
Sesampainya Fedo di Negara N, dia bergegas datang ke rumahnya Luri. Tubuhnya yang lelah tak menghalangi langkahnya yang ingin segera bertemu dengan si pujaan hati. Dan kebetulan saat Fedo sampai di depan pintu gerbang rumahnya Luri, Gleen dan istrinya datang berkunjung. Mereka kemudian bersama-sama masuk ke dalam rumah sambil berbincang hangat.
"Bukankah kau ini orang yang sangat sibuk ya, Fed? Kenapa sekarang malah terdampar di negara ini. Di rumah mertuaku pula," tanya Gleen kemudian mempersilahkan tamunya untuk duduk. "Sweety, tolong panggilkan Ayah dan Ibu kemari ya. Katakan pada mereka ada tamu jauh yang datang berkunjung."
"Baiklah," sahut Lusi kemudian pergi ke kamar orangtuanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Fed. Apa yang membuatmu datang ke negara ini?" tanya Gleen lagi. Dia merasa ada yang salah dengan raut wajah temannya yang terlihat murung.
"Luri mengabaikan aku tanpa sebab, Gleen. Itulah kenapa sekarang aku bisa ada di sini," jawab Fedo lesu.
"Kau jauh-jauh datang dari Jepang hanya karena hal sekonyol ini? Wahh kau gila, Fedo."
Di ejek seperti itu Fedo hanya diam saja. Mungkin ucapan Gleen benar kalau dia itu memang sudah gila. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar stres di diamkan seperti ini oleh Luri. Fedo butuh penjelasan mengapa tiba-tiba sikap Luri berubah. Padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja.
"Kak Fedo, kenapa kau bisa ada di sini?"
Gleen dan Fedo langsung menoleh ke arah tangga saat mendengar suara Nania. Mereka kemudian sama-sama menelan ludah melihat ekpresi di wajah Nania yang terlihat sangat tidak bersahabat.
"Aaaa, aku tahu. Kak Fedo pasti ingin menemui Kak Luri kan?" tanya Nania sambil berjalan mendekat. "Dia sedang tidak ada di rumah."
"Memang kakakmu pergi kemana, Nania? Tidak biasanya di jam begini dia tidak ada di rumah," tanya Gleen heran.
"Iya, benar. Luri adalah gadis rumahan yang tak pernah pergi-pergi keluar. Dia kemana?" cecar Fedo gelisah. Pikirannya mulai tidak enak.
Bulu kuduk Fedo meremang saat mendapati satu seringai jahat di bibir Nania. Meskipun begitu, Fedo tetap menanti jawaban dari gadis nakal ini.
"Kak Luri pergi bersama Kak Galang sejak sepulang sekolah. Sepertinya mereka berdua makan malam romantis," jawab Nania dengan sengaja memanas-manasi Fedo.
__ADS_1
"Makan malam romantis?" ucap Fedo membeo.
Nania mengangguk. Rasanya senang sekali bisa mengerjai pria genit ini. Saat Nania tengah menikmati kejahilannya, kedua orangtua bersama dengan kakaknya muncul dari dalam kamar. Dan kemunculan ketiga orang ini membuat keusilan Nania jadi terbongkar.
"Luri tidak pergi dengan Galang, Fed. Dia sedang keluar untuk membeli kebutuhan sekolah yang akan di bawa besok pagi!" ucap Nita merasa tak enak pada sang tamu.
"Jadi Nania berbohong ya, Bi?" tanya Fedo sembari menghela nafas lega.
Nita mengangguk. Setelah itu dia duduk di sebelah putri bungsunya yang nampak cemberut karena kenakalannya di bongkar. Sambil tersenyum, Nita membelai rambut putrinya dengan penuh sayang.
"Lain kali jangan berkata bohong ya, sayang. Nanti Kak Fedo berpikir yang tidak-tidak tentang kakakmu!" tegur Nita perlahan.
"Aku hanya berbohong sedikit, Bu. Lagipula hal ini kan bisa membantu Kak Luri untuk menjauhi Kak Fedo. Semalam aku dengar pembicaraan Ayah dan Ibu yang tidak mengizinkan Kak Luri untuk berpacaran dulu dengannya. Iya kan?" sahut Nania dengan polosnya.
Luyan dan Nita menjadi salah tingkah saat Fedo menatap seksama ke arah mereka. Nania ini benar-benar. Bisa-bisanya dia membongkar hal seperti ini di hadapan orang yang bersangkutan.
Glenn dan Lusi yang tidak tahu apa-apa hanya duduk diam menyimak semua pembicaraan. Mereka sendiri cukup kaget saat mendengar ucapan Nania yang menyebut kalau Luri tidak di izinkan untuk berpacaran dengan Fedo. Padahal Fedo sendiri begitu di sukai oleh orangtua mereka.
Tak ingin terjadi salah paham, Luyan segera memberi penjelasan pada Fedo. Namun sebelum itu dia meminta Lusi agar membawa putri bungsunya untuk masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau Nania sampai mengetahui sesuatu yang tidak sepatutnya dia ketahui.
"Fedo, tolong kau jangan salah paham dulu dengan ucapan Nania. Benar kalau Paman dan Bibi melarang Luri berhubungan dekat denganmu. Tapi semua itu ada alasannya," ucap Luyan serius.
"Kalau begitu apa alasannya, Paman? Apa aku tidak cukup baik untuk putri kalian?" cecar Fedo dengan wajah memelas.
"Bukan, bukan seperti itu. Kami melarang Luri berhubungan denganmu karena kami sadar kalau status kita sangat jauh berbeda. Kau adalah seorang Tuan Muda, Fed. Sementara Luri, dia hanya gadis desa biasa yang beruntung karena memiliki kakak ipar yang kaya raya. Kami khawatir Luri akan menjadi bahan gunjingan jika orang lain sampai mengetahui latar belakangnya. Kau pasti paham dengan penjelasan yang Paman katakan bukan?" ucap Luyan menegaskan.
Fedo diam seribu bahasa. Lagi-lagi kasta yang menjadi masalah. Ingin rasanya Fedo meneriakkan di hadapan orangtua Luri kalau dia dan keluarganya sama sekali tidak pernah mempermasalahkan tentang status. Karena di mata orangtuanya kebahagiaan Fedo dan Kayo adalah yang paling utama. Tapi meskipun begitu, Fedo tetap menghormati pandangan ayahnya Luri. Biar bagaimana pun kekhawatiran Paman Luyan cukup beralasan mengingat status keluarga Eiji yang memang lumayan besar.
__ADS_1
"Fed, Luri masih sangat muda. Paman dan Bibi ingin dia fokus dulu ke sekolah. Sebenarnya kami tidak benar-benar melarangnya untuk tidak boleh berpacaran denganmu, kami hanya tidak mau dia terluka. Itu saja!" imbuh Nita ikut memberi pengertian.
Gleen yang sejak tadi diam akhirnya ikut membuka suara. Dia berpindah duduk ke sebelah Fedo kemudian menepuk bahunya pelan.
"Santai saja, Bung. Kalau memang jodoh pasti tidak akan kemana. Lagipula bukankah kau sudah meninggalkan tanda pada adik iparku?" bisik Gleen.
Fedo langsung teringat dengan kalung liontin yang dia berikan pada Luri di malam sebelum dia kembali ke Jepang. Dan malam itu Luri juga mengatakan hal yang sama seperti yang di ucapkan oleh Gleen barusan. Kesedihan yang tadi menyelimuti wajahnya berangsur-angsur menghilang. Dia sangat yakin kalau Luri sebenarnya memiliki perasaan yang sama sepertinya. Namun perasaan itu terhalang oleh restu orangtua dan juga statusnya yang masih seorang pelajar.
Tanpa sepengetahuan semua orang, Luri diam-diam mendengarkan percakapan Fedo dengan keluarganya. Hatinya sedih, itu sudah pasti. Meskipun di antara dia dan Fedo belum terjalin hubungan apapun, nama pria itu sudah terlanjur tertulis di hatinya. Tapi karena tak mau membuat ayah dan ibunya kecewa, Luri harus menekan perasaannya dalam-dalam. Karena tujuan utama di hidup Luri adalah membahagiakan kedua orangtuanya. Dan dia benar-benar akan membuktikannya meski harus mengorbankan perasaannya sendiri.
Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Dan jika memang aku memiliki garis jodoh dengan Kak Fedo, suatu saat kami berdua pasti bisa bersama. Ya Tuhan, tolong sertakan ridhoMu dalam setiap langkahku. Amiinnn... batin Luri.
Tak ingin berlama-lama bersembunyi, Luri akhirnya memutuskan untuk keluar menemui Fedo dan keluarganya. Dia tahu kalau kepulangannya sudah di nanti sejak tadi.
"Luri, kau sudah pulang, Nak?" tanya Nita yang pertama kali melihat kedatangan putrinya.
"Iya Bu, baru saja. Oh, Kak Fedo ada di sini juga ternyata. Kapan datang?" tanya Luri berpura-pura kaget.
"Aku baru saja datang dari Jepang kemudian langsung pergi kemari untuk menemuimu," jawab Fedo.
Luyan melirik ke arah Fedo yang sedang memandangi putrinya dengan penuh cinta. Dia merasa bersalah. Luyan bukanlah orang bodoh yang tidak bisa merasakan kalau putrinya juga menyimpan perasaan terhadap pria ini. Sadar kalau kedua orang ini butuh bicara, Luyan kemudian mengajak istri dan menantunya untuk masuk ke dalam. Dia ingin memberi ruang bagi Luri dan Fedo untuk saling mengerti akan restu yang belum bisa dia berikan.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya.
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani