PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Casanova Setia


__ADS_3

"Halo, sayang. Kau sedang apa?" tanya Fedo sambil memutar-mutarkan kursi kerjanya. Mendadak dia merindukan suara merdu milik Luri, jadi memutuskan untuk menelpon sebentar agar rasa penat yang dia rasakan bisa sedikit berkurang.


"Aku baru saja selesai makan malam bersama yang lain, Kak. Kakak sendiri sedang apa? Apa sudah makan?" jawab Luri dari seberang telepon.


Fedo langsung memilin bibir bawahnya saat di tanya seperti itu oleh Luri. Meleleh, itu sudah pastilah. Siapa yang tidak akan merasa seperti ini jika mendapat perhatian dari gadis yang kita sukai. Apalagi gadis itu adalah Luri, sudah pasti Fedo sangat amat merasa bahagia karenanya.


"Belum, sayang. Aku masih di kantor, ada beberapa pekerjaan yang harus selesai malam ini juga," jawab Fedo. "Sekarang kau sedang melakukan apa? Di kamar, atau sedang berada di ruangan lain."


"Aku di dalam kamar, Kak. Sedang mengemasi barang yang akan di ...


Fedo mengerutkan kening saat Luri tiba-tiba menjeda perkataannya. Wajah yang tadinya terlihat bahagia langsung berganti dengan raut penuh kecurigaan ketika Fedo tersadar kalau Luri baru saja menyebut kata mengemasi barang. Mungkinkah gadis desanya ini berniat bepergian? Tapi kemana? Dan kenapa juga Luri tidak melanjutkan perkataannya. Menggantungkan kata yang seolah sangat rahasia.


Apa yang sedang di tutupi Luri dariku ya? Ini bukan pertama kalinya dia membuatku curiga, tapi apa alasannya? batin Fedo bingung.


"Luri, sekarang tolong kau jawab jujur pertanyaanku. Kau bilang kau sedang mengemasi barang, ingin pergi kemana, hm? Ingin pergi kawin lari dengan Galang atau bagaimana? Aku bukan berniat membatasi pergaulanmu ataupun selalu ingin tahu apa saja yang akan kau lakukan, aku hanya khawatir, sayang. Aku takut kau kabur dengan teman sekelasmu itu," ucap Fedo mulai melantur. Dia benar-benar sangat takut Luri berpaling pada pria lain.


Untuk beberapa saat tak terdengar jawaban apapun dari dalam telepon. Tapi sedetik kemudian, terdengar suara tawa renyah Luri yang seperti sedang menertawakan ucapan Fedo.


"Ya ampun, Kak Fedo. Untuk apa aku kawin lari dengan Galang. Dia itu temanku, kami bukan pasangan kekasih. Kau ini ada-ada saja si, Kak. Sudah ya, jangan berpikir macam-macam. Aku mengemasi barang karena tadi baru saja pergi berbelanja dengan Nania. Kenapa kau bisa sampai terfikir ke arah sana sih. Aneh."


"Lagipula siapa suruh kau menggantungkan perkataanmu tadi. Jadi wajar saja kan kalau aku berpikir seperti itu? Huhff, membuat kaget saja."

__ADS_1


Fedo menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Lega rasanya karena Luri bukan ingin pergi melarikan diri dengan Galang. Tadinya Fedo sudah negatif thinking, tapi untungnya Luri langsung memberi penjelasan yang membuatnya merasa sangat lega.


"Oh ya, sayang. Sampai detik ini kau masih belum memberitahu universitas mana yang akan kau pilih untuk melanjutkan pendidikan. Bisa tidak sekarang kau mengatakannya, hm? Aku lelah menjawab pertanyaan Ayah dan Ibu di rumah, mereka selalu menanyakan hal ini setiap hari," ucap Fedo saat terkenang bahwa Luri tak pernah mau menjawab pertanyaan tentang dimana dia akan melanjutkan kuliah.


Sebenarnya bukan karena hal ini saja alasan Fedo bertanya seperti itu. Akan tetapi ada hal lain yang juga mendasarinya. Ya, Fedo merasa ada yang tidak beres dengan Luri. Gadis desa ini seperti sengaja menutup-nutupi tentang dimana dia akan melanjutkan pendidikan. Sebenarnya tanpa bertanya pun Fedo bisa meminta anak buahnya untuk mencari tahu penyebab kenapa Luri selalu menghindar setiap kali dia menyinggung tentang sekolahnya. Akan tetapi Fedo lebih memilih untuk mendengarnya langsung dari mulut gadis ini. Juga karena Fedo yang tak mau di anggap lancang karena sudah ikut campur terlalu jauh dalam kehidupannya Luri.


Dan seperti yang sudah-sudah, butuh waktu lama untuk Fedo mendapat jawaban dari Luri. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas kebungkaman Luri semakin menguatkan dugaan Fedo kalau memang benar ada rahasia yang sengaja di tutup-tutupi. Dan hal ini sedikit banyak mulai memantik amarah yang selama ini terpendam jauh di dalam diri Fedo.


"Kak Fedo, aku tahu sekarang kau pasti sedang berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku maklum, tapi sungguh, tidak ada rahasia apapun yang sedang kusembunyikan darimu. Aku bukan tidak mau memberitahumu, Kak. Akan tetapi aku memang belum memiliki jawaban untuk pertanyaanmu tadi. Jangan marah ya. Nanti setelah semuanya siap, aku pasti akan langsung memberitahu universitas mana yang akan ku pilih. Dan tolong jangan pernah berpikiran kalau aku akan pergi melarikan diri dengan Galang. Aku selalu ingat dengan janjiku, Kak. Jadi kau tidak perlu merasa cemas," ucap Luri berusaha menjelaskan dari dalam telepon.


Saat Fedo hendak berbicara, pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Dia lalu meminta Luri untuk menunggu sebentar sebelum akhirnya mempersilahkan orang tersebut agar masuk ke dalam.


"Fed, kau sedang apa? Pekerjaanmu sudah beres belum?" tanya Mattheo seraya berjalan masuk ke dalam ruangan.


Mattheo mengangguk. Dia kemudian duduk di sofa, melipat tangan di depan dada sembari memutar bola matanya jengah melihat Fedo yang sedang menaik-turunkan kedua alisnya. Sungguh sangat sialan anak ini. Berani sekali Fedo meledeknya.


"Luri, jangan percaya dengan ucapan buaya yang sedang bicara denganmu. Di sini Fedo selalu bergenitan pada wanita-wanita yang di temuinya. Tinggalkan saja dia sebelum kau menyesal!"


Bola mata Fedo seperti akan terbang keluar saat ayahnya tiba-tiba berteriak sambil menebar fitnah kejam. Khawatir kalau Luri akan termakan fitnah kejam tersebut, Fedo pun segera mengklarifikasi bahwa tuduhan ayahnya sangatlah tidak benar.


"Sayang, kau jangan percaya pada kata-kata Ayah barusan ya. Aku adalah pria yang sangat setia, aku tidak mungkin mengkhianati cinta kita. Dulu memang aku seorang Casanova, tapi sekarang tidak lagi. Hati, mata, nafas, dan juga hidupku hanya untukmu seorang, sayang. Tolong percaya padaku ya!"

__ADS_1


"Jangan khawatir. Aku tahu Ayahmu hanya sedang bercanda saja, Kak," sahut Luri dengan suara tawa tertahan di balik telepon.


"Kau benar percaya padaku kan, sayang?" tanya Fedo memastikan. Dia khawatir kalau Luri hanya sedang berpura-pura mempercayainya saja. Fedo tentu tidak mau kalau hubungan mereka sampai merenggang gara-gara fitnah ayahnya barusan.


"Iya, Kak Fedo. Aku sangat percaya padamu."


Fedo langsung menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Luri. Setelah itu dia melirik sinis ke arah pria paruh baya yang sedang tertawa sambil menutupi mulutnya. Untung saja kau itu adalah ayah kandungku. Kalau bukan, kepalamu pasti sudah botak di tanganku, ujar Fedo dalam hati.


"Kak, sudah dulu ya. Kau itu kan masih harus bekerja, dan Paman Mattheo juga sudah menunggu untuk mengajakmu pulang ke rumah. Nanti saja ya baru di sambung lagi obrolan kita. Aku tidak enak."


"Emmm, begitu ya. Ya sudahlah, nanti kita lanjut mengobrol lagi setelah aku sampai di rumah. Bahaya, karena di sini ada kelelawar berkepala manusia yang sukanya mengganggu kemesraan orang lain," sahut Fedo dengan sengaja menyindir ayahnya.


"Kau ini, Kak. Kalau begitu aku matikan dulu ya panggilannya. Hati-hati saat pulang nanti, dan jangan lupa untuk makan malam terlebih dahulu."


"Siap bos!" sahut Fedo semringah saat kembali menerima perhatian dari Luri.


Setelah itu panggilan terputus. Sambil menyenandungkan lagu cinta, Fedo kembali menggarap pekerjaannya yang masih lumayan banyak. Dia dengan sengaja mengabaikan keberadaan ayahnya karena masih merasa kesal atas kelakuannya tadi.


"Lucu juga ya melihat Casanova merajuk," celetuk Mattheo kembali mencari masalah.


"Aku ikan, aku tidak dengar," sahut Fedo tanpa mengalihkan perhatian dari berkas yang sedang dia periksa.

__ADS_1


Mattheo tertawa. Setelah itu dia tak lagi mengganggu putranya. Mata Mattheo fokus menatap layar ponselnya di mana di layar tersebut terpasang wajah seorang wanita cantik yang selalu saja membuatnya merasa rindu. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Abigail Eiji, si dewi perang yang telah berhasil membuatnya bertekuk lutut.


*****


__ADS_2