
Luri terbangun dari tidur dengan nafas terengah-engah. Dia baru saja memimpikan sesuatu yang sangat buruk. Sangat amat buruk sampai-sampai membuat dadanya terasa begitu sesak.
Ya Tuhan, pertanda apa ini? Kenapa aku bermimpi tenggelam di dalam gulungan air yang sangat keruh? Ada apa? Mungkinkah akan ada musibah besar di keluargaku? Aku mohon jangan, Tuhan. Tolong lindungi Ayah, Ibu, Nania dan juga kedua kakakku. Tolong jangan biarkan kami mengalami musibah apapun. Aku mohon, Tuhan. Batin Luri resah.
Khawatir terjadi sesuatu pada kesehatan kedua orangtuanya, Luri pun bergegas turun dari ranjang. Dia membuka pintu kamar dengan sangat tergesa-gesa hingga lupa memakai alas kakinya. Tanpa mempedulikan keselamatannya saat sedang menuruni anak tangga, Luri terus berdo'a agar Ayah dan ibunya dalam kondisi yang baik-baik saja. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada mereka setelah mengalami mimpi buruk.
"Astaga, Luri. Pelan-pelan, Nak!" pekik Nita kaget melihat putrinya yang langsung melompati dua anak tangga sekaligus. Dia yang sedang duduk bersama suster yang merawatnya pun segera datang mendekat. "Ada apa, Luri? Kenapa kau berlarian seperti itu di tangga? Kalau tadi kau jatuh bagaimana, hm?"
Luri langsung menghambur memeluk ibunya dengan sangat erat. Nafasnya menderu, di sebabkan karena dia yang berlari tak beraturan juga karena dia yang lega melihat ibunya baik-baik saja.
"Sayang, ada apa? Kenapa nafasmu seperti ini?" tanya Nita kebingungan.
"Aku mimpi buruk, Ibu. Benar-benar sangat buruk," jawab Luri. Setelah itu dia mendongak, menatap penuh kekhawatiran pada mata sang ibu. "Aku bermimpi tenggelam dalam gulungan air yang sangat keruh, Bu. Rasanya sesak, sakit, dan juga penuh luka. Dan aku khawatir kalau itu menyiratkan tentang sesuatu yang tidak baik. Aku takut Ayah dan Ibu kenapa-napa."
Paham kalau putrinya sedang kepanikan, Nita dengan segera mengajak putrinya ini untuk duduk di sofa. Setelah itu dia meminta tolong pada suster untuk mengambilkan air minum di dapur.
"Ibu baik-baik saja, kan? Tidak ada yang sakit kan di tubuh Ibu? Ayah bagaimana?" cecar Luri.
"Sayang, setelah operasi waktu itu keadaan Ibu semakin membaik. Selagi Ibu menjaga pola makan sesuai dengan anjuran dokter, Ibu tak pernah merasa kesakitan lagi. Jadi kau jangan panik ya," sahut Nita dengan lembut. "Ayahmu semalam juga tidur dengan sangat nyenyak. Kami berdua sungguh baik-baik saja, Nak."
"Lalu apa arti mimpi itu, Bu? Aku benar-benar tidak bisa bernafas karenanya."
__ADS_1
Seorang pelayan muncul bersama suster dengan membawa segelas air hangat di atas nampan. Nita kemudian mengambil gelas tersebut lalu membantu Luri untuk meminumnya. Dengan penuh sayang Nita menyeka keringat yang membanjir di wajah putrinya ini. Dia kemudian menghela nafas dalam.
Biasanya jika ada orang yang bermimpi tenggelam di dalam air keruh mereka akan mengalami suatu kendala dalam tujuannya. Apakah mungkin Luri akan mengalami masalah sebelum pergi ke luar negeri? Tapi apa? batin Nita menebak-nebak.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih, Bibi," ucap Luri sesaat setelah menghabiskan air minum di dalam gelas.
"Sama-sama, Nona Luri. Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu," pamit si pelayan dengan sopan.
Luri dan Nita mengangguk. Setelah itu mereka sama-sama terdiam. Nita dengan terkaan-terkaannya, dan Luri dengan kebingungannya akan mimpi buruk yang baru saja dia alami. Hingga pada akhirnya kebisuan mereka dirusak oleh munculnya si ratu pembuat onar. Siapa lagi kalau bukan Nania.
"Kak Luri, Ibu. Kenapa kalian saling diam begini? Sedang marahan ya?" tanya Nania heran.
Kening Nania mengerut. Dia kemudian duduk di tengah-tengah antara ibu dan kakaknya. Setelah itu Nania membuka handuk yang dia gunakan untuk membungkus rambut basahnya.
"Kenapa Kak Luri harus menenangkan diri, Bu? Memangnya apa yang terjadi?"
"Kakakmu baru saja mengalami mimpi buruk."
"Mimpi buruk?" beo Nania. Setelah itu dia menatap kakaknya yang hanya diam dengan wajah sedikit pucat.
Eh, kenapa wajah Kak Luri pucat seperti zombie ya? Memangnya dia bermimpi apa sih sampai membuatnya jadi seperti ini? Apa jangan-jangan Kak Luri memimpikan Kak Fedo yang sedang berselingkuh dengan wanita lain ya? Hehehe, lucu sekali. Khayal Nania dalam hati.
__ADS_1
"Kak Luri, memangnya Kakak bermimpi apa? Mimpi melihat Kak Fedo sedang bersama perempuan lain ya?" tanya Nania sembari menoel pinggang kakaknya.
"Ck, Nania. Tolong jangan bercanda seperti itu. Kak Fedo tidak mungkin melakukan hal-hal seperti yang kau tuduhkan barusan. Jangan sembarangan menuduh orang, nanti jatuhnya fitnah!" jawab Luri dengan cepat menegur adiknya yang sudah sembarangan bertanya.
"Aku itu bukan menuduh, Kak Luri. Aku hanya bercanda, sekalian mengerjai Kakak. Lagipula ya, Kak. Kak Fedo itu sangat tampan dan juga kaya raya. Dan dia itu tinggal di tempat yang sangat jauh dari tempat kita tinggal sekarang. Bisa saja kan kalau di Jepang sana Kak Fedo memiliki wanita lain selain Kakak? Temanku bilang di mana-mana pria itu sama saja. Sama-sama suka melihat barang bagus, apalagi jika bentuk tubuh mereka menyerupai gitar Spanyol. Di jamin Kak Fedo pasti akan mimisan melihat isi dalamnya," sahut Nania dengan penuh percaya diri memperagakan bagaimana bentuk gitar Spanyol yang dia maksud dengan menggunakan kedua tangannya.
Luri yang tadinya sedang panik seketika tertawa mendengar perkataan Nania. Yang benar saja adiknya mengatakan sesuatu yang belum sepantasnya dia bicarakan. Sementara ibu mereka hanya bisa menghela nafas sambil mneggeleng-gelengkan kepala. Rupanya pergaulan membuat Nania dewasa sebelum waktunya. Menggemaskan, tapi juga aneh karena gadis ingusan seperti Nania dengan fasihnya menyebut kata gitar Spanyol di hadapan ibu dan kakaknya tanpa merasa canggung sedikitpun.
"Nania-Nania, sebenarnya kau itu berteman dengan anak usia berapa sih? Bagaimana bisa kalian semua menemukan kosakata aneh seperti itu? Kakak saja yang sudah hampir lulus sekolah baru pertama kali mendengarnya. Kau ini ya," ucap Luri seraya mencubit gemas pipi cubby adiknya. Dia sampai lupa dengan mimpi buruk yang sudah membuatnya panik setengah mati.
"Rata-rata temanku itu usianya sama sepertiku si, Kak. Akan tetapi pengetahuan mereka sangat luas, apalagi jika itu berhubungan dengan para pria. Mereka juaranya," sahut Nania jujur. "Kakak saja yang terlalu sibuk belajar dan membaca buku sampai-sampai lupa kalau sekarang zaman sudah sangat modern. Sekali-sekali berkumpullah dengan teman-teman Kakak yang modis. Aku jamin Kak Luri pasti akan ketagihan."
Luri tersenyum. Dia lalu mengusap rambut adiknya yang masih sedikit basah. Luri bukannya tidak ingin memiliki pergaulan seperti teman-temannya yang lain. Akan tetapi setiap kali teringat bahwa ada dua kebahagiaan yang harus dia kejar, membuat Luri enggan untuk membuang waktu. Biarlah dia menikmati hidup dengan caranya sendiri. Yang terpenting tujuan untuk membuat bangga ayah dan ibunya bisa segera tercapai. Juga dengan keinginannya untuk memantaskan diri demi agar tidak terlalu memalukan saat menerima Fedo nantinya.
"Nania, berjanji pada Kakak ya kalau kau tidak akan pernah terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat. Ingat pesan Kakak baik-baik. Kau boleh berteman dengan siapapun itu tanpa memandang gender. Akan tetapi Kakak minta kau harus segera menjaga jarak begitu menyadari kalau ada seorang teman yang ingin membawamu ke jalan yang salah. Ayah, Ibu dan juga Kak Lusi sudah membesarkan dan menyekolahkan kita dengan sangat susah payah. Jadi kita tidak boleh sampai mengecewakan mereka. Paham?" ucap Luri memberi nasehat pada adik kesayangannya.
"Aku paham sekali, Kak. Tenang saja, jangan panggil aku Nania kalau aku sampai terpengaruh bujukan mereka yang tidak baik. Aku memang nakal, tapi aku tidak akan mau di perbudak oleh siapapun. Termasuk indahnya pergaulan bebas. Aku hanya akan terbujuk oleh tipu daya sugar daddy tampan yang kaya raya. Dengan begitu kan aku bisa hidup enak. Hehehe!" sahut Nania dengan polosnya.
Semua orang tertawa mendengar perkataan polos Nania. Kepanikan yang tadi sempat menghiasi pagi langsung hilang seketika begitu Nania muncul. Dan juga karena matahari yang mulai menampakkan sinarnya, Luri pun pamit untuk pergi ke kamarnya. Pagi ini dia tidak ikut menyiapkan makanan untuk sarapan karena bangun kesiangan setelah mengalami mimpi buruk tersebut.
*****
__ADS_1