PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Cinta Adalah Uang


__ADS_3

Setelah pelajaran si guru pembunuh usai, Nania dan teman-temannya bergegas pergi ke kantin. Mereka perlu mengisi energi setelah di paksa kerja rodi oleh sang guru dengan mengerjakan hampir lima puluh soal matematika.


"Huhft, hampir saja otakku menitikkan airmata gara-gara guru pembunuh itu," gerutu Nania sambil mengibaskan tangan di depan wajah.


"Kau benar, Nania. Meskipun semalam aku sudah belajar sampai larut, tetap saja otakku tidak bisa berfungsi dengan baik ketika membaca soal yang di berikan oleh guru itu. Rasa-rasanya semua soal yang aku baca sama semua. Tidak ada yang masuk di akal," sahut salah satu siswa lainnya.


"Itu bukan karena otakmu yang tidak bisa berfungsi dengan baik, tapi matamu sudah rabun bodoh. Huh!" celetuk Nania sembari menoyor kepala temannya yang tadi bicara.


"Ihh Nania, jangan menoyor kepalaku seenaknya!"


"Lalu kau ingin aku melakukan apa pada kepalamu yang hanya berisi kebodohan itu hah? Ingin aku mencungkil otakmu lalu memberikannya pada ayam, iya?" sahut Nania jengkel. "Sudah, jangan berdebat lagi. Bicara denganmu sama saja seperti sedang bicara dengan badut. Membosankan!"


Setelah berkata seperti itu Nania dan teman-temannya langsung memesan makanan dan minuman. Penjaga kantin yang sudah tahu makanan kesukaan gerombolan Nania pun langsung bertindak dengan cepat. Mereka tidak ingin di sembur oleh si ketua gengster yang terkenal begitu galak dan mahir beladiri.


"Nania, aku ada pertanyaan untukmu."


"Pertanyaan apa?" tanya Nania malas. Dia lalu mengusap perutnya yang terus saja berbunyi. Maklumlah, pagi tadi dia tidak sempat sarapan.


"Kau percaya dengan yang namanya cinta tidak?"


Kening Nania mengerut saat mendengar jenis pertanyaan yang di lontarkan oleh temannya. Dia lalu mengusap dagu sembari memikirkan jawaban.


"Cinta ya? Kalau menurutku cinta itu adalah uang," jawab Nania.


"Uang? Yang benar saja kau, Nania. Mana ada cinta bentuknya uang. Matre sekali kau kecil-kecil."


"Hei, sebenarnya di dalam kepalamu itu isinya apa sih. Jelas-jelas kalau cinta itu adalah uang. Kenapa uang? Karena tanpa uang, cinta tidak akan pernah hadir. Memangnya kau pernah melihat perempuan yang mau menjalin hubungan dengan pria yang tidak memiliki uang? Tidak kan? Ini zaman modern guys, bahkan kencing pun kita harus membayar. Jadi menurutku cinta adalah uang, karena dengan uang kita bisa membeli persyaratan untuk pergi berkencan!"


Para kakak kelas yang saat itu berada di kantin langsung menoleh ke arah meja Nania. Benar juga sih apa yang dia katakan. Di zaman sekarang segala-galanya di ukur dengan uang. Entah itu penampilan, style, bahkan pergaulan. Bagi yang ber-uang mereka akan di puja bagaikan ratu dan raja. Sedangkan yang tidak memiliki uang, sudah pasti akan di asingkan atau bahkan di bully. Tapi sayangnya semua itu tidak berlaku pada Nania. Gadis yang baru saja mendefinisikan cinta sebagai uang sama sekali tidak mempedulikan jenis pergaulan seperti anak zaman sekarang. Dia mau berteman dengan siapapun. Dan jangan harap bisa membully-nya karena begitu mulut kalian terbuka untuk merendahkannya, suara kalian akan langsung kembali masuk ke dalam perut begitu mendengar kata-kata beracun miliknya yang tidak ada obat. Kehadiran Nania sungguh sangat meresahkan dunia pergaulan.


"Wahhh, akhirnya makananku datang juga!" pekik Nania kegirangan ketika pemilik kantin mengantarkan makanan yang dia pesan.


"Nania, tumben sekali kau makan makanan kantin. Biasanya kan kau selalu membawa bekal dari rumah," tanya salah seorang siswa sambil menatap horor ke arah Nania yang langsung menyantap nasi goreng dalam keadaan asap masih mengepul.


"Kalau aku sampai tersedak gara-gara kau mengajakku bicara, maka bersiaplah tubuhmu akan kusantap sebagai pengganti nasi goreng ini. Mau!"


Ucapan Nania sukses membungkam mulut semua teman-temannya. Alhasil, semua siswa langsung sibuk dengan makanan di piring masing-masing. Menyisakan para kakak kelas yang terheran-heran dengan tingkah dan polah si adik kelas yang bergelar sebagai pawangnya Luri.


Di pintu masuk kantin, Galang yang tengah memperhatikan Nania nampak terkikik lucu. Dia sungguh tak habis pikir dengan kelakuan adiknya Luri yang selalu berhasil membuat orang lain tercengang kaget. Awalnya Galang berniat mentraktir gadis galak itu dengan misi mendekati Luri, tapi ternyata Nania sudah lebih dulu ada di kantin dengan teman-temannya. Jadi Galang memutuskan untuk mengawasinya saja sembari menunggu celah untuk me nimbrung di sana.


"Ekhm, apa yang sedang kau lakukan di sini, Lang?" tanya Marisa.

__ADS_1


"Bukan urusanmu," jawab Galang acuh.


"Memang bukan sih. Tapi aku merasa aneh saja melihat kelakuanmu yang diam-diam mengintip adik kelas yang sedang asik menikmati makanan. Kau sebenarnya suka Luri atau Nania?"


Rasanya geram sekali melihat laki-laki yang kita suka menatap gadis lain sambil tertawa. Marisa iri, benar-benar sangat iri pada sepasang kakak beradik bernama Luri dan Nania itu. Di saat Luri tidak masuk sekolah, Marisa tetap saja tidak bisa mendapatkan perhatian Galang. Padahal sejak di dalam kelas Marisa tidak henti-hentinya melakukan sesuatu yang di sukai oleh Galang. Sayang, laki-laki ini begitu dingin. Jangankan tertarik, melirik sedetik pun tidak.


"Kalau aku suka keduanya kau mau apa hah? Kau sebaiknya pergi menjauh dariku, Marisa. Aku tidak suka melihat perempuan yang terlalu terang-terangan mengejar laki-laki. Itu terlihat menggelikan!" tandas Galang tanpa mengalihkan tatapannya dari arah Nania. Dia sungguh jengkel dengan perempuan di sebelahnya ini.


Merasa tertohok dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Galang, Marisa pun memutuskan untuk pergi dari sana. Dia sudah kalah telak sekarang.


Galang menoleh ke arah belakang saat mendengar suara tepuk tangan. Dia lalu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kuat. Sang rival datang.


"Tidak di sangka ternyata kau menyukai Nania juga ya, Lang. Sungguh mata keranjang!" sindir Jovan seraya tersenyum sinis.


"Kalau otakmu pintar kau pasti bisa membedakan mana kata candaan dan mana yang bukan candaan. Aku masih belum sebuta itu untuk jatuh cinta pada gadis sebar-bar Nania, Jo. Kasihan hidupku jika harus di sia-siakan untuk gadis sepertinya," sahut Galang santai tanpa merasa terprovokasi.


"Gadis sepertinya?" beo Jovan. "Luri pasti akan sangat marah jika sampai mendengar hal ini, Lang. Beraninya kau menyebut Nania seperti itu."


Galang mendengus. Terlalu malas meladeni ucapan Jovan yang terus memprovokasi. Galang kemudian kembali fokus ke arah Nania yang kini telah selesai dengan makanannya. Mengetahui ada celah untuk mendekatinya, Galang pun bergegas datang mendekat. Namun dia harus kembali menahan kesal karena ternyata Jovan telah mendahuluinya untuk mendekati Nania.


Dasar kadal buntung, batin Galang.


"Aku sedang malas berdebat, Kak. Pergi saja!" usir Nania sambil mengelus perutnya yang membuncit. Dia kekenyangan.


"Aku datang bukan untuk mengajakmu berdebat, Nia. Tapi aku datang untuk menawarkan es krim untukmu. Mau tidak?"


Nania menatap jengah ke arah Jovan kemudian mencebikkan bibir. Dia lalu berdiri, menepuk perutnya seraya mengucapkan kata yang membuat kakak kelasnya terdiam seperti orang bodoh.


"Nasi goreng yang masuk ke dalam perutku saja belum di proses dengan baik dan Kak Jovan dengan percaya dirinya menawarkan es krim untukku? Kalau kau ingin melihatku mati kekenyangan katakan saja terus terang Kak, jangan banyak alasan!"


Galang yang melihat rivalnya di sembur oleh Nania tak kuasa untuk tidak tertawa. Dia benar-benar sangat puas karena Jovan langsung kalah tanpa harus susah payah dia bertindak. Sepertinya Luri menang di gariskan untuk menjadi jodohnya karena Nania begitu mengerti apa yang dia mau. Sungguh kejadian yang sangat lucu.


"Nania, mulutmu kenapa kejam sekali sih. Kan kasihan Kak Jovan!" bela salah satu siswi yang mengidolakan bintang kelas IPS tersebut.


"Sekarang kau tanya padamu. Kau ada di pihak Kak Jovan atau ada di pihakku. Kalau di pihakku, jangan coba-coba membela orang lain yang sudah berani membuatku kesal. Tapi kalau kau berada di pihaknya Kak Jovan, anggap kita tidak pernah berkumpul untuk menggosip. Pilih yang mana!" omel Nania sambil berkacak pinggang.


Siswi yang tadi membela Jovan langsung menelan ludah. Mungkin Jovan adalah idolanya, tapi dia lebih takut pada Nania. Bisa tamat riwayatnya jika sampai bermusuhan dengan gadis desa ini. Alhasil, dengan berat hati siswi tersebut menunjuk ke arah Nania yang langsung membuat gadis bar-bar tersebut tersenyum penuh kemenangan.


"Nania, nanti malam kau ingin aku membeli cemilan apa untuk menonton film?" tanya Galang mengambil kesempatan untuk bicara.


"Em, kacang-kacangan, popcorn, boba tea, dan beberapa snack saja, Kak. Kalau Kak Luri, dia lebih suka kue kering yang tidak terlalu manis!" jawab Nania penuh semangat.

__ADS_1


"Oke, siap laksanakan Tuan putri. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Sampai jumpa nanti malam!"


Sambil melangkah pergi, Galang menyempatkan diri untuk menepuk bahunya Jovan yang tengah duduk diam dengan raut wajah begitu masam.


"Kali ini sepertinya aku akan kembali mendapat poin, Jo. Sabar ya. Pandai-pandailah merebut hati Nania. Hehe!" bisik Galang.


"Sialan kau, Lang. Lihat saja, aku tidak akan menyerah dengan begitu mudah. Persaingan ini pasti aku yang akan memenangkannya!" gumam Jovan kesal.


"Persaingan apa Kak?"


Nania menatap lekat ke arah Jovan. Dia tadi tidak sengaja mendengar gumamannya yang menyebut tentang kata persaingan.


"Oh, bukan apa-apa, Nania. Aku dan Galang tengah bersaing siapa yang akan mendapatkan nilai tertinggi di semester depan!" jawab Jovan gelapan.


Jovan merutuki kecerobohannya dalam hati. Hampir saja Nania mengetahui tentang persaingan yang dia sepakati dengan Galang. Jika hal ini sampai ketahuan, maka tamatlah riwayat mereka berdua. Jovan yakin sekali kalau Nania pasti akan langsung menghajarnya dan juga Galang jika tahu kalau kakaknya akan di jadikan sebagai hadiah dari persaingan tersebut.


"Ummm begitu. Ya sudah, yang semangat ya. Dari tampangmu harusnya kau bukan siswa yang bodoh, Kak. Jadi berjuanglah melawan Kak Galang sampai titik darah penghabisan!" ucap Nania memberikan semangat.


"Terima kasih, Nania. Oh ya, nanti malam aku boleh ikut menonton film di rumahmu tidak?"


Nania diam berfikir. Sedetik kemudian dia langsung mengangguk saat terbayang dengan berbagai macam snack yang akan di bawa oleh Galang dan juga Jovan.


"Boleh. Datang saja Kak, jangan sungkan-sungkan. Jangan lupa juga bawa makanan yang banyak, karena makanan di rumahku tidak ada yang gratis."


"Gampang kalau hanya soal makanan, Nania. Nanti aku akan membawa jauh lebih banyak dari Galang. Oh, tolong beri aku nomor kontakmu supaya nanti aku bisa menelponmu saat berada di supermarket!" ucap Jovan kemudian menyodorkan ponselnya pada Nania.


Para siswa lain menjadi sangat iri melihat Nania yang di dekati oleh dua siswa tercogan di sekolah ini. Mereka saling berbisik, termasuk juga dengan teman-teman Nania yang kini menatapnya dengan penuh harap.


Setelah mendapat nomor Nania, Jovan pun pamit pergi dari kantin. Dia tersenyum lebar saat membayangkan raut terkejut di wajah Galang begitu tahu kalau malam ini dia juga akan datang berkunjung ke rumahnya Luri.


"Malam ini poin akan menjadi milikku, Lang. Jangan harap kau bisa menang!" gumam Jovan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


**βœ…Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanekn,β–ΆMak Rifani, jangan lupa mampir dan beri dukungan ya


πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss


πŸ’œIg: rifani_nini


πŸ’œFb: Rifani**

__ADS_1


__ADS_2