
"Kak Jovan, kau itu kenapa sih. Dari jam istirahat tadi kau terus saja mengikutiku. Sedang menguntit ya?" tuduh Nania seraya menatap galak ke arah kakak kelasnya yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Apa gunanya aku menguntit gadis galak sepertimu, Nania," jawab Jovan santai. Dia lalu melirik ke arah Luri yang sedang tersenyum samar.
Hehe, untung saja calon kakak iparku sangat peka. Kalau tidak, Nania pasti sudah memakanku hidup-hidup jika dia tahu aku menyukainya, batin Jovan kegirangan.
"Lalu kenapa kau terus muncul di sekitarku kalau bukan sedang menguntit. Alasan saja kau, Kak."
"Nania. Jangan kasar-kasar begitu saat bicara dengan orang lain!" tegur Luri. "Itu tidak sopan namanya."
"Biar saja, Kak. Siapa suruh Kak Jovan mengelak dari tuduhanku. Jelas-jelas sejak tadi dia terus menguntit, tapi dia tidak mau mengaku. Aku kan jadi kesal!" sahut Nania sambil mengerucutkan bibir.
Luri menghela nafas. Dia kemudian melihat ke arah Jovan yang tengah memandangi adiknya tanpa berkedip. Bukannya Luri keberatan kalau Jovan menyukai Nania, hanya saja dia khawatir kalau perasaan temannya ini akan terluka. Secara, cara bersikap dan berpikir Nania masih seperti anak-anak. Luri berani jamin adiknya tidak akan paham kalau Jovan diam-diam menyimpan rasa untuknya. Ingin melarang, Luri tak tega. Tetap di biarkan, Luri yang merasa tak enak hati karena sikap cetus Nania yang merasa risih saat di perhatikan oleh Jovan. Dia jadi serba salah sekarang.
"Nania, kau terfikir untuk mempunyai pacar tidak?" tanya Jovan tiba-tiba.
"Pacar?" beo Nania.
Jovan mengangguk. Dadanya berdebar kuat menantikan jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut gadis beracun ini.
"Ck, hei Kak Jovan, aku ini masih kecil. Jangankan pacar, uang saja aku tidak punya. Kau pikir orang pacaran itu tidak butuh modal apa. Ya kali kita yang pacaran tapi uang jajan masih meminta dari orangtua. Memalukan sekali!" ucap Nania tanpa ragu. "Lagipula ya, Kak. Aku hanya akan berpacaran dengan orang kaya yang sudah mapan lahir dan batin. Tidak sepertimu yang saat kencing saja airnya masih belum lurus ke depan."
Jovan dan Luri sama-sama terhenyak kaget begitu mendengar perkataan Nania. Setelah itu mereka saling melirik, mencoba melempar tanya melalui tatapan mata tentang siapa yang telah memberitahu Nania tentang perasaan Jovan. Merasa tak ada satupun di antara mereka yang membuka mulut, Jovan memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Nania.
__ADS_1
"Siapa yang bilang padamu kalau aku menyukaimu, Nania? Percaya diri sekali kau."
"Cihhh, badan dan usiaku boleh saja kecil, Kak. Tapi otakku itu tidak bodoh. Biasanya jika ada orang yang tiba-tiba menanyakan hal aneh, dialah sebenarnya yang merasakan. Nah, kebetulan tadi kau bertanya apakah aku terfikir untuk punya pacar atau tidak. Hal ini sangat menjurus tentang suatu perasaan yang sedang kau pendam untuk seorang gadis. Dan gadis yang kau maksud pasti aku. Iya kan, Kak? Mengaku sajalah," jawab Nania sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Dia senang sekali karena bisa membuat kakak kelasnya mati kutu.
Luri menundukkan kepala sambil menahan tawa. Tepat sasaran. Ya, jawaban Nania benar-benar sangat tepat yang mana memang benar adanya kalau Jovan menyukainya. Sungguh lucu, temannya ini terjebak oleh pertanyaannya sendiri. Biarpun polos, rupanya pemikiran Nania boleh juga. Entah ini karena pengaruh dari pergaulannya atau bagaimana, yang jelas Luri merasa terhibur oleh perkataan adiknya saat menangkap basah Jovan yang coba menutupi perasaannya dengan membawa nama orang lain hanya untuk mencari tahu apakah adiknya ingin memiliki pacar atau tidak. Kedua orang ini sangat menggemaskan sekali bukan?
"Hmm, kau salah besar kalau berfikir aku menyukaimu, Nania. Seleraku bukan cabe-cabean, melainkan gadis cantik dan elegan seperti kakakmu. Tahu kau!" ucap Jovan masih berusaha menutupi perasaannya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah dia yang tengah gemetaran menahan debaran di dada. Perkataan Nania tadi benar-benar sangat menohok perasaan Jovan karena hal itu memang benar adanya.
"Sembarangan menyebutku cabe-cabean. Biar begini aku adalah kebanggaan keluargaku, Kak Jovan. Aku cantik, anaknya Ayah Luyan. Kau mana boleh mengataiku seperti itu."
Kesal di katai cabe-cabean oleh Jovan, Nania akhirnya memilih pergi dari sana. Sambil bersungut-sungut, dia masuk ke dalam mobil yang memang sudah terparkir sejak tadi di halaman sekolah untuk menjemput dia dan kakaknya.
Sementara itu, Jovan dan Luri tak lantas menyusul kepergian Nania. Mereka memilih untuk mengobrol lebih dulu sembari menunggu Galang yang masih belum keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Kau tenang saja, Luri. Aku sudah menyiapkan mental untuk menghadapi hal-hal seperti ini dalam perjalananku mengejar cinta Nania. Ya meski tidak di pungkiri kalau kata-kata Nania terkadang memang seperti menusuk jantungku. Tapi ya sudahlah, mungkin itu adalah daya tarik yang di miliki adikmu. Tidak masalah," sahut Jovan dengan santai.
"Hmmm ... apa kau sudah benar-benar yakin memilih adikku, Jo? Kau itu tampan, pintar, dan juga berasal dari keluarga yang berkecukupan. Apa tidak masalah untukmu mengejar seorang gadis kecil yang bahkan tidak mengerti tentang apa itu cinta. Aku khawatir kau akan patah hati di tengah jalan jika tetap ingin mengejar Nania. Karena yang Nania tahu, cinta itu adalah uang. Dia bahkan bercita-cita ingin menikah dengan laki-laki yang kaya raya agar bisa hidup enak. Sesimpel itu cara dia berpikir."
Jovan tergelak. Yang benar saja Nania mendefinisikan menikah sampai seperti itu. Jika hal ini di dengar oleh pria lain, Nania pasti akan langsung di cap sebagai gadis matrealistis. Tapi ya sudahlah ya, kembali lagi kalau itu adalah pemikiran seorang Nania. Gadis desa dengan seribu kata-kata aneh yang bisa membuat orang lain ternganga syok.
"Kalian sedang membicarakan apa? Serius sekali," tanya Galang sambil menatap penasaran ke arah Luri dan Jovan.
"Oh, kau sudah keluar, Lang?" sahut Luri. "Ini, aku dan Jovan sedang membicarakan Nania. Tadi dia bertanya apakah Nania terfikir untuk memiliki pacar atau tidak. Dan seperti biasa, jawaban Nania sepertinya membuat Jovan sesak nafas."
__ADS_1
Galang mengulum senyum sambil menatap penuh ejek ke arah Jovan. Dia sudah bisa menebak apa yang di alami oleh temannya ini begitu nama Nania di sebut. Sambil merangkul bahu Jovan, Galang mengajak mereka menuju mobil. Hari sudah lumayan sore, sudah waktunya untuk mereka segera kembali ke rumah masing-masing.
"Apapun yang terjadi tetaplah semangat mengejar cinta gadis beracunmu itu, Jo. Aku yakin suatu saat Nania pasti akan mengerti perasaanmu," ucap Galang setelah sampai di depan mobilnya Luri.
"Aku tahu doamu sama sekali tidak tulus, Lang. Kau sedang meledekku kan?" tuduh Jovan kesal.
Galang tertawa. Dia dengan cepat menahan pintu mobil ketika melihat Luri yang ingin membukanya sendiri.
"Biar aku saja. Nanti tanganmu lecet."
"Cihh, rasanya aku seperti ingin muntah. Woeekkk!" ejek Jovan sambil bergidik geli melihat cara Galang memberikan perhatian pada gadis yang di sukainya.
Luri menggelengkan kepala melihat kelakuan Galang dan Jovan. Setelah itu dia bergegas masuk ke dalam mobil, meninggalkan kedua temannya yang masih asik berbalas ejekan.
"Kenapa, Nania?" tanya Luri heran melihat wajah adiknya yang begitu masam.
"Aku bukan cabe-cabean, Kak Luri. Aku gadis baik-baik," jawab Nania. Dia merajuk.
"Iya Kakak tahu. Tadi itu Jovan hanya bercanda saja. Jangan marah, ya?"
Nania membuang muka ke arah lain. Dia lalu memerintahkan sopir untuk segera pergi dari sana saat Jovan mengetuk kaca jendela samping tempatnya duduk.
Awas saja kau, Kak Jovan. Besok aku pasti akan membalas ejekanmu yang sudah berani menyebutku cabe-cabean. Hihh, geram Nania dalam hati.
__ADS_1
*****