PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Jatah Yang Direbut


__ADS_3

Di dalam ruangan pesta, Abigail, Mattheo dan juga Kayo terlihat sangat tidak sabar menunggu kedatangan Fedo dan juga Luri. Mereka terus melihat ke arah pintu masuk, berharap kalau kedua orang tersebut akan segera muncul dari sana.


"Astaga, kenapa kita jadi seperti orang udik begini sih? Aneh," gumam Mattheo.


"Udik bagaimana maksudnya, Matt. Yang sedang kita tunggu itu adalah anak dan calon menantu kita, apanya yang udik," sahut Abigail merasa tak setuju dengan gumaman suaminya.


"Jangan marahlah, darling. Aku tidak bermaksud menganggap calon menantu kita seperti itu. Sungguh," ucap Mattheo menjadi panik sendiri.


Abigail mendengus. Tak lama kemudian orang yang sedang di tunggu oleh mereka akhirnya datang juga. Awalnya Abigail dan Mattheo kebingungan melihat Fedo yang malah muncul bersama dengan Gleen. Tapi setelah memperhatikan dengan seksama barulah mereka tersadar kalau Luri berjalan di sebelah Lusi, kakaknya.


"Woaaahhh, apa sebelum kemari Fedo mengajak Luri untuk melakukan operasi plastik terlebih dahulu?" gumam Mattheo terkagum-kagum melihat kecantikan yang ada di diri si gadis desa.


"Jaga kata-katamu, Matt. Ini adalah kali pertama Luri menghadiri acara seperti ini. Kau jangan sampai membuatnya merasa malu!" tegur Abigail sembari mencubit pinggang Mattheo pelan.


Mattheo hanya bisa meringis tanpa berani mengeluh setelah pinggangnya menjadi korban kebrutalan tangan istrinya. Dia kemudian menoleh ke samping saat tidak sengaja mendengar suara tawa tertahan yang keluar dari mulut putrinya.


"Jangan bilang Ayah jatuh cinta pada pesona gadis gadis desa itu ya?" tanya Kayo setengah meledek.


"Astaga, kau ini bicara apa si, Kay. Hanya Ibumu satu-satunya wanita yang bisa membuat Ayah terpesona. Kau jangan fitnah," jawab Mattheo gelagapan karena Kayo menangkap getaran aneh yang ada di pikirannya.


Hehehe, yang kalian pikirkan benar. Mattheo terpesona akan kecantikan Luri, tapi hanya sebatas terpesona saja ya. Tidak lebih. Biasalah, sebagai laki-laki normal wajar bukan jika memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis? Dan itulah yang di rasakan oleh Mattheo ketika melihat Luri yang datang dengan penampilan begitu memukau.


"Mulut boleh saja berkata bohong, Ayah. Akan tetapi tidak dengan kedua mata Ayah. Tadi aku bisa melihat dengan sangat jelas betapa Ayah menatap penuh puja ke arah Luri. Benar kan?"

__ADS_1


Tak mau omongan Kayo di dengar oleh istrinya, Mattheo dengan cepat pergi menghindar dengan cara berjalan menghampiri Fedo. Tak lupa juga dia melirik ke arah Luri yang entah kenapa terlihat begitu anggun dengan gaun hitam yang melekat pas di tubuhnya.


Kenapa Luri bisa terlihat sangat berkasta begini ya? Dia kan hanya orang desa biasa, tapi kenapa auranya terlihat begitu mencolok? Wahhh, ini tidak boleh di biarkan. Harus dia yang menjadi menantuku dan Abigail, batin Mattheo penuh tekad.


"Aku sarankan sebaiknya Ayah berhenti menatap Luri atau aku akan mengadu pada Ibu!" ancam Fedo sambil berbisik di samping telinga sang ayah. Dia tentu tahu kemana arah yang membuat fokus ayahnya menjadi teralih.


"Ayah normal, dan gadismu terlalu mencolok di antara banyak wanita cantik yang ada di pesta ini. Jadi wajar saja bukan kalau Ayah terus memperhatikannya?" sahut Mattheo enggan untuk mengalah. Masa bodo, dia sedang terLuri-Luri sekarang.


"Luri gadisku, dia milikku. Ayah harus ingat itu!"


"Yang bilang kalau Luri adalah milik Ayah itu siapa?"


"Kalau begitu berhentilah memandanginya. Aku tidak rela, Ayah!" protes Fedo yang kali ini bicara tanpa berbisik. Dia benar-benar kesal dengan ulah genit ayahnya yang berani mencuri-curi pandang ke arah gadisnya. "Ayah, kalau Ayah masih tidak mau berhenti melakukannya, aku bersumpah akan langsung mengadukan hal ini pada Ibu dan Bibi Liona. Mau?"


"Halo, sayang. Kau cantik sekali malam ini," sapa Abigail tanpa ragu memuji kecantikan Luri. Segera dia memeluk gadis ini setelah sampai di dekatnya.


"Terima kasih banyak, Bibi. Bibi juga terlihat sangat cantik malam ini," sahut Luri sopan kemudian mengurai pelukan.


Abigail tersenyum. Setelah itu dia ganti memeluk Lusi, wanita cantik yang dulu bekerja sebagai pelayan di rumah keponakannya. "Halo, Lusi. Apa kabar? Bibi dengar kau sedang hamil ya sekarang?"


"Kabarku sangat baik, Bibi Abigail. Dan benar kalau sekarang aku sedang hamil. Sembilan minggu," jawab Lusi ramah. " Bibi sendiri apa kabar? Dan Nona Kayo, kau terlihat begitu cantik dengan gaun itu. Apakah ini semacam aura yang keluar dari seseorang yang sebentar lagi akan segera melangsungkan pernikahan?"


Kayo tertawa saja mendengar godaan yang di layangkan oleh Lusi. Setelah itu dia pun memeluknya kemudian mengelus perut Lusi yang belum terlalu besar.

__ADS_1


"Kau ini. Adikmu berhubungan dekat dengan kakakku tapi kenapa kau masih memanggilku Nona? Panggil Kayo saja supaya terdengar lebih akrab. Kan sebentar lagi kita akan segera menjadi satu keluarga. Iya kan, Luri?"


Bukannya menjawab Luri malah menundukkan kepala sambil tersenyum malu. Entahlah, hatinya terasa begitu hangat melihat sikap ibu dan adiknya Fedo yang terkesan tak ada membedakan status dia dengan kakaknya. Siapalah yang akan mengira kalau gadis desa sepertinya akan di terima dengan sebegini terbuka oleh satu keluarga yang notabennya adalah keluarga kaya dan berpengaruh. Begitu juga dengan Luri. Apa yang terjadi siang tadi dan juga sekarang adalah suatu kejadian yang berada di luar ekspektasinya. Dia seperti sedang bermimpi.


"Jangan menggoda Luri terus, Kay. Lihat, wajahnya sudah sangat memerah karena malu!" tegur Abigail sambil mengusap rambut Luri yang kebetulan di biarkan tergerai.


"Aku tidak menggodanya, Bu. Hanya sekedar bicara fakta saja. Benarkan, Lus? Kita tidak sedang menggoda Luri kan?" sahut Kayo yang dengan sengaja kembali melayangkan godaan pada Luri. Entah kenapa dia suka sekali melihat reaksi malu di diri gadis desa tersebut. Sekalian saja mumpung mereka belum menjadi saudara ipar. Kayo mana mungkin berani berkata seperti ini lagi jika Luri sudah menikah dengan kakaknya.


Lusi mengangguk menyetujui perkataan Kayo. Dalam hati Lusi membatin, dia sangat lega karena kehadiran Luri di terima dengan sangat baik oleh keluarga Fedo. Lusi jadi tidak perlu merasa was-was lagi memikirkan nasib adiknya yang bisa saja mengalami patah hati jika seandainya adik dan orangtua Fedo tidak bersedia untuk menerimanya. Tapi untunglah kenyataan yang terjadi tidak seperti yang dia khawatirkan. Lusi benar-benar merasa sangat bersyukur karenanya.


Di saat para wanita sedang asik meledek Luri, para pria terlihat sibuk dengan obrolan mereka. Kendati demikian, Fedo sama sekali tak melepaskan Luri dari pandangan matanya. Dia terus mengawasi semua gerak-geriknya, mulai dari berpelukan dengan ibu dan adiknya, juga ketika Luri terlihat malu-malu setelah Kayo berbicara. Di mata Fedo semua itu terlihat sangat amat berkesan. Luri sangat cocok bergabung dengan wanita-wanita hebat seperti Kayo dan juga Ibunya.


"Tidak perlulah memelototi Luri terus. Istriku ada bersamanya, dia tidak mungkin di bawa kabur pria lain!" sindir Gleen gemas melihat Fedo yang terus saja mencuri pandang ke arah adik iparnya.


"Ck, apa kau tidak bisa melihat kalau Luri itu sangat cantik, Gleen? Kalau aku lengah, bisa saja dia di dekati oleh para buaya lapar yang ada di ruangan pesta ini. Lihat ke sana, mata pria-pria itu sejak tadi terus melihat ke arah Luri. Jadi bagaimana mungkin aku tidak cemas?" sahut Fedo sambil menunjuk ke beberapa pria yang memang sejak tadi terus menatap gadisnya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Seorang pakar buaya sepertimu ternyata bisa merasa terancam juga ya dengan keberadaan buaya-buaya itu?" ejek Gleen sambil terkekeh. "Paman Mattheo, tidakkah menurutmu ini sangat lucu? Fedo merasa terancam oleh anggotanya sendiri. Ini adalah lawakan paling aneh yang membuatku sangat ingin tertawa kencang. Tidak ada lawan!"


"Ini tidak hanya lucu, Gleen. Tapi ini adalah sesuatu yang sangat menggelikan. Baru kali ini Paman melihat buaya senior takut pada buaya junior. Benar-benar lawak yang tidak ada tandingannya!" jawab Mattheo tak ragu untuk ikut mengejek putranya.


Gleen dan Mattheo tertawa dengan sangat puas melihat Fedo mengomel. Setelah itu Kayo datang kemudian mengajak mereka bertiga untuk menemui kedua mempelai pengantin terlebih dahulu. Fedo yang sudah tidak sabar ingin mengenalkan Luri sebagai gadisnya pun berinisiatif untuk mengajaknya berjalan bersama. Akan tetapi keinginannya itu terpaksa harus kandas karena ternyata ibunya sudah lebih dulu menguasai Luri. Ya, dia terlambat.


Kenapa jadi Ibu sih yang mengajak Luri. Seharusnya dia itu kan bersamaku saat menemui Reinhard dan Levita. Aaaa, Ibu. Malam ini adalah jatahku, kenapa Ibu merebutnya? protes Fedo dalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2