PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Matrealistis


__ADS_3

Nania mengerutkan kening begitu melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Dia baru saja kembali setelah mengikuti les tambahan di sekolahnya.


"Kak Jovan, kenapa kau bisa ada di sini? Mau minta makan lagi ya?" tanya Nania curiga. Dia kemudian duduk di seberang sofa sambil menatap lekat wajah sang tamu.


"Ck, mulutmu benar-benar kejam, Nania. Memangnya tujuanku datang kemari harus karena ingin meminta makan padamu ya? Tidak manusiawi sekali kau."


Jovan menggerutu sambil menatap sebal ke arah gadis yang sedang duduk di hadapannya. Sebenarnya tujuan Jovan datang kemari adalah karena dia sangat mengkhawatirkan Nania setelah kakak iparnya datang ke sekolah siang tadi. Setelah Nania dan kakak iparnya keluar dari ruangan kepala sekolah, Jovan sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi karena gadis ini langsung pergi untuk menghadiri kelas tambahan. Hal inilah yang membuat Jovan memutuskan untuk datang kemari karena di rumah dia terus merasa tidak tenang.


"Hmmm terserah Kak Jovan mau bicara apa. Aku lelah, ingin istirahat," ucap Nania seraya mend*sah panjang.


"Nania," ....


Nania yang hendak pergi langsung menghentikan langkahnya saat Jovan tiba-tiba memanggilnya. Dia mengerutkan kening ketika mendapati Jovan yang terlihat gugup dan gelisah.


"Kau kenapa, Kak? Cacingan?" tanya Nania heran.


"Em bukan. Ini, aku ingin bertanya padamu tentang kejadian siang tadi," jawab Jovan sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Kejadian yang mana, Kak? Tentang perkelahianku dengan Marisa atau tentang keputusan kepala sekolah pada kami berdua. Cepatlah sedikit, tubuhku sudah sangat gerah. Aku lelah."


Sebelum bicara, Jovan berusaha untuk menormalkan detak jantungnya terlebih dahulu. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sudah menggangu pikirannya sejak pulang dari sekolah.


"Apa tadi kau di marahi oleh kakak iparmu?" tanya Jovan ingin tahu.


"Tidak!" jawab Nania singkat. "Kak Gleen malah memintaku untuk menjatuhkan orang yang melakukan bully dari atas tangga kemudian menghajarnya sampai puas. Kak Gleen juga bilang kalau dia yang akan bertanggung jawab jika seandainya orangtua dari siswa tersebut sampai membuat tuntutan ke kantor polisi. Kenapa memangnya, Kak?"


Rahang Jovan hampir jatuh ke lantai begitu mendengar jawaban bar-bar Nania. Tidak di sangka, rupanya kakak ipar dari gadis ini jauh lebih gila lagi. Sia-sia sudah Jovan mengkhawatirkan Nania kalau hasil akhirnya sangat jauh dari apa yang dia takutkan.


Kakak iparnya Nania itu waras apa tidak sih. Harusnya kan dia memarahi Nania atau bahkan menghukumnya. Tapi kenapa ini malah di dukung untuk membalas bullyan siswa lain dengan cara yang jauh lebih extreme. Aneh sekali, batin Jovan keheranan.

__ADS_1


"Kenapa malah diam sih, Kak. Aku kan sudah menjawab. Dasar aneh," omel Nania mulai kesal.


"Bukan, tadinya itu aku khawatir kau akan di marahi oleh kakak iparmu itu, Nania. Makanya aku datang kemari untuk memastikan keadaanmu," sahut Jovan kelepasan bicara. Setelah itu dia langsung diam seribu bahasa dengan wajah memerah menahan malu.


Seulas senyum jahat muncul di bibir Nania saat dia menyadari maksud dari kedatangan kakak kelasnya. Sedetik kemudian timbul niat untuk menjahili Jovan yang kini sedang kikuk karena ucapannya sendiri.


"Ohoo, jadi kau kemari karena mengkhawatirkan aku ya, Kak? Hehehe, jangan-jangan kau suka padaku ya makanya kau bersikap berlebihan begini. Hayo mengaku sajalah, aku tidak marah kok!" ledek Nania sembari menaik-turunkan kedua alisnya.


"Sembarangan. Kau pikir aku sudah tidak waras dengan menyukai gadis galak sepertimu apa. Yang benar saja kau, Nania!" kilah Jovan pura-pura marah. Padahal sekarang jantungnya sedang berdebar tidak karu-karuan karena ucapan Nania sangatlah tepat pada sasaran.


Khawatir perasaannya akan terbongkar, Jovan lalu memutuskan untuk pergi saja dari sana. Dia bisa mati berdiri jika tidak segera menghindari Nania yang masih tersenyum-senyum tidak jelas ke arahnya.


"Hehehe,wajahmu merah sekali si, Kak. Malu ya?" goda Nania lagi.


"Hmmm, sudahlah Nania. Kau jangan bicara yang tidak-tidak!" sahut Jovan kemudian bangkit dari duduknya. "Aku pulang dulu."


Nania langsung mencebikkan bibir saat Jovan dengan begitu terburu-buru keluar dari rumahnya. Dengan malas dia menyusul kakak kelasnya itu kemudian menyenderkan tubuh di daun pintu rumahnya.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Jovan begitu dia mendapat teguran dari si pemilik rumah. Dengan menahan rasa malu dia berbalik badan kemudian menghampiri Nania yang tengah menatapnya kesal.


"Apa telingamu sudah tuli sampai tidak mendengar saat aku berpamitan di dalam tadi, hm?" tanya Jovan berusaha untuk bersikap tenang.


"Kapan-kapan kau berpamitan padaku, Kak? Yang aku ingat kau hanya mengatakan 'aku pulang dulu'. Begitu," jawab Nania enggan di salahkan.


"Itu kan artinya sama dengan berpamitan, Nania."


"Mana ada seperti itu, Kak Jovan. Mungkin menurutmu itu sudah masuk dalam kategori berpamitan, tapi menurutku tidak."


Jovan gugup. Dan kegugupannya semakin jelas terlihat saat Nania tiba-tiba tersenyum aneh ke arahnya. Sungguh, baru kali ini Jovan bertemu dengan gadis yang mampu menjungkirbalikkan hati dan pikirannya. Bahkan sekarang kedua telapak kaki Jovan seperti tidak bisa di gerakkan saking gugupnya dia.

__ADS_1


"Nania, Jovan kemana?"


Dari dalam rumah terdengar suara lembut milik Luri yang sedang mencari keberadaan Jovan. Melihat hal itu pun membuat si pemilik nama langsung menarik nafas lega. Setidaknya untuk sekarang Jovan bisa terbebas dari jerat pesona Nania. Bukan, lebih tepatnya Jovan yang telah terbuai akan pesona ayu si gadis desa yang galak dan culas ini.


"Teman Kakak ada di sini. Dia ingin kabur setelah ketahuan sedang mengkhawatirkan aku," jawab Nania dengan jujur.


Luri segera datang mendekat. Dia kemudian berdehem pelan saat mendapati wajah Jovan yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Nania terlalu blak-blakan, Luri yakin Jovan pasti sedang sangat malu sekarang.


"Tidak hanya Jovan saja yang mengkhawatirkanmu, Nania. Tapi Kakak dan Galang juga sama khawatirnya seperti yang di rasakan oleh Jovan. Tadi siang Kak Gleen datang ke sekolah dengan raut wajah yang begitu marah. Lalu tanpa menjelaskan apapun pada kami bertiga kau dan Kak Gleen langsung pergi begitu saja. Kami takut kau di marahi secara brutal oleh Kak Gleen, Nania. Makanya Jovan datang kemari untuk memastikan kalau kau baik-baik saja!" ucap Luri berusaha menyelamatkan Jovan dari rasa malunya.


Terima kasih, Luri. Kau benar-benar malaikat penolongku. Huffttt, kau ini ya Nania. Kenapa tidak sepeka kakakmu sih? Heran, batin Jovan.


Kening Nania langsung mengerut saat mendengar sang kakak membela Jovan. Dia jadi curiga jangan-jangan kedua orang ini berniat untuk mengerjainya. Tapi alasan yang di ucapkan oleh kakaknya cukup masuk akal juga sih. Karena tadi siang Nania dan kakak iparnya memang tidak mengatakan apapun pada mereka bertiga perihal apa yang terjadi di dalam ruangan kepala sekolah.


"Oh, aku pikir Kak Jovan mengkhawatirkan aku karena dia menyukaiku," ucap Nania dengan santai.


"Memangnya tidak boleh ya kalau Jovan menyukaimu?" ledek Luri dengan sengaja. Mendadak dia ingin sedikit menggoda temannya ini.


"Luri, kau ini bicara apa sih. Aku tidak menyukai gadis bar-bar ini ya. Sembarangan!" sahut Jovan dengan cepat.


"Hilih, jangan sok jual mahal kau, Kak Jovan. Apa kau pikir aku juga menyukaimu? Tidak ya. Tapi meskipun benar kau menyukaiku, maka aku akan langsung menolakmu. Karena apa? Pertama, aku masih kecil. Kedua, kau masih anak bau kencur yang bahkan air kencingmu saja belum lurus. Dan yang ketiga, kau itu tidak punya uang. Heh, apa kau pikir aku akan membiarkan laki-laki tidak mapan sepertimu menjadi kekasihku? Tentu saja tidak. Laki-laki yang nantinya akan menjadi kekasihku haruslah kaya raya dan juga tampan. Mereka harus bisa menjamin hidup dan juga kebahagiaanku!"


Jovan dan Luri tercengang syok sambil menatap punggung Nania yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian saling menatap sebelum akhirnya sama-sama menggelengkan kepala.


"Darimana dia mendapatkan kata-kata seperti itu, Luri?" tanya Jovan tak habis fikir.


"Entahlah, Jo. Tapi perkataan Nania cukup masuk akal juga sih. Semua hal di dunia ini rata-rata selalu di ukur menggunakan materi. Jadi aku rasa tidak ada yang salah dengan menjadi seorang wanita yang matrealistis. Bagaimana tanggapanmu mengenai hal ini?" jawab Luri kemudian balas bertanya.


"Kalau di pikir-pikir ucapan Nania memang tidak salah sepenuhnya. Seorang laki-laki memang sudah seharusnya mencukupi semua kebutuhan para wanitanya. Apalagi sekarang semuanya serba uang. Jadi aku rasa tidak ada salahnya juga kalau Nania menginginkan pria yang kaya raya untuk menjadi kekasihnya. Karena itu merupakan planing yang sangat jelas untuk kebahagiaan masa depannya nanti."

__ADS_1


Setelah itu Jovan dan Luri menertawakan cara berpikir Nania. Di usianya yang masih begitu muda gadis itu ternyata mampu berpikiran jauh ke depan. Meski terkesan aneh, tapi kata-kata Nania ada benarnya juga. Uang memang bukan segalanya. Namun faktanya, segala-galanya membutuhkan uang. So, tidak ada perempuan yang matrealistis. Yang ada hanyalah pria pemalas yang tidak mau mengeluarkan uang untuk menyenangkan pasangannya. FIKS, NO DEBAT!


*****


__ADS_2