
Di dalam kamar, Nania tengah terbahak-bahak setelah melepaskan bom atom ke negara Jepang. Ya, dia baru saja mengirimkan foto tak lazim pada pria genit yang menjadikannya sebagai mata-mata. Tadi, sewaktu Nania hendak mengambil air minum di dapur, dia tidak sengaja melihat kakaknya yang sedang memeluk Galang. Sontak saja hal itu langsung memancing kemunculan iblis jahat yang bersemayam di dalam tubuh Nania. Dia diam-diam mengambil foto kakaknya kemudian mengirimkannya ke nomor Fedo. Hanya jarak satu detik dari gambar itu terkirim, ponsel Nania langsung di teror dengan ratusan panggilan dan juga pesan dari Fedo yang kebakaran jenggot setelah melihat kedekatan kakaknya dengan Galang.
"Hahahaha, aku yakin sekali Kak Fedo pasti sedang menangis darah di sana. Makanya jangan terlalu posesif, syok jantung kan sekarang," ucap Nania sambil memegangi perutnya yang terasa pegal.
Ponsel Nania tidak henti-hentinya berdering yang mana hal itu membuatnya semakin tidak bisa berhenti tertawa. Dia puas, benar-benar sangat puas setelah mengerjai pria Jepang itu. Jujur saja, Nania sebenarnya sedikit kesal pada Fedo karena pria genit itu hanya membayarnya dengan sekotak permen lolipop. Padahal kemarin itu dia sudah melakukan tugas sebagai mata-mata dengan sangat baik.
"Hmmm, sudah ah tertawanya. Lebih baik sekarang aku mengawasi Kak Galang dan Kak Luri saja. Siapa tahu mereka kembali membuat adegan vulgar yang bisa membuat Kak Fedo mati kepanasan. Hahaha."
Setelah berkata seperti itu Nania bergegas keluar dari dalam kamar. Dia berjalan berjingkat-jingkat kemudian menempelkan tubuhnya ke tembok saat ingin mengintip. Para pelayan yang melihat kelakukan aneh Nania hanya menggelengkan kepala. Mereka sudah tidak heran lagi dengan kelakuannya yang tak pernah bisa diam.
Hati-hati, Kak Galang. Aku mengawasimu, batin Nania.
Sementara itu, Galang dan Luri yang baru saja selesai belajar terlihat mengobrol sambil membereskan buku. Mereka tidak ada yang menyadari kalau di balik tembok ada seekor cicak berkepala manusia yang sedang melekat erat di dinding sambil menguping pembicaraan mereka.
"Oh ya Luri, besok kau masuk sekolah apa tidak?" tanya Galang.
"Tentu saja aku masuk sekolah, Lang. Kenapa memangnya?" jawab Luri kemudian berdiri sambil membawa tumpukan buku di tangannya.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin bertanya saja."
"Emmm. Lang, aku masuk ke dalam sebentar ya. Mau menyimpan buku sekalian ke kamar mandi."
Galang mengangguk. Matanya terus mengawasi Luri yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah. Dia kemudian tersenyum.
"Andai saja kau tidak menolakku, aku pasti akan menjadi laki-laki paling bahagia di dunia ini, Luri. Kedewasaanmu membuatku semakin kagum," ucap Galang memuji.
Nania yang memang sedang menguping langsung membelalakkan mata begitu dia mendengar ucapan Galang yang ternyata telah mengungkapkan cinta pada kakaknya. Dia lalu diam sejenak, berpikir langkah apa yang harus dia ambil setelah mendengar kabar mengejutkan ini.
"Laporkan pada Kak Fedo atau aku gunakan kesempatan ini untuk menekan mental Kak Galang saja ya? Ckck, tidak kusangka kau memiliki nyali yang cukup besar juga, Kak. Padahal kau dan kakakku itu belum lama saling mengenal, dan kau dengan begitu percaya dirinya menyatakan cinta pada Kak Luri. Sudah pasti cintamu langsung ditolak lah. Lucu sekali," ejek Nania sambil terus mengawasi Galang yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas.
__ADS_1
Tak puas hanya mengejek dari kejauhan, Nania akhirnya memutuskan untuk menghampiri Galang. Dia menyeringai jahat ke arah Galang sebelum mendudukkan bokongnya ke sofa.
"Ekhmm, kenapa aku mencium aroma-aroma cinta bertepuk sebelah tangan ya?" sindir Nania dengan sengaja.
"Cinta bertepuk sebelah tangan? Maksudnya apa, Nania?" tanya Galang bingung.
Galang menatap heran ke arah Nania yang terus tersenyum aneh padanya. Tiba-tiba saja tengkuknya merinding saat dia menyadari sesuatu yang kemungkinan besar terhubung dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh gadis nakal ini.
"Jangan bilang kau mendengar apa yang aku ucapkan tadi, Nania," tuduh Galang dengan raut wajah yang sudah sangat panik.
"Eiiy, santai saja Kak. Tidak perlu sepanik itu. Relaks-relaks," sahut Nania sambil tertawa penuh ejek.
Astaga, bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau rubah licik sepertimu sudah tahu tentang masalahku dengan Luri? Mulutmu memang memintaku untuk tenang, Nania. Tapi mata dan hatimu memperlihatkan reaksi yang berbeda. Aku yakin sekali kau itu sebenarnya ingin mengolok-olokku kan? Kau benar-benar kejam, Nania. Batin Galang frustasi.
"Hehe, Kak Galang, rasanya sakit tidak ditolak oleh kakakku? Kau pasti menangis sehari semalam di dalam kamar kan?" tanya Nania seraya memperlihatkan ekpresi yang sangat tengil.
Benar kan? Baru saja Galang membatin, sekarang gadis nakal ini benar-benar mengejeknya. Ingin rasanya Galang melakban mulut Nania agar tidak membahas masalah ini lagi. Tapi dia tidak memiliki keberanian untuk itu. Jadi pada akhirnya Galang hanya bisa pasrah dan menerima semua ejekan yang akan terlontar keluar dari mulut beracun Nania.
"Tidak ada urusannya denganmu, Nania," sahut Galang malas. Padahal hatinya sedang bergetar tak karu-karuan karena bocah ini.
"Tidak ada urusannya denganmu, Nania," ucap Nania menirukan apa yang di ucapkan oleh Galang. "Hih, begitu saja tidak mau bilang. Dasar pelit."
"Bukannya pelit, Nania. Tapi itu adalah privasi, dan kau tidak seharusnya ikut campur masalah orang dewasa."
Senyum tengil di bibir Nania langsung menghilang begitu Galang bicara. Dengan wajah setengah masam, dia mulai menebar racun pada laki-laki yang menganggap kalau dirinya sendiri sudah dewasa.
"Kak Galang, air kencingmu saja masih belum lurus dan kau berani menyebut kalau dirimu itu sudah dewasa? Hahaha, kata-katamu sungguh menggelikan. Cacing di dalam perutku bahkan sampai terpingkal-pingkal mendengarnya," ejek Nania seraya memaksakan tawa.
Galang menarik nafas panjang sambil melihat ke langit-langit ruangan. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi gadis ini. Untung saja adiknya tidak memiliki sikap bar-bar bin mulut beracun seperti Nania. Kalau iya, bisa di pastikan kalau Galang akan mati dengan cepat.
__ADS_1
"Dengar ya Kak Galang. Kak Luri itu sudah ada yang menanti. Juga kakakku tidak akan mungkin mau menjadi kekasihmu karena dia pasti akan lebih memilih sekolahnya daripada berpacaran. Jangankan kau yang masih bau kencur, laki-laki sekelas bos saja ditolak oleh kakakku. Mau tahu tidak siapa orangnya?"
"Memangnya siapa nama bos itu?" tanya Galang penasaran. Dia terbakar api cemburu.
"Namanya... cari saja di google."
Setelah berkata seperti itu Nania dengan santainya melenggang pergi dari sana. Dan di saat Nania sedang menaiki anak tangga, dia berpapasan dengan kakaknya yang baru saja keluar dari kamar.
"Kau darimana, Nania?" tanya Luri curiga melihat senyum jahat di bibir sang adik.
"Dari menemui orang yang sedang patah hati, Kak," jawab Nania.
Kening Luri mengerut. Dia lalu menoleh ke arah ruang tamu dimana Galang sedang duduk menunggunya.
"Apa kau baru saja menjahili Galang?" tanya Luri penuh selidik.
Nania mengangguk jujur. Dia lalu membisikkan sesuatu yang langsung membuat wajah sang kakak memerah seperti buah tomat.
"Tenang saja, Kak. Aku pasti akan selalu melindungi Kakak dari sengatan-sengatan belut listrik yang tidak bermodal itu. Cukup Kak Fedo saja, di jamin aman. Tapi nanti kalau Ayah dan Ibu sudah memberi restu. Oke?" hibur Nania kemudian melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Sambil memandangi punggung sang adik, Luri bergumam bingung. Dia heran kenapa tiba-tiba Nania bisa begitu pro dengan Fedo. Padahal kemarin-kemarin kan dua orang ini selalu bertengkar seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur. Tapi sekarang... entahlah, Luri bingung.
"Astaga, aku lupa kalau Galang masih menungguku," pekik Luri kaget kemudian buru-buru keluar menemui Galang di ruang tamu.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani, dan di sana part baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani