PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Berani Berbuat Berani Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Fedo, sore ini pekerjaanmu di kantor masih banyak tidak?" tanya Mattheo di sela-sela makan siang bersama putranya.


"Tidak, Ayah. Mungkin hanya tinggal memeriksa pekerjaan para karyawan saja," jawab Fedo sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya. "Kenapa? Apa Ayah ingin aku melakukan sesuatu?"


Mattheo diam tak menyahut. Sejak pagi tadi entah kenapa perasaannya terus tidak enak. Mattheo mengkhawatirkan sesuatu tentang putranya, tapi dia bingung tentang apa.


"Ada apa, Ayah?"


Fedo meletakkan sendok ke atas piring kemudian menatap lekat wajah ayahnya. Dia menelisik dalam ketika mendapati raut kekhawatiran di wajah sang ayah. Fedo berujar kalau ayahnya pasti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Karena jarang sekali pria ini berprilaku kalem seperti sekarang.


"Fed, apa kemarin malam kita tidak terlalu keterlaluan pada Kanita? Entah kenapa Ayah terus saja merasa tidak enak. Ayah mengkhawatirkan sesuatu yang Ayah sendiri tidak tahu itu apa. Aneh kan?" ucap Mattheo seraya bertopang dagu.


"Apa Ayah sedang berpikir kalau Kanita akan kembali mengusik dengan mengatakan pada Tuan Dominic dan Nyonya Mili kalau bayi itu adalah anakku?" tanya Fedo kesal. Ya, dia benar-benar sudah sangat muak berurusan dengan Kanita. Fedo sangat ingin terlepas dari bayang-bayang wanita itu.


"Kalau itu sih Ayah tidak terlalu memikirkannya karena kartu as dari siapa ayah biologis bayi itu sudah ada di tanganmu. Kan tadi Ayah bilang kalau Ayah mengkhawatirkan sesuatu yang Ayah sendiri tidak tahu. Itu semacam rasa paranoid akan sesuatu hal yang belum pernah terjadi!" jawab Mattheo kebingungan saat ingin menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan.


Fedo tertawa begitu mendengar jawaban ayahnya. Lucu juga. Setelah menjadi mantan buaya darat, sepertinya sang ayah berniat menjadi seorang cenayang. Sambil terus tertawa, Fedo kembali melanjutkan makan siangnya yang tertunda. Dia membiarkan ayahnya terus bertanya-tanya tentang sesuatu yang telah membuatnya khawatir tanpa sebab yang jelas.


Di saat yang bersamaan, dari arah pintu masuk terlihat Dominic yang datang bersama dengan istri dan juga anaknya. Mattheo yang pertama kali melihat hal itupun langsung menghela nafas panjang. Entah drama apalagi yang akan terjadi jika seandainya ketiga orang tersebut sampai ada yang melihat keberadaannya bersama Fedo di restoran ini.


"Apa wanita yang sedang Ayah lihat mempunyai kecantikan yang jauh lebih memikat daripada kecantikan yang di miliki oleh Ibu, hm? Genit sekali!" sindir Fedo ketika melihat ayahnya terus menatap ke arah pintu masuk restoran.

__ADS_1


"Ayah bukan genit, Fed. Sembarangan saja kau!" sahut Mattheo kesal. "Masih mending jika yang sedang Ayah lihat adalah gadis seksi yang cantik dan juga montok. Tapi ini, astaga. Lama-lama Ayah bisa gila. Di pintu masuk restoran ini ada keluarga hiu megalodon yang datang berkunjung. Dan Ayah sedang bertaruh apakah mereka akan menyadari keberadaan kita di sini atau tidak. Jika tidak, maka kita harus banyak-banyak bersyukur karena kita tak perlu membuang banyak tenaga untuk menghadapi mereka. Tapi jika mereka menyadari keberadaan kita, maka bersiaplah untuk bersitegang dengan si hiu betina itu. Iyuhhh, aura yang keluar dari wajahnya benar-benar sangat negatif. Itu sangat tidak baik untuk kesehatan mata dan kebahagiaan kita, Fed."


Fedo tersenyum sinis setelah mendengar perkataan ayahnya. Tanpa di jabarkan dengan jelas pun dia tahu siapa orang yang di juluki sebagai keluarga hiu megalodon oleh sang ayah.


Pergilah sejauh mungkin dariku, Kanita. Jangan terus berada di sekitarku karena aku tidak mau di anggap sebagai pria yang kejam. Menjauhlah, berpura-puralah untuk tidak melihat aku dan Ayah di sini, batin Fedo malas.


Mungkin saat ini nasib baik sedang tidak ingin berpihak pada Fedo dan juga ayahnya. Buktinya, sesaat sebelum keluarga hiu megalodon itu duduk, mata tajam Nyonya Mili sudah lebih dulu menangkap keberadaan mereka.


"Cihh, tidak di sangka aku malah bertemu dua bajingan itu di restoran ini. Tapi baguslah. Dengan begini aku tidak perlu bersusah payah mendatangi kediaman mereka lagi. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan atas apa yang sudah kalian lakukan pada putriku semalam. Aku akan menuntut balas!" geram Mili sebelum berjalan menghampiri meja tempat musuhnya berada.


Kanita dan Dominic dengan cepat menyusul Mili yang tiba-tiba pergi menuju meja lain. Dan ketika Kanita melihat wajah ayahnya Fedo, dia langsung diam di tempat. Wajah Kanita memucat.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Ibu dan Ayah sedang menghampiri Fedo dan Paman Mattheo. Bagaimana jika mereka sampai nekat membongkar kehamilanku? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh tahu, tidak boleh! batin Kanita panik.


"Hmmm, Ayah. Kenapa restoran ini menjadi tidak nyaman ya? Ayah tahu tidak apa penyebabnya?"'tanya Fedo tak menghiraukan perkataan ibunya Kanita. Dia malas.


"Tidak," jawab Mattheo dingin. "Tapi Ayah akan segera mencari tahu apa penyebabnya. Kau tunggulah di sini dan habiskan makan siangmu."


Setelah berkata seperti itu Mattheo melihat ke arah Dominic. Dia lalu menggerakkan kepala, memberi tanda bahwa mereka harus bicara di meja lain. Dominic yang tanggap akan kode tersebut segera membawa istrinya untuk duduk di kursi yang tak jauh dari sana. Di susul oleh Mattheo yang datang sambil terus melihat ke arah Kanita.


"Aku tak ingin membuang waktu. Jadi kita langsung bicara pada intinya saja!" ucap Mattheo to the point. "Aku tahu kalian pasti ingin menanyakan alasan atas apa yang terjadi pada Kanita semalam 'kan?"

__ADS_1


"Tentu saja iya. Kau pikir kami sudi berbicara dengan orang-orang tak beradap seperti kalian jika bukan karena terpaksa? Hih!" sahut Mili cetus.


"Kalau begitu diam dan dengarkan kata-kataku dengan baik. Alasan kenapa aku dan Fedo menganggap Kanita sebagai wanita yang tidak mempunyai harga diri adalah karena dia yang terus mengejar Fedo di saat dia sendiri sedang berbadan dua. Kalian mungkin tidak tahu, tapi saat ini Kanita itu sedang hamil anak orang lain. Dan ingat, ini bukan fitnah. Aku bicara fakta, dan Kanita pun sudah mengakuinya semalam. Tapi jika kalian masih tidak percaya, bawalah dia periksa ke dokter kandungan. Kalian pasti akan tahu yang sebenarnya!" ucap Mattheo tanpa ragu memberitahu Dominic dan Mili tentang kehamilan putri mereka.


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Dominic dan Mili langsung bergetar hebat begitu mengetahui kalau hal yang mereka takutkan ternyata memang benar terjadi. Sungguh, mereka tidak percaya kalau Kanita benar-benar melemparkan kotoran ke wajah mereka dengan memberikan kabar yang begitu buruk melalui Mattheo. Mili yang memang sejak awal sudah sangat yakin kalau Kanita sedang berbadan dua pun tak kuasa untuk tidak menangis. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Dominic, menumpahkan semua air matanya di sana.


"Matt, apa kau mempunyai bukti kalau Kanita hamil?" tanya Dominic dengan suara gemetar.


"Tidak. Karena itulah aku meminta kalian agar membawanya pergi ke dokter kandungan. Cari tahu sendiri karena sudah cukup untuk aku memberitahu kalian sampai di sini saja," jawab Mattheo kemudian berdiri.


Sebelum kembali ke mejanya, Mattheo menyempatkan diri untuk menepuk bahu Dominic sebagai bentuk keprihatinannya. Dia tahu temannya ini sedang sangat syok, jadi memutuskan untuk tidak terlalu banyak bicara. Setelah itu Mattheo kembali duduk bersama Fedo, membiarkan pasangan suami istri itu saling menenangkan diri.


"Bagaimana, Ayah? Apa semuanya sudah beres?" tanya Fedo sembari menyeka mulutnya dengan tisu.


"Sebenarnya Ayah sedikit tidak tega saat ingin memberitahu mereka. Tapi jika Ayah tidak mengatakannya, mereka pasti akan kembali salah paham pada kita berdua. Jadi ya sudah, Ayah beritahu saja kalau sekarang Kanita sedang mengandung. Beres," jawab Mattheo pelan.


"Hahhhh, mau bagaimana lagi. Berani berbuat maka artinya harus berani bertanggung jawab. Begitu kan cara Tuhan mengatur hidup para hamba-Nya?"


"Kau benar sekali, Fed. Semoga saja setelah ini Kanita tak lagi menggangumu seperti dulu," sahut Mattheo terenyuh.


Tak mau berlama-lama untuk terus ada di sana, Fedo pun segera mengajak ayahnya untuk pergi dari sana. Dia sempat bertatapan sejenak dengan Kanita sebelum akhirnya benar-benar keluar dari restoran tersebut.

__ADS_1


*****


__ADS_2