
Luri yang hendak memejamkan mata tersentak kaget saat ponsel miliknya berdering. Dia segera bangun kemudian mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon.
"Kak Fedo? Untuk apa dia menelponku malam-malam begini?" gumam Luri heran.
Bunyi ponsel terus meraung-raung seolah memaksa Luri untuk segera mengangkatnya. Sebelum menjawab, Luri terlebih dahulu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Perbedaan waktu antara Shanghai dan Jepang adalah satu jam, yang artinya kalau sekarang di tempat Fedo masih pukul delapan malam. Pantas saja pria itu menelpon karena di negara sana masih belum terlalu malam.
"Halo Kak, ada apa?" tanya Luri sambil menyender ke kepala ranjang.
"Luri, kenapa lama sekali menjawab panggilanku? Kau sedang apa?" tanya Fedo dari seberang telepon.
Seulas senyum manis muncul di bibir Luri saat dia mendengar kekhawatiran dari nada suara Fedo. Tanpa sadar satu tangannya bergerak mengusap liontin yang menggantung di lehernya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ada sedikit kerinduan di hati Luri terhadap pria ini. Kekonyolan yang dilakukan Fedo terus terngiang-ngiang di pikirannya, membuat kerinduannya kian menumpuk.
"Aku baru saja mau tidur, Kak. Di sini sudah jam sembilan malam, sudah waktunya untuk kami beristirahat."
"Oh, aku pikir kenapa. Huftt, lain kali jangan lama-lama ya menjawab teleponku. Di sini aku sangat khawatir padamu. Oke?"
"Khawatir kenapa sih Kak? Di sini aku dan keluargaku baik-baik saja, tidak ada yang perlu di cemaskan."
__ADS_1
Kening Luri mengerut saat dia mendengar helaan nafas yang cukup besar dari balik telepon. Mendadak perasaannya jadi tidak enak. Jangan-jangan Fedo telah mengirimkan mata-mata untuk mengawasinya di sini. Makanya dia terlihat sangat khawatir saat panggilannya tidak segera di jawab. Luri kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak mau berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum tentu benar.
"Oh iya Luri, bagaimana dengan sekolahmu? Ada yang mengganggumu dan Nania tidak? Jika ada, jangan sungkan untuk menelponku ya. Akan kuatasi dengan cepat meski sekarang aku berada di Jepang. Oke?"
"Di sekolah semuanya juga baik-baik saja, Kak. Tidak perlu khawatir," jawab Luri. "Dan untuk Nania, Kakak juga tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia sekarang menjadi gengster di sekolah."
Luri langsung menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara teriakan Fedo yang cukup kencang. Dia kemudian terkikik pelan. Wajarlah jika Fedo sampai bereaksi seperti ini. Memangnya siapa yang tidak kaget jika mendengar ada gadis desa yang menjadi seorang gengster di tengah-tengah perkumpulan anak kota? Mau di pikir berkali-kali pun rasanya sedikit mustahil jika anak-anak kota sampai tunduk pada gadis pendatang. Terlebih lagi gadis tersebut berasal dari pedesaan yang gaya hidupnya sedikit tertinggal dari gaya hidup orang perkotaan. Tapi itulah Nania. Gara-gara insiden telur waktu itu, dia langsung di elu-elukan oleh teman sekelasnya. Bahkan Nania sama sekali tidak melakukan ritual yang biasanya dilakukan oleh anak baru, yaitu mentraktir teman-temannya untuk makan gratis di kantin. Luri saja sampai tercengang heran saat mendengar aduan dari teman sekelas adiknya yang mengatakan kalau Nania malah meminta mereka yang mambayarkan makanannya. Dia bingung bagaimana Nania bisa membalikkan keadaan seolah dialah yang menjadikan penghuni lama di sekolah mereka.
"Astaga Luri, kau tidak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa gadis beracun itu menjadi gengster di sekolah? Aku pikir Nania akan di bully habis-habisan oleh teman sekelasnya. Tapi kenapa keadaannya bisa terbalik begini ya?"
"Entahlah Kak, aku juga bingung. Tadi sore dia juga menakut-nakuti teman sekelasku yang datang ke rumah. Nania mengancam akan memaku kepala temanku jika berani berbuat mesum padaku. Padahal kami berdua itu hanya belajar bersama, bukan melakukan sesuatu yang tidak senonoh," jawab Luri menceritakan apa yang terjadi sore tadi.
"Teman sekelas? Siapa namanya? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Kak. Namanya Galang. Tadinya dia mengajakku belajar bersama di luar rumah, tapi aku menolak karena aku harus menyiapkan makan malam untuk Ayah dan juga Ibu. Jadi ya sudah aku tawarkan dia untuk belajar bersama di rumah ini. Dan untung saja dia mau!"
Setelah Luri berkata seperti itu, tiba-tiba saja suasana menjadi sangat hening. Luri terheran-heran karena Fedo hanya diam tak membalas ucapannya. Dia kemudian berpikir apakah kata-katanya ada yang membuat Fedo tersinggung atau tidak.
__ADS_1
"Kak Fedo, apa kau masih ada di sana?" tanya Luri setelah terdiam cukup lama.
"Luri, tolong jangan berdekatan dengan pria manapun lagi ya. Aku cemburu mendengar kedekatanmu dengan si Galang-Galang itu. Kau tahu kan kalau aku ini sangat menyukaimu? Aku bahkan sudah siap menjadi perjaka tua demi untuk menunggumu. Kalau kau tidak percaya, malam ini juga aku datang ke rumahmu untuk membuktikan rasa cintaku. Aku tidak masalah meski kau menolakku lagi. Karena aku akan terus melakukannya sampai kau bersedia menjadi kekasihku. Aku pria yang sangat setia bukan?"
Mata Luri langsung membelalak lebar begitu dia mendengar ucapan Fedo. Gila, ini gila. Fedo seperti orang tidak waras saja. Bagaimana mungkin pria itu ingin datang ke negara ini hanya gara-gara mendengar Luri belajar bersama dengan seorang pria yang notabennya adalah teman satu kelasnya sendiri. Namun, di balik kekagetan tersebut, Luri juga merasakan sesuatu yang sangat manis. Hati perempuan mana yang tidak tersentuh jika ada pria yang tidak letih untuk membuktikan rasa cintanya? Andai saja Luri sudah layak untuk menjalin hubungan, dia pasti akan langsung menerima Fedo. Tapi sayangnya keinginan Luri untuk sukses dan membahagiakan kedua orangtuanya jauh lebih besar dari perasaannya sendiri. Itulah yang menjadi alasan kenapa dia masih belum mau menerima Fedo sebagai kekasihnya.
"Antara aku dan Galang tidak ada hubungan apa-apa, Kak. Kami hanya berteman. Dia dan aku sama-sama hanya ingin fokus mengejar cita-cita. Jadi tolong jangan berpikiran yang tidak baik tentang kami ya," ucap Luri sambil menutup mulutnya yang ingin menguap.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu. Sekarang istirahatlah, aku tadi seperti mendengar suara orang yang sedang menguap."
"Iya Kak, di sini sudah malam dan aku sudah mengantuk. Tidak apa-apa kan kalau teleponnya aku matikan?" tanya Luri dengan sopan.
"Tidak apa-apa, matikan saja. Ingat ya, jangan dekat-dekat dengan pria manapun lagi. Nanti aku akan mengajak Nania untuk bekerjasama mengawasimu dan juga Galang. Ya sudah, kau tidurlah. Selamat malam dan semoga mimpi indah. I miss you...."
Pipi Luri sedikit merona saat mendengar ungkapan rindu yang di ucapkan oleh Fedo. Setelah itu dia meletakkan ponselnya ke atas meja lalu kembali berbaring. Sambil menunggu matanya terpejan, Luri membayangkan kekonyolan-kekonyolan yang dilakukan Fedo sebelum kembali ke Jepang. Pria itu, benar-benar sangat manis.
"Tunggu aku ya Kak. Jika benar berjodoh, aku pasti akan bersedia menjadi kekasihmu. Bersabarlah."
__ADS_1
πππππππππππππππππ
β Gengsss... PESONA SI GADIS DESA part 46-47-48 sudah up. . Jangan lupa mampir ke chanel yutub emak ya. Chanel βΆMak Rifani