PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Khilaf


__ADS_3

Saat hari mulai menjelang malam, barulah Kanita tersadar dari pingsannya. Dia membuka kelopak matanya secara perlahan, kemudian menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Hidup dan masa depannya sudah hancur, dan itulah yang sedang di pikirkan oleh Kanita sekarang.


Apa yang harus aku lakukan pada bayi ini? Ayah dan Ibu sudah terlanjur tahu sebelum aku sempat membuangnya, dan aku yakin mereka pasti tidak akan mengizinkan jika aku tidak mau membesarkannya. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? batin Kanita.


Saat sedang melamun, Kanita di kejutkan oleh sebuah elusan lembut di pipinya. Segera dia menoleh ke samping, menatap sendu ke arah wanita yang kini tengah tersenyum dengan mata membengkak parah. Sepertinya kali ini Kanita benar-benar telah membuat ibunya merasa sangat amat kecewa. Jejak air mata di wajah sang ibu menjadi buktinya.


"Kanita, bagaimana perasaanmu sekarang? Tidak ada yang sakit kan?" tanya Mili dengan suara serak. Dia sejak tadi tidak berhenti menangis di sisi ranjang putrinya. Mili sangat ketakutan.


"Bu, apa Ibu membenciku?" tanya Kanita parau.


"Sayang, kenapa kau bertanya seperti itu pada Ibu, hm?" sahut Mili kaget. "Mau seperti apapun dirimu, kau tetaplah putri kesayangan Ibu. Ibu tahu kau sedang mengalami masa sulit sekarang. Tapi kau jangan takut ya, ada Ayah dan Ibu yang akan selalu menemanimu. Kau tidak sendirian, Nak!"


Sebutir cairan bening meluncur deras dari sudut mata Kanita. Ingin, Kanita benar-benar sangat ingin memberitahu ibunya kalau dia begitu ingin menghilang dari dunia ini. Ya, Kanita depresi memikirkan hidupnya yang telah hancur tak bersisa setelah dia bertemu pria bernama Ando. Gara-gara pria brengsek itu Kanita kehilangan segalanya. Dia bahkan harus rela kehilangan cinta yang selama ini dia kejar. Hidup dan masa depannya hancur, juga dengan cintanya yang terbuang. Sungguh, Kanita tak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Dia tidak bisa jika tidak bersama Fedo.


"Bu, bantu aku membuang bayi ini. Aku tidak mau melahirkannya!" ucap Kanita penuh harap. Dia sampai terbangun dari pembaringannya kemudian memegang tangan ibunya dengan erat.


"Kau jangan gila, Kanita!" sentak Mili seraya menghempaskan tangan putrinya. "Sehina-hinanya wanita yang hamil di luar nikah, akan jauh lebih terhina lagi wanita yang membuang darah dagingnya sendiri. Ayah dan Ibu memang sangat kecewa akan perbuatan yang kau lakukan. Akan tetapi bayi itu tidak bersalah. Dia berhak untuk hidup dan kau jangan coba-coba berpikir untuk membuangnya. Paham kau!"

__ADS_1


Sungguh, Mili benar-benar tidak menyangka kalau putrinya bisa berpikiran rendah seperti ini. Bagaimana bisa Kanita terpikir untuk menghilangkan nyawa anaknya sendiri di saat wanita lain begitu berharap bisa mempunyai anak. Sesayang-sayangnya Mili pada Kanita, dia tetap tidak akan pernah membenarkan keinginannya itu. Dia tidak mau putri yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang tumbuh menjadi seorang pembunuh yang mana korbannya adalah darah dagingnya sendiri. Mili tidak mau itu.


"Tapi, Bu. Jika bayi ini tetap aku lahirkan bukankah dia akan mempunyai jalan hidup yang sangat menyedihkan? Aku tidak menginginkannya, dan dia juga tidak memiliki ayah yang akan mengakui keberadaannya. Bayi ini pasti akan menjadi bahan cemoohan teman-temannya nanti. Iya kan?" ucap Kanita masih berusaha membujuk sang ibu agar bersedia untuk membantunya.


"Kanita, otakmu terlalu lelah, Nak. Istirahat dan tenangkan hatimu dulu. Baru setelahnya kita bicara, kita cari jalan penyelesaian terbaik untuk semua masalah ini," timpal Dominic yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Otak dan lidahnya terlalu lelah sampai-sampai membuatnya hanya bisa terduduk lesu di sofa.


Kanita terkesiap. Dia baru sadar kalau ayahnya ternyata ada di dalam kamar ini. Emosi yang tadi sempat melonjak saat meminta bantuan dari sang ibu untuk menyingkirkan bayi ini, mendadak jadi down saat teringat dengan kata-kata yang ayahnya ucapkan sebelum pingsan.


"Ayah, jadi Ayah mendengar apa yang aku katakan pada Ibu barusan?" tanya Kanita hati-hati. Tatapan matanya lurus ke depan, dia takut untuk menoleh.


"Ya, dan Ayah sangat amat tidak membenarkan keinginanmu," jawab Dominic dingin. Setelah itu dia beranjak dari tempatnya duduk kemudian berjalan gontai menuju ranjang. "Kanita, dengarkan Ayah, Nak. Bayi itu sama sekali tidak bersalah, dia berhak untuk mendapatkan kehidupannya di dunia ini. Dan yang seharusnya lenyap dari muka bumi ini adalah kau dan juga pria yang telah menghamilimu itu. Kalian bersenang-senang tanpa memikirkan resiko apa yang bisa saja terjadi. Dan lihat sekarang. Kau dengan tidak tahu dirinya malah akan menyingkirkan seorang janin yang di paksa untuk hadir ke dunia ini. Tidakkah hatimu seribu kali jauh lebih kejam jika di bandingkan dengan iblis, Kanita? Atau kau jangan-jangan masih belum merasa puas hanya dengan mencoreng wajah Ayah dengan cara seperti ini jadi ingin kembali menambahkan aib sebagai seorang pembunuh? Iya?"


"Kanita, bisakah sekarang kau memberitahu Ayah siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab akan hal ini? Ayah mohon, Kanita. Jangan terus menutupi identitasnya. Katakan saja dengan jujur karena siapapun dia, Ayah akan tetap mengambilnya sebagai menantu. Jadi tolong beritahu Ayah ya?" ucap Dominic sekali lagi membujuk putrinya agar mau mengakui siapa ayah dari calon cucunya.


"Ayah, aku ... aku tidak bisa mengatakannya. Dia, pria itu ... aku tidak mencintainya. Semua ini hanya kecelakaan, kami sama-sama khilaf dan tidak sadar saat melakukannya!" sahut Kanita mulai panik ketika di cecar agar mengakui siapa yang telah membuatnya hamil.


"Khilaf?"

__ADS_1


Dominic terkekeh. Dia lalu mengusap wajahnya sampai memerah.


"Dom, tahan emosimu dulu. Kanita baru saja sadar, jangan memaksanya untuk bicara. Bersabarlah, beri dia waktu untuk menenangkan pikirannya dulu!" ucap Mili cepat-cepat mengingatkan suaminya untuk menjaga emosi. Dia sangat takut Kanita akan kembali pingsan jika kembali merasa tertekan.


Dominic menghela nafas. Setelah itu dia berdiri, menatap lama ke arah putrinya yang masih sangat pucat. Ada segurat kemurkaan, tapi ada juga rasa kasihan melihat nasib putrinya yang telah hancur akibat kebodohannya sendiri. Entah dosa apa yang telah Dominic lakukan di masa lalu sampai-sampai dia harus menerima karma sememalukan ini.


Tuhan, tolong kuatkan aku agar tidak menghabisi putriku sendiri. Semua ini adalah hal terberat yang pernah aku rasakan, Tuhan. Jadi tolong, jangan pernah tinggalkan aku meski hanya sedetik. Batin Dominic seraya melangkah keluar dari dalam kamar putrinya.


Sepeninggal suaminya, Mili langsung memeluk Kanita dengan sangat erat. Dia bingung, tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Di satu sisi Mili sangat setuju dengan suaminya yang meminta Kanita agar segera memberitahukan identitas pria yang telah membuatnya hamil. Akan tetapi di sisi lain Mili merasa sangat tidak tega melihat putrinya yang begitu tertekan hingga membuatnya terlihat seperti mayat hidup.


"Aku sangat menjijikkan kan, Bu?" tanya Kanita dengan emosi yang mulai tak terkendali. "Kenapa, Bu. Kenapa? Aku menginginkan Fedo yang menjadi suamiku, tapi kenapa malah pria lain yang menanam benihnya di rahimku. Kenapa Tuhan begitu kejam mempermainkan takdir cintaku? Apa yang salah denganku, Ibu? Apa yang salah? Aku hanya ingin menjadi istrinya Fedo, itu saja. Tapi kenapa Tuhan malah mempersulit semuanya? Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku, Bu. APA??"


"Kanita, tolong tenang, sayang. Kasihan bayimu, nanti dia terguncang," sahut Mili mencoba untuk menenangkan putrinya yang kembali histeris.


"Biar saja. Sekalian supaya anak sialan ini hilang dari tubuhku. Aku tidak sudi mengandung anak dari pria selain Fedo, Bu. Aku tidak sudi!"


Kanita berteriak sambil memukuli perutnya sendiri. Dan hal itu membuat ibunya menjadi sangat ketakutan. Dengan suara yang begitu melengking, sang ibu berteriak memanggil pelayan yang menunggu di luar kamar. Setelah itu mereka semua dengan paksa mengikat tangan Kanita pada kedua sisi ranjang, membuatnya kembali histeris sebelum akhirnya Kanita kembali jatuh pingsan. Dalam ketidaksadarannya, Kanita sebenarnya sempat menyebut nama Ando. Akan tetapi hal tersebut tidak di sadari oleh siapapun karena ibunya tengah sibuk menghubungi dokter. Sedangkan para pelayan, mereka sibuk membenarkan tali yang melilit tangan Kanita yang kini sudah terjebak di alam mimpi yang penuh pesakitan.

__ADS_1


*****


__ADS_2