PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kantong Semar


__ADS_3

Di rumah Luyan, saat ini semua orang tengah mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kemenangan Luri yang berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Gleen dan Lusi juga ada di sana. Mereka turut ambil bagian dalam kebahagiaan yang tengah menyelimuti keluarga tersebut.


"Selamat ya, Luri. Kakak bangga sekali padamu, sayang," ucap Lusi sembari memberi pelukan hangat pada adik pertamanya. Dia sungguh puas dengan pencapaian awal yang berhasil di lewati oleh adiknya ini.


"Terima kasih banyak ya, Kak. Semua ini berkat doa dari kalian semua sehingga aku bisa mencapai titik ini. Doakan agar semuanya berjalan lancar sampai aku sukses menjadi seorang dokter yang bisa di andalkan ya, Kak," sahut Luri seraya tersenyum semringah. Setelah itu dia mengurai pelukan sang kakak, kemudian menatapnya penuh maksud.


Lusi yang tanggap akan tatapan mata Luri langsung terkekeh pelan sambil mengacak rambut panjangnya. Dia tentu saja tahu kalau maksud di balik tatapan tersebut adalah tentang niat adiknya yang ingin memantaskan diri dalam memperjuangkan perasaannya terhadap Fedo. Sungguh, Lusi benar-benar sangat terharu melihat cara adiknya menjaga perasaan orangtua mereka dan juga perasaannya sendiri. Tidak kekanakan dan juga sangat bijak.


"Apa dia tahu kalau kau menang dalam kompetisi ini?" tanya Lusi setengah berbisik.


"Tidak Kak, aku belum memberitahunya. Kak Fedo belum tahu kalau aku mengikuti kompetisi ini untuk memenangkan beasiswa ke luar negeri. Dia hanya tahu kalau aku sedang mengikuti kompetisi biasa di sekolah," jawab Luri jujur. "Em Kak Lusi, tolong beritahu Kak Gleen agar tidak memberitahu apapun pada Kak Fedo ya."


"Kenapa tidak boleh? Bukankah ini adalah kabar gembira yang harus di ketahui oleh Fedo ya?" tanya Lusi keheranan.


"Iya, tapi aku berencana memberitahukan nanti, Kak. Aku takut Kak Fedo akan langsung datang ke Shanghai jika dia tahu kalau aku akan kuliah ke luar negeri. Dia pasti tidak akan membiarkan aku pergi ke sana," jawab Luri sambil menahan senyum saat teringat dengan keposesifan pria Jepang itu.


"Oh, begitu ya? Ya sudah, nanti Kakak akan memberitahu kakak iparmu agar tidak mengatakan apa-apa pada Fedo."


"Terima kasih banyak, Kak Lusi."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Luri langsung menelan ludah ketika mendapati sang ibu yang tengah menatapnya dengan jarak yang cukup dekat dari tempat dia dan kakaknya berdiri. Wajah Luri perlahan-lahan memucat, dia sangat takut kalau ibunya mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ibu, Ibu di sini?" tanya Luri gugup. Kedua tangannya meremas pinggiran bawah baju dengan sangat kuat.


"Iya, sayang. Ibu ada di sini sejak kau mulai mengobrol dengan kakakmu," jawab Nita sambil berjalan mendekat ke arah kedua putrinya. "Tidak usah panik, Ibu sama sekali tidak marah kok. Maafkan sikap Ayah dan Ibu waktu itu ya, Nak. Kami sudah sangat egois karena membatasi perasaanmu pada Fedo. Harusnya kami tidak bersikap begitu pada kalian berdua. Ibu minta maaf ya."


Lusi dan Luri sama-sama tercengang kaget mendengar ibu mereka yang tiba-tiba meminta maaf. Tak ingin ada kesalahpahaman, Luri pun segera memeluk ibunya dengan penuh rasa khawatir. Dia sedih melihat ibunya seperti ini.


"Bu, kenapa Ibu bicara seperti itu, hm? Ayah dan Ibu tidak salah apa-apa. Aku dan Kak Fedo tahu kalau niat dan tujuan kalian itu demi kebaikan kami berdua. Jadi Ibu jangan meminta maaf padaku ya. Ibu tidak salah."


"Luri, Ibu tahu kalau selama ini kau dan Fedo diam-diam menjalin hubungan jarak jauh. Ini Ibu ketahui bukan dari Nania ataupun kakakmu, tapi semuanya berasal dari feeling Ibu sebagai orangtua. Kau dan Fedo saling menyukai, bukan?"


Nita menatap dalam ke arah putri pertamanya kemudian bergantian menatap ke arah putri keduanya. Dia terenyuh. Sebagai orangtua, Nita terlambat menyadari kalau kebahagiaan Luri terhalang restu darinya. Untung saja waktu itu Nita tidak sengaja membuka ponsel Luri yang tertinggal di rumah saat putrinya itu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk temannya. Jika tidak, sampai detik ini Nita dan Luyan pasti tidak akan pernah tahu tentang hubungan dekat yang diam-diam di jalani oleh Luri dan Fedo. Saat Nita dan Luyan membaca pesan-pesan yang ada di ponsel itu, mereka berdua di buat kaget dan juga terharu. Putri mereka begitu hebat, mampu membentengi perasaannya sendiri dengan mengatakan kalau kebahagiaan orangtuanya jauh lebih penting dari


"Iya, Bu. Dari awal aku dan Kak Fedo memang sudah sama-sama saling menyukai. Dan aku sudah memberitahu Kak Fedo kalau aku tidak bisa berpacaran dengannya untuk sekarang-sekarang ini. Aku ingin fokus sekolah agar bisa membuat Ayah dan Ibu merasa bangga. Jadi Ibu jangan khawatir, ya. Aku janji aku tidak akan mengecewakan harapan kalian!" jawab Luri menegaskan kalau antara dia dan Fedo memang tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan sebagai teman tapi mesra. Dan itupun dia lakukan secara sembunyi-sembunyi.


"Luri, Ayah dan Ibu sudah membicarakan hal ini sejak beberapa malam yang lalu. Dan kami memutuskan untuk mengizinkanmu berpacaran dengan Fedo. Kau sudah besar, sangat wajar kalau kau mempunyai seorang kekasih," ucap Nita dengan mata berkaca-kaca.


Luri terdiam seribu bahasa. Dia bimbang, tidak tahu harus merasa senang atau tidak saat ibunya memberitahu kalau hubungannya dengan Fedo telah mendapat restu. Tak ingin salah menyikapi, Luri segera melihat ke arah kakaknya. Dia butuh nasehat detik ini juga.

__ADS_1


"Luri, jika Kakak yang ada di posisimu sekarang Kakak pasti tidak akan menyia-nyiakan apa yang baru saja di sampaikan oleh Ibu. Namun dengan catatan kalau Kakak tidak boleh lalai pada tujuan utama Kakak. Boleh-boleh saja menjalin hubungan dengan pria yang kita sukai, tapi kita tidak boleh sampai terbuai. Cita-citamu adalah menjadi seorang dokter yang hebat di masa depan, dan harusnya restu yang di berikan oleh Ayah dan Ibu tidak membuatmu mengabaikan cita-cita tersebut. Kau harus bisa menyeimbangkan antara perasaan dan juga masa depanmu. Jika memang bisa di raih secara bersamaan, kenapa tidak coba kau lakukan saja? Kau menyukai Fedo, dan Fedo juga menyukaimu. Kau ingin menjadi seorang dokter, dan Kakak yakin Fedo pasti akan selalu memberi dukungan. Benar tidak?" ucap Lusi berusaha memberikan nasehat dengan bijak.


"Apa tidak apa-apa jika aku mengejar keduanya secara bersamaan, Kak?" tanya Luri masih sedikit ragu.


"Tidak ada yang salah dengan semua itu, sayang. Yang terpenting kau tahu bagaimana cara untuk menyikapinya. Sewaktu sekolah sedang menuntutmu untuk fokus, maka kau harus bisa mengesampingkan perasaanmu terlebih dahulu. Dan Kakak yakin Fedo pasti bisa mengerti dirimu dengan baik. Bukan begitu, Bu?"


Nita mengangguk. Seperti biasa, Lusi akan menjadi matahari yang menyinari dan juga menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Sekarang Nita merasa lega karena putri keduanya tidak perlu lagi menyembunyikan perasaannya dari semua orang.


"Aku, Ayah dan Kak Gleen sedang sibuk berpesta pora tapi kenapa Ibu dan kakak-kakakku yang cantik malah bergosip di sini? Lupa ya kalau kita semua sedang melakukan perayaan!" omel Nania yang datang sambil berkacak pinggang.


"Ya ampun, Nania. Kenapa wajahmu hitam semua? Apa yang terjadi?" tanya Lusi kaget melihat wajah adiknya yang menghitam di sana sini.


Nania segera mengusap wajah kemudian melihat telapak tangannya sendiri. Matanya sampai membelalak lebar begitu tahu kalau ternyata wajahnya begitu kotor. Kesal karena merasa telah di kerjai, Nania langsung menunjuk ke arah pelaku yang membuat wajahnya jadi seperti ini.


"Dia pelakunya, Kak Lusi. Kak Gleen dengan sengaja mencoret wajahku menggunakan abu sisa membakar daging. Dia bilang agar aku terlihat seperti pasukan tentara yang sedang melakukan perang."


"Dan kau patuh-patuh saja saat kakak iparmu bilang begitu?" tanya Lusi sambil menahan tawa. Suaminya jahil sekali.


"Iyalah, kan aku ingin terlihat keren di acara perayaannya Kak Luri," jawab Nania bersungut-sungut. "Huh, tahu begini aku tidak mau mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Kak Gleen tadi. Awas saja, aku akan langsung membalasnya sekarang juga. Bersiaplah kau, Kak Gleen. Akan ku remukkan kantung semarmu itu. Dasar jahat!"

__ADS_1


Nita dan kedua putrinya hanya bisa menggelengkan kepala melihat Nania yang tengah mendatangi kakak iparnya sambil membawa pencapit kepiting. Kalian bisa bayangkan sendiri bukan apa yang ingin dilakukan oleh gadis nakal itu? Benar-benar pembuat onar. 😝


*****


__ADS_2