PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kekhilafan Nania


__ADS_3

Galang menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan setelah memakan habis semua makanan yang dia pesan. Setelah itu dia menatap Luri, Nania, dan juga Jovan yang tengah memandanginya dengan tatapan horor.


"Kenapa kalian? Tidak pernah melihat orang tampan kekenyangan ya?" tanya Galang berkelakar.


"Tampan?? Cihhh. Iya tampan, setampan gorilla yang tinggal di kebun binatang," sahut Nania sarkas. "Yak, Kak Galang. Sejelek-jeleknya seorang pria, mereka pasti akan menjaga imagenya di hadapan para gadis. Lalu kau masuk dalam kategori tampan jenis apa saat kau sendiri tanpa tahu malu bersikap begini di depanku dan juga di depan Kak Luri. Bukannya kau itu suka pada kakakku ya? Dulu kan kau pernah mengungkapkan perasaanmu pada Kak Luri, tapi sayangnya di tolak. Apa kau tidak takut kakakku merasa ilfil karena melihatmu yang tidak bisa menjaga sikap, hm?"


Suasana menjadi sangat hening begitu Nania mulai menebar racun. Mulut semua orang terkatup rapat, terutama mulutnya Galang. Sungguh, dia sangat tidak menyangka kalau Nania akan membongkar rahasianya di hadapan Jovan, mantan rivalnya yang sampai saat ini masih belum mengetahui penolakan yang dulu di terima Galang saat mengungkapkan cintanya pada Luri. Andai saja bisa, ingin rasanya Galang masuk ke dalam perut bumi untuk menutupi rasa malunya. Di tambah lagi sekarang Jovan tengah menatapnya sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Galang yakin sekali kalau sebentar lagi Jovan pasti akan meledeknya habis-habisan.


Kau benar-benar kelewatan, Nania. Bukankah kau sudah berjanji padaku akan merahasiakan hal ini? Tapi kenapa sekarang kau ingkar? Dasar pembohong, gerutu Galang di dalam hati.


"Ekhmm ekhmm, jadi dulu kau pernah di tolak Luri ya, Lang?" ledek Jovan sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Diam kau, Jo. Jangan ikut campur kalau tidak tahu kebenarannya," jawab Galang sewot. Dia lalu melirik tajam ke arah Nania. Kesal karena gadis ini sudah membongkar rahasia memalukan yang selama ini di tutupi olehnya.


Nania yang sadar kalau Galang tersinggung karena ucapannya, segera berpindah duduk ke sebelahnya. Dia lalu menarik bagian ujung seragam milik Galang, mencoba untuk meminta maaf atas kekhilafan yang tidak sengaja dia lakukan.


"Kak Galang, tolong maafkan aku ya. Aku khilaf, aku tidak sengaja membongkar rahasiamu di depan Kak Jovan. Sungguh," ucap Nania dengan mimik wajah yang sangat serius.

__ADS_1


"Ck, bilang saja kau memang sengaja ingin mempermalukan aku, Nania. Jadi tidak usahlah kau berpura-pura meminta maaf dengan memasang raut wajah penyesalan begini. Aku tahu kau tidak tulus melakukannya," sahut Galang cetus. Dia lalu melihat ke arah lain, enggan untuk menatap wajah adik kelasnya yang sangat menyebalkan ini.


"Jangan menuduh yang tidak-tidak, Kak Galang. Jarang sekali lho aku berinisiatif untuk meminta maaf pada orang lain terlebih dahulu. Harusnya kau itu bersyukur karena aku dengan sadar hati mengakui kekhilafan yang sudah aku lakukan. Aku sungguh tidak sengaja mengungkit kejadian saat kau di tolak oleh Kak Luri, Kak. Sungguh!" protes Nania yang tidak terima di anggap sedang berpura-pura.


Luri mengulum senyum sembari mengaduk-aduk minumannya di dalam gelas. Tadinya dia sempat kaget saat Nania mengungkit kejadian itu di hadapan Jovan, tapi setelah melihat reaksinya yang langsung meminta maaf pada Galang, Luri jadi merasa gemas. Dia tentu saja tahu kalau Galang merasa sangat malu akan ulah adiknya. Akan tetapi Luri melihat hal ini sebagai bentuk hiburan dan juga kenangan lucu yang terjadi pada masa putih abu-abu para remaja sepertinya. Dia sama sekali tak terpikirkan niat untuk mengolok-olok Galang atas kenangan tak mengenakkan yang pernah terjadi di antara mereka berdua.


"Ngomong-ngomong kapan itu terjadi, Lang? Aku jadi penasaran gaya apa yang kau lakukan saat menembak Luri," tanya Jovan penuh rasa ingin tahu. Dia menatap wajah Galang dengan sangat serius, berharap kalau temannya ini bisa segera menjawab rasa penasarannya.


"Jo, berhenti meledek Galang. Tidak ada hal apapun yang terjadi di antara kami, semua itu hanya candaan saja. Iya kan, Lang?" tegur Luri pelan. Dia tak tega melihat teman sekelasnya di bully oleh Jovan dan juga Nania. Kasihan, Luri cukup tahu bagaimana terlukanya perasaan Galang waktu itu.


Sudah kepalang tanggung. Percuma juga untuk tetap menutupi, toh semuanya sudah terlanjur di bongkar oleh Nania. Jadi ya sudah, sekalian saja Galang mengakui bahwa memang benar dirinya pernah di tolak oleh gadis desa ini. Juga karena Galang yang tidak terima Luri menyebut pengungkapan cintanya hanya sebuah candaan saja. Dia tulus menyukai gadis berlesung pipi ini.


"Lang, apa kau marah padaku?" tanya Luri tak enak hati. Dia menatap dalam ke arah Galang yang terlihat biasa-biasa saja setelah mengakui kebenaran yang terjadi.


"Marah padamu? Karena apa, Luri?" jawab Galang sambil menyesap minuman miliknya. "Apa kau merasa sungkan gara-gara perkataanku tadi?"


Luri langsung mengangguk. Dan terjadi lagi, gara-gara ulah Nania sekarang Luri yang kena getahnya. Andai saja tadi Nania tidak menyinggung masalah itu, suasananya pasti tidak akan berubah secanggung ini. Luri sekarang jadi serba salah, bingung harus bersikap seperti apa di hadapan Galang.

__ADS_1


"Tenang saja, Luri. Aku sama sekali tidak marah karena apa yang di ucapkan Nania memang benar. Aku menyukaimu, dan kau menolak untuk menjadi kekasihku. Itu adalah fakta, dan aku tidak keberatan bahkan jika semua orang mengetahuinya. Jadi santai saja, jangan canggung," ucap Galang seraya tersenyum kecil.


Jovan dan Nania menatap tak percaya ke arah Galang yang bisa dengan santai mengakui penolakan yang di terimanya. Sungguh, mereka takjub akan ketebalan muka anak ini. Jika hal ini terjadi pada orang lain, bisa di pastikan orang tersebut pasti akan langsung kabur saat rahasianya di bongkar. Tapi Galang, sepertinya dia adalah pengecualian. Haruskah Jovan dan Nania menyebut teman mereka ini sebagai sosok remaja muda yang pemberani? Luar biasa.


"Kak Galang, apa aku boleh memberitahukan hal ini pada Ayah dan Ibuku juga? Kau bilang kan tidak keberatan rahasia ini di ketahui oleh semua orang?" tanya Nania penuh harap.


Galang yang tadinya sudah tenang, kini serasa di paksa masuk ke dalam lubang yang di penuhi duri beracun. Yang benar saja. Mungkin untuk Jovan Galang masih bisa santai menanggapinya. Tapi untuk kedua orangtuanya Luri ... Ya Tuhaannnn, kali ini Nania benar-benar kelewatan jika sampai memberitahu kedua orangtuanya.


"Nania, ada beberapa hal yang boleh dan tidak boleh sembarangan kau beritahukan pada Ayah dan juga Ibu. Dan untuk masalah antara Kakak dengan Galang, sebaiknya kita jadikan masalah ini sebagai rahasia bersama saja. Kita ini masih remaja, Nania. Anggaplah kejadian ini sebagai kenangan indah di masa-masa sekolah kita. Nanti saat kita sudah dewasa, kita pasti akan merindukan moment seperti ini. Ya?" ucap Luri dengan lembut membujuk adiknya.


"Memangnya kapan kita akan dewasa, Kak? Apa setelah mempunyai pacar kita sudah bisa di anggap sebagai orang dewasa? Atau setelah usia kita di atas dua puluh tahunan mungkin?" tanya Nania dengan polosnya.


"Menjadi orang dewasa itu tidak harus berpatokan pada umur, Nania. Juga tidak harus mempunyai pacar dulu baru bisa di anggap sebagai orang dewasa. Em, sebenarnya Kakak sendiri tidak terlalu paham hal seperti apa yang menandakan kalau kita ini sudah dewasa. Kakak hanya tahu kalau orang dewasa tidak akan mengambil langkah dan keputusan secara sembarangan. Mereka terkesan tenang, bijak, dan juga mengayomi. Kurang lebih sih begitu," jawab Luri menggambarkan garis besar dari sosok dewasa yang di maksud oleh adiknya.


Galang, Jovan, dan juga Nania mendengarkan dengan sangat seksama penjelasan Luri. Meski jawabannya masih belum sempurna, tapi setidaknya mereka bisa belajar dari jawaban singkat tersebut. Mereka sama-sama mengambil kesimpulan bahwa menjadi dewasa itu bukan karena faktor usia, melainkan karena pola pikir dari orang itu sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2