PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Bulu Keriting


__ADS_3

Setelah jam sekolah usai, Galang mengajak Luri dan Nania untuk menjenguk Jovan di rumahnya. Mereka bertiga pergi dengan menaiki mobil masing-masing. Awalnya Galang berniat mengajak kedua gadis desa tersebut menggunakan mobil miliknya. Namun sayang, niatnya itu langsung di tolak mentah-mentah oleh Nania.


"Aku tahu kalau niat Kak Galang mengajak kami naik mobil bersama hanyalah modus agar bisa mendekati Kakakku. Iya kan? Mengaku sajalah. Mata dan raut wajahmu tidak bisa bohong!"


Kurang lebih seperti itulah kekejaman yang dilakukan Nania ketika menolak ajakan yang Galang tawarkan. Menjengkelkan memang, tapi Galang tidak bisa berbuat apa-apa karena memang benar itu tujuannya.


Sambil mengemudikan mobil, Galang terus saja merutuki lidah tajam Nania. Sungguh, Nania adalah satu-satunya penghalang terbesar dalam usahanya mendekati Luri. Adik kelasnya itu seakan tahu segala hal yang ingin dia lakukan. Terkadang Galang sampai keki sendiri ketika tujuannya di bongkar tepat di hadapan Luri, membuatnya menjadi kalang kabut mencari alasan untuk menutupi rasa malunya.


"Kalau Nania masih terus menempel pada Luri, aku yakin sampai kapanpun aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk memenangkan hatinya. Tapi bagaimana caraku untuk menjauhkan mereka ya? Meminta tolong pada Jovan? Itu jauh lebih tidak memungkinkan lagi. Dia saja tidak sanggup menahan tekanan yang terjadi di keluarganya. Lalu apa jadinya nanti jika aku sampai memintanya untuk menjauhkan Luri dari Nania. Yang ada aku malah semakin stres di buatnya. Arrghhh, apa yang harus aku lakukan?" gumam Galang seraya memukul stir mobil.


Anggaplah kalau Galang memang sedikit egois dalam menginginkan cintanya Luri. Dia sebenarnya sadar betul kalau gadis desa itu tidak menyimpan perasaan apapun terhadapnya selain atas dasar pertemanan saja. Namun Galang tetap tidak bisa membohongi hati kecilnya kalau dia masih sangat berharap Luri akan memberinya satu kesempatan. Terlepas dari ungkapan rasa yang dulu pernah di tolak oleh gadis desa itu, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi perasaan cinta yang Galang rasakan. Ya, dia benar-benar cinta mati pada Luri. Galang tak bisa lagi keluar dari jerat pesona sang gadis desa.


Tak lama kemudian, sampailah Galang di depan pintu gerbang rumahnya Jovan. Dia melirik ke arah kaca spion untuk memastikan kalau mobil yang membawa Luri dan Nania juga telah sampai di sana. Setelah itu Galang segera menekan klakson mobilnya, menunggu satpam membukakan pintu untuk mereka.


"Hmmm Jovan, aku sudah menepati janjiku dengan mengajak Nania datang menjengukmu di rumah. Awas saja kalau di dalam nanti kau tidak bisa bekerja sama," ucap Galang lirih sebelum keluar dari dalam mobil.


Di belakang Galang, terlihat Luri dan Nania yang juga baru keluar dari dalam mobil. Mereka terkesima melihat rumah Jovan yang ternyata jauh lebih besar dan mewah dari rumahnya Galang. Sungguh, mereka sangat tidak menyangka kalau selama ini mereka berteman dengan anak-anak orang kaya. Saking besarnya rumah Jovan, Luri dan Nania sampai terbengang-bengang melihatnya. Mereka baru tersadar dari kekagumannya setelah Galang mendatangi dan menegur mereka berdua.


"Hei, air liur kalian sudah menetes keluar. Sadarlah!" ledek Galang merasa geli akan keterkejutan kedua gadis desa ini ketika melihat kemegahan rumahnya Jovan.

__ADS_1


"Ha? Air liur kami menetes? Dimana?" tanya Nania gelagapan.


Segera Nania mengelap mulut menggunakan punggung tangannya untuk memastikan apakah benar air liurnya menetes atau tidak. Dan Luri juga melakukan hal yang sama. Bahkan wajahnya sampai memerah, dia malu karena ketahuan sedang mengagumi rumah megah yang ada di hadapannya.


"Hahaha, aku hanya bercanda, Nania. Siapa suruh kalian malah melamun di sini bukannya masuk ke dalam. Jadi ya sudah aku kerjai saja kalian berdua," jawab Galang tak kuat menahan tawa melihat raut gugup dan kebingungan di wajah kedua gadis desa ini.


Begitu mendengar pengakuan Galang, sebelah alis Nania langsung terangkat ke atas. Dia maju selangkah ke arah depan kemudian meninju perut Galang tanpa memberi aba-aba.


Bugghhhh


"Akhhh... Nania, apa-apaan kau!" pekik Galang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nania. Dia sampai membungkukkan badan akibat rasa sakit yang baru saja dia terima.


"Ck, Nania. Kenapa kau memukul Galang seperti itu sih? Bagaimana kalau dia sampai kenapa-napa? Kau sudah lupa ya dengan pesan yang di sampaikan oleh Ayah?" tegur Luri syok melihat adiknya yang tiba-tiba meninju perut Galang.


Khawatir terjadi sesuatu, Luri segera menolong Galang yang terlihat kesakitan. Dia menatap teman sekelasnya ini dengan raut wajah yang begitu bersalah.


"Lang, apa sakit sekali? Mau pergi ke dokter saja tidak? Maafkan Nania ya. Dia tidak paham kalau kau itu hanya berniat untuk bercanda saja. Tolong maafkan dia ya, Lang," ucap Luri merasa sangat tak enak hati.


"Rasanya memang lumayan sakit, Luri. Secara, adikmu itu kan penggila ilmu bela diri. Jadi wajar saja kalau pukulan tangannya sangat kuat," sahut Galang seraya menarik nafas dalam sebelum meluruskan tubuhnya yang masih membungkuk. Dia tidak bohong, pukulan Nania benar-benar sangat kuat. Perut Galang serasa kram saking kerasnya hantaman tinju Nania yang mana tepat di ulu hatinya. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan seperti apa rasa sakitnya?

__ADS_1


Nania menyilangkan kedua tangannya di atas dada sambil menatap sinis ke arah Galang yang sedang di bantu berjalan oleh sang kakak. Sambil berkomat-kamit tidak jelas, dia mengikuti langkah kedua orang ini yang tengah menuju kursi yang ada di depan rumah Jovan.


"Jangan polos-polos, Kak Luri. Aku tahu Kak Galang itu hanya sedang akting kesakitan saja. Dia itu kan laki-laki, masa iya kalah dari pukulan seorang gadis kecil sepertiku. Lemah sekali!" ejek Nania dengan sengaja.


"Jangan begitu, Nania. Lemah atau tidak, perbuatanmu dengan menyerang Galang sangat amat tidak di benarkan. Kau tidak seharusnya memukul Galang seperti tadi. Itu kekerasan namanya!" sahut Luri sambil menatap seksama ke arah Nania. Dia sedikit marah akan apa yang dilakukan oleh sang adik barusan.


"Kekerasan dari mananya sih, Kak. Lihat, Kak Galang baik-baik saja. Selain dari nyeri di perutnya, dia sama sekali tidak terluka. Jadi mana bisa Kakak menganggapnya sebagai kekerasan. Atau jika tidak bagaimana kalau aku buat wajah Kak Galang babak belur dulu. Baru aku akan menerima tuduhan yang Kakak ucapkan tadi. Bagaimana? Boleh tidak!" protes Nania yang dongkol karena sang kakak lebih membela Galang ketimbang dirinya.


Galang hanya diam mendengarkan Luri dan Nania saling berdebat. Dia sebenarnya sedikit tidak terima dengan ejekan Nania yang menganggapnya sebagai laki-laki lemah. Namun dia memutuskan untuk diam saja karena Luri sudah lebih dulu melakukan pembelaan. Kegirangan, itu sudah pasti. Siapa yang tidak merasa senang jika di bela oleh gadis yang kita sukai? Dan itulah yang sedang di rasakan oleh Galang sekarang.


Luri menarik nafas dalam-dalam saat mendengar protes yang dilakukan oleh Nania. Dia bukannya tidak tahu kalau Nania tidak benar-benar menggunakan tenaga dalamnya untuk memukul Galang. Akan tetapi Luri harus tetap menegurnya karena hal ini memang tidak sepantasnya Nania lalukan. Luri kemudian melihat ke arah Galang, dan tidak sengaja melihat senyum samar di bibirnya. Dia tertegun.


Apa kau masih begitu menyukai aku, Lang? Kau bahkan rela terlihat lemah hanya demi menarik simpatiku saja. Kalau memang benar rasamu masih sebegitu besar padaku, aku harap kau bisa segera melepasnya karena aku tidak akan pernah bisa membalas perasaanmu. Aku sudah memiliki seseorang di hatiku, Lang. Dan itu bukan kau, ujar Luri dalam hati.


"Ekhmm sudah, kalian jangan bertengkar lagi ya. Aku kesakitan karena tidak siap dengan serangan yang Nania lakukan tadi. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja kok. Sungguh!" ucap Galang cepat-cepat melerai saat Nania ingin kembali berdebat dengan Luri. "Dan untukmu, Nania. Aku minta maaf ya jika candaanku tadi membuatmu tersinggung. Aku tidak tahu kalau kau akan semarah ini padaku."


Nania mendengus. Dia menatap dingin ke arah Galang yang terlihat tidak tulus dengan ucapannya. Namun saat Nania hendak mencecar kakak kelasnya ini dengan racun berbisa yang dia miliki, Nania tanpa sengaja melihat kode yang di tunjukkan oleh sang kakak dimana dia diminta untuk diam. Paham kalau situasi hati kakaknya sedikit berbeda, Nania pun memilih untuk tak membalas permintaan maaf dari Galang.


Untuk kali ini aku akan memaafkanmu, Kak Galang. Tapi jika lain kali kau masih berani mengerjaiku seperti tadi, maka bersiaplah semua bulu yang melekat di tubuhmu menjadi keriting semua. Haha, aku ini Nania. Hanya aku yang boleh menjadi penindas, orang lain tidak boleh sampai menindasku, batin Nania seraya tersenyum jahat.

__ADS_1


*****


__ADS_2