PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Membuat Adonan


__ADS_3

Sepulang dari berbelanja sayuran di supermarket, Abigail mengajak Kayo bersantai di halaman belakang. Dia tengah menunggu laporan dari anak buahnya yang dia suruh menyelidiki aktifitas Kanita beberapa hari belakangan ini.


"Bu, Kak Fedo tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa membuat kita semua kecewa padanya kan?" tanya Kayo yang memang merasa sedikit resah setelah sang ibu memberitahu apa yang di katakan oleh ibunya Kanita pagi tadi.


"Ibu juga belum tahu pasti, Kay. Kita sebaiknya tunggu kabar dari orang suruhan Ibu dulu. Kalau darinya ada yang tidak beres, barulah kita pergi ke perusahaan untuk menemui kakakmu," sahut Abigail dengan raut wajah yang terlihat tenang.


Fedo adalah putra kesayangannya, dan Abigail yakin kalau anaknya itu tidak mungkin melewati batasan yang bisa membuatnya merasa kecewa. Sejak kecil Abigail telah menerapkan satu didikan yang sangat keras agar Fedo tidak melecehkan harga diri seorang wanita, terkecuali jika mereka sama-sama menginginkan. Tapi Kanita, wanita ini adalah satu pengecualian. Abigail khawatir kalau Kanita akan menggunakan momen dimana Fedo datang menemuinya di hotel sebagai alat untuk menjeratnya. Meski bukan hal yang sulit untuk Abigail menghilangkan semua bukti yang mengarah pada putranya, dia bukanlah wanita sekejam itu yang akan membiarkan putranya lari dari tanggung jawab. Mau tidak mau Fedo harus menerima konsekuensi jika seandainya yang di takutkan oleh Abigail menjadi kenyataan.


Saat Abigail dan Kayo tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, dua orang penjaga datang kemudian membungkukkan badan ke arah mereka. Abigail kemudian menganggukkan kepala, memberi tanda agar mereka segera bicara. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya.


"Nyonya, kami telah mengumpulkan semua infomasi yang Nyonya inginkan. Kemarin malam Tuan Muda Fedo memang pergi ke sebuah hotel untuk mengunjungi Nona Kanita. Dan mereka berdua cukup lama berada di dalam ruangan yang sama. Untuk apa yang terjadi di dalam kami tidak bisa mencari tahu karena itu sudah masuk ke dalam pengawasan pihak keamanan hotel."


Rahang Abigail mengetat. Kayo yang menyadari atmosfer telah berubah segera meminta penjaga untuk kembali melanjutkan laporannya. Mendadak perasaannya menjadi tidak enak, dia mulai berfikir yang tidak-tidak tentang kakaknya.


"Mengenai apa saja yang dilakukan Nona Kanita setelah bertemu dengan Tuan Muda Fedo, dia hanya mengunjungi sebuah club untuk bersenang-senang dengan beberapa temannya. Setelah itu dia kembali ke hotel untuk beristirahat. Lalu pagi tadi Nona Kanita pulang ke rumah orangtuanya hingga sekarang."


"Kau yakin tidak ada yang salah dengan informasi yang kalian dapat?" tanya Abigail memastikan.


"Tidak, Nyonya. Kami berani menjamin kalau laporan tadi sudah sangat akurat."

__ADS_1


"Kalau begitu pergilah. Kembali ke pekerjaan kalian."


"Baik, Nyonya."


Sepeninggal para penjaga, Abigail terlihat gelisah. Entah kenapa perasaannya terus mengatakan kalau ada hal penting yang telah terlewat. Dan bisa jadi hal penting inilah yang akan menjerat Fedo pada suatu hal besar yang berhubungan dengan Kanita.


Jika Kanita hanya pergi ke sebuah club setelah bertemu dengan Fedo, lalu kenapa Nyonya Mili berkata seolah Kanita baru saja menerima perlakuan yang sangat buruk dari seseorang? Aku yakin tujuan Fedo menemui Kanita pasti bukan untuk meluapkan kemarahannya. Dia datang pasti hanya untuk mengajak Kanita berdamai dengan apa yang terjadi di antara mereka. Tapi kenapa aku merasa sangat tidak tenang? Kejadian apa yang sebenarnya telah terjadi malam itu? Batin Abigail.


"Bu, ada apa? Apa laporan penjaga tadi ada yang mengganjal di pikiran Ibu?" tanya Kayo penasaran.


"Ada, Kay. Dan Ibu yakin masalahnya tidak sesederhana yang di laporkan oleh mereka barusan. Ada yang janggal di sini. Seperti ada potongan puzzle yang sengaja di sembunyikan oleh seseorang. Tapi apa? Itu yang membuat perasaan Ibu menjadi tidak tenang," jawab Abigail seraya mengerutkan dahi.


"Aku rasa sebaiknya kita tanyakan langsung pada Kak Fedo saja, Bu. Kalau insting Ibu sudah berkata seperti itu, itu tandanya memang ada yang tidak beres di sini. Kanita adalah wanita gila dan juga licik, aku tidak mau Kak Fedo sampai menjadi korbannya, Bu. Kita harus bergerak secepat mungkin sebelum Kanita selangkah lebih maju dalam menjalankan rencana busuknya," ucap Kayo mengungkapkan pemikirannya.


"Kakakmu saat ini masih berada di luar kantor, Kay. Percuma kalau kita datang ke sana sekarang. Yang ada malah Ayahmu yang kesenangan karena Ibu datang berkunjung. Kita tunggu sore saja ya baru pergi ke sana?" ucap Abigail.


"Oh, aku kira kenapa saat Ibu tiba-tiba menahan lenganku. Ternyata karena ini," sahut Kayo seraya menghela nafas. Dia sudah was-was sendiri tadi.


Abigail mengangguk. Setelah itu dia meminta putrinya agar kembali duduk. Sambil membolak-balikan majalah fashion di tangannya, Abigail kembali membahas tentang kelanjutan hubungan putrinya dengan Jackson. Sampai hari ini Abigail belum juga menerima kabar baik tentang kapan putrinya akan di lamar oleh dokter tampan itu.

__ADS_1


"Kay, apa akhir-akhir ini Jackson tidak pernah lagi membahas tentang rencana lamaran? Ini sudah beberapa waktu terlewat sejak Ayah dan Ibu mempertanyakan keseriusan hubungan kalian berdua. Jackson tidak mungkin mengingkari janjinya sendiri kan?"


"Tidak seperti itu kejadiannya, Bu. Saat ini Jackson sedang sangat sibuk di rumah sakit, dan kebetulan Bibi Liona belum menyarankan dia untuk datang melamar dalam waktu dekat ini. Katanya sih harinya masih kurang tepat untuk kami berdua, makanya sampai sekarang Jackson masih belum datang menemui Ayah dan Ibu. Begitu ceritanya," jawab Kayo menjelaskan pada sang ibu alasan kenapa calon suaminya masih belum datang untuk melamar.


"Tapi seharusnya itu tidak lama lagi kan? Ibu sudah sangat tidak sabar ingin segera memilihkan gaun pengantin untuk pernikahanmu."


Kayo terkekeh. Dia sangat tahu kalau maksud di balik perkataan ibunya barusan bukanlah tentang gaun pengantin saja. Melainkan kehadiran seorang cucu di keluarga ini. Jika menunggu kakaknya menikah dengan Luri, maka itu masih sangat lama karena Luri sendiri masih akan melanjutkan pendidikannya terlebih dahulu. Jadi satu-satunya jalan agar ibunya bisa segera memiliki cucu adalah dengan mendesaknya untuk segera menikah dengan Jackson.


"Ibu-Ibu, bilang saja kalau Ibu sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu. Iya kan?" ledek Kayo sembari tersenyum usil. Dia bahkan dengan sengaja menoel dagu sang ibu hingga membuat wanita cantik ini terkekeh pelan.


"Memangnya apalagi yang bisa Ibu harapkan dari kau dan kakakmu selain kehadiran seorang cucu, Kay? Sekarang Ayah dan Ibu sudah semakin tua, kami hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak kalian nanti. Makanya Ibu selalu cerewet dengan tidak berhenti menanyakan kapan Jackson akan datang melamar. Ibu ingin segera di panggil Nenek!" sahut Abigail jujur. Toh memang benar kalau dia sangat mengidamkan seorang bayi lucu yang akan menghiasi hari tuanya nanti.


"Baiklah Ibuku sayang. Nanti aku akan memaksa Jackson agar secepat mungkin datang melamar kemudian menikahiku. Lalu setelahnya aku juga akan memaksa Jackson bekerja keras dalam membuat adonan supaya Ibu bisa segera di panggil Nenek. Bagaimana, aku adalah anak yang sangat patuh bukan?"


Abigail tertawa kencang saat mendengar ucapan konyol putrinya. Dia kemudian mengusap kepala Kayo dengan penuh sayang, tidak menyangka kalau gadis kecil yang dulu begitu nakal kini telah memiliki calon pasangan hidup.


"Setelah menikah nanti jagalah rumah tangga kalian dengan baik ya, Kay. Patuh, dan selesaikan semua masalah dengan kepala dingin. Paham?" ucap Abigail yang tiba-tiba merasa terharu. Dia seakan tak rela membiarkan putri kesayangannya di bawa pergi oleh orang lain.


"Paham, Ibu. Aku janji akan selalu mengingat dengan baik semua nasehat yang Ibu berikan kepadaku. Dan aku juga berjanji akan hidup bahagia bersama Jackson dan rumah tangga kecilku. Jadi Ibu jangan khawatir ya? Kan aku belum akan menikah sekarang," sahut Kayo kemudian memeluk sang ibu.

__ADS_1


Pembicaraan yang seperti ini selalu saja membuat Kayo merasa sedih. Sedih bukan karena sesuatu yang menyakitkan, tapi sedih karena merasa sangat bahagia memiliki orangtua seperti Ayah Mattheo dan Ibu Abigail. Kayo sangat beruntung karena di besarkan oleh pasangan suami istri yang selalu melimpahinya dengan banyak cinta. Hingga membuatnya bercita-cita ingin menjadi orangtua yang sama persis seperti ayah dan juga ibunya.


*****


__ADS_2