PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kemurahan Hati


__ADS_3

Setelah Mattheo dan Fedo berangkat ke perusahaan, Abigail membereskan meja makan dengan di bantu oleh para pelayan dan juga putrinya. Mungkin bagi sebagian orang hal-hal seperti ini enggan dilakukan oleh mereka yang berasal dari kalangan atas. Namun hal itu tidak berlaku bagi dua orang wanita yang berasal dari keluarga Eiji ini. Sebagai seorang ibu, Abigail terus mengajarkan pada putrinya bahwa kodrat sebagai seorang wanita adalah mampu melayani dan mengurus rumah tangganya dengan baik. Meskipun Kayo adalah anak emas dari keluarga yang sangat terpandang, Abigail tetap ingin putrinya bisa melakukan tugas-tugas seperti yang biasa dilakukan oleh para pelayan. Bukannya tidak ingin memperlakukannya seperti ratu, Abigail hanya ingin kalau Kayo bisa menguasai segala hal. Kayo-nya tidak boleh tumbuh menjadi gadis manja yang serba menggunakan uang untuk menyelesaikan segala urusan. Dia tidak mau seperti itu.


"Nyonya, bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas sebagian sudah mulai habis. Perlukah kami pergi ke supermarket hari ini untuk berbelanja?" tanya seorang pelayan.


"Oh, tidak usah. Kalian istirahat saja di rumah, nanti biar aku dan Kayo saja yang pergi berbelanja. Tolong kalian tulis apa saja yang ingin di beli ya. Sekalian juga dengan kebutuhan kalian," jawab Abigail sambil mengelap tangan.


"Baiklah. Terima kasih banyak, Nyonya."


Abigail mengangguk. Dia menoleh ke arah samping saat mendengar suara tepuk tangan seseorang.


"Kau benar-benar wanita panutan semua orang, Bu," ucap Kayo memuji kebaikan hati ibunya. "Aku rasa sudah sangat jarang orang kaya yang mau memperlakukan para pelayan seperti cara Ibu memperlakukan mereka yang bekerja di rumah kita. Aku sangat salut akan kemurahan hati Ibu."


"Jangan terlalu berlebihan dalam menyanjung Ibu, Kay. Karena apa yang barusan Ibu lakukan memang sudah sepantasnya untuk mereka terima. Meskipun mereka hanya seorang pelayan, tapi mereka juga manusia, sama seperti kita. Jadi kita tidak boleh memandang mereka hanya dengan sebelah mata. Apalagi kita sangat membutuhkan tenaga dari orang-orang yang bekerja sebagai pelayan. Lalu apa salahnya jika Ibu sedikit menyenangkan hati mereka? Toh itu tidak akan membuat Ayahmu jatuh miskin. Benar tidak?" sahut Abigail dengan begitu bijak.


"Benar sekali, Bu. Dari yang aku dengar, harta kekayaan kita malah akan semakin berlimpah jika kita tidak kikir terhadap sesama. Karena dari semua harta yang kita punya, ada sebanyak 2,5% yang bukan menjadi hak milik kita. Em, itu kalau tidak salah sih. Iya kan?"


Kayo langsung memeluk sang ibu ketika wanita hebat ini mengulurkan tangan ke arahnya. Dia tersenyum, merasa sangat tenang saat merasakan sebuah belaian halus di punggungnya.

__ADS_1


"Kay, harta tidak bisa di bawa mati. Mau sebanyak apapun kita mencari, tetap hanya satu badan kita saja yang akan di kuburkan. Nanti setelah kau dan Jackson menikah, jangan ragu untuk menyenangkan orang-orang tak mampu yang ada di sekeliling kalian ya. Dan juga jangan pernah berharap kalau mereka akan membalas, tapi berharaplah agar Tuhan selalu melindungi orang yang kita sayang. Mengerti?" ucap Abigail memberikan petuah untuk putri kesayangannya.


"Mengerti, Ibu. Aku pasti akan selalu mengingat petuah-petuah yang Ibu sampaikan," sahut Kayo. "Oh ya Bu, kita mendapat undangan untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya Levita dan Kak Reinhard. Sebenarnya mereka ingin kita datang saat acara pemberkatan, tapi mereka khawatir kalau kita sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi keluarga kita hanya di undang saat acara resepsi pernikahan mereka di gelar."


Sebelum menjawab, Abigail melepaskan pelukannya terlebih dahulu. Dia kemudian mengajak Kayo untuk duduk di ruang tengah sebelum melanjutkan obrolan.


"Apa pernikahan mereka sengaja di majukan? Seingat Ibu mereka bukan akan menikah di bulan ini. Apa karena MBA?" tanya Abigail penasaran. Bagi keluarga Liona, Reinhard sudah seperti putra kandung mereka sendiri. Dokter tampan dan cerdas itu sudah menempati posisi penting di hati semua orang semenjak menjadi sahabat dekat dari keponakannya.


"Levita bilang iya, Bu. Tapi itu terjadi bukan karena MBA, tapi karena Kak Reinhard yang cemburu melihat Levita di dekati laki-laki lain. Tidak di sangka ternyata Kak Reinhard posesif juga ya, Bu. Atau jangan-jangan dia jadi seperti itu karena tertular sikap bucinnya Kak Iel pada kakak ipar Elea. Jika iya, maka habislah Levita. Dia pasti akan sangat stres jika mempunyai suami yang kelakuannya sebelas dua belas dengan kelakuan Kak Iel. Aduhhh ... aku jadi tidak sabar menunggu curhatan tentang prahara rumah tangga mereka!" jawab Kayo sambil tertawa kesenangan.


Saat Abigail tengah berbincang riang dengan Kayo, seorang penjaga datang melapor kalau di luar ada ibunya Kanita yang ingin datang bertamu. Kayo yang teringat dengan kelancangan wanita itu saat mengacau di rumahnya langsung terpancing emosi. Tapi belum sempat dia pergi menghampiri wanita tidak tahu diri itu, lengan Kayo sudah lebih dulu di tahan oleh ibunya.


"Panggil aku jika wanita itu kembali membuat ulah, Bu. Tanganku sudah sangat gatal ingin merontokkan rambut di kepalanya," sahut Kayo sembari melangkah menuju kamarnya.


Bersama dengan penjaga yang tadi datang melapor, Abigail akhirnya pergi menemui ibunya Kanita. Kening Abigail mengerut ketika melihat ibunya Kanita yang datang dengan membawa lima bodyguard di belakangnya.


"Kau ingin datang untuk bertamu atau datang untuk merampok?" tanya Abigail sarkas. Saat ini tamunya tengah berdiri di luar pintu gerbang. Sepertinya ibunya Kanita tidak berani masuk ke dalam rumah setelah kejadian waktu itu.

__ADS_1


"Halah, tidak usah banyak bicara kau. Kedatanganku kemari adalah untuk memintamu memberitahu Fedo supaya tidak mengganggu Kanita-ku lagi. Kemarin malam dia mendatangi hotel tempat Kanita menginap, dan setelah itu Kanita jadi terlihat tidak baik-baik saja. Awas saja ya, kalau sampai putriku melakukan sesuatu hal yang buruk karena kedatangan Fedo malam itu, kalian semua akan aku tuntut. Ingat itu!" teriak Mili dengan menggebu-gebu.


"Fedo datang menemui Kanita di hotel?"


Kenapa aku merasa kalau hal ini bukan sesuatu yang baik ya? Jangan-jangan Kanita sedang merencanakan sesuatu untuk menjerat Fedo. Lebih baik nanti aku tanyakan pada Fedo apa saja yang mereka lakukan saat berada di hotel. Aku khawatir ini akan menjadi boomerang yang bisa merusak hubungan Fedo dengan Luri nantinya. Batin Abigail was-was.


Mili berdecih melihat Abigail yang malah diam berfikir. Sambil bersedekap tangan, dia kembali melayangkan ancaman untuk menggertak wanita ini agar tidak membiarkan putranya menggangu Kanita. Tak lupa juga Mili mengadukan kegilaan Fedo yang telah menyerangnya hingga meninggalkan bekas luka membiru di bagian leher.


"Ingat Nyonya Abigail, keluargamu dan keluargaku memiliki pengaruh yang sama-sama kuat. Akan tetapi aku tidak akan merasa takut sedikitpun untuk melaporkan kebejatan Fedo ke pihak berwajib. Aku pastikan putramu itu akan mendekam di dalam penjara jika masih kekeh mengganggu Kanita. Oh, satu hal lagi!" ucap Mili seraya membuka syal yang melingkar di lehernya. "Luka lebam ini adalah ulah Fedo yang tiba-tiba menyerangku tanpa alasan. Untuk luka ini aku masih bersedia memaafkan karena Kanita yang merengek agar aku tidak melaporkannya ke kantor polisi. Tapi jika di lain waktu hal ini kembali terjadi, kau tahu bukan apa yang bisa aku lakukan pada putramu?"


"Oh, jadi kau mengancamku?" tanya Abigail seraya menyeringai sinis. "Nyonya Mili, aku pikir peringatanku waktu itu cukup untuk membuatmu mengerti kalau aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keluargaku, terutama Kayo dan Fedo. Jika pun benar luka itu adalah Fedo yang melakukan, maka aku sangat yakin kalau kau lah yang lebih dulu memprovokasi kemarahannya. Sejak kecil aku selalu mendidik kedua anakku untuk menjauhi apa yang di sebut kekerasan. Tapi aku mengizinkan mereka untuk menyerang balik dengan tiga alasan. Pertama, dalam kondisi nyawa yang terancam. Kedua, untuk menolong orang lain dari kejahatan. Dan yang ketiga, ketika ada orang yang memprovokasi terlebih dahulu. Jadi Nyonya Mili, dari ketiga alasan ini nomor berapakah yang sudah kau lakukan? Aah, tidak perlu kau jawab karena aku sudah tahu apa jawabannya. Nomor tiga, kau pasti telah mengatakan sesuatu yang membuat amarah putraku memuncak. Benar tidak?"


Tanpa mengatakan apapun lagi Mili langsung pergi dari hadapan Abigail bersama kelima bodyguardnya. Dia mati kutu karena memang benar penyebab Fedo bisa menyerangnya adalah karena dia yang tidak berkata dengan baik.


"Cari tahu apa saja yang dilakukan Kanita beberapa hari ini. Pastikan tidak ada informasi yang terlewat!" perintah Abigail sebelum kembali masuk ke dalam rumah.


"Baik, Nyonya Abigail."

__ADS_1


*****


__ADS_2