
Galang terus mencuri pandang ke arah Luri yang sedang fokus mengerjakan soal. Dia bahkan sampai lupa mengerjakan tugasnya sendiri saking terpesonanya dia pada gadis ini. Galang kemudian tersenyum saat teringat percakapannya dengan Luri ketika baru sampai di sini. Galang tidak menyangka kalau dirinya akan nekad berbohong hanya demi bisa mendapatkan simpatik dari Luri.
Flasback
"Lang, bukannya jadwal belajar bersama kita itu besok sore ya?" tanya Luri sambil meletakkan minuman di atas meja.
Galang sedikit gugup saat di tanya seperti itu oleh Luri. Sebenarnya malam ini bukanlah jadwal mereka untuk belajar bersama, tapi Galang nekad untuk tetap datang karena ingin membalas kemenangan Jovan yang sudah unggul lebih dulu. Galang takut dia akan kalah bersaing dalam memperebutkan kesempatan untuk mendekati Luri.
"Apa kedatanganku mengganggu waktu istirahatmu?" tanya Galang sedikit merasa bersalah.
"Bukan seperti itu maksudku, Lang. Aku hanya kaget saja melihatmu datang malam-malam begini. Cuaca di luar rumah sedang sangat dingin, aku khawatir kau terkena flu. Juga karena sebelumnya kau tidak mengatakan kalau ingin datang kemari. Makanya aku bertanya seperti itu," jawab Luri tak enak hati.
"Hmmm, ini salahku karena tidak memberitahumu lebih dulu. Maaf ya,"
"Tidak apa-apa. Karena kau sudah terlanjur ada di sini sebaiknya kita langsung belajar saja supaya nanti kau tidak pulang terlalu malam,"
Galang mengangguk. Dia begitu gembira karena kedatangannya di sambut dengan baik oleh Luri. Sambil menunggu Luri mengambil buku-bukunya di kamar, Galang mengambil selfi bersama segelas minuman hangat yang tadi di bawakan oleh si tuan rumah. Setelah itu dia mengirim foto tersebut ke nomor Jovan. Tak lupa juga Galang menambahkan caption yang tentunya akan membuat sang rival terbakar api cemburu.
Caption: Menikmati segelas minuman hangat di malam yang dingin. Kita seri, Jovan. Kau dengan es krim-mu, dan aku dengan teh hangat yang dibuat langsung oleh Luri. π
Flashback Now
"Lang ... Lang. Galang?" panggil Luri sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah Galang yang sedang melamun.
Galang tersentak kaget saat Luri terus memanggil namanya. Cepat-cepat dia menyadarkan diri dari lamunan lalu melihat ke arah Luri yang tengah menatapnya penuh kebingungan.
"Ya, ada apa?" tanya Galang.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja kan?" sahut Luri balik bertanya.
"Iya, aku baik-baik saja. Kenapa memangnya?"
Luri menarik nafas dalam-dalam. Dia lalu meletakkan pena di atas meja kemudian menatap lama ke arah teman sekelasnya yang entah kenapa malam ini terlihat sedikit aneh.
"Kau tidak menyahut saat aku memanggilmu tadi. Aku pikir kau di singgahi makhluk tak kasat mata. Makanya aku terus memanggilmu supaya kau tidak tersesat di alam bawah sadar. Kau membuatku cemas, Lang."
Apa?? Jadi Luri mencemaskan aku? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam sampai di khawatirkan oleh gadis desa ini. Ah, jantungku, batin Galang kegirangan.
"Lang, kau melamun lagi!" tegur Luri.
"Haaa??? Ah, hehe. Maaf-maaf," sahut Galang sambil tersenyum tidak jelas.
"Sebenarnya kau itu sedang memikirkan apa sih, Lang? Tubuhmu ada di sini, tapi pikiranmu berada di tempat lain. Kau sedang ada masalah ya?"
"Aku menjadi tidak fokus begini karena terlalu memikirkan kompetisi minggu depan, Luri. Rasanya sungguh tidak sabar untuk segera tahu siapa saja yang akan memenangkan beasiswa itu," ucap Galang beralasan.
"Oh, aku pikir apa Lang," sahut Luri seraya tersenyum kecil. "Sabar saja, nanti waktunya juga akan tiba dengan sendirinya. Dan di saat itu kita berdua akan menjadi rival."
"Iya juga ya. Kita sekarang belajar bersama-sama, tapi nanti saat berkompetisi kita akan menjadi lawan. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya,"
Luri tertawa melihat raut kaget di wajah Galang. Dia lalu menepuk bahunya pelan.
"Kita akan menjadi lawan untuk tujuan yang baik, Lang. Jadi jangan terlalu panik, di terima ataupun tidak kita akan tetap menjadi teman. Yang menang akan mendapat ucapan selamat, dan yang kalah harus tetap semangat belajar. Karena pintu menuju sukses tidak hanya lewat beasiswa itu saja. Ayah pernah bilang, dimana ada niat di situ pasti ada jalan. Dan aku sangat yakin dengan kata-kata tersebut," ucap Luri mencoba menenangkan Galang yang terlihat panik.
"Kau beruntung memiliki orangtua yang selalu memberi dukungan. Tidak seperti keluargaku yang hanya peduli pada karier masing-masing. Ayah dan Ibuku bahkan tidak peduli saat aku memberitahu mereka kalau aku ingin mengikuti kompetisi beasiswa. Mereka terkesan acuh dan menganggap kalau tanpa beasiswa pun mereka masih sanggup membayar biaya kuliahku. Hmmm, semuanya selalu di ukur dengan uang oleh mereka, Luri."
__ADS_1
Awan mendung langsung menyelimuti wajah Galang setelah dia selesai bicara. Ya, memang benar kalau hubungan antara Galang dengan orangtuanya tidak sehangat hubungan Luri dengan keluarganya. Terkadang Galang merasa iri setiap kali mengingat nasehat yang di sampaikan ayah tempo hari. Diabertanya-tanyaa dalam hati mengapa ayahnya tidak pernah melakukan hal serupa. Jangankan memberi semangat dan dukungan, bertanya tentang sekolahnya saja bisa di hitung dengan jari. Hal ini membuat Galang tumbuh menjadi pribadi yang acuh pada orang di sekelilingnya. Namun sikapnya itu langsung berubah semenjak kedatangan Luri di sekolah.
"Jangan berburuk sangka dulu terhadap orangtuamu, Lang. Mungkin mereka bersikap acuh karena lelah memikirkan pekerjaan. Kau sebagai anak harus bisa memahami kesulitan mereka. Ayah dan Ibumu bekerja keras seperti itu juga demi masa depanmu," ucap Luri mengingatkan.
"Iya aku tahu kalau mereka bekerja keras untuk mencukupi kebutuhanku. Tapi aku juga kan butuh waktu dan kasih sayang dari mereka, Luri. Aku ini anaknya, bukan orang lain!" sahut Galang dengan nada suara meninggi.
Sadar kalau temannya sedang kecewa, tanpa di duga-duga Luri memberikan pelukan hangat untuk Galang. Dia mencoba memahami kerapuhan hatinya yang tidak merasa cukup mendapatkan kasih sayang dari orangtua. Andai Luri yang ada di posisi Galang, mungkin Luri juga akan merasakan hal yang sama. Karena bagi setiap anak, kehadiran dan kepedulian orangtua adalah sesuatu yang tidak bisa di gantikan dengan apapun.
"Tidak apa-apa kalau sesekali kau ingin mengeluh, Lang. Itu wajar. Tapi tolong jangan pernah terfikir untuk membenci orangtuamu. Jangan hakimi mereka seolah mereka adalah orang yang sangat bersalah. Ini hanya soal waktu, kau bisa memperbaiki hubungan kalian dengan membangun komunikasi yang baik. Datang dan hiburlah ayah dan Ibumu sewaktu mereka lelah. Aku yakin mereka pasti akan merasa sangat bahagia memiliki anak sepertimu."
Pikiran Galang melayang entah kemana saat dirinya di peluk oleh Luri. Namun dia segera menyadarkan diri kalau apa yang sedang dilakukan Luri padanya adalah sebuah bentuk kepedulian seorang teman. Kali ini Galang berusaha sekuat mungkin untuk mengesampingkan perasaannya.
"Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Luri setelah mengurai pelukan.
"Terima kasih Luri. Pelukanmu membuatku merasa lebih tenang sekarang. Haaaahh, mungkin memang benar kalau aku sebaiknya memperbaiki komunikasi dengan Ayah dan Ibuku. Terima kasih lagi untuk saran hebat ini," sahut Galang lega.
"Sama-sama, Lang. Kalau begitu bisa kita lanjut belajar lagi?"
Galang mengangguk. Dia dan Luri akhirnya kembali larut mengerjakan soal yang sempat tertunda. Galang sungguh tidak menyangka kalau Luri tidak hanya cerdas dan mempesona, tapi Luri juga memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Gadis desa ini benar-benar paket yang sangat lengkap. Dia sempurna.
πππππππππππππππππ
β Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama ChanelnyaβΆ Mak Rifani, dan di sana part baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
πIg: rifani_nini
__ADS_1
πFb: Rifani