantu?" protes Nania kesal.


"Karena dia sedang sakit. Makanya perlu kita untuk menolongnya."


"Cihh, dia yang melakukan hal bodoh kenapa sekarang jadi aku yang repot!" sungut Nania kemudian beranjak mendekat sambil bersungut-sungut. "Kau lihatkan, Kak Jovan. Gara-gara kebodohanmu itu sekarang orang lain yang menjadi susah. Lain kali kalau sudah bosan hidup carilah cara yang bisa membuatmu langsung di kubur saja. Menyebalkan sekali sih."


Jovan senyum-senyum saja saat di marahi oleh Nania. Benar-benar sangat menghibur. Dia lalu sedikit bergeser saat Nania ingin duduk di sebelahnya sambil memangku nampan berisi makanan. Jovan kemudian menampilkan deretan gigi putihnya saat Nania menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan.


"Apa kau senyum-senyum?" hardik Nania jengkel. Dia sangat ingin menumpahkan bubur di dalam mangkuk ke kepalanya Jovan saat ini juga.


"Setelah sekian lama berteman akhirnya kau bisa berguna juga, Nania," canda Jovan sambil tertawa.


"Oh, jadi kau sengaja memanfaatkan aku ya?" tuduh Nania tak terima. "Lihat saja. Setelah kau keluar dari rumah sakit, aku akan langsung mengajakmu berduel. Akan ku patahkan kedua tanganmu supaya kau benar-benar tidak bisa makan seperti sekarang. Beraninya kau ya!"


Luri mend*sah pelan melihat cara Nania mengurus Jovan. Sungguh, gadis ini sama sekali tidak ada lembut-lembutnya. Padahal Luri tadi berharap kalau Nania mau menghibur Jovan agar tidak merasa tertekan. Siapa yang tahu kalau adiknya ini malah memberi tekanan yang jauh lebih berat lagi. Luri jadi merasa kasihan pada Jovan. Apalagi sekarang dia seperti kesulitan mengimbangi suapan Nania yang begitu cepat.


"Pelan-pelan, Nania. Kau ingin membuatku mati tersedak atau bagaimana sih?!" protes Jovan sambil menahan tangan Nania yang ingin menyuapkan bubur. Sementara di dalam mulutnya sendiri masih penuh dengan makanan yang belum sempat dia telan.


"Huh, Kak Jovan Kak Jovan. Baru seperti ini saja kau sudah takut tersedak. Lalu kenapa kau tidak takut mati saat menelan pil tidur itu? Kau itu sebenarnya waras apa tidak sih?" sahut Nania dengan kejam memarahi kebodohan yang dilakukan oleh kakak kelasnya ini. Dia benar-benar tidak mau memberi ampun kepadanya.


Jovan mati kutu. Dia sangat amat tertohok oleh omelan Nania barusan. Benar juga, bagaimana bisa dia takut tersedak di saat dia sendiri hampir berhasil mengakhiri hidup? Memalukan, Jovan tertampar oleh kebodohan yang telah dia lakukan sendiri.


Semoga saja Jovan tidak semakin tertekan setelah mendengar kata-kata Nania. Ucapannya tadi seperti menembus jantung. Tajam dan tepat sasaran. Nania-Nania, kau memang tidak ada tandingannya dalam menghancurkan mental orang lain. Ujar Galang dalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2