PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Enggan Untuk Jujur


__ADS_3

Lusi di buat terheran-heran dengan sikap adiknya yang lain daripada biasanya. Setelah kabar dadakan yang membuat semua orang kaget setengah mati, Luri tiba-tiba saja menjadi sosok yang sangat pendiam. Buktinya ya sekarang ini. Sedari mereka masuk ke dalam kamar, adiknya ini terus duduk membelakangi Lusi sembari memasukkan barang ke dalam koper. Sesekali Lusi juga seperti mendengar suara isakan lirih, tapi dia ragu untuk menanyakannya pada Luri. Namun karena keheranan yang Lusi rasakan jauh lebih besar, dia memutuskan untuk bertanya saja. Entah kenapa Lusi merasa kalau kesedihan Luri bukan berasal dari kepergiannya ke London, melainkan karena ada permasalahan lain yang terjadi.


"Luri, Kakak perhatikan sejak tadi kau terus saja bersikap aneh. Ada apa? Ini tidak mungkin berhubungan dengan keberangkatanmu besok pagi kan?" tanya Lusi sambil terus menatap lekat punggung adiknya.


"Aku hanya sedih, Kak. Malam ini adalah malam terakhir aku bersama kalian di sini. Padahal rencananya besok aku ingin mengajak kalian semua pergi jalan-jalan ke taman. Aku ingin memiliki banyak momen indah sebelum berangkat ke London," jawab Luri lirih tanpa berani menghadap ke arah sang kakak.


"Apa kau sudah mengabari Fedo tentang hal ini?"


Begitu nama Fedo di sebut, reaksi berbeda langsung terlihat di diri Luri. Dan hal ini tak luput dari pengamatan mata Lusi karena memang sejak tadi dia terus memperhatikan adiknya. Melihat reaksi tak biasa di diri adiknya membuat Lusi paham kalau penyebab adiknya ingin segera pergi dari Shanghai adalah Fedo. Ya, ini sudah tidak salah lagi kalau memang Fedo lah yang menjadi penyebab utama kepergian Luri.


"Kak Lusi, semua barangnya sudah selesai di kemas. Sekarang Kakak istirahat saja ya, kasihan bayi di perut Kakak," ucap Luri masih dengan posisi membelakangi kakaknya.


Tidak ada sahutan. Luri yang merasa heran pun memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Dan begitu dia menengok, hampir saja Luri jatuh terjerangkang saat wajah sang kakak berada tepat di depan wajahnya. Luri kaget.


"Astaga, Kak Lusi. Kapan-kapan Kakak berpindah di belakang tubuhku?" tanya Luri sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


"Kau menangis," jawab Lusi. Sengaja dia melakukan hal ini agar bisa melihat wajah adiknya dengan jelas. "Kau menangis bukan karena sedih karena besok pagi sudah akan berangkat ke London, tapi kau menangis karena Fedo. Kakak benar kan?"


Lusi dengan penuh sayang mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya Luri. Dia ikut sedih melihat adiknya seperti ini. Jujur, Luri adalah gadis yang sangat tenang dan jarang sekali menangis. Adiknya ini begitu pandai menempatkan kesedihannya di mana dia baru akan meluapkan ketika sedang sendirian. Tapi sekarang, bahkan di saat Lusi ada di sini Luri berani meneteskan air matanya. Ini menandakan kalau hatinya benar-benar sedang kelewat sedih.


Fedo, sebenarnya apa yang telah kau perbuat sampai Luri tidak bisa menahan air matanya? Kemarin kalian baru saja menjadi berita hangat di mana-mana, tapi kenapa sekarang Luri menjadi begitu sedih? Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? ujar Lusi dalam hati.


"Sayang, Kakak tahu ini privasimu. Akan tetapi tidak ada salahnya kalau kau mau sedikit membagi beban yang sedang kau rasakan. Ceritalah, jangan di pendam dalam hati karena itu akan membuatmu menjadi tidak fokus. Kakak janji ini akan menjadi rahasia kita berdua. Cerita ya?" bujuk Lusi.


"Sungguh tidak ada apa-apa, Kak. Aku menangis karena sedih akan berpisah dengan kalian. Itu saja," sahut Luri masih enggan memberitahu sang kakak tentang kabar menyakitkan yang tadi dia dengar.


"Jangan bohong. Kakak tahu kau sedang menyembunyikan masalah lain, Luri. Jujurlah, atau Kakak akan meminta kakak iparmu untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi antara kau dengan Fedo!"


Di ancam seperti itu oleh sang kakak membuat Luri menjadi sangat panik. Bagaimana tidak! Kakak iparnya dekat dengan Fedo, bisa gawat jika Fedo tahu kalau Kanita telah memberitahukan tentang kehamilannya. Luri tidak mau Fedo lari dari tanggung jawab, dia ingin Fedo menikahi Kanita.


"Luri, jangan paksa Kakak melakukan tindakan tegas padamu ya. Ini Kakak lakukan demi dirimu, sayang. Jadi jangan tertutup seperti ini. Terbukalah, jika ada masalah mari kita selsaikan bersama. Oke?" bujuk Lusi.

__ADS_1


"Kak Lusi, sepertinya hubunganku dengan Kak Fedo akan berhenti sampai di sini saja. Aku tidak mau memiliki hubungan apapun lagi dengannya. Aku ingin fokus belajar," ucap Luri yang akhirnya memilih untuk mengakui kalau memang Fedo lah yang membuatnya ingin segera pergi dari negara ini. Tapi hanya sebatas ini saja, tidak lebih. Luri tidak sanggup jika harus mengatakan pada kakaknya kalau sekarang ada seorang wanita yang sedang menuntut tanggung jawab dari Fedo atas masa depan seorang anak yang tidak sengaja hadir ke dunia. Dia tidak sanggup.


"Kenapa kau tiba-tiba mengambil keputusan seperti ini, Luri? Oke Kakak bisa mengerti kalau kau ingin fokus belajar. Akan tetapi beberapa waktu lalu kau sendiri yang bertanya pada Kakak apakah bisa mengejar dua piala sekaligus di mana kau ingin meraih cita-citamu dan juga memantaskan diri untuk Fedo. Kenapa sekarang berubah? Apa alasannya?" cecar Lusi penasaran.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa memberitahu alasannya pada Kakak. Ini terlalu menyakitkan, dan aku tidak mau Kakak merasakan hal yang sama seperti yang sedang aku rasakan sekarang," jawab Luri tetap tak ingin kakaknya tahu kebenaran apa yang coba dia sembunyikan.


Sadar kalau adiknya enggan untuk bicara jujur, Lusi memilih untuk mengalah saja. Toh yang akan menjalani adalah adiknya, jadi Lusi rasa dia tak cukup memiliki hak untuk ikut campur. Yang penting sebagai seorang kakak Lusi tidak melupakan kewajibannya untuk terus menjaga dan melindungi adik-adiknya semampu mungkin. Biarlah, mungkin sekarang ini Luri jauh lebih membutuhkan teman bicara ketimbang jalan keluar untuk masalahnya.


"Ya sudah, itu menjadi hakmu untuk tidak memberitahu Kakak. Tapi satu pesan Kakak, Luri. Jangan sampai masalah ini berlarut-larut yang mana akan berimbas pada pendidikanmu. Ingat, kau rela pergi jauh meninggalkan keluarga demi untuk sebuah kesuksesan. Jadi kau jangan sampai mengorbankan perasaan semua orang hanya karena seorang laki-laki. Kakak memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Fedo. Namun Kakak yakin betul kalau jodoh tidak akan kemana. Apapun itu anggaplah sebagai cobaan dalam hubungan kalian. Dan bersyukurlah jika memang Tuhan masih menakdirkan garis jodoh untuk kalian ke depannya nanti. Ya?" ucap Lusi memberi nasehat sebijak mungkin.


"Aku dan Kak Fedo tidak akan pernah bisa bersama, Kak Luri. Jadi aku tidak akan berharap lagi pada takdir Tuhan. Biar saja seperti ini. Karena mungkin memang ini yang terbaik untuk kami berdua," sahut Luri. "Kakak juga jangan khawatir. Sedari awal tekadku sudah bulat untuk mengejar cita-cita ini. Jadi ada dan tidak adanya Kak Fedo dalam hidupku itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Besok pagi aku mungkin akan meninggalkan kalian semua di sini, tapi aku janji beberapa tahun kemudian aku akan pulang dengan membawa sesuatu yang bisa membuat kalian semua merasa bangga. Tolong terus do'akan aku ya, Kak."


"Tentu, sayang. Kak Gleen, Kakak, Ayah, Ibu, dan juga Nania pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Ya sudah, karena semua barang sudah selesai di kemas lebih baik kau segera istirahat saja. Perjalanan dari Shanghai ke London cukup jauh, dan Kakak tidak mau kau sampai sakit karena kurang tidur. Oke?"


Dengan patuh Luri menganggukkan kepala. Setelah itu dia pamit pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan juga berganti piyama tidur. Lusi yang melihat adiknya sudah tidak sesedih tadi pun merasa sedikit lega. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh Fedo ya? Kenapa bisa membuat Luri menjadi begitu tegas untuk melupakannya? Apa jangan-jangan di Jepang sana Fedo memiliki selingkuhan? Astaga, kenapa jadi begini sih, batin Lusi pusing sendiri.


***


__ADS_2